Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #33

Interogasi Kenji tentang "Moe"

Atap Akademi Seiwa selalu menjadi tempat yang relatif tenang ketika jam makan siang tiba. Jauh dari kebisingan kantin dan keramaian koridor, angin siang berembus bebas di antara pagar pembatas, membawa aroma dedaunan dari pepohonan yang tumbuh di halaman sekolah. Beberapa siswa sesekali datang untuk makan siang atau sekadar mengobrol, tetapi pada hari itu, tempat tersebut hampir kosong.

Ren duduk bersandar pada dinding dekat pagar, menikmati bekal makan siangnya dengan tenang. Sejak beberapa hari terakhir, ia mulai terbiasa menggunakan waktu istirahatnya di tempat itu bersama Kanade. Namun, hari ini adiknya sedang berada di kelas untuk menyelesaikan tugas kelompok, sehingga ia memutuskan makan sendirian.

Setidaknya, itulah rencananya.

“REN!”

Suara nyaring yang sudah sangat dikenalnya terdengar dari arah pintu atap. Sesaat kemudian, Tanaka Kenji muncul dengan napas sedikit terengah-engah. Ia berjalan cepat menghampiri Ren sambil menggenggam selembar kertas yang dilipat beberapa kali.

Ren mengangkat pandangan. “Kenapa berteriak seperti itu? Ada kebakaran?”

“Jauh lebih serius daripada kebakaran!”

Kenji menjatuhkan diri di sebelahnya, lalu menoleh ke kanan dan kiri dengan gerakan mencurigakan. Setelah memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka, ia mendekatkan wajahnya kepada Ren.

“Aku menemukan bukti baru.”

Ren kembali mengambil sumpitnya. “Selamat.”

“Jangan bersikap seolah-olah kau tidak peduli! Ini menyangkut keluargamu!”

Sumpit Ren berhenti sejenak di udara.

Keluarganya?

Kenji segera membentangkan kertas yang sejak tadi digenggamnya. Sebuah foto berwarna tampak di atasnya. Foto itu memperlihatkan seorang gadis muda mengenakan kostum pelayan berwarna hitam-putih, lengkap dengan celemek renda, hiasan kepala, dan senyum manis yang seolah dirancang khusus untuk membuat siapa pun yang melihatnya merasa disambut.

Ren mengenali wajah itu seketika.

Ia tidak menunjukkan keterkejutan. Namun, tatapannya tertahan sedikit lebih lama daripada yang seharusnya.

Kenji tidak menyadarinya. Pemuda itu sudah telanjur tenggelam dalam antusiasmenya sendiri.

“Lihat baik-baik! Ini dia! Mei-chan, legenda maid café Akihabara yang sedang dibicarakan semua orang di klub budaya populer!”

Ren mengalihkan pandangan dari foto tersebut kepada Kenji.

“Lalu?”

“Lalu?” Kenji mengulang perkataan itu dengan ekspresi seolah-olah baru saja mendengar penghinaan terhadap leluhurnya. “Kau benar-benar tidak memahami besarnya masalah ini! Aku mendapatkan foto ini dari salah satu anggota klub. Katanya, foto tersebut berasal dari koleksi lama yang selama ini hanya beredar di kalangan penggemar tertentu.”

“Begitu.”

“Dan sekarang, dengarkan baik-baik.” Kenji mengangkat telunjuk, memasang wajah seorang detektif yang hendak mengungkap kejahatan abad ini. “Ada seorang siswi baru di kelas satu yang wajahnya sangat mirip dengan Mei-chan.”

Ren tidak menjawab.

“Namanya Kisaragi Kanade.”

Angin berembus melewati atap sekolah. Ren menunduk untuk mengambil sepotong lauk dari kotak bekalnya, menyembunyikan perubahan kecil pada ekspresinya di balik gerakan sederhana itu.

Kenji justru semakin bersemangat karena mengira temannya sedang memproses informasi tersebut.

“Ya, adikmu sendiri! Aku tahu kalian bersaudara, tetapi kemiripan itu terlalu mencurigakan. Bentuk mata, senyum, bahkan kesan anggunnya! Dan jangan lupakan insiden di kelas satu tempo hari, ketika dia tiba-tiba mengucapkan sesuatu dengan gaya pelayan profesional!”

Ren mengunyah makanannya dengan tenang.

“Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa anak-anak klub terlalu banyak berkhayal?”

“Itu sebelum aku mendapatkan bukti visual!”

Kenji menyodorkan foto tersebut tepat di depan wajah Ren.

“Sekarang, katakan kepadaku dengan jujur. Apakah kau mengetahui sesuatu tentang masa lalu adikmu?”

Ren menatap foto itu sekali lagi.

Kostum pelayan tersebut terasa asing sekaligus akrab baginya. Ia belum pernah melihat Kanade mengenakannya secara langsung, tetapi membayangkan adiknya berada di balik pakaian itu bukanlah sesuatu yang sulit. Senyum dalam foto tersebut memiliki kemiripan yang kuat dengan senyum Kanade yang ia lihat setiap hari, meskipun ada sesuatu yang berbeda pada cara gadis itu menatap kamera.

Senyum di foto tersebut terasa seperti bagian dari sebuah pertunjukan.

Sementara itu, senyum Kanade di rumah, di sekolah, dan terutama ketika mereka berada di tempat-tempat sederhana yang jauh dari pengawasan keluarga Kisaragi, terkadang tampak jauh lebih spontan.

Ren tidak tahu apa yang sebenarnya membedakan keduanya. Ia hanya menyadari bahwa ia ingin melihat lebih banyak sisi adiknya yang belum pernah ia kenal.

“Kenji,” katanya akhirnya, “kau pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa orang-orang yang wajahnya mirip memang bisa saja tidak saling mengenal?”

Kenji terdiam.

Ren melanjutkan dengan nada datar, “Atau kemungkinan bahwa kau menghabiskan terlalu banyak waktu di klub budaya populer?”

“JANGAN MENGHANCURKAN INVESTIGASIKU DENGAN LOGIKA SESEDERHANA ITU!”

Lihat selengkapnya