Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #34

Sosok Pengagum Rahasia Ren

Siang itu, Taman Tengah Akademi Seiwa tampak seperti lukisan yang sengaja dirancang untuk memamerkan keindahan kehidupan para pewaris keluarga terpandang. Cahaya matahari Oktober menembus sela-sela dedaunan pohon zelkova, jatuh dalam bercak-bercak keemasan di atas jalan setapak berbatu dan bangku-bangku kayu yang tersebar di antara hamparan bunga. Angin membawa aroma rumput yang baru dipangkas, bercampur dengan wangi samar bunga krisan yang tumbuh di dekat kolam kecil di tengah taman.

Beberapa siswa duduk berkelompok menikmati bekal makan siang. Sebagian lainnya berjalan menyusuri taman sambil membicarakan tugas sekolah, kegiatan klub, atau rencana akhir pekan. Di sudut yang agak jauh dari keramaian, dua siswa kelas tiga terlihat sedang berbincang mengenai persiapan ujian, sementara sekelompok siswi tertawa pelan di bawah naungan pohon.

Di antara semua pemandangan itu, Kisaragi Ren duduk sendirian di sebuah bangku panjang yang menghadap kolam.

Blazer sekolahnya tergantung rapi di bahu, dasinya sedikit dilonggarkan, dan sebuah buku terbuka di atas pangkuannya. Ia mengenakan ekspresi tenang yang belakangan menjadi ciri khasnya sejak kembali bersekolah. Sesekali, ia membalik halaman, meskipun perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada tulisan di hadapannya.

Di sampingnya terdapat kotak bekal yang telah kosong separuh. Ia baru saja menghabiskan makan siang yang disiapkan Kanade pagi tadi, dan rasa hangat dari makanan buatan adiknya itu masih terasa menyenangkan di lidahnya.

Ren menutup buku sejenak, kemudian melirik ke arah gedung kelas satu yang tampak dari balik pepohonan.

Biasanya, Kanade akan datang mencarinya menjelang akhir jam istirahat. Gadis itu terkadang membawa minuman tambahan, terkadang mengingatkannya untuk tidak terlalu lama duduk di bawah matahari, atau sekadar duduk di sampingnya sambil menceritakan hal-hal kecil yang terjadi di kelas.

Namun, hari ini Kanade belum muncul.

Ren mengeluarkan ponselnya, memeriksa layar yang tidak menampilkan pesan baru, lalu memasukkannya kembali ke saku.

Barangkali dia sedang sibuk dengan teman-teman sekelasnya.

Pikiran itu seharusnya membuatnya merasa lega. Beberapa hari terakhir, Kanade mulai berusaha berinteraksi lebih banyak dengan teman-temannya, dan Ren tahu bahwa ia tidak seharusnya terus-menerus menarik adiknya kembali ke sisinya.

Meski demikian, matanya masih sesekali bergerak ke arah gedung kelas satu.

Ia tidak menyadari bahwa seseorang telah memperhatikannya dari kejauhan.

Seseorang yang mengenal namanya jauh sebelum ia kembali dari koma.

Seseorang yang sejak awal telah ditempatkan dalam lingkaran kehidupannya oleh keputusan dua keluarga besar.

“Ren.”

Suara perempuan yang lembut terdengar dari sisi jalan setapak.

Ren mengangkat wajah.

Seorang gadis berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan seragam Akademi Seiwa yang sama dengan miliknya. Rambutnya yang panjang tertata rapi, sementara pita seragamnya terpasang sempurna tanpa satu pun lipatan yang mengganggu. Wajahnya memiliki kecantikan yang tenang dan dewasa, dengan sepasang mata yang memancarkan keyakinan seseorang yang sejak kecil terbiasa berada di tengah lingkungan sosial berkelas.

Di tangannya terdapat sebuah keranjang kecil berlapis kain putih. Sebuah termos ramping berwarna perak dan kotak kue berhiaskan pita krem tersusun rapi di dalamnya.

Gadis itu tersenyum ketika pandangan mereka bertemu.

“Sudah lama sekali kita tidak berbincang seperti ini.”

Ren menatapnya selama beberapa detik sebelum berdiri.

“Saionji.”

Senyum gadis itu tidak memudar, tetapi matanya sempat berkedip mendengar sapaan yang begitu formal.

“Clara,” koreksinya lembut. “Kita sudah saling mengenal sejak kecil, bukan? Rasanya sedikit aneh jika kau terus memanggilku dengan nama keluarga.”

Ren merapikan ujung lengan blazernya sebelum menjawab.

“Maaf. Saionji-san.”

Clara menghela napas pendek, lebih menyerupai tawa kecil daripada kekecewaan.

“Setidaknya kau masih memiliki selera humor yang sama.”

“Aku tidak bermaksud melucu.”

“Aku tahu.”

Clara tersenyum lagi, lalu mengangkat keranjang yang dibawanya.

“Aku membawa sesuatu untukmu. Teh impor dari kebun di Darjeeling dan kue yang kubuat sendiri kemarin malam. Aku ingat kau pernah menyukai teh dengan aroma muskatel.”

Ren memandang keranjang itu.

Ada jeda singkat sebelum ia mengulurkan tangan untuk menerimanya. Gerakannya sopan, tetapi tidak disertai antusiasme yang mungkin diharapkan Clara.

“Terima kasih atas perhatiannya. Namun, kau tidak perlu bersusah payah.”

“Tidak merepotkan sama sekali.” Clara duduk di bangku setelah Ren mempersilakannya. Ia meletakkan keranjang di antara mereka, lalu mulai mengeluarkan termos dan kotak kue. “Aku memang ingin membawanya. Lagipula, sudah cukup lama sejak terakhir kali kita bertemu di luar acara keluarga.”

Ren kembali duduk, menjaga jarak yang wajar di antara mereka.

“Pertemuan terakhir kita berlangsung pada jamuan makan malam musim semi, jika aku tidak salah ingat.”

“Benar. Saat itu kau masih belum sepenuhnya pulih.”

Nada suara Clara melunak. Tangannya yang sedang membuka kotak kue berhenti sebentar.

“Aku sempat ingin menjengukmu beberapa kali, tetapi keluargamu mengatakan bahwa kau membutuhkan waktu untuk beristirahat. Aku tidak ingin mengganggu proses pemulihanmu.”

Ren menundukkan pandangan ke arah tangannya sendiri.

“Aku menghargai perhatianmu.”

Kalimat itu terdengar tepat, sopan, dan sama sekali tidak membuka ruang bagi percakapan yang lebih pribadi.

Clara memahami perbedaannya.

Dahulu, Ren memang bukan pemuda yang banyak bicara. Namun, sebelum kecelakaan yang membawanya ke rumah sakit, ia masih mampu mempertahankan percakapan panjang ketika topiknya menyangkut bisnis, pendidikan, atau sesuatu yang menarik perhatiannya. Bahkan dalam acara keluarga yang membosankan, ia terkadang melontarkan komentar tajam yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang cukup mengenalnya.

Ren yang sekarang lebih sulit dijangkau.

Ia tidak kasar. Tidak pula menunjukkan permusuhan secara terang-terangan. Justru kesopanannya terasa seperti dinding kaca yang bersih: Clara dapat melihat sosok yang duduk di hadapannya, tetapi tidak bisa menemukan jalan untuk mendekat.

Meski demikian, Clara tidak berniat menyerah hanya karena beberapa percakapan yang canggung.

Ia menuangkan teh ke dalam cangkir kecil yang dibawanya, membiarkan aroma hangatnya menguar di udara.

“Bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini? Kudengar kau sudah kembali mengikuti pelajaran secara penuh.”

“Secara bertahap. Dokter masih menyarankan agar aku tidak memaksakan diri.”

“Dan ingatanmu?”

Jari Ren berhenti di dekat cangkirnya.

Pertanyaan itu membuat suasana di antara mereka berubah sedikit, seolah-olah angin yang semula lembut mendadak membawa hawa dingin dari tempat yang jauh.

“Belum banyak perubahan.”

Clara mengangguk pelan. Ia tidak segera melanjutkan, memberikan kesempatan bagi Ren untuk menentukan apakah ia ingin membicarakannya lebih jauh.

Ren justru mengambil cangkirnya dan menyesap teh.

“Dokter mengatakan bahwa proses pemulihan tidak dapat dipaksakan,” lanjutnya. “Aku hanya perlu mengikuti anjuran mereka.”

“Begitu rupanya.”

Clara memperhatikan wajah Ren dengan seksama. Ada sesuatu dalam cara pemuda itu berbicara yang membuatnya merasa bahwa pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut hanya akan membangun dinding yang lebih tinggi.

Karena itu, ia memilih topik lain.

“Oh, ya. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu.”

Ren meletakkan cangkirnya.

“Apa itu?”

“Pertemuan keluarga bulan depan.”

Clara menyebutkannya dengan nada ringan, seolah-olah mereka sedang membicarakan jadwal makan siang biasa. Namun, jari-jarinya merapikan pita pada kotak kue dengan ketelitian yang terlalu disengaja.

“Orang tuaku menerima undangan dari keluarga Kisaragi. Sepertinya mereka ingin mengadakan jamuan makan malam bersama, lengkap dengan beberapa anggota keluarga besar dari kedua pihak.”

Ren tidak menunjukkan reaksi yang berarti.

“Aku belum menerima pemberitahuan mengenai hal itu.”

“Barangkali ayahmu belum sempat membicarakannya denganmu.”

Clara menoleh kepadanya.

“Sejauh yang kudengar, pertemuan itu akan diadakan di kediaman keluargamu. Mereka juga berencana membicarakan beberapa hal mengenai masa depan kita.”

Kata kita terdengar begitu alami ketika keluar dari mulut Clara.

Ren menatapnya.

“Hal mengenai masa depan yang mana?”

Clara sempat terdiam, kemudian tersenyum tipis.

“Kau tahu maksudku.”

“Aku lebih suka mendengar penjelasan yang jelas.”

Nada Ren tetap tenang. Tidak ada peningkatan volume, tidak ada gerakan kasar. Akan tetapi, Clara dapat merasakan bahwa percakapan itu mulai memasuki wilayah yang sengaja ingin dihindari Ren.

Ia menyatukan kedua tangannya di atas pangkuan.

“Baiklah. Sepertinya kedua keluarga ingin membicarakan kembali hubungan kita.”

Ren meletakkan cangkirnya dengan hati-hati.

“Hubungan kita?”

“Rencana perjodohan itu.”

Untuk pertama kalinya sejak Clara datang, keheningan di antara mereka terasa benar-benar tidak nyaman.

Dari kejauhan, suara tawa sekelompok siswa terdengar samar. Seekor burung kecil hinggap di tepi kolam, mematuk sesuatu di antara bebatuan sebelum terbang kembali ke dahan pohon. Dunia di sekitar mereka terus bergerak, seolah-olah percakapan yang sedang berlangsung di bangku taman itu tidak lebih penting daripada perubahan arah angin.

Ren menatap Clara dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Setahuku, tidak pernah ada pertunangan resmi antara kita.”

“Memang belum.”

Clara menjawab tanpa kehilangan ketenangannya.

“Kedua keluarga baru membicarakan kemungkinan itu. Tidak ada pengumuman publik, tidak ada upacara pertunangan, dan tidak ada dokumen yang mengikat kita. Tetapi kau tentu memahami bagaimana keluarga kita memandang hal semacam ini.”

Ren tidak menjawab.

Clara melanjutkan, kali ini dengan suara yang sedikit lebih pelan.

“Keluargaku bergerak di bidang media. Keluargamu memiliki jaringan bisnis yang jauh lebih luas. Hubungan yang baik di antara kedua keluarga tentu akan menguntungkan banyak pihak.”

“Jadi, ini mengenai kepentingan keluarga.”

Clara menoleh kepadanya.

“Sebagian, ya.”

“Dan bukan mengenai keinginan kita sendiri?”

Pertanyaan itu membuat Clara kehilangan senyumnya selama sesaat.

Ia telah mempersiapkan banyak hal sebelum datang menemui Ren hari itu. Ia tahu bahwa pemuda tersebut masih dalam masa pemulihan, bahwa ingatannya belum pulih sepenuhnya, dan bahwa ia mungkin tidak akan langsung menyambut pembicaraan mengenai perjodohan dengan antusiasme.

Namun, Clara tidak menduga Ren akan mengatakannya seterus terang itu.

“Aku tidak akan berpura-pura bahwa kepentingan keluarga tidak berperan dalam hal ini,” jawabnya akhirnya. “Kita berdua dibesarkan dalam lingkungan yang sama. Sejak kecil, kita sudah diajarkan bahwa keputusan pribadi terkadang harus mempertimbangkan tanggung jawab yang lebih besar.”

Ren menatap permukaan teh di hadapannya.

“Aku mengerti.”

“Namun, bukan berarti aku tidak ingin mengenalmu secara pribadi.”

Ada ketulusan dalam kalimat itu.

Clara tidak sedang memainkan peran seorang gadis bangsawan yang patuh pada keinginan orang tuanya semata. Ia memang memiliki rasa ingin tahu terhadap Ren. Ia menghormati kecerdasan pemuda itu, mengagumi ketenangannya, dan sejak dahulu menganggapnya sebagai seseorang yang berbeda dari kebanyakan pewaris keluarga besar yang mereka kenal.

Barangkali, seiring waktu, rasa hormat itu dapat tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan cinta.

Ia tidak menganggap kemungkinan tersebut mustahil.

“Aku berharap kita bisa berbincang lebih sering,” lanjut Clara. “Tanpa harus selalu berada di acara resmi keluarga. Kita bisa mulai dari hal-hal sederhana, seperti minum teh bersama atau membicarakan kegiatan sekolah.”

Ren mengangguk sopan.

“Aku memahami maksudmu. Namun, aku tidak ingin memberikan kesan yang keliru mengenai hubungan kita.”

Jari Clara yang bertumpu di pangkuannya menegang sedikit.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak dapat menjanjikan bahwa hubungan ini akan berkembang seperti yang diharapkan keluarga kita.”

Tidak ada kebencian dalam suara Ren. Ia bahkan mengucapkan kalimat itu dengan nada yang nyaris lembut.

Justru itulah yang membuatnya terasa lebih tajam.

“Aku masih berusaha memulihkan kesehatanku dan memahami kembali kehidupanku sendiri. Untuk saat ini, aku tidak memiliki keinginan untuk memikirkan pernikahan.”

Clara terdiam.

Di hadapan orang lain, ia dikenal sebagai gadis yang selalu mampu mengendalikan ekspresinya. Putri keluarga Saionji itu tidak mudah kehilangan kata-kata, apalagi menunjukkan kekecewaan secara terbuka.

Namun, ada saat-saat ketika kesopanan seseorang dapat terasa seperti penolakan yang jauh lebih menyakitkan daripada ucapan kasar.

Clara menurunkan pandangan ke cangkir teh di tangannya. Uapnya mulai menipis.

“Aku mengerti,” katanya setelah beberapa saat. “Aku tidak bermaksud memaksamu mengambil keputusan sekarang.”

“Terima kasih atas pengertianmu.”

Ren kembali mengangkat cangkirnya.

Percakapan mereka berlanjut setelah itu, tetapi arahnya berubah. Clara menceritakan kegiatan kelas tiga, persiapan sebuah acara sekolah, dan kabar mengenai beberapa siswa yang baru saja kembali dari kompetisi akademik. Ren menanggapi setiap cerita dengan sopan, sesekali mengajukan pertanyaan singkat agar percakapan tidak terputus sepenuhnya.

Ia tidak bersikap kejam.

Ia hanya tidak berusaha mendekat.

Bagi Clara, perbedaan itu semakin lama semakin jelas.

Tidak jauh dari bangku tempat mereka duduk, di sisi jalan setapak yang mengarah ke gedung kelas satu, Mai berdiri sambil memegang sebuah buku catatan di depan dada.

Ia sebenarnya hanya bermaksud melewati taman sebelum kembali ke kelas. Setelah menyelesaikan urusan kelompok bersama Yuna dan beberapa teman lainnya, ia hendak mencari Ren untuk mengembalikan wadah minuman yang tadi dipinjamnya.

Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sosok pemuda yang sangat dikenalnya duduk bersama seorang gadis cantik.

Awalnya, Mai hanya memperhatikan dari kejauhan.

Gadis itu memiliki rambut panjang yang berkilau terkena matahari. Seragamnya tampak sempurna, seolah-olah setiap lipatan kain telah diperiksa sebelum ia meninggalkan rumah. Gerakannya anggun, cara duduknya tegak tanpa terlihat kaku, dan senyumnya memancarkan kepercayaan diri seseorang yang tidak pernah perlu mempertanyakan apakah dirinya pantas berada di suatu tempat.

Mai tanpa sadar menunduk untuk melihat seragamnya sendiri.

Pita di kerahnya sedikit miring. Ada bekas tinta biru di ujung jari akibat mencatat materi pelajaran, sementara satu helai rambut yang terlepas dari ikatannya menempel di pipi karena angin.

Ia buru-buru menyelipkan rambut itu ke belakang telinga.

Lalu pandangannya kembali kepada Ren.

Pemuda itu sedang mendengarkan sesuatu yang dikatakan gadis tersebut. Ia duduk dengan punggung tegak, wajahnya tenang, dan tangannya memegang cangkir kecil yang disodorkan kepadanya.

Mai pernah melihat Ren bersikap seperti itu di hadapan orang dewasa, terutama ketika menghadapi ayahnya atau Saito. Sikap sopan yang terkendali, setiap kata dipilih dengan cermat, dan setiap gerakan dibatasi agar tidak menimbulkan kesan yang keliru.

Namun, melihatnya bersama gadis itu membuat Mai merasakan sesuatu yang berbeda.

Sebuah tekanan perlahan muncul di tengah dadanya.

Ia mengerutkan kening, mencoba memahami sensasi tersebut. Barangkali karena ia khawatir Ren terlalu lama berada di bawah matahari. Barangkali ia hanya ingin memastikan pemuda itu tidak kelelahan setelah menjalani aktivitas sekolah. Atau mungkin ia merasa tidak nyaman karena baru menyadari bahwa ada begitu banyak bagian kehidupan Ren yang tidak pernah ia ketahui.

Ya, mungkin itu saja.

Ia menggenggam buku catatannya lebih erat.

Lalu, gadis itu tertawa kecil.

Ren mengalihkan wajah kepadanya, memberikan tanggapan singkat. Mai tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan dari tempatnya berdiri, tetapi ia melihat bagaimana gadis itu memiringkan kepala, menatap Ren dengan perhatian yang tidak disembunyikan.

Ada keakraban di antara mereka.

Bukan keakraban yang dibangun selama beberapa minggu seperti kedekatan Mai dan Ren belakangan ini, melainkan sesuatu yang tampak telah tumbuh selama bertahun-tahun. Sesuatu yang memiliki sejarah, latar belakang, dan tempatnya sendiri di dalam kehidupan Ren.

Mai merasa seolah-olah ia sedang mengintip sebuah ruangan yang seharusnya tidak ia masuki.

Ia tidak tahu siapa gadis itu.

Namun, ia tahu bahwa gadis tersebut memiliki sesuatu yang tidak mungkin dimilikinya sebagai Mai yang sedang menyamar menjadi Kanade: kedudukan yang setara dengan Ren di mata keluarga Kisaragi.

Mai menelan ludah.

Siapa dia?

Pertanyaan itu berputar di benaknya, diikuti oleh pertanyaan lain yang jauh lebih sulit diakui.

Apa hubungan mereka?

Mai berusaha mengalihkan pandangan, tetapi matanya kembali kepada Ren sebelum ia sempat melangkah pergi.

Pemuda itu sedang menuangkan teh ke cangkirnya sendiri setelah Clara menawarkan termos tersebut kepadanya. Gerakannya begitu tenang, begitu wajar, sehingga Mai merasakan sesuatu yang menyerupai rasa asing merayap di antara tulang rusuknya.

Ia teringat bagaimana Ren biasanya menunggunya di taman, bagaimana pemuda itu akan menggeser tempat duduk agar ia dapat duduk di sampingnya, atau bagaimana ia terkadang menyodorkan potongan makanan dari kotak bekalnya tanpa berpikir panjang.

Lihat selengkapnya