Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #35

Kecemburuan Sang Adik Palsu

Air keran mengalir deras ketika Miyauchi Mai menundukkan wajahnya di bawah pancuran wastafel kamar mandi siswa Akademi Seiwa. Kedua telapak tangannya menampung air dingin, lalu mengusapkannya ke pipi untuk ketiga kalinya. Tetesan air meluncur melewati dagunya, jatuh ke permukaan porselen putih, dan menghilang di antara lubang pembuangan.

Ia mengangkat kepala perlahan.

Pantulan seorang gadis berseragam sekolah menatapnya dari balik cermin besar yang sedikit berembun. Rambutnya mulai berantakan setelah seharian mengikuti pelajaran, pita di kerahnya tidak lagi terpasang serapi pagi tadi, dan beberapa helai rambut menempel di sisi wajah yang masih basah. Di bawah cahaya lampu putih kamar mandi, kulitnya terlihat lebih pucat daripada biasanya.

Mai mencoba tersenyum.

Sudut bibirnya terangkat sedikit.

Lalu jatuh kembali.

“...Payah sekali.”

Suaranya terdengar kecil di antara gema air yang masih mengalir.

Ia segera mematikan keran. Keheningan yang mengikuti justru membuat suara napasnya sendiri terdengar semakin jelas. Dari balik pintu kamar mandi, samar-samar terdengar langkah siswa yang melewati koridor, disusul suara tawa beberapa gadis yang semakin lama semakin menjauh. Hari sekolah hampir berakhir. Sebagian besar siswa sudah pulang atau berkumpul di ruang klub masing-masing, menyisakan bangunan kelas yang perlahan kehilangan keramaiannya.

Mai mengambil beberapa lembar tisu, menepuk-nepuk wajahnya, kemudian membuangnya ke tempat sampah.

Seharusnya ia sudah kembali ke kelas.

Seharusnya ia sudah merapikan barang-barangnya, menemui Ren seperti biasa, lalu pulang ke Kediaman Kisaragi dengan senyum manis yang tidak pernah gagal ia tampilkan di hadapan kamera pengawas.

Namun, sejak meninggalkan taman tadi siang, pikirannya terus kembali pada sosok gadis berambut panjang yang duduk di samping Ren.

Saionji Clara.

Nama itu berulang kali muncul dalam benaknya, meskipun Mai tidak memiliki alasan yang masuk akal untuk terus memikirkannya.

Ia teringat keranjang kecil berisi teh impor dan kue buatan sendiri. Cara Clara menuangkan teh untuk Ren. Cara gadis itu menyebut nama Ren dengan keakraban yang tenang, seolah-olah tidak ada jarak di antara mereka yang perlu dipertimbangkan. Bahkan ketika Ren menanggapinya dengan dingin, Clara tetap tersenyum tanpa terlihat tersinggung.

Mai tidak dapat mengabaikan kenyataan bahwa Clara mengenal Ren jauh sebelum dirinya muncul dalam kehidupan pemuda itu.

Clara mengenal keluarga Kisaragi. Ia memahami lingkungan sosial mereka. Ia tidak perlu berpura-pura menjadi seorang putri konglomerat karena sejak lahir memang telah menjadi bagian dari dunia tersebut.

Dan yang paling menyakitkan, Clara dapat berada di samping Ren tanpa harus menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya.

Mai menunduk, menatap kedua tangannya yang bertumpu pada tepian wastafel.

Jari-jarinya perlahan mengepal.

“Kenapa, sih?”

Ia mengucapkan pertanyaan itu kepada pantulan dirinya sendiri.

“Kenapa aku malah memikirkan hal seperti ini?”

Tidak ada jawaban.

Mai memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya. Ia pernah menghadapi pelanggan mabuk di maid café, pernah tersenyum selama berjam-jam meskipun kakinya nyaris tidak mampu menopang tubuh, dan pernah menerima komentar merendahkan tanpa membiarkan satu pun kata keluar dari mulutnya. Ia tahu bagaimana caranya menekan perasaan demi menyelesaikan pekerjaan.

Perasaan bukan sesuatu yang harus selalu diikuti.

Itulah prinsip yang selama ini membuatnya mampu bertahan.

Namun, kali ini ia tidak tahu bagaimana cara menerapkannya.

Ia tidak sedang marah karena Clara bersikap kasar. Gadis itu bahkan tidak melakukan sesuatu yang pantas dibenci. Clara ramah, sopan, dan cukup perhatian untuk membawakan makanan buatannya sendiri kepada Ren. Ia juga tidak berusaha mengusir Mai dari bangku taman atau menunjukkan bahwa dirinya lebih berhak berada di sana.

Kalau dipikir-pikir, Clara justru memperlakukan Mai dengan sangat baik.

Itulah masalahnya.

Mai tidak memiliki alasan untuk memusuhi gadis tersebut, tetapi ia tetap merasa tidak nyaman ketika membayangkan Ren menghabiskan waktu bersama Clara.

Ia tidak suka melihat senyum Clara ketika berbicara dengan Ren.

Ia tidak suka membayangkan mereka bertemu lagi bulan depan dalam pertemuan keluarga yang belum ia pahami sepenuhnya.

Dan ia benar-benar tidak suka memikirkan kemungkinan bahwa suatu hari nanti Ren akan duduk di samping Clara dengan cara yang sama seperti ketika ia duduk bersama Mai.

Mai membuka mata dengan cepat.

“Tidak. Tidak, tidak, tidak.”

Ia menggelengkan kepala beberapa kali, seolah-olah dapat mengusir semua pikiran itu dengan gerakan sederhana.

“Aku cuma khawatir. Itu saja.”

Ia mengucapkannya dengan nada meyakinkan, tetapi suaranya sendiri terdengar seperti kebohongan yang buruk.

Bukankah ia memang dibayar untuk memperhatikan Ren?

Bukankah salah satu tugasnya adalah memastikan bahwa Ren merasa nyaman, menjaga kestabilan emosinya, dan mendukung proses pemulihannya?

Jika Ren menjalin hubungan dengan seseorang yang berasal dari lingkungan keluarganya sendiri, bukankah itu justru dapat dianggap sebagai perkembangan yang baik?

Mai seharusnya merasa lega.

Clara adalah gadis dari keluarga terpandang. Ia memahami etiket sosial, memiliki pendidikan yang baik, dan tidak diragukan lagi akan mampu memenuhi ekspektasi keluarga Kisaragi jika hubungan mereka benar-benar berkembang menjadi pernikahan.

Dibandingkan dengannya, Clara jauh lebih cocok untuk berada di sisi Ren.

Mai bahkan tidak perlu memikirkan kemungkinan itu terlalu lama untuk memahami alasannya.

Ia hanyalah Miyauchi Mai.

Seorang gadis biasa berusia enam belas tahun yang pernah bekerja di maid café demi mendapatkan uang. Ia tidak memiliki nama keluarga yang berpengaruh, tidak memiliki kekayaan, dan tidak memiliki tempat dalam rencana bisnis keluarga Kisaragi.

Identitas yang membuatnya bisa berjalan berdampingan dengan Ren saat ini pun bukan miliknya.

Ia hanya mengenakan nama seorang gadis yang telah meninggal.

Kisaragi Kanade.

Adik perempuan Ren yang asli.

Mai menatap pantulan wajahnya sekali lagi. Perlahan-lahan, ia menyentuh pipinya sendiri, merasakan sisa dingin air yang masih melekat pada kulit.

“Jangan lupa diri, Mai.”

Nama aslinya terucap hampir tanpa suara.

Bukan Kanade.

Bukan Mei-chan.

Hanya Mai.

“Mereka membayarmu untuk melakukan pekerjaan. Kau datang ke sini karena kontrak. Kau seharusnya membantu Onii-chan sampai waktunya habis, lalu pergi tanpa membuat masalah.”

Ia mencoba tertawa kecil setelah mengucapkannya, tetapi suara yang keluar terdengar kering dan patah di tengah.

“Jadi, kenapa kau malah cemburu?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Mai segera menutup mulutnya dengan punggung tangan.

Cemburu.

Ia akhirnya menyebut perasaan itu dengan nama yang sebenarnya.

Bukan sekadar khawatir. Bukan sekadar rasa tidak nyaman karena ada orang baru dalam kehidupan Ren. Bukan pula naluri seorang adik perempuan yang takut kehilangan perhatian kakaknya.

Ia cemburu.

Dan kesadaran itu membuat seluruh alasan yang tadi disusunnya runtuh dalam sekejap.

Mai teringat bagaimana jantungnya berdegup lebih cepat ketika Ren memanggilnya di taman. Bagaimana ia sempat merasa lega ketika pemuda itu menggeser tempat duduk untuk memberinya ruang. Bagaimana ia ingin bertanya apakah Ren menyukai Clara, tetapi menahan diri karena takut mendengar jawaban yang tidak ingin diketahuinya.

Semua itu bukan bagian dari pekerjaannya.

Ia tidak pernah diminta untuk merasa cemburu.

Tidak ada pasal dalam kontrak yang menyuruhnya terluka ketika Ren memperhatikan perempuan lain. Tidak ada SOP yang mengharuskannya merasa kehilangan hanya karena seseorang dari dunia Ren yang sebenarnya datang membawa teh dan kue.

Perasaan itu tumbuh tanpa izin.

Perlahan, diam-diam, dan jauh lebih dalam daripada yang berani ia akui.

Mai menekan kedua telapak tangannya ke tepian wastafel sampai buku-buku jarinya memucat.

“Jangan begini,” bisiknya kepada dirinya sendiri. “Tolong, jangan begini.”

Ia tahu bagaimana cerita ini seharusnya berakhir.

Pada hari ke-365, kontraknya akan selesai. Ia akan mengembalikan nama Kisaragi Kanade kepada keluarga yang memilikinya, lalu meninggalkan kediaman itu dengan identitas aslinya. Ren mungkin akan merasa sedih. Mungkin ia akan kecewa. Namun, pada akhirnya, ia akan kembali ke kehidupannya sebagai pewaris keluarga Kisaragi.

Mai akan kembali menjadi gadis biasa.

Mereka akan berpisah.

Itulah yang seharusnya terjadi.

Namun, belakangan ini, membayangkan hari itu terasa semakin sulit. Setiap kali Ren tersenyum kepadanya, setiap kali pemuda itu menggenggam tangannya atau memperbaiki rambutnya yang berantakan, Mai semakin kehilangan kemampuan untuk membayangkan dirinya benar-benar pergi.

Dan sekarang, setelah melihat Clara, ia menyadari bahwa ketakutan tersebut memiliki bentuk yang jauh lebih jelas daripada sebelumnya.

Ia takut kehilangan Ren.

Bukan karena ia akan kehilangan pekerjaan.

Bukan karena ia akan kehilangan kemewahan Kediaman Kisaragi.

Bukan pula karena ia tidak tahu harus kembali ke mana setelah kontraknya berakhir.

Ia takut kehilangan Ren karena ia mencintainya.

Mai terdiam.

Air mata menggenang di sudut matanya, tetapi ia segera berkedip beberapa kali. Ia tidak ingin menangis di kamar mandi sekolah, apalagi sampai seseorang masuk dan melihatnya dalam keadaan seperti itu.

Ia menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Setelah beberapa saat, ia merapikan rambutnya, membetulkan pita seragam, dan mengangkat dagu. Ia memaksakan senyum kecil di depan cermin, mencoba mengembalikan ekspresi ceria yang biasa ia gunakan sebagai Kanade.

Kali ini, senyum itu tampak lebih meyakinkan.

Namun, matanya masih menyimpan kesedihan yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.

“Baiklah,” gumamnya. “Kita pulang, lalu berpura-pura semuanya baik-baik saja.”

Ia mengambil tasnya dari gantungan di dekat pintu, lalu berjalan keluar.

Koridor kelas satu sudah hampir kosong ketika Mai melangkah keluar dari kamar mandi.

Cahaya sore masuk melalui jendela-jendela besar di sisi bangunan, membentuk garis-garis panjang di lantai yang mengilap. Bayangan tiang-tiang jendela merentang sampai ke kaki meja pajangan, sementara udara membawa aroma samar kapur tulis dan debu dari ruang kelas yang baru saja dibersihkan.

Di kejauhan, terdengar suara bola memantul dari lapangan olahraga. Sesekali, angin menggoyangkan dedaunan di luar jendela, menimbulkan bunyi gesekan lembut yang hampir menyerupai bisikan.

Mai berjalan sambil memeluk tasnya.

Ia berencana langsung menuju gerbang sekolah. Jika Ren belum selesai dengan urusannya, ia dapat menunggu di dalam mobil atau meminta sopir mengantarnya kembali ke kediaman. Ia tidak perlu mencari Ren terlebih dahulu. Ia juga tidak perlu membicarakan Clara atau menjelaskan alasan mengapa dirinya tampak murung.

Semakin sedikit yang dikatakan, semakin kecil kemungkinan ia melakukan kesalahan.

Ia baru saja melewati papan pengumuman kelas satu ketika melihat seseorang berdiri di ujung koridor.

Ren.

Pemuda itu bersandar ringan pada dinding dekat jendela, kedua tangan dimasukkan ke saku celana seragamnya. Dasi sekolahnya sedikit longgar, dan blazer yang dikenakannya tampak rapi seperti biasa. Cahaya sore jatuh di sisi wajahnya, memperjelas garis hidung dan rahangnya.

Ia sedang menatap ke arah tangga.

Ketika melihat Mai, ia segera menegakkan tubuh.

“Kanade.”

Mai berhenti sesaat.

Ia tidak menyangka Ren akan menunggunya di sana.

“Onii-chan?”

Ren melangkah mendekat. Wajahnya tampak tenang, tetapi matanya mengamati Mai dengan perhatian yang sulit dihindari.

“Kau lama sekali.”

Mai merapatkan pegangan pada tali tasnya.

“Maaf. Aku hanya perlu mencuci muka.”

Lihat selengkapnya