Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #36

Dansa Musim Gugur Akademi Seiwa

Pagi itu, Aula Utama Akademi Seiwa dipenuhi cahaya keemasan yang menembus jendela-jendela tinggi di sepanjang dindingnya. Deretan tirai berwarna krem bergerak perlahan ditiup angin musim gugur, sementara daun-daun kekuningan di luar jendela sesekali berputar sebelum jatuh ke halaman batu. Di atas panggung, lambang sekolah terpampang di belakang podium kayu mahoni, mengapit dua rangkaian bunga krisan yang disusun oleh anggota komite acara. Udara aula menyimpan aroma pernis lantai, kertas pengumuman yang baru dicetak, dan parfum samar dari para siswa yang mulai memenuhi tempat duduk.

Pagi itu seharusnya menjadi pagi sekolah biasa. Para siswa kelas satu masih sibuk membicarakan tugas matematika, beberapa murid kelas dua memperdebatkan pertandingan olahraga antarkelas, sedangkan kelompok siswa kelas tiga tampak lebih tertarik pada jadwal ujian dan persiapan masuk universitas. Namun, suasana berubah ketika pembawa acara dari OSIS naik ke panggung dan mengetuk mikrofon dua kali.

“Mohon perhatian seluruh siswa Akademi Seiwa.”

Percakapan yang semula bersahutan perlahan mereda. Beberapa kepala menoleh ke panggung, sementara yang lain masih menyelesaikan obrolan sebelum akhirnya ikut diam.

“Dengan ini, kami mengumumkan bahwa Pesta Dansa Musim Gugur Akademi Seiwa akan diselenggarakan pada akhir bulan ini, bertempat di aula utama sekolah. Acara tersebut merupakan bagian dari tradisi tahunan akademi dan wajib dihadiri oleh seluruh siswa.”

Seketika, aula yang tadinya tenang kembali riuh.

“Pesta dansa? Serius?”

“Katanya tahun ini ada tamu dari keluarga-keluarga besar yang menjadi sponsor sekolah.”

“Kalau begitu, gaun dan jasnya harus benar-benar bagus.”

“Eh, bukankah para siswa kelas tiga biasanya membuka acara dengan dansa formal?”

Bisik-bisik itu menyebar cepat, dari barisan depan sampai bagian belakang aula. Beberapa siswi mulai saling menggenggam lengan, membicarakan warna gaun yang akan mereka kenakan. Di antara mereka, ada yang sudah sibuk memikirkan pasangan dansa, sementara yang lain terang-terangan berharap bisa mendapat kesempatan berdansa dengan siswa populer.

Bagi sebagian besar siswa Seiwa, pesta itu merupakan kesempatan untuk bersenang-senang di luar rutinitas akademik. Namun, bagi mereka yang berasal dari keluarga berpengaruh, pesta dansa jauh lebih berarti daripada sekadar musik, gaun indah, dan langkah-langkah tarian.

Acara tersebut adalah panggung sosial.

Di sana, pasangan yang berdiri berdampingan bisa menyampaikan pesan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun. Sebuah dansa pembuka dapat menjadi simbol kedekatan dua keluarga. Sebuah foto yang tersebar di media sosial bisa memicu spekulasi mengenai aliansi bisnis, pertunangan, atau hubungan yang sengaja dipertontonkan untuk kepentingan tertentu.

Dan tidak ada keluarga di Akademi Seiwa yang lebih memahami permainan semacam itu daripada keluarga Kisaragi.

Di barisan tengah, Mai duduk dengan kedua tangan terlipat di atas pangkuan. Ketika mendengar kata pesta dansa, ia sempat mengangkat alis, lalu perlahan melirik Ren yang duduk beberapa kursi darinya.

Ren tampak sama tenangnya seperti biasa. Ia menyandarkan punggung pada kursi, satu tangan menopang dagu, sementara matanya mengarah ke podium. Tidak ada perubahan ekspresi yang kentara, tetapi Mai cukup mengenalnya untuk menyadari bahwa perhatian Ren sesungguhnya sedang tertuju pada sesuatu yang jauh lebih rumit daripada pengumuman OSIS.

“Pesta dansa, ya?” bisik Mai ketika para siswa mulai kembali berdiri untuk meninggalkan aula.

Ren menoleh kepadanya.

“Kau pernah menghadiri acara seperti itu?”

Mai hampir menjawab bahwa ia bahkan belum pernah membayangkan menghadiri pesta dansa yang mengharuskannya mengenakan gaun mahal dan berdiri di tengah ruangan penuh orang kaya. Namun, ia segera mengingat identitas yang sedang dipakainya. Kisaragi Kanade adalah putri keluarga terpandang, adik seorang pewaris konglomerat. Ia tidak bisa sembarangan mengatakan bahwa kehidupan semacam itu terasa asing baginya.

“Belum pernah yang seperti ini,” jawabnya, berusaha mempertahankan senyum ringan. “Paling-paling acara sekolah biasa.”

“Kalau begitu, ini akan menjadi pengalaman baru.”

Ren mengucapkannya dengan nada datar, tetapi kemudian menambahkan, “Aku ingin kau menikmatinya.”

Mai berkedip.

“Aku?”

“Memangnya ada orang lain yang sedang berbicara denganku?”

Ren berdiri sambil merapikan kerah seragamnya. Senyum tipis melintas di wajahnya, cukup singkat untuk membuat Mai tidak yakin apakah ia benar-benar melihatnya.

Mai mendengus kecil, berusaha menyembunyikan rasa hangat yang menjalar ke pipinya.

“Baiklah, Onii-chan. Tapi jangan berharap aku akan menari seperti putri kerajaan. Kalau aku menginjak kakimu, itu bukan salahku.”

“Kalau begitu, aku akan memastikan kakiku tidak berada di tempat yang salah.”

“Wah, percaya diri sekali.”

Ren hanya tertawa pelan.

Bagi siswa lain yang melihat mereka, percakapan itu tampak seperti interaksi biasa antara kakak dan adik yang akrab. Tidak ada yang tahu betapa banyak hal yang sengaja tidak mereka katakan. Tidak ada yang tahu bahwa Mai sedang berusaha keras agar setiap senyuman dan gurauan tetap berada dalam batas identitas yang dicurinya.

Dan tidak ada yang tahu bahwa di balik sikap santai Ren, sebuah keputusan mulai terbentuk.

Menjelang siang, kabar tentang Pesta Dansa Musim Gugur telah memenuhi hampir setiap sudut Akademi Seiwa.

Di koridor lantai tiga, dua siswi berjalan berdampingan sambil membandingkan gambar gaun yang mereka temukan di ponsel. Di depan ruang kelas, beberapa siswa laki-laki membicarakan apakah jas formal sekolah akan disediakan atau harus disewa sendiri. Bahkan kantin yang biasanya dipenuhi perdebatan mengenai makanan pun berubah menjadi tempat diskusi tentang pasangan dansa.

Mai berusaha tidak terlalu memperhatikan semua itu. Ia sudah cukup sibuk menghadapi tugas kelas, catatan yang harus diselesaikan, serta pesan-pesan dari teman sekelas yang mulai menanyakan apakah ia akan mengenakan gaun tertentu.

Namun, ketika ia sedang merapikan buku di mejanya, sebuah nama terdengar dari percakapan dua siswi di dekat jendela.

“Kalau Kisaragi-senpai berdansa dengan Saionji-senpai, itu pasti akan menjadi pasangan paling menonjol malam itu.”

“Sudah jelas, kan? Mereka sama-sama dari keluarga besar. Lagi pula, bukankah keluarga mereka memang dekat?”

“Kalau mereka berdansa pembuka bersama, aku yakin foto mereka akan muncul di semua akun berita sekolah.”

Tangan Mai berhenti di atas buku catatan.

Ia tahu Clara memiliki kedudukan khusus dalam kehidupan Ren. Gadis berusia delapan belas tahun itu bukan sekadar siswi senior yang kebetulan dekat dengan keluarga Kisaragi. Ia adalah putri keluarga Saionji, keluarga berpengaruh di dunia media, sekaligus perempuan yang telah dipersiapkan untuk menjadi pasangan Ren melalui kesepakatan orang tua mereka.

Clara sendiri tidak pernah bersikap kasar kepada Mai. Ia selalu tersenyum sopan, berbicara dengan anggun, dan memperlakukannya sebagai adik Ren tanpa sedikit pun menunjukkan rasa curiga terhadap identitas palsu yang dikenakannya.

Justru karena itulah Mai merasa sulit membenci gadis tersebut.

Clara tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia hanya berdiri di tempat yang sejak awal disediakan untuknya.

Tempat yang tidak pernah benar-benar menjadi milik Mai.

“Kanade?”

Mai tersentak ketika Yuna, teman sekelasnya, menyentuh ringan ujung meja.

“Kau melamun lagi. Sedang memikirkan gaun pesta?”

“Ah, tidak.” Mai segera menutup buku catatannya. “Aku hanya sedang memikirkan tugas.”

Yuna mengernyit.

“Serius? Kita baru saja membicarakan pesta dansa. Kau tidak tertarik sama sekali?”

“Tentu saja tertarik.”

“Bagus! Kalau begitu, nanti kita bisa mencari gaun bersama.” Yuna merapatkan kedua tangannya dengan antusias. “Aku ingin memakai warna biru tua. Menurutmu cocok tidak?”

Mai memaksakan senyum yang lebih lebar.

“Pasti cocok. Warna itu akan terlihat elegan.”

“Kalau kau sendiri?”

Pertanyaan itu membuat Mai terdiam sejenak.

Ia membayangkan dirinya berdiri di sebuah ruangan megah, mengenakan gaun indah di antara para putri keluarga kaya, pewaris perusahaan, dan tamu undangan yang terbiasa menilai seseorang dari nama keluarga serta harga pakaian yang dikenakannya.

Lalu ia membayangkan Ren berdansa dengan Clara.

Gambaran itu muncul terlalu mudah, seolah-olah dunia sedang memperlihatkan sebuah adegan yang sebenarnya sudah ditentukan jauh sebelum Mai datang.

“Aku belum tahu,” jawabnya akhirnya. “Mungkin sesuatu yang sederhana.”

Yuna tampak hendak menyampaikan pendapat, tetapi bel masuk berbunyi sebelum ia sempat melanjutkan percakapan. Para siswa bergegas kembali ke tempat duduk masing-masing.

Mai membuka buku pelajarannya. Ia memaksa matanya mengikuti tulisan di halaman, meskipun sebagian pikirannya tertinggal di aula tadi pagi.

Ia seharusnya tidak memiliki alasan untuk merasa kecewa. Ia hanyalah gadis yang dibayar untuk memainkan peran sebagai Kanade. Ia tidak memiliki hak untuk mengharapkan Ren memilihnya, apalagi menuntut tempat di sisinya dalam sebuah pesta yang dirancang untuk mempertontonkan hubungan antarkeluarga.

Namun, semakin keras ia berusaha mengingatkan dirinya sendiri tentang hal itu, semakin sulit pula ia menenangkan perasaan yang bergejolak di dalam dadanya.

Panggilan telepon itu datang ketika Ren baru saja kembali ke kediaman Kisaragi pada sore hari.

Ia sedang berada di ruang kerjanya, masih mengenakan seragam Akademi Seiwa, ketika ponselnya bergetar di atas meja. Nama ayahnya muncul pada layar.

Ren menatapnya beberapa detik sebelum mengangkat panggilan.

“Selamat sore, Ayah.”

“Ren. Kau sudah mendengar pengumuman tentang Pesta Dansa Musim Gugur?”

Suara Souichiro terdengar tegas, tanpa sapaan basa-basi atau pertanyaan mengenai keadaan putranya. Di latar belakang, samar-samar terdengar bunyi pintu dan suara seseorang membicarakan jadwal pertemuan. Bahkan melalui telepon, Souichiro terdengar seperti seorang direktur yang sedang menyampaikan instruksi kepada bawahannya.

“Sudah.”

“Bagus. Aku ingin kau memahami bahwa kehadiranmu dalam acara tersebut bukan sekadar kewajiban sekolah. Beberapa tamu penting akan hadir. Ada perwakilan dari perusahaan mitra kita, anggota dewan, dan sejumlah keluarga yang perlu kita jaga hubungannya.”

Ren menggeser kursinya sedikit ke belakang. Di luar jendela, cahaya matahari sore jatuh miring di atas taman, membuat bayangan pepohonan memanjang di atas jalan setapak.

“Aku mengerti.”

“Kau akan berdansa pembuka bersama Saionji Clara.”

Kalimat itu disampaikan tanpa keraguan, seolah-olah Souichiro sedang mengumumkan jadwal makan malam, bukan menentukan siapa yang harus berdiri di sisi putranya di hadapan ratusan orang.

Ren tidak langsung menjawab.

Di seberang ruangan, pintu terbuka sedikit. Mai muncul sambil membawa baki berisi teh dan beberapa potong kue yang disiapkan staf dapur. Ia hendak mengetuk, tetapi berhenti ketika mendengar nama Clara dari telepon Ren.

Tatapannya terangkat.

Ren menyadari kehadirannya, tetapi tidak memberi isyarat agar ia pergi. Sebaliknya, ia hanya mengalihkan pandangan kembali ke jendela.

“Ayah sudah membicarakan ini dengan keluarga Saionji?” tanyanya.

“Tentu saja. Keluarga mereka menyambut baik rencana tersebut. Clara sendiri tampaknya antusias. Kalian sudah saling mengenal sejak lama, dan berdansa bersama akan menjadi gestur yang tepat.”

Mai menunduk perlahan. Ia meletakkan baki di atas meja kecil dekat pintu dengan gerakan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Namun, ia tidak segera pergi.

“Gestur yang tepat,” ulang Ren, hampir tanpa intonasi.

“Jangan mulai memperumit sesuatu yang sederhana. Kau adalah pewaris keluarga Kisaragi. Orang-orang akan memperhatikan setiap langkahmu, dan aku tidak ingin melihatmu melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan spekulasi yang tidak perlu.”

“Apa yang Ayah khawatirkan? Spekulasi tentang hubungan keluarga Saionji dan Kisaragi?”

“Jangan bersikap kekanak-kanakan.”

Rahang Ren mengeras sesaat.

Souichiro melanjutkan, “Kau harus tampil dengan baik. Berdansalah dengan Clara, tunjukkan bahwa kau sudah pulih sepenuhnya, dan jangan memberi orang lain alasan untuk mempertanyakan kestabilanmu. Kau mengerti?”

Ren memandang pantulan dirinya sendiri pada kaca jendela. Wajah yang terlihat di sana tampak tenang, nyaris tanpa ekspresi. Namun, jemarinya telah berhenti bergerak di atas meja, dan ibu jarinya menekan tepi ponsel sedikit lebih kuat daripada sebelumnya.

“Ya, Ayah. Aku mengerti instruksinya.”

“Bagus. Aku akan mengirimkan rincian protokol melalui Saito. Jangan membuatku harus mengingatkanmu dua kali.”

Panggilan berakhir.

Ruangan kembali sunyi. Dari luar, suara burung terdengar di antara pepohonan, bercampur dengan deru kendaraan yang melintas di jalan jauh di balik pagar kediaman.

Ren menurunkan ponselnya.

Mai masih berdiri di dekat pintu, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuh. Ia tidak berniat menguping percakapan itu. Setidaknya, itulah yang ingin ia katakan kepada dirinya sendiri. Namun, setelah mendengar perintah Souichiro, ia tidak sanggup berpura-pura bahwa ia tidak memahami apa yang baru saja terjadi.

“Tehmu,” ucapnya pelan.

Ren menoleh.

“Kau mendengar semuanya?”

Mai tersenyum kaku. “Tidak semuanya.”

Itu kebohongan kecil yang terdengar buruk bahkan di telinganya sendiri.

Ren tidak menegurnya. Ia hanya menghela napas pendek, lalu menyandarkan ponsel di atas meja.

“Ayah ingin aku berdansa dengan Clara di depan para undangan.”

“Aku tahu.”

“Kau terdengar tidak terkejut.”

Mai menunduk dan merapikan lipatan celemek imajiner yang tidak ia kenakan—sebuah kebiasaan kecil yang tersisa dari masa ketika ia harus berdiri di depan pelanggan sambil menahan kecemasan di balik senyum manis.

Lihat selengkapnya