Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #37

Sembunyi di Balik Tirai Aula

Malam itu, Aula Utama Akademi Seiwa berubah menjadi dunia yang nyaris tidak menyerupai sekolah.

Lampu-lampu kristal menggantung tinggi di langit-langit, memancarkan cahaya keemasan yang berpendar di atas lantai marmer. Rangkaian bunga berwarna merah anggur dan putih gading menghiasi pilar-pilar aula, sementara dedaunan musim gugur yang dikumpulkan dari taman akademi dirangkai menjadi dekorasi di sepanjang dinding. Di atas panggung, tirai beludru berwarna merah tua membingkai lambang sekolah, menjuntai berat hingga hampir menyentuh lantai. Sebuah orkestra kecil menempati sisi panggung, memainkan komposisi klasik yang mengalun lembut di antara percakapan para tamu.

Aroma parfum mahal bercampur dengan wangi bunga segar dan makanan yang disajikan dari meja prasmanan. Gelas-gelas kristal beradu pelan. Suara tawa terdengar dari berbagai penjuru, diselingi sapaan formal dan percakapan mengenai bisnis, prestasi akademik, serta nama-nama keluarga yang memiliki pengaruh di masyarakat.

Bagi para tamu undangan, Pesta Dansa Musim Gugur merupakan kesempatan untuk menikmati malam yang indah.

Bagi para siswa, malam itu adalah panggung untuk memperlihatkan diri.

Namun, bagi Kisaragi Ren, aula megah tersebut tidak lebih dari sebuah ruangan yang dipenuhi orang-orang yang merasa berhak menentukan bagaimana dirinya harus hidup.

Ia berdiri di dekat pintu masuk utama dengan jas hitam yang dijahit khusus untuknya. Kemeja putihnya tampak sempurna, dasinya terikat rapi, dan rambut hitamnya ditata sedikit berbeda dari biasanya. Penampilannya begitu mencolok hingga beberapa siswa yang sedang berbicara di dekat meja minuman menghentikan percakapan hanya untuk menoleh.

Di sisinya berdiri Saionji Clara.

Clara mengenakan gaun berwarna merah anggur dengan potongan elegan yang menonjolkan postur tubuhnya yang anggun. Rambutnya ditata dengan sanggul sederhana, dihiasi jepit mutiara kecil yang menangkap cahaya lampu setiap kali ia menoleh. Senyum yang menghiasi wajahnya terlihat tenang, tetapi kedua matanya memancarkan antusiasme yang tidak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

“Sudah lama sekali sejak terakhir kali kita menghadiri acara formal bersama,” ujar Clara sambil melirik Ren.

Ren mengalihkan pandangan dari aula yang dipenuhi tamu.

“Kurasa terakhir kali adalah jamuan makan malam keluarga beberapa tahun lalu.”

“Benar. Waktu itu kau masih lebih pendek dariku.”

“Dan kau masih suka mengoreksi cara orang memegang sendok.”

Clara tertawa kecil. Ia menutup mulut dengan ujung jari, menjaga agar tawanya tetap pantas di tengah keramaian.

“Aku tidak pernah melakukan itu.”

“Kau pernah menghabiskan hampir sepuluh menit menjelaskan kepada Kenji bahwa sendok sup tidak seharusnya diperlakukan seperti sekop.”

“Itu karena dia benar-benar menggunakannya seperti sekop!”

Untuk sesaat, suasana di antara mereka terasa ringan. Clara tersenyum lebih lebar, sementara Ren membiarkan sudut bibirnya terangkat sedikit.

Akan tetapi, kehangatan kecil itu tidak mengubah kenyataan bahwa mereka berdua sedang berdiri di tengah sebuah pertunjukan yang telah dirancang oleh orang lain.

Di seberang aula, sejumlah tamu dewasa memperhatikan mereka dengan minat yang tidak berusaha disembunyikan. Seorang pria berambut kelabu yang mengenakan setelan abu-abu gelap berbicara kepada rekannya sambil menunjuk mereka dengan gerakan kecil. Di dekat meja minuman, dua orang perempuan yang tampaknya merupakan kerabat keluarga Saionji berbisik sambil sesekali melirik Clara.

Pasangan yang berdiri berdampingan di depan pintu masuk itu sudah cukup untuk menciptakan kesimpulan di benak banyak orang.

Pewaris Kisaragi dan putri Saionji.

Dua keluarga besar.

Sebuah hubungan yang dianggap menjanjikan.

Ren mengetahui semua itu. Ia juga mengetahui bahwa ayahnya mungkin sedang mengawasi acara dari suatu tempat, menunggu bukti bahwa putranya mampu kembali memainkan peran sebagai pewaris tanpa menunjukkan tanda-tanda keretakan.

Namun, di balik wajahnya yang tenang, Ren hanya memikirkan satu hal.

Mai.

Ketika pembawa acara mengumumkan dimulainya dansa pembuka, percakapan di aula perlahan mereda. Para tamu menyingkir dari lantai dansa, memberikan ruang bagi pasangan pertama yang akan tampil. Cahaya lampu di atas panggung diredupkan sedikit, sementara sorot lampu yang lebih lembut diarahkan ke tengah ruangan.

“Para hadirin yang kami hormati,” suara pembawa acara terdengar melalui pengeras suara, “marilah kita membuka Pesta Dansa Musim Gugur Akademi Seiwa dengan pasangan kehormatan malam ini, Kisaragi Ren dan Saionji Clara.”

Tepuk tangan segera memenuhi aula.

Clara mengulurkan tangan kepada Ren. Senyumnya tampak semakin cerah ketika Ren menyambut tangannya dan membawanya menuju lantai dansa.

“Semoga kau tidak menginjak kakiku,” bisik Clara ketika mereka mengambil posisi.

“Aku akan berusaha menghindarinya.”

“Jawaban yang sangat meyakinkan.”

Ren mengulurkan tangan kanannya, dan Clara meletakkan tangannya di sana. Tangan mereka yang lain bertemu pada posisi yang telah ditentukan oleh instruktur dansa, membentuk sikap awal yang anggun dan formal.

Musik orkestra mulai mengalun.

Nada-nada biola yang lembut mengisi aula, diikuti denting piano dan irama gesek yang menjaga tempo. Ren memimpin langkah pertama dengan tepat. Clara mengikuti gerakannya tanpa kesulitan, tubuhnya bergerak mengikuti irama dengan keluwesan seseorang yang telah terbiasa menghadiri acara semacam itu.

Mereka berputar perlahan di tengah lantai dansa.

Satu langkah maju. Satu langkah ke samping. Putaran kecil, lalu kembali ke posisi semula.

Tidak ada gerakan yang salah. Tidak ada jeda yang canggung. Dari sudut pandang para tamu, mereka adalah pasangan yang sempurna.

Namun, selama dua menit itu, Ren tidak pernah benar-benar membiarkan pikirannya menetap pada tarian yang sedang mereka lakukan.

Ia menghitung waktu.

Ia mengingat letak pintu samping di dekat panggung. Ia memperhatikan pergerakan para pelayan yang membawa nampan minuman, posisi para siswa yang berdiri di sekitar lantai dansa, dan celah di antara kelompok tamu yang dapat dilaluinya tanpa menarik perhatian terlalu besar.

Ren tidak sedang berusaha melarikan diri dari Clara.

Ia sedang mencari jalan untuk melepaskan diri dari pertunjukan yang dipaksakan kepada mereka berdua.

“Ren?”

Suara Clara menyentuh telinganya di sela musik.

Ren kembali memusatkan perhatian pada pasangannya.

“Ya?”

“Kau tampak sedang memikirkan sesuatu.”

“Aku sedang menghitung langkah.”

Clara mengangkat alis.

“Sejak kapan kau perlu menghitung langkah untuk berdansa?”

“Sejak aku tidak ingin menginjak kakimu.”

Clara tertawa kecil, tetapi kali ini tawanya disertai tatapan yang lebih teliti. Ia mengenal Ren cukup lama untuk mengetahui bahwa pemuda itu jarang memberikan jawaban yang benar-benar kosong. Bahkan ketika bercanda, Ren biasanya menyembunyikan sesuatu di balik kata-katanya.

Namun, ia tidak bertanya lebih jauh.

Musik terus berjalan. Ren memimpin Clara melewati satu putaran lagi, menjaga jarak dan sikap mereka tetap sesuai dengan standar dansa formal. Ketika komposisi itu mendekati bagian akhir, ia menyesuaikan langkah dengan perubahan tempo, lalu mengantarkan Clara kembali ke posisi awal.

Tepuk tangan kembali terdengar.

Dua menit telah berlalu.

Dua menit yang cukup bagi para tamu untuk mengambil foto, bagi para siswa untuk berbisik tentang keserasian mereka, dan bagi sejumlah orang dewasa untuk merasa puas karena pasangan yang mereka harapkan telah tampil dengan sempurna.

Clara membungkuk sedikit bersama Ren, menyambut tepuk tangan dengan senyum anggun.

“Kau masih mengingat langkah-langkahnya dengan baik,” katanya.

“Terima kasih.”

Clara menatapnya dengan mata berbinar.

“Aku senang kita bisa berdansa bersama malam ini.”

Ren memandangnya sesaat.

Di hadapannya berdiri seorang gadis yang tidak pernah memperlakukannya dengan buruk, yang bahkan mungkin memiliki harapan tulus terhadap hubungan mereka. Clara tidak pantas dipermalukan hanya karena ia sendiri tidak ingin mengikuti rencana keluarga.

“Aku juga berterima kasih karena kau bersedia menjadi pasangan dansa pembuka,” jawab Ren.

Clara menangkap jarak yang tersembunyi di balik kalimat itu. Senyumnya tidak langsung memudar, tetapi jemarinya yang masih berada di tangan Ren sedikit mengendur.

“Kau selalu pandai memilih kata-kata yang aman, ya?”

Ren tidak segera menjawab.

Sebelum Clara sempat menambahkan sesuatu, beberapa tamu menghampiri mereka untuk memberikan ucapan selamat. Seorang anggota dewan sekolah memuji penampilan mereka. Seorang perempuan dari keluarga Saionji meminta izin mengambil foto bersama Clara. Di belakangnya, seorang pria berjas gelap mengulurkan tangan kepada Ren sambil berbicara mengenai ayahnya.

Kerumunan mulai mengelilingi mereka.

Ren menyambut sapaan-sapaan itu dengan sopan. Ia tersenyum seperlunya, menjawab pertanyaan dengan singkat, dan menunggu hingga perhatian orang-orang terbagi ke arah lain.

Kemudian, ketika seorang pelayan melintas membawa nampan berisi gelas-gelas kosong dan beberapa tamu bergerak menuju meja prasmanan, Ren mengambil kesempatan yang telah ditunggunya.

Ia melangkah mundur, menyelipkan diri di antara dua kelompok tamu, lalu bergerak menuju sisi panggung yang tertutup dekorasi bunga.

Tidak terburu-buru. Tidak berlari.

Ia hanya menghilang dari pandangan mereka, satu langkah demi satu langkah, hingga jas hitamnya lenyap di balik tirai samping.

Ketika salah seorang tamu kembali menoleh untuk berbicara dengannya, Ren sudah tidak berada di sana.

Mai berdiri sendirian di sudut panggung.

Gaun biru malam yang dipilih Ren membingkai tubuhnya dengan sederhana. Bordir bunga perak di bagian lengan menangkap cahaya lampu, sementara rok yang jatuh lembut di sekeliling kakinya bergerak sedikit setiap kali ia mengubah posisi. Rambutnya disanggul longgar, dihiasi aksesori bunga kecil yang senada dengan warna gaun. Pita merah muda buatan Ren tidak ia kenakan malam itu, tetapi ia menyimpannya di dalam kotak kecil di kamarnya sebelum berangkat.

Ia telah berdiri di sana selama hampir seluruh dansa pembuka, memperhatikan Ren dan Clara dari kejauhan.

Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat bagaimana cahaya lampu memantul di rambut Clara, bagaimana Ren memimpin langkah dengan ketenangan yang nyaris sempurna, dan bagaimana para tamu menyaksikan mereka seolah-olah sedang melihat gambaran ideal dari dua keluarga yang bersatu.

Mai mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa pemandangan itu tidak menyakitkan.

Ren memang harus berdansa dengan Clara. Itulah yang diinginkan Souichiro. Itulah yang diharapkan para tamu. Dan, jika dipikirkan dengan kepala dingin, itulah pasangan yang paling masuk akal untuk berdiri di tengah aula.

Clara cantik. Clara anggun. Clara memiliki nama keluarga yang sepadan dengan nama Kisaragi.

Sedangkan Mai—

Mai menunduk, memperhatikan tangannya yang terlipat di depan tubuh.

Ia mengenakan gaun mahal, tetapi dirinya tetap gadis yang sama. Gadis yang pernah menyapa pelanggan di Akihabara dengan suara ceria, yang menghafal pesanan minuman demi mendapatkan upah tambahan, yang harus menghitung uang makan setiap akhir pekan. Semua kemewahan yang mengelilinginya tidak mengubah asal-usulnya.

Ia hanya sedang mengenakan pakaian yang bukan bagian dari kehidupannya.

“Tidak apa-apa,” bisiknya kepada diri sendiri. “Aku hanya perlu menikmati pestanya.”

Namun, kalimat itu terasa semakin kosong ketika ia melihat Ren dan Clara menyelesaikan dansa pembuka mereka. Tepuk tangan memenuhi aula, dan beberapa siswa mulai bergerak mendekati pasangan tersebut.

Mai ikut bertepuk tangan.

Ia bahkan tersenyum.

Senyum yang telah ia latih selama berbulan-bulan itu muncul secara otomatis, cukup lembut untuk membuat orang lain percaya bahwa ia benar-benar bahagia melihat kakaknya tampil dengan baik.

Lalu ia menurunkan kedua tangan dan merasakan ujung jarinya sedikit gemetar.

Musik berubah menjadi komposisi yang lebih ringan. Para siswa mulai memasuki lantai dansa, beberapa dengan pasangan yang telah mereka tentukan sebelumnya, yang lain dengan teman-teman yang baru mereka ajak bicara malam itu.

Mai tetap berada di sudut panggung.

Ia tidak ingin mengganggu siapa pun. Ia juga tidak tahu apakah dirinya seharusnya mencari pasangan dansa. Sebagai siswa kelas satu, ia bisa saja menghabiskan malam dengan teman sekelasnya, tetapi sebagian besar dari mereka telah berkumpul bersama kelompok masing-masing.

Yuna sempat mengajaknya bergabung, tetapi Mai menolak dengan alasan ingin beristirahat sejenak. Ia tidak ingin membuat temannya merasa harus menemani seseorang yang bahkan tidak mampu menikmati pesta dengan benar.

Dari kejauhan, ia melihat Clara berbicara dengan beberapa tamu. Gadis senior itu tampak begitu alami di tengah keramaian, tertawa kecil ketika seseorang menyampaikan pujian, lalu mengangguk anggun saat seorang perempuan dewasa mengajaknya berbincang.

Mai menelan ludah.

Ia tidak membenci Clara.

Ia hanya membenci kenyataan bahwa setiap kali melihat gadis itu berdiri di sisi Ren, Mai diingatkan bahwa dirinya tidak memiliki tempat yang benar-benar sah di sana.

“Seharusnya aku tidak datang.”

Kalimat itu nyaris lolos dari bibirnya.

Mai segera menutup mulut, lalu mengembuskan napas perlahan. Ia tidak ingin menangis di tempat seperti ini. Tidak di tengah aula yang dipenuhi orang-orang yang mengenal nama Kisaragi, tidak di bawah cahaya lampu yang membuat setiap ekspresi mudah terlihat.

Ia merapikan bagian depan gaunnya, mengangkat dagu, dan kembali memasang senyum tipis.

Mungkin malam itu akan berlalu tanpa sesuatu yang istimewa.

Mungkin ia akan pulang ke kediaman Kisaragi, melepas gaunnya, lalu menyimpannya kembali di dalam kotak. Esok hari, ia akan kembali mengenakan seragam sekolah, mengerjakan tugas, tersenyum kepada Ren, dan memainkan peran yang sama seperti sebelumnya.

Itu seharusnya cukup.

Ia baru saja hendak memalingkan wajah ketika sebuah suara memanggilnya dari samping.

“Kanade.”

Mai membeku.

Suara itu begitu akrab sehingga ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemiliknya.

Namun, ia tetap berbalik.

Ren berdiri beberapa langkah darinya, jas hitamnya sedikit terbuka karena gerakan yang baru saja dilakukannya. Ia tidak lagi berada di lantai dansa, dan Clara tidak terlihat di belakangnya. Wajahnya masih tenang, tetapi napasnya sedikit lebih cepat daripada ketika ia terakhir kali berbicara dengannya.

Mai berkedip beberapa kali.

“Onii-chan? Kau—”

Ren mengulurkan tangan.

“Kesini bersamaku sebentar.”

Mai menatap telapak tangannya, lalu wajahnya.

“Bagaimana dengan Saionji-senpai?”

“Dia baik-baik saja.”

“Tapi kau baru saja berdansa dengannya. Semua orang sedang mencari kalian, kan?”

“Mereka sedang sibuk dengan pestanya.”

“Tapi, kau tidak bisa begitu saja—”

“Aku tahu.”

Ren mengucapkannya dengan lembut. Tidak ada nada marah, tidak ada tanda bahwa ia menganggap pertanyaan Mai sebagai gangguan. Ia hanya berdiri di hadapannya, menunggu, dengan tangan yang masih terulur.

“Karena itu, aku tidak akan lama.”

Mai merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia tahu seharusnya ia menolak. Ia tahu mereka berada di tempat umum, bahwa setiap gerakan mereka bisa diamati oleh para tamu, dan bahwa Saito mungkin telah memastikan seseorang mengawasi Ren sepanjang malam.

Namun, ketika ia melihat tangan Ren yang terbuka untuknya, semua alasan yang telah ia susun mendadak terasa jauh.

“Ke mana kita akan pergi?” bisiknya.

Ren melirik ke arah tirai samping panggung.

“Tempat yang sedikit lebih tenang.”

Mai ragu selama beberapa detik.

Lalu, perlahan, ia meletakkan tangannya di atas tangan Ren.

Jari-jari Ren menutup dengan lembut di sekelilingnya.

“Jangan khawatir,” katanya. “Aku tidak akan membiarkanmu tersesat.”

Mai hampir tertawa mendengar kalimat itu. Justru Ren-lah yang selama ini tampak seperti seseorang yang kehilangan arah setelah bangun dari koma. Kini, pemuda itu berdiri di hadapannya dengan ketenangan yang membuatnya merasa bahwa untuk sekali ini, ia boleh berhenti memikirkan segala sesuatu sendirian.

“Kalau kita ketahuan, aku akan menyalahkanmu,” bisiknya.

Ren tersenyum.

“Itu adil.”

Kemudian ia membawanya pergi.

Mereka bergerak menyusuri sisi panggung, melewati rangkaian bunga dan beberapa kotak perlengkapan yang diletakkan di dekat dinding. Suara orkestra terdengar semakin jauh ketika mereka menjauh dari lantai dansa utama, meskipun iramanya masih jelas di balik tirai tebal yang membatasi panggung dengan area belakang.

Ren tidak menarik tangan Mai dengan kasar. Ia hanya menggenggamnya cukup erat agar mereka tidak terpisah di antara para staf yang sesekali melintas membawa perlengkapan acara.

Mai mengikuti langkahnya dengan hati-hati. Sepatu pesta yang dikenakannya membuat langkahnya sedikit lebih pendek daripada biasanya. Ia beberapa kali harus mengangkat ujung gaunnya agar tidak tersangkut pada lantai atau sudut kotak perlengkapan.

“Pelan-pelan,” bisik Ren ketika mereka melewati sebuah pintu samping.

“Aku sudah berjalan pelan!”

“Kau hampir menginjak rokmu sendiri.”

“Itu karena seseorang menarik tanganku tanpa menjelaskan apa pun!”

Ren menoleh, dan untuk sesaat senyumnya tampak begitu lepas hingga Mai lupa untuk merasa gugup.

“Kalau begitu, aku akan memperlambat langkah.”

Ia benar-benar menyesuaikan kecepatannya.

Mereka melewati pintu sempit yang mengarah ke area belakang panggung. Di sana, cahaya lampu aula hanya menembus melalui celah-celah kain dan pintu yang terbuka sedikit. Udara terasa lebih sejuk, beraroma debu kain, kayu, dan bahan dekorasi yang disimpan dalam peti-peti besar.

Lihat selengkapnya