Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #38

Kamera Tersembunyi Otaku

Di balik panggung Aula Utama Akademi Seiwa, kesibukan pesta hanya terdengar sebagai gema yang teredam oleh tirai beludru tebal. Dari celah sempit di antara kain merah anggur dan dinding samping, cahaya keemasan lampu gantung menyusup ke area penyimpanan perlengkapan, menerangi beberapa peti kayu, gulungan kabel, serta panel dekorasi yang belum dikembalikan ke tempatnya. Sesekali, bayangan siswa panitia melintas di dekat pintu servis, tetapi tidak seorang pun tampak berniat memeriksa sudut gelap tersebut.

Di tempat itulah Haruki, anggota Klub Budaya Populer berusia enam belas tahun, sedang menjalankan tugas dokumentasi yang sebenarnya tidak terlalu menarik baginya.

Kamera digital berkualitas tinggi tergantung di lehernya. Perangkat itu merupakan pinjaman dari klub fotografi untuk mendokumentasikan dekorasi dan persiapan acara sekolah. Lensanya mampu menangkap detail dengan baik meskipun pencahayaan minim, sedangkan layar belakangnya memungkinkan Haruki memeriksa hasil jepretan tanpa harus mengaktifkan lampu tambahan.

Seharusnya ia memotret rangkaian bunga, dekorasi panggung, dan susunan perlengkapan pesta.

Seharusnya.

Namun, sejak identitas siswi bernama Kisaragi Kanade mulai dikaitkan dengan mantan maid legendaris Akihabara, tugas sederhana itu telah kehilangan sebagian besar daya tariknya. Pikiran Haruki terus kembali kepada foto Mei-chan yang pernah ia bandingkan dengan wajah siswi kelas satu tersebut. Kemiripannya terlalu mencolok untuk diabaikan, terlebih setelah insiden ketika Kanade secara tidak sengaja mengucapkan ungkapan khas pelayan maid cafe di dalam kelas.

Bersama Tetsuya, ia telah menyusun berbagai dugaan. Mereka belum memiliki jawaban pasti, tetapi Haruki semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan keluarga Kisaragi.

Dan pesta dansa malam ini mungkin memberikan kesempatan untuk menemukan petunjuk baru.

Haruki mengangkat kameranya, lalu mengarahkan lensa ke lambang Akademi Seiwa yang terpasang pada panel dekorasi di sisi panggung. Ia mengatur fokus, mengambil satu gambar, kemudian memeriksa hasilnya.

Sebagian rangkaian bunga terlihat buram karena terhalang lipatan tirai.

“Ah, sial. Sedikit lagi,” gumamnya.

Ia bergeser ke kanan, mencari sudut pengambilan yang lebih baik. Ketika mengarahkan lensa melewati celah antara tirai dan dinding, ia justru menemukan ruang sempit di balik panggung yang tidak sepenuhnya kosong.

Ada dua sosok di sana.

Haruki menghentikan gerakan tangannya.

Awalnya, ia hanya melihat siluet seorang pemuda berjas hitam dan seorang gadis bergaun biru. Keduanya berada cukup dekat satu sama lain, tetapi pencahayaan remang membuat Haruki belum dapat mengenali wajah sang gadis dengan jelas.

Ia hampir menurunkan kamera. Mengambil gambar orang yang sedang berbicara secara pribadi bukan bagian dari tugasnya.

Namun, pemuda itu sedikit menggeser posisi tubuhnya.

Wajahnya terlihat.

Haruki langsung menahan napas.

“Kisaragi Ren?”

Ia mengenali siswa kelas tiga tersebut dengan mudah. Tidak banyak orang di Akademi Seiwa yang memiliki penampilan sejelas Ren, terlebih dengan jas formal yang dikenakannya malam itu.

Haruki kemudian mengalihkan pandangan ke gadis di hadapannya.

Gaun biru sederhana. Rambut tertata rapi. Postur anggun yang tidak asing baginya.

Ketika gadis itu mengangkat wajah, Haruki merasa seolah-olah seseorang baru saja menyiramkan seember air dingin ke kepalanya.

“Kisaragi Kanade…”

Ia hampir mengucapkan nama itu dengan suara keras, tetapi buru-buru menutup mulutnya sendiri.

Tidak mungkin ia salah mengenali wajah tersebut.

Siswi yang selama ini menjadi pusat spekulasi klubnya kini berada di area belakang panggung bersama Ren, jauh dari kerumunan tamu dan siswa yang memenuhi aula. Keduanya tidak tampak sedang membicarakan urusan panitia. Tidak ada dokumen, telepon, atau perlengkapan acara di antara mereka.

Hanya mereka berdua.

Haruki menelan ludah. Tangannya bergerak secara refleks, mengangkat kamera kembali ke depan wajah.

Ia tahu bahwa ia seharusnya tidak mengambil gambar itu. Akan tetapi, rasa ingin tahu yang selama ini ia pendam segera mengalahkan keraguannya.

Ia memperbesar tampilan layar dan menyesuaikan fokus.

Di dalam bingkai, Ren berdiri menghadap Kanade. Wajahnya tampak jauh lebih lembut daripada ekspresi tenang yang biasa ia tunjukkan di sekolah. Salah satu tangannya menggenggam tangan gadis itu, sedangkan tangan lainnya berada di pinggangnya.

Haruki terdiam.

Ia pernah melihat Ren merapikan rambut Kanade, membawakan makanan untuknya, dan berdiri di hadapannya ketika para siswi senior berusaha mengintimidasinya. Semua itu masih dapat dijelaskan sebagai perhatian seorang kakak yang terlalu protektif.

Namun, gambar yang berada di hadapannya sekarang terasa berbeda.

Kedekatan mereka terlalu pribadi. Gerakan Ren terlalu hati-hati, seolah-olah ia sedang memegang sesuatu yang sangat berharga. Sementara itu, Kanade tidak berusaha menjauh. Ia justru membiarkan dirinya berada dekat dengan Ren.

Haruki merasakan jantungnya berdegup semakin cepat.

“Jangan-jangan…”

Pikirannya langsung kembali kepada teori yang selama ini ia dan Tetsuya bangun.

Mei-chan, maid favorit mereka yang menghilang dari Akihabara, mungkin memang siswi yang sekarang dikenal sebagai Kisaragi Kanade. Namun, jika dugaan itu benar, mengapa seorang mantan pekerja maid cafe bisa tiba-tiba menjadi adik perempuan keluarga konglomerat?

Dan mengapa Ren memperlakukannya dengan cara seperti itu?

Haruki tidak memiliki jawaban. Ia hanya memiliki kecurigaan yang selama ini belum dapat dibuktikan.

Lihat selengkapnya