Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #39

Panggilan Kepala Sekolah

Pagi di Akademi Seiwa selalu dimulai dengan keteraturan yang nyaris sempurna. Cahaya matahari musim gugur menyusup melalui jendela-jendela tinggi, menyinari koridor yang baru saja dibersihkan, sementara suara langkah sepatu siswa bergema di atas lantai mengilap. Di halaman depan, beberapa anggota OSIS sibuk mengumpulkan dekorasi sisa Pesta Dansa Musim Gugur. Pita-pita satin dilepas dari pagar, rangkaian bunga mulai dipindahkan, dan papan pengumuman yang semalam dipenuhi foto acara kini kembali menampilkan jadwal pelajaran seperti biasa.

Bagi sebagian besar siswa, pesta semalam telah menjadi bahan obrolan yang menyenangkan. Mereka membicarakan gaun yang dikenakan teman sekelas, pasangan dansa yang tidak terduga, serta tingkah para guru yang mencoba menikmati musik meskipun tampak canggung. Beberapa siswi bahkan telah merencanakan untuk membandingkan foto-foto mereka ketika istirahat nanti.

Namun, di lantai tiga gedung administrasi, suasana pagi itu jauh dari ringan.

Di balik pintu kayu besar bertuliskan Kepala Sekolah, seorang pria berusia enam puluh tahun duduk dengan punggung tegak di kursi kulitnya. Rambutnya yang mulai memutih disisir rapi ke belakang, dan kacamata berbingkai tipis bertengger di pangkal hidungnya. Di hadapannya, secangkir teh hijau telah kehilangan sebagian uapnya, sementara sebuah amplop cokelat terbuka di atas meja.

Kepala Sekolah Akademi Seiwa, Nakamura Masahiro, telah memimpin institusi itu selama hampir dua belas tahun. Selama masa jabatannya, ia belajar bahwa mengelola sekolah elite bukan hanya perkara menjaga mutu pendidikan. Ia harus memahami hubungan antarkeluarga, membaca kepentingan para donatur, serta memastikan bahwa satu kesalahan kecil tidak berubah menjadi skandal yang dapat merusak reputasi akademi.

Terutama jika kesalahan itu melibatkan keluarga Kisaragi.

Nakamura mengeluarkan selembar kertas dari amplop tersebut. Sebuah foto tercetak di atasnya, sedikit buram dengan pencahayaan yang tidak merata. Meskipun demikian, dua sosok di dalam gambar itu masih cukup mudah dikenali.

Seorang pemuda berjas formal berdiri sangat dekat dengan seorang gadis bergaun biru. Satu tangan pemuda itu tampak berada di pinggang gadis tersebut, sementara tubuh sang gadis condong ke arahnya. Tirai gelap memenuhi latar belakang gambar, menyiratkan bahwa foto itu diambil di tempat tersembunyi, jauh dari keramaian aula.

Nakamura mengangkat kacamata, lalu mendekatkan foto itu ke wajahnya.

“Ini benar-benar Kisaragi Ren?”

Ia mengambil kaca pembesar kecil dari laci meja dan memeriksa gambar tersebut sekali lagi. Garis wajah pemuda itu memang tidak terlihat sempurna, tetapi posturnya, rambutnya, dan pakaian formalnya sesuai dengan penampilan Ren pada acara semalam. Gadis yang bersamanya juga tampak memiliki ciri-ciri yang cocok dengan Kisaragi Kanade, siswi kelas satu yang belakangan ini sering menjadi perhatian karena kedekatannya dengan sang kakak.

Nakamura menurunkan kaca pembesar.

Di sudut foto, seseorang telah menuliskan sebuah kalimat dengan tinta hitam.

Apakah hubungan Kisaragi Ren dan Kisaragi Kanade masih sesuai dengan norma keluarga dan etika sekolah?

Tidak ada nama pengirim. Tidak ada keterangan mengenai siapa yang mengambil gambar tersebut. Hanya foto dan sebuah pertanyaan yang sengaja disusun untuk menimbulkan kecurigaan.

Nakamura menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia memijat pangkal hidung, lalu memandangi jendela yang menghadap ke lapangan sekolah.

Pesta semalam seharusnya menjadi keberhasilan besar bagi Akademi Seiwa. Acara itu dihadiri keluarga-keluarga terpandang, sejumlah pengusaha, serta beberapa tokoh yang memiliki hubungan dengan yayasan pendidikan. Berita tentang pesta tersebut bahkan telah dipersiapkan untuk dimuat dalam buletin sekolah dan laporan tahunan.

Namun, jika foto ini tersebar, semua pencapaian itu dapat tertutup oleh satu rumor.

Rumor tentang hubungan tidak pantas antara dua saudara.

Nakamura bergidik membayangkan judul berita yang mungkin muncul jika foto itu sampai ke media. Keluarga Kisaragi merupakan salah satu donatur terbesar akademi. Nama mereka tercantum dalam beberapa fasilitas sekolah, mulai dari laboratorium sains hingga program beasiswa. Bahkan, pembangunan gedung perpustakaan baru yang telah dibicarakan selama berbulan-bulan baru saja mendapatkan persetujuan pendanaan dari keluarga tersebut.

Jika skandal semacam ini mencuat, pihak keluarga mungkin akan menarik dukungan mereka.

Dan jika dana pembangunan itu terhenti, Nakamura harus menjelaskan kepada dewan yayasan mengapa ia gagal menjaga lingkungan sekolah tetap kondusif.

Ia tidak menyukai posisi ini.

Namun, ia juga tidak bisa begitu saja membuang foto tersebut tanpa meminta penjelasan. Jika gambar itu benar-benar menunjukkan pelanggaran etika, mengabaikannya dapat dianggap sebagai kelalaian. Sebaliknya, jika ia memperlakukannya terlalu serius, ia berisiko menyinggung keluarga yang selama ini membantu menjaga kemegahan Akademi Seiwa.

Nakamura melirik jam dinding.

Pukul delapan lewat dua puluh menit.

Ia menarik napas panjang, lalu menekan tombol interkom di sisi meja.

“Sekretaris, tolong hubungi Kisaragi Ren dari kelas tiga. Minta dia datang ke ruang saya sekarang.”

Suara sekretaris terdengar dari pengeras kecil.

“Baik, Pak Kepala Sekolah. Apakah saya perlu menyampaikan alasan pemanggilannya?”

Nakamura memandang foto di atas meja sekali lagi.

“Katakan bahwa ini mengenai klarifikasi atas kejadian selama Pesta Dansa Musim Gugur.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan pastikan tidak ada siswa lain yang ikut mendengarnya.”

“Baik, Pak.”

Interkom terputus.

Nakamura merapikan foto itu di tengah meja, kemudian menutup amplop cokelatnya. Ia berusaha menenangkan diri dengan meneguk teh hijau yang mulai dingin, tetapi rasa pahit yang tertinggal di lidahnya hanya membuat kegelisahannya semakin terasa.

Di luar, kehidupan sekolah berjalan seperti biasa.

Di dalam ruangannya, Nakamura sedang menunggu salah satu siswa yang paling tidak ingin ia hadapi dalam persoalan semacam ini.

Kisaragi Ren menerima panggilan tersebut ketika sedang membaca catatan pelajaran di kelas tiga.

Seorang staf administrasi berdiri di ambang pintu, menyampaikan pesan singkat dari sekretaris kepala sekolah. Beberapa siswa yang duduk di dekat jendela sempat menoleh, tetapi segera kembali mengerjakan tugas ketika Ren menutup bukunya dan berdiri.

“Sekarang?” tanyanya.

“Ya. Kepala sekolah meminta Anda datang secepatnya.”

Ren mengangguk.

“Baik. Terima kasih.”

Ia memasukkan buku catatannya ke dalam tas, lalu merapikan ujung lengan seragamnya. Gerakannya tampak biasa saja, tanpa kegelisahan yang terlihat. Namun, ketika ia berjalan melewati pintu kelas, matanya menyipit sedikit.

Klarifikasi tentang pesta semalam.

Ia tidak membutuhkan waktu lama untuk menyadari bahwa pemanggilan itu kemungkinan besar berkaitan dengan sesuatu yang terjadi di luar aula. Selama pesta, ia telah meninggalkan Clara dan menghabiskan beberapa menit bersama Kanade di area belakang panggung. Ia juga tahu bahwa mereka tidak sepenuhnya terlindung dari kemungkinan terlihat oleh orang lain.

Ren tidak menyesali keputusannya untuk mencari Kanade malam itu.

Tetapi ia juga tidak cukup naif untuk menganggap bahwa tidak akan ada konsekuensi.

Di lorong, beberapa siswa menyapanya. Ren membalas dengan anggukan singkat, tetap mempertahankan ekspresi tenang yang biasa ia tunjukkan di sekolah. Ketika melewati papan pengumuman, ia melihat foto-foto dokumentasi pesta mulai ditempelkan di bagian bawah. Ada gambar para siswa yang berdansa, para guru yang berdiri bersama tamu undangan, serta foto panggung yang dihiasi bunga.

Ia berhenti sejenak di depan salah satu gambar.

Tidak ada sesuatu yang mencurigakan di sana.

Namun, keberadaan kamera di acara semalam membuat pikirannya langsung bekerja. Panitia dokumentasi tersebar di beberapa bagian aula. Anggota klub fotografi mengambil gambar dari berbagai sudut, sementara beberapa siswa lain memotret dengan telepon genggam mereka.

Seseorang mungkin telah melihatnya.

Seseorang mungkin telah mengambil gambar.

Ren melanjutkan langkah tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

Jika memang ada orang yang memiliki bukti, ia akan mencari tahu siapa orang itu. Namun, sebelum melakukan apa pun, ia perlu memahami seberapa jauh persoalan ini telah berkembang.

Pintu ruang kepala sekolah berada di ujung koridor administrasi. Ren mengetuk dua kali.

“Masuk,” terdengar suara dari dalam.

Ia membuka pintu dan melangkah masuk.

Ruangan itu berbau kayu tua, kertas, dan teh hijau. Sebuah lemari kaca berisi piala-piala akademi berdiri di dekat dinding, sedangkan beberapa foto kepala sekolah terdahulu tergantung dalam bingkai seragam. Di belakang meja besar, Nakamura duduk dengan kedua tangan terlipat di atas permukaan kayu.

“Selamat pagi, Nakamura-sensei.”

“Selamat pagi, Kisaragi-kun. Silakan duduk.”

Ren menarik kursi di hadapan meja dan duduk dengan punggung tegak. Ia meletakkan kedua tangan di atas lutut, menunggu tanpa mendesak kepala sekolah untuk segera berbicara.

Nakamura memperhatikan siswa itu selama beberapa detik.

Ia telah mengenal Ren sejak pemuda tersebut masih berada di tahun pertama. Ren selalu memiliki prestasi akademis yang luar biasa, berbicara seperlunya, dan jarang terlibat dalam masalah disiplin. Bahkan setelah kecelakaan yang membuatnya koma, pihak sekolah menerima laporan bahwa ia membutuhkan penyesuaian akademis dan dukungan psikologis.

Lihat selengkapnya