Malam telah menelan Kediaman Kisaragi ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan pintu samping bangunan utama. Dari balik jendela tinggi di lantai dua, cahaya lampu taman memantul pada permukaan kaca yang gelap, membentuk garis-garis pucat di antara bayangan pepohonan. Angin musim gugur menggesek dedaunan di sepanjang jalan setapak, menghasilkan suara gemerisik yang nyaris tak terdengar di tengah kesunyian rumah megah itu.
Di lantai pertama, para pelayan telah menyelesaikan tugas malam mereka. Piring-piring makan malam dibawa ke dapur, taplak meja dirapikan, dan pintu-pintu ruangan yang tidak digunakan ditutup satu per satu. Tidak ada suara televisi, percakapan santai, atau tawa yang lazim terdengar dari sebuah keluarga yang hendak mengakhiri hari. Kediaman Kisaragi memiliki ketenangan yang berbeda—ketenangan sebuah tempat yang setiap penghuninya mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus menunduk, dan kapan sebaiknya berpura-pura tidak melihat apa pun.
Miyauchi Mai baru saja menutup buku pelajarannya ketika telepon internal di meja kecil kamarnya berdering.
Satu kali.
Dua kali.
Ia menatap benda itu sejenak sebelum mengangkat gagangnya.
"Ya, kamar Kanade."
Suara datar dari ujung sambungan segera menjawab.
"Nona Kanade, Tuan Souichiro meminta Anda datang ke ruang kerja utama. Sekarang."
Jari Mai yang memegang gagang telepon mengencang.
"Ruang kerja utama?"
"Benar. Mohon segera datang."
Sambungan terputus sebelum ia sempat menanyakan alasan pemanggilan tersebut.
Mai perlahan meletakkan gagang telepon. Buku pelajaran yang tadi terbuka di pangkuannya bergeser, tetapi ia tidak berusaha membetulkannya. Matanya justru tertuju pada jam di dinding.
Pukul sembilan lewat dua belas menit.
Ia mencoba mengingat apakah ada kesalahan dalam laporan hariannya. Apakah ia melupakan instruksi tertentu dari Saito? Apakah ada perilaku Ren di sekolah yang luput dicatatnya? Atau, mungkinkah seseorang telah melaporkan kejadian di balik tirai aula pada pesta dansa musim gugur?
Pertanyaan terakhir membuat tengkuknya dingin.
Bayangan Ren yang mengulurkan tangan kepadanya, musik orkestra yang mengalun di balik tirai, dan kehangatan telapak tangan pemuda itu muncul begitu jelas dalam benaknya. Saat itu, dunia seolah menyempit menjadi sebuah ruang kecil yang hanya menyisakan mereka berdua. Untuk beberapa menit, Mai lupa bahwa gaun biru yang dikenakannya bukan dibeli dari hasil kerja kerasnya sendiri, bahwa nama yang dipanggil Ren bukanlah nama aslinya, dan bahwa setiap senyum yang ia berikan di rumah ini merupakan bagian dari peran yang dibayar dengan kontrak.
Ia lupa bahwa seseorang mungkin sedang mengawasi mereka.
Kini, ingatan itu terasa seperti barang bukti yang tertinggal di tempat kejadian perkara.
Mai bangkit dari tempat tidur. Ia merapikan rok rumahnya, kemudian berjalan menuju cermin di dekat lemari. Wajah seorang gadis berusia enam belas tahun menatapnya balik, dengan rambut panjang yang sedikit berantakan dan mata yang tampak lebih lelah daripada seharusnya. Ia mengusap kedua pipinya, menarik napas dalam-dalam, lalu membentuk senyum tipis yang selama berbulan-bulan telah menjadi kebiasaan.
Senyum seorang adik yang manis.
Senyum Kisaragi Kanade.
Namun, ketika ia mencoba mengucapkan sapaan yang biasa digunakannya di hadapan keluarga itu, suaranya tertahan di tenggorokan.
"Selamat malam, Onii-chan..."
Bisikan tersebut terdengar terlalu pelan, bahkan untuk dirinya sendiri.
Mai memejamkan mata sesaat.
"Aku hanya perlu bertahan," gumamnya. "Sedikit lagi."
Ia tidak tahu berapa banyak hari yang masih sanggup ia lalui dengan kalimat itu sebagai satu-satunya pegangan. Akan tetapi, selama Ren masih berada di rumah ini, selama ia masih bisa melihat pemuda itu tersenyum tanpa dibayangi ketakutan, Mai belum sanggup memikirkan bagaimana caranya pergi.
Ia membuka pintu kamar dan melangkah keluar.
Di ujung lorong, dua pengawal berpakaian hitam berdiri tegak di dekat tangga. Salah seorang di antara mereka menundukkan kepala ketika Mai mendekat.
"Nona Kanade."
Mai membalas dengan anggukan kecil.
"Apakah Ayah memanggilku karena sesuatu yang terjadi di sekolah?"
Pengawal itu tidak segera menjawab. Tatapannya tetap lurus ke depan, sementara kedua tangannya terlipat rapi di hadapan tubuh.
"Saya tidak memiliki informasi mengenai alasan pemanggilan, Nona."
Jawaban itu terdengar sopan, tetapi tidak menyisakan ruang untuk pertanyaan berikutnya.
Mai meneruskan langkahnya.
Semakin dekat ia menuju sayap barat, semakin berat perasaan yang menggantung di dadanya. Karpet tebal meredam suara sepatunya. Lampu dinding memancarkan cahaya kekuningan ke atas lukisan-lukisan keluarga Kisaragi, menampilkan wajah para leluhur yang menatap dari balik bingkai emas dengan ekspresi dingin dan berwibawa. Di antara mereka, Mai merasa seperti seseorang yang tidak memiliki tempat di dalam sejarah panjang keluarga itu.
Ia hanyalah nama pinjaman yang kebetulan mengenakan wajah seorang gadis yang telah meninggal.
Dan malam ini, seseorang hendak menagih harga dari kesalahan yang bahkan belum tentu benar-benar ia pahami.
Ruang kerja utama Kisaragi Souichiro terletak di bagian terdalam sayap barat. Pintu kayu mahoni setinggi dua meter berdiri di bawah ukiran lambang keluarga, dengan gagang kuningan yang selalu mengilap. Dua pengawal berjaga di sisi kanan dan kiri pintu. Tidak ada pelayan yang berani melintas tanpa keperluan khusus, terlebih setelah jam malam tiba.
Mai berhenti di depan mereka.
"Saya Kisaragi Kanade. Ayah memanggil saya."
Salah seorang pengawal membuka pintu tanpa mengucapkan apa pun.
Aroma kulit, kayu tua, dan tembakau mahal segera menyambut Mai. Ruangan itu luas, dengan rak-rak buku yang memenuhi dinding hingga mendekati langit-langit. Sebuah meja kerja besar berdiri di tengah, permukaannya tersusun rapi oleh dokumen, map hitam, dan sebuah lampu meja berkap lampu hijau tua. Di belakang meja terdapat jendela lebar yang menghadap taman, tetapi tirainya telah ditutup rapat sehingga malam di luar hanya tampak sebagai pantulan samar pada kaca.
Kisaragi Souichiro duduk di kursinya, mengenakan kemeja putih dengan lengan yang tergulung hingga siku. Usianya lima puluh tahun, tetapi rambutnya masih tersisir sempurna dan tidak ada satu pun bagian dari penampilannya yang tampak dibiarkan tanpa perhitungan. Ia sedang membaca sebuah laporan ketika Mai masuk.
Di sebelah meja berdiri Saito Kazuma, pria berusia empat puluh dua tahun dengan setelan gelap dan map dokumen di tangan. Wajahnya tenang, hampir tanpa ekspresi. Ia tidak terlihat terkejut melihat Mai, seolah kedatangan gadis itu hanyalah bagian dari jadwal kerja yang sudah disusun sejak sore.
"Anda memanggil saya, Ayah?" tanya Mai.
Souichiro tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan satu halaman, membaliknya, lalu meletakkan dokumen itu di atas meja dengan gerakan perlahan. Baru setelah itu ia mengangkat wajah.
"Duduk."
Mai menunduk kecil sebelum mengambil tempat di kursi yang disediakan di hadapan meja. Punggungnya tegak, kedua lututnya dirapatkan, dan tangannya diletakkan di atas pangkuan. Ia berusaha mengingat setiap aturan etiket yang diajarkan kepadanya sejak pertama kali memasuki kediaman ini.
Jangan menunjukkan kecemasan.
Jangan menjawab sebelum ditanya.
Jangan membantah kepala keluarga.
Terutama, jangan membuat masalah yang dapat mengganggu Kisaragi Ren.
Souichiro menyatukan kedua tangannya di atas meja.
"Apa kau tahu mengapa kau dipanggil malam ini?"
Mai menggeleng pelan.
"Maaf, Ayah. Saya belum mengetahui alasannya."
"Kalau begitu, dengarkan baik-baik."
Souichiro melirik Saito. Pria itu membuka map hitamnya dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen. Salah satunya berupa laporan tertulis, sementara lembar lain berisi foto yang dicetak dengan kualitas cukup baik. Saito meletakkan semuanya di atas meja, kemudian menggeser foto itu ke arah Souichiro.
Souichiro tidak memutar foto tersebut agar Mai dapat melihatnya.
Ia hanya mengetuk permukaannya sekali dengan ujung telunjuk.
"Insiden pada pesta dansa musim gugur."
Napas Mai tertahan.
Hanya sesaat, tetapi cukup untuk membuat bahunya menegang sebelum ia buru-buru mengendurkannya kembali.
Souichiro memperhatikan perubahan kecil itu.
"Jadi, kau tahu apa yang sedang kubicarakan."
"Saya..."
Mai menelan ludah.
"Saya tidak bermaksud menimbulkan masalah, Ayah."
"Siapa yang bertanya tentang maksudmu?"
Suara Souichiro tidak meninggi. Justru karena itulah kalimat tersebut terasa lebih tajam. Ia mengucapkannya seperti seseorang yang sedang mengoreksi kesalahan sederhana dalam sebuah laporan keuangan, tanpa kemarahan yang perlu dilampiaskan atau emosi yang harus disembunyikan.
Mai menundukkan pandangan.
"Maaf."
"Seorang pengawal melaporkan bahwa Ren meninggalkan area utama pesta dan menghabiskan waktu di belakang tirai panggung bersamamu. Ada pula foto yang memperlihatkan kedekatan kalian." Souichiro menyandarkan punggungnya pada kursi. "Aku tidak perlu mengetahui setiap detail tentang apa yang kalian lakukan di sana. Yang perlu kutahu adalah mengapa kau membiarkan situasi seperti itu terjadi."
Mai meremas ujung rok dengan ibu jarinya.
Ia teringat ruangan sempit di balik tirai, cahaya keemasan dari panggung, dan suara Ren ketika bertanya apakah ia bersedia berdansa. Pemuda itu tidak memaksanya. Ren bahkan memberinya waktu untuk menolak, seolah jawaban Mai lebih penting daripada semua aturan yang mengikat mereka.
Ia menerima uluran tangan itu karena ingin.
Bukan karena instruksi Saito. Bukan karena laporan harian. Bukan pula karena seseorang memintanya mempertahankan citra keluarga Kisaragi.
Untuk pertama kalinya malam itu, Mai ingin mengatakan sesuatu yang benar-benar jujur.
Bahwa Ren yang mengajaknya berdansa. Bahwa mereka tidak melakukan sesuatu yang pantas dihukum. Bahwa selama beberapa menit, Ren terlihat bahagia dengan cara yang tidak pernah ia lihat ketika pemuda itu duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya.
Namun, sebelum kata-kata tersebut mencapai bibirnya, ia teringat siapa yang sedang duduk di hadapannya.
Kisaragi Souichiro tidak memanggil seseorang untuk mendengar penjelasan. Ia memanggil orang untuk menyampaikan keputusan.
"Saya seharusnya menjaga batasan dengan lebih baik," jawab Mai akhirnya.
Souichiro mengangkat alis tipis.
"Benar."
Ia menarik foto itu mendekat, memandangnya sekilas, lalu menjatuhkannya kembali ke atas meja.
"Kau ditempatkan di sisi Ren untuk membantunya pulih, bukan untuk membuatnya semakin bergantung kepadamu. Keluarga ini sudah menghabiskan cukup banyak waktu dan sumber daya untuk memastikan dia dapat kembali menjalankan tanggung jawabnya. Setelah berbulan-bulan menjalani pemulihan, dia akhirnya bersedia kembali ke sekolah, menghadiri acara resmi, dan berinteraksi dengan orang-orang yang kelak akan menjadi bagian dari kehidupannya."
Souichiro berhenti sejenak, membiarkan setiap kalimat menetap di udara.
"Lalu, pada sebuah pesta yang dihadiri keluarga-keluarga penting, dia memilih meninggalkan tamu-tamunya demi berdansa diam-diam denganmu."
Mai merasakan jantungnya memukul tulang rusuk.
"Dia tidak pernah menunjukkan minat yang berarti pada acara seperti itu sebelumnya," lanjut Souichiro. "Aku dapat menerima bahwa kondisi psikologisnya masih membutuhkan perhatian. Namun, aku tidak akan membiarkan perhatian itu berubah menjadi ketergantungan yang menghambat masa depannya."
"Ren—"
Mai hampir menyebut namanya tanpa gelar, tetapi ia segera memperbaiki ucapannya.
"Maksud saya, Onii-chan hanya ingin—"
"Jangan menggunakan kata-kata Ren untuk membenarkan perilakumu."
Souichiro menatapnya lurus-lurus.
"Kau adalah adiknya. Setidaknya, itulah peran yang harus kau jalankan. Seorang adik seharusnya mendukung masa depan kakaknya, bukan menjadi pusat perhatian yang membuatnya melupakan kewajiban."
Mai terdiam.
Kata adiknya terdengar seperti pintu yang dikunci dari luar.
Ia ingin membantah bahwa Ren bukan seseorang yang dapat dipindahkan dari satu kewajiban ke kewajiban lain sesuka hati. Ia ingin bertanya apakah Souichiro pernah benar-benar melihat anaknya sebagai manusia, atau apakah pemuda itu hanya sederet angka dalam laporan perusahaan yang kebetulan dapat berbicara dan bernapas.
Tetapi wajah Souichiro tidak menunjukkan sedikit pun tanda bahwa ia akan menerima pertanyaan semacam itu.
"Selain itu," katanya, "hubungan Ren dengan Saionji Clara bukan persoalan kecil."
Nama Clara membuat jari-jari Mai semakin kaku.
"Pertunangan itu merupakan bagian dari kesepakatan antarkeluarga. Kehadiran Clara di pesta tersebut seharusnya menjadi kesempatan bagi Ren untuk memperkuat hubungan mereka di hadapan para tamu. Sebaliknya, dia justru terlihat mengabaikan Clara demi dirimu."
"Tapi, Ayah, saya tidak pernah meminta Onii-chan untuk—"
"Apakah kau tidak memahami ucapan yang baru saja kusampaikan?"
Mai tersentak.
Souichiro tidak perlu berdiri atau membentak. Tatapannya saja sudah cukup membuat kata-kata yang hendak diucapkan Mai berhenti di belakang giginya.
"Yang dinilai bukan hanya apa yang kau minta secara langsung," lanjutnya. "Yang dinilai adalah pengaruh keberadaanmu terhadap keputusan Ren. Jika dia mulai mengutamakan perasaan pribadi di atas kepentingan keluarga, maka orang yang berada paling dekat dengannya harus dievaluasi terlebih dahulu."
Mai menunduk semakin dalam.
Jadi, bahkan kebahagiaan Ren pun dapat dianggap sebagai kesalahan orang lain.
Ia tidak tahu apakah harus merasa marah atau justru malu karena bagian terdalam dari dirinya masih berharap Souichiro akan memahami bahwa Ren berhak memiliki sesuatu yang ia inginkan sendiri. Harapan itu begitu kecil, tetapi tetap saja ada. Dan kini, seperti benda rapuh yang jatuh ke lantai batu, harapan itu pecah tanpa suara.
Saito akhirnya membuka mulut.
"Tuan Souichiro, berdasarkan evaluasi perilaku dan risiko reputasi, saya telah menyiapkan tindakan korektif sesuai ketentuan pengawasan."
Ia mengeluarkan satu lembar dokumen dari mapnya, memeriksa nomor halaman, kemudian meletakkannya di hadapan Souichiro.
"Pemotongan remunerasi dan pengetatan pengawasan dapat diberlakukan segera. Untuk pembatalan kontrak, klausul terminasi memungkinkan tindakan sepihak apabila pelaksana dianggap gagal mempertahankan identitas serta menimbulkan risiko terhadap pihak pemberi kerja."
Mai memalingkan wajah sedikit ke arah Saito.
Pria itu tidak membalas tatapannya.
Ia hanya berdiri dengan kedua tangan di sisi tubuh, menunggu keputusan sebagaimana seorang petugas hukum menunggu tanda tangan pada berkas yang telah disiapkan.
"Berapa besar pemotongannya?" tanya Souichiro.