Musim dingin datang lebih cepat daripada yang diperkirakan Mai.
Sejak sore, angin menggigit telah menyusup melalui celah-celah jendela Kediaman Kisaragi, membawa hawa dingin yang membuat kaca-kaca tinggi di lorong lantai dua terasa membeku saat disentuh. Langit di luar berwarna kelabu gelap, sementara lampu taman menyinari semak-semak yang mulai kehilangan daun. Di beberapa sudut halaman, embun telah mengendap di permukaan batu, memantulkan cahaya pucat seperti lapisan kaca tipis.
Di dalam rumah, sistem pemanas bekerja tanpa henti. Udara hangat mengalir dari ventilasi tersembunyi, menjaga setiap ruangan tetap nyaman pada suhu yang telah ditentukan. Tidak ada penghuni yang seharusnya menggigil di tempat semewah itu.
Namun, tubuh Miyauchi Mai tidak lagi sanggup membedakan kemewahan dari penderitaan.
Sejak pagi, kepalanya terasa berat. Tenggorokannya perih setiap kali menelan, dan tulang-tulangnya seperti menyimpan rasa ngilu yang menjalar dari bahu hingga pinggang. Ia sempat mengira dirinya hanya kurang tidur. Selama beberapa malam terakhir, ia berkali-kali terbangun dengan pikiran yang sama: ancaman Saito, pemotongan gaji, wajah dingin Souichiro, dan mata Ren ketika melihatnya keluar dari ruang kerja ayahnya dengan mata sembab.
Ia terus mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa semuanya akan berlalu.
Ia hanya perlu bangun esok hari, mengenakan seragam, pergi ke Akademi Seiwa, tersenyum kepada Ren, kemudian kembali ke kediaman tanpa melakukan kesalahan. Ia harus menjaga jarak ketika diperintahkan, menghindari gestur yang dapat disalahartikan, dan tetap menjalankan peran sebagai adik yang manis tanpa membiarkan perasaannya sendiri terlihat.
Sederhana, bukan?
Hanya saja, tubuh manusia bukan kontrak yang dapat dipaksa mematuhi setiap klausul.
Menjelang malam, Mai akhirnya menyerah pada rasa lelah dan kembali ke kamarnya lebih awal. Ia tidak makan malam bersama keluarga karena mengaku sakit kepala. Seorang pelayan mengantarkan sup hangat dan obat penurun demam yang biasa tersedia di lemari obat rumah, tetapi Mai hanya menghabiskan beberapa sendok sebelum kehilangan selera makan.
Ia meletakkan sendok di tepi mangkuk, kemudian menekan telapak tangan ke dahinya.
Panas.
Jauh lebih panas daripada biasanya.
"Ah... mungkin aku terlalu lama belajar."
Ia mencoba tertawa kecil, tetapi suara yang keluar terdengar serak dan kering.
Di atas meja, buku pelajaran matematika masih terbuka pada halaman yang sama sejak satu jam lalu. Angka-angka di dalamnya tampak berbayang setiap kali ia berusaha memusatkan pandangan. Sebuah catatan kecil tergeletak di samping buku itu, berisi jadwal pelajaran untuk esok hari yang telah ia salin dengan tulisan rapi. Di bawahnya, ponselnya menyala sesaat ketika sebuah pesan masuk dari Yuna, teman sekelasnya.
Kanade-chan, jangan lupa membawa catatan sejarah besok, ya! Semoga kamu bisa tidur nyenyak malam ini.
Mai membaca pesan itu dua kali sebelum membalas dengan susah payah.
Terima kasih. Aku akan membawanya.
Ia menambahkan sebuah emotikon tersenyum, lalu meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.
Di dalam dirinya, ada keinginan kecil untuk menghubungi Ren.
Bukan untuk meminta sesuatu yang penting. Ia hanya ingin mendengar suara pemuda itu, mungkin mendengar keluhannya tentang tugas sekolah atau cerita Kenji yang kembali membuat kekacauan di kelas. Ia ingin merasakan bahwa, setidaknya untuk beberapa menit, ia tidak perlu menjadi Kanade yang sempurna.
Namun, aturan baru Souichiro kembali terlintas di benaknya.
Setiap interaksi akan dicatat.
Setiap tindakan dapat dievaluasi.
Setiap kedekatan yang tidak dianggap perlu dapat menjadi alasan bagi Saito untuk memperketat pengawasan.
Mai menatap layar ponselnya cukup lama hingga cahaya itu meredup sendiri.
"Jangan merepotkan Onii-chan," bisiknya.
Ia mengulang kalimat tersebut dalam hati, kemudian mencoba bangkit untuk mengambil air minum.
Begitu kedua kakinya menyentuh lantai, ruangan seolah bergeser beberapa sentimeter ke samping. Mai buru-buru mencengkeram tepi meja. Ujung jarinya memutih, dan napasnya terputus sesaat sebelum kembali teratur dalam tarikan pendek-pendek.
Ia memejamkan mata.
Pusing.
Tetapi gelas di atas meja telah kosong, dan ia merasa membutuhkan kompres dingin untuk menurunkan panas tubuhnya. Bel kamar berada di dekat tempat tidur, tetapi ia enggan memanggil pelayan hanya untuk hal kecil seperti itu. Selama ini, ia telah belajar menyelesaikan segala sesuatu sendiri. Bahkan ketika tubuhnya lelah, ia lebih memilih menahan sakit daripada meminta bantuan yang mungkin kelak dicatat sebagai ketergantungan.
"Sebentar saja," gumamnya.
Mai meraih cardigan yang tersampir di kursi, mengenakannya di atas pakaian rumah, lalu berjalan menuju pintu. Ia akan mengambil air dingin dari ruang kecil di ujung lorong dan kembali ke kamar. Setelah itu, ia bisa beristirahat sampai pagi.
Rencana sederhana itu terasa cukup masuk akal ketika ia masih berdiri di samping tempat tidur.
Beberapa menit kemudian, ia bahkan tidak yakin mampu mencapai ujung lorong.
Lorong lantai dua nyaris kosong.
Lampu-lampu dinding memancarkan cahaya kekuningan ke atas karpet tebal, sedangkan udara dari ventilasi pemanas membuat suasana terasa terlalu kering. Dari kejauhan terdengar bunyi jam besar di aula utama, berdentang perlahan menandai pergantian menit.
Mai berjalan sambil menyentuh dinding dengan ujung jemarinya.
Satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Ia berusaha menatap lurus ke depan, tetapi garis-garis pada karpet sesekali tampak berlipat. Rasa panas di kepalanya semakin menyengat, sementara keringat dingin merayap di sepanjang tengkuk. Cardigan yang dikenakannya terasa berat di bahu, dan rambut yang terlepas dari ikatan mulai menempel di pipinya.
Ia berhenti di dekat sebuah meja konsol, lalu menarik napas panjang.
"Sedikit lagi..."
Suara itu nyaris tidak keluar.
Mai kembali melangkah. Ujung lorong sudah terlihat, begitu pula pintu kecil menuju ruang penyimpanan perlengkapan rumah tangga. Ia tinggal beberapa meter lagi ketika pandangannya mendadak menggelap di bagian tepi.
Suara jam menghilang.
Kemudian muncul dengungan rendah yang memenuhi telinganya.
Mai mencoba meraih meja konsol di sisi kiri, tetapi tangannya hanya menyapu udara. Lututnya kehilangan kekuatan. Tubuhnya oleng ke samping, bahunya membentur dinding, dan sebuah vas kecil di atas meja bergetar hebat sebelum jatuh ke lantai.
Prang!
Suara pecahan keramik membelah kesunyian.
Mai tidak sempat berteriak.
Tubuhnya merosot ke lantai, cardigan tersingkap di bagian siku, sementara telapak tangannya terkulai di atas karpet. Untuk beberapa detik, ia masih dapat merasakan dinginnya permukaan lantai melalui kain pakaiannya. Kemudian kesadaran itu menjauh, tenggelam dalam kegelapan yang terasa anehnya ringan.
Di kejauhan, seseorang memanggil namanya.
"Kanade?"
Langkah kaki terdengar semakin cepat.
"Kanade!"
Ren baru saja keluar dari ruang baca setelah menyelesaikan tugas sekolah ketika mendengar suara pecahan vas. Ia awalnya mengira seorang pelayan menjatuhkan barang, tetapi ketika melihat tubuh seseorang tergeletak di ujung lorong, langkahnya langsung terhenti.
Cardigan berwarna krem.
Rambut panjang yang berantakan.
Wajah pucat yang sangat dikenalnya.
"Kanade!"
Ren berlari.
Ia berlutut di samping Mai, begitu tergesa hingga salah satu lututnya menghantam lantai cukup keras. Ia tidak memedulikannya. Kedua tangannya segera menopang bahu dan kepala gadis itu.
"Kanade, dengar aku?"
Tidak ada jawaban.
Ren menepuk pipinya perlahan.
"Kanade. Buka matamu."
Kepala Mai terkulai lemas di lengannya. Napasnya masih ada, tetapi wajahnya tampak terlalu pucat, dengan bibir yang kehilangan warna. Ren menyentuh dahinya dan seketika menarik napas tajam.
Panasnya menyengat telapak tangan.
"Astaga..."
Ia menempelkan punggung tangannya ke pipi Mai, lalu kembali menyentuh dahinya seolah berharap sensasi pertama tadi hanyalah kekeliruan. Namun, panas itu nyata. Bahkan di bawah cahaya lampu lorong, ia dapat melihat kulit gadis itu memerah tidak merata dan butiran keringat yang membasahi garis rambutnya.
"Kanade, ini aku. Ren."
Ia mengguncang bahunya dengan sangat hati-hati, tetapi Mai tidak membuka mata.
Panik menjalar ke dada Ren. Ia meraih ponsel dari saku, nyaris menjatuhkannya karena jari-jarinya bergerak terlalu cepat, lalu hendak memanggil dokter rumah. Akan tetapi, ketika melihat Mai kembali mengerang lirih, ia segera menyimpan ponsel itu dan menyelipkan satu tangan di bawah lutut gadis tersebut.
"Maaf. Aku akan membawamu ke kamar."
Dengan gerakan hati-hati, Ren mengangkat tubuh Mai ke dalam pelukannya.
Ia tidak pernah menyadari betapa ringannya tubuh gadis itu sampai malam tersebut. Berat Mai terasa jauh lebih sedikit daripada yang ia bayangkan, seolah selama berminggu-minggu gadis itu perlahan menghilang tanpa seorang pun benar-benar memperhatikannya.
Ren mengencangkan pegangan di bawah punggung dan lutut Mai.
"Kau seharusnya bilang kalau sedang sakit," bisiknya, meski ia tahu gadis itu tidak dapat mendengarnya. "Kenapa harus memaksakan diri seperti ini?"
Kepala Mai jatuh lemah ke dekat bahunya. Napas panasnya menyentuh leher Ren, terputus-putus dan tidak teratur. Salah satu tangannya terayun di sisi tubuh, kemudian bergerak sedikit seolah mencari pegangan.
Ren segera menangkap tangan itu dan menahannya di dekat dadanya.
"Aku di sini. Jangan takut."
Ia berjalan cepat menuju kamar Mai.
Sepanjang perjalanan, ia tidak memanggil pelayan atau meminta bantuan pengawal. Ia hanya memusatkan perhatian pada wajah pucat dalam pelukannya, pada gerakan dada Mai yang naik turun, dan pada tangan gadis itu yang terasa semakin lemah di genggamannya.
Untuk pertama kalinya sejak bangun dari koma, Ren merasakan ketakutan yang tidak dapat ia jelaskan dengan kata-kata.
Ketakutan itu bukan berasal dari kenangan masa lalu yang terpotong-potong. Bukan pula dari suara biola yang terkadang masih membuat kepalanya berdenyut.
Ia takut karena seseorang yang begitu penting baginya terbaring tidak sadarkan diri dalam pelukannya, dan ia tidak tahu bagaimana cara memastikan bahwa gadis itu akan baik-baik saja.
Ren mendorong pintu kamar Mai dengan bahunya.
Kamar itu masih diterangi lampu meja. Buku pelajaran terbuka di atas meja belajar, mangkuk sup yang belum habis berada di nampan dekat pintu, dan sebuah cardigan lain terlipat di sandaran kursi. Semua benda tampak berada di tempatnya, seolah pemilik kamar hanya keluar sebentar untuk mengambil sesuatu.
Pemandangan biasa itu justru membuat Ren merasa semakin tidak nyaman.
Mai seharusnya berada di tempat tidur.
Seharusnya ia beristirahat sejak tadi.
Seharusnya seseorang menyadari bahwa gadis itu sedang sakit sebelum ia terjatuh sendirian di lorong.
Ren membawa Mai ke sisi tempat tidur dan menurunkannya perlahan. Ia menyangga kepala gadis itu dengan satu tangan, menarik bantal dengan tangan lainnya, lalu membaringkannya dalam posisi nyaman. Setelah itu, ia melepas cardigan yang membungkus bahu Mai dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.
"Kanade?"
Mai mengerutkan dahi.
Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada kata yang jelas keluar.
Ren membungkuk mendekat.
"Apa? Katakan lagi."
"Ha... panas..."
Suara Mai begitu pelan hingga nyaris tenggelam dalam napasnya sendiri.
Ren segera menyibakkan sedikit rambut yang menempel di dahi gadis itu.
"Aku tahu. Aku akan memanggil dokter."
Ia meraih ponsel, tetapi sebelum sempat menekan nomor, terdengar ketukan keras di pintu.
"Tuan Ren."
Suara seorang pengawal terdengar dari luar.
Ren tidak menjawab.
Ketukan kedua menyusul, kali ini lebih tegas.
"Tuan Ren, kami perlu mengingatkan bahwa berdasarkan instruksi terbaru Tuan Souichiro, akses pribadi ke kamar Nona Kanade dibatasi. Mohon keluar dari ruangan agar petugas yang ditunjuk dapat menangani situasi ini."
Ren membeku.
Ia menatap pintu, lalu menoleh kembali kepada Mai yang terbaring dengan napas berat. Gadis itu bergerak gelisah di bawah selimut, satu tangan terangkat sedikit sebelum jatuh kembali ke kasur.
"Apa yang kalian katakan?" tanya Ren dengan suara rendah.
"Dokter rumah sedang dalam perjalanan, Tuan. Sesuai SOP baru, kami harus memastikan bahwa interaksi di dalam kamar tetap berada dalam batas yang ditetapkan."
Untuk beberapa detik, Ren tidak bergerak.
Ia merasa seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal. Adiknya—gadis yang baru saja pingsan di lorong, dengan tubuh membara dan kesadaran yang belum pulih—sedang dianggap sebagai persoalan pengawasan.
Bukan pasien yang membutuhkan pertolongan.
Bukan seseorang yang mungkin ketakutan saat terbangun di tempat asing.
Melainkan sebuah risiko prosedural yang harus ditangani sesuai aturan.
Ren perlahan berdiri.
Ia berjalan menuju pintu, menekan gagangnya, lalu membukanya lebar-lebar.
Dua pengawal berdiri di luar. Salah seorang tampak hendak berbicara, tetapi urung ketika melihat ekspresi Ren.
"Minggir."
"Tuan Ren, kami memahami kekhawatiran Anda, tetapi—"
"Aku bilang, minggir."
Nada suara Ren berubah tajam.
Kedua pengawal itu saling melirik.
"Tuan, instruksi Tuan Souichiro sangat jelas. Kami tidak diperbolehkan membiarkan Anda berada sendirian bersama Nona Kanade dalam situasi di luar jadwal—"