Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #42

Bunga Es di Jendela Kamar

Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai kamar tidur, tipis dan pucat, seolah matahari musim dingin pun enggan mengusik keheningan yang menyelimuti kediaman Kisaragi. Di luar jendela, salju turun perlahan, menutupi halaman taman dengan lapisan putih yang belum tersentuh jejak kaki. Ranting-ranting pohon di kejauhan tampak membeku, sementara kaca jendela kamar Mai dipenuhi pola bunga es yang menjalar dari sudut-sudutnya, membentuk kelopak-kelopak kristal yang indah sekaligus rapuh.

Pemanas ruangan berdengung pelan. Aroma samar obat-obatan bercampur dengan wangi kain seprai yang baru diganti, sementara di atas meja kecil dekat ranjang, segelas air putih, termometer, dan mangkuk berisi air hangat diletakkan berdekatan. Sebuah handuk kecil terlipat di sampingnya, masih sedikit lembap setelah digunakan berkali-kali sepanjang malam.

Mai mengerjapkan mata.

Pada awalnya, ia tidak tahu di mana dirinya berada. Pandangannya kabur, kelopak matanya terasa berat, dan kepalanya masih dipenuhi rasa nyeri yang berdenyut perlahan. Ia mencoba menggerakkan jari, tetapi tubuhnya terasa seolah baru saja melewati perjalanan panjang tanpa sempat beristirahat.

Lalu ia menyadari sesuatu.

Ada tangan yang menggenggam tangannya.

Genggaman itu hangat, mantap, dan tidak asing baginya.

Mai menoleh perlahan. Di sisi ranjang, Ren tertidur dalam posisi duduk di sebuah kursi yang ditarik begitu dekat hingga lututnya hampir menyentuh bingkai tempat tidur. Tubuhnya sedikit membungkuk ke depan, satu lengan bertumpu pada kasur, sementara tangannya menggenggam tangan Mai yang terbaring di atas selimut.

Rambut hitamnya berantakan, beberapa helai jatuh menutupi dahi. Kemeja yang dikenakannya kusut di bagian siku, dan kerahnya terbuka satu kancing lebih banyak daripada biasanya. Wajah yang lazimnya tampak tenang dan terawat itu kini menunjukkan kelelahan yang tidak bisa disembunyikan. Ada bayangan gelap di bawah matanya, sementara lehernya tampak kaku akibat tidur dalam posisi yang tidak nyaman.

Ren tidak terlihat seperti pewaris tunggal konglomerat yang selalu dikelilingi pelayan dan pengawal.

Pagi itu, ia hanya tampak seperti seorang pemuda yang terlalu takut meninggalkan seseorang sendirian.

Mai menatapnya cukup lama hingga dadanya terasa sesak.

Onii-chan…

Panggilan itu hampir terlepas dari bibirnya, tetapi ia menahannya. Entah mengapa, setelah melihat Ren tertidur sambil menggenggam tangannya, ia merasa takut merusak keheningan tersebut. Seolah-olah jika ia bergerak terlalu banyak atau mengeluarkan suara, kehangatan kecil ini akan segera direnggut darinya.

Ia menggeser jari telunjuknya sedikit, mencoba merasakan kembali sensasi di ujung-ujung tangannya. Gerakan itu nyaris tidak terlihat, tetapi cukup untuk mengubah posisi genggaman Ren.

Pemuda itu langsung bergerak.

Alisnya berkerut. Kepalanya terangkat dengan gerakan mendadak, seolah tubuhnya tidak pernah benar-benar tertidur. Matanya terbuka, dan selama sepersekian detik, tatapannya tampak kosong karena baru terbangun. Namun, begitu melihat Mai sudah membuka mata, seluruh sisa kantuk di wajahnya lenyap.

"Kanade?"

Suaranya serak. Ia segera bangkit dari kursi hingga kaki kursi bergesekan dengan lantai, menghasilkan bunyi pendek yang terdengar nyaring di tengah keheningan kamar.

"Hei. Kau sudah bangun?"

Mai mengangguk pelan. Tenggorokannya kering, membuat jawaban yang hendak diucapkannya tertahan. Ia mencoba tersenyum, tetapi sudut bibirnya hanya terangkat sedikit.

"Selamat pagi, Onii-chan…"

Senyum itu begitu lemah hingga Ren justru terlihat semakin khawatir.

Ia mendekat ke tepi ranjang, menatap wajah Mai dengan saksama. Punggung tangannya menyentuh pipi gadis itu sebentar, kemudian turun untuk memeriksa jemarinya yang masih terasa dingin.

"Bagaimana kepalamu? Masih sakit?"

"Sedikit."

"Sedikit yang sebenarnya masih sakit, atau sedikit yang berarti kau tidak mau membuatku khawatir?"

Mai terdiam.

Ren menghela napas pendek, bukan dengan kesal, melainkan seperti seseorang yang baru saja mendapatkan jawaban tanpa perlu mendengarnya. Ia meraih termometer dari meja kecil, memeriksa alat itu sebelum menggunakannya sesuai petunjuk dokter. Setelah menunggu hasilnya, ia mengamati angka yang tertera, lalu menyentuh dahi Mai sekali lagi.

"Masih hangat," gumamnya.

Ia menyingkirkan rambut yang menempel di pelipis Mai. Setelah ragu sesaat, Ren membungkuk dan menempelkan dahinya pada dahi gadis itu.

Mai membelalak.

Jarak mereka lenyap begitu saja. Ia bisa melihat garis-garis halus kelelahan di sekitar mata Ren, juga merasakan napasnya yang hangat menyentuh kulit wajahnya. Aroma sabun yang samar melekat pada pakaian Ren, bercampur dengan udara hangat ruangan.

Ren diam beberapa detik, seolah sedang memastikan sendiri keadaan Mai meskipun termometer sudah memberikan hasil yang lebih objektif.

"Sepertinya sedikit lebih baik daripada tadi malam," katanya akhirnya. "Tapi jangan senang dulu. Dokter akan memeriksamu lagi nanti. Kau masih harus beristirahat."

Mai menelan ludah. Wajahnya terasa panas, dan kali ini ia tidak yakin apakah penyebabnya demam yang belum sepenuhnya turun atau kedekatan Ren yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

"Onii-chan… kau tidak perlu sedekat itu untuk memeriksa suhu tubuhku."

"Benarkah?"

Ren mengangkat kepalanya. Untuk sesaat, ekspresinya tampak begitu serius hingga Mai mengira ia akan meminta maaf. Namun, pemuda itu justru menyentuh dahinya sendiri, lalu kembali menatap Mai.

"Kalau begitu, lain kali aku akan menggunakan termometer saja."

Ada nada lega yang begitu tipis di balik ucapannya, seolah ia baru saja menemukan alasan kecil untuk tersenyum setelah melewati malam yang panjang.

Mai memandangnya, kemudian tanpa sadar tertawa kecil. Suaranya serak dan segera berubah menjadi batuk ringan. Ren langsung meraih gelas air di meja, membantu Mai mengangkat tubuhnya sedikit dengan menopang punggungnya menggunakan bantal tambahan.

"Pelan-pelan."

Ia menunggu sampai Mai duduk dengan nyaman, baru kemudian menyodorkan gelas.

"Minum sedikit dulu."

Mai menerima gelas itu dengan kedua tangan. Airnya tidak terlalu dingin, tidak pula panas. Ia menyesap perlahan, lalu mengembalikan gelas tersebut kepada Ren.

"Terima kasih."

Ren meletakkan gelas di meja, kemudian menarik selimut yang sempat bergeser agar menutupi bahu Mai dengan baik. Gerakannya sederhana, nyaris seperti kebiasaan yang sudah dilakukannya selama bertahun-tahun. Namun, bagi Mai, setiap tindakan kecil itu terasa terlalu berharga untuk diterima tanpa rasa bersalah.

Ia teringat bagaimana Ren semalam berlutut di samping tubuhnya yang terkulai di lorong. Ia teringat suara pengawal yang berusaha menghalangi Ren memasuki kamarnya, dan bagaimana pemuda itu menolak pergi meskipun aturan baru keluarga mereka melarangnya berada terlalu dekat dengan dirinya.

Ia juga teringat ucapan-ucapan yang terlepas dari bibirnya ketika demam membuatnya kehilangan kendali atas kata-katanya sendiri.

Jangan marah.

Aku sudah berusaha.

Jangan potong.

Jangan tinggalkan aku.

Mai menundukkan kepala. Kedua tangannya meremas ujung selimut di atas pangkuannya.

"Sudah berapa lama kau berada di sini?"

Ren melirik jam di dinding.

"Sejak semalam."

"Semalaman?"

"Ya."

"Tapi kau duduk di kursi itu?"

Ren mengikuti arah pandang Mai menuju kursi di samping ranjang. Ia mengangkat bahu seolah posisi tidur yang membuat lehernya kaku bukanlah masalah besar.

"Aku tidak ingin mengganggu tidurmu."

Mai menatapnya tidak percaya.

"Kau sendiri tidak tidur dengan benar!"

"Aku tidur."

"Di kursi, sambil memegang tanganku?"

Ren terdiam sebentar, lalu melihat tangan mereka yang masih saling bertaut. Seolah baru menyadari bahwa ia belum melepaskannya sejak semalam, ia sedikit melonggarkan genggamannya.

"Ah."

Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Mai mengerutkan hidung. Dalam keadaan lain, ia mungkin sudah melontarkan protes panjang dengan nada manja, menuduh Ren tidak pandai menjaga kesehatan sendiri. Namun, pagi itu, kata-kata tersebut terasa tertahan di tenggorokannya.

Ia justru ingin menangis.

Bukan karena sakit kepalanya. Bukan pula karena tubuhnya masih lemah.

Ia ingin menangis karena seseorang telah menghabiskan malam tanpa tidur hanya untuk memastikan dirinya tidak sendirian.

Seseorang yang seharusnya tidak pernah perlu melakukan semua itu untuknya.

Seseorang yang selama ini ia bohongi.

"Kenapa?" tanya Ren ketika menyadari perubahan ekspresinya.

Mai cepat-cepat menggeleng.

"Tidak apa-apa."

Jawaban itu keluar terlalu cepat.

Ren tidak langsung menanggapinya. Ia hanya menarik kursi lebih dekat dan duduk kembali di samping ranjang. Kedua tangannya bertumpu pada lutut, sementara tatapannya tidak beranjak dari wajah Mai.

"Kanade."

Nada suaranya lembut, tetapi cukup tegas untuk membuat Mai berhenti meremas selimut.

"Kau tidak perlu mengatakan tidak apa-apa hanya karena kau tidak ingin membuatku khawatir."

Mai menggigit bibir bawahnya.

"Kalau memang tidak apa-apa, aku tidak akan bertanya lagi," lanjut Ren. "Tapi kalau ada sesuatu yang mengganggumu, kau boleh mengatakannya. Tidak harus sekarang. Tidak harus semuanya sekaligus."

Ia berhenti sejenak, mencari kata-kata yang tepat.

"Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau tidak perlu berpura-pura kuat di depanku."

Kalimat itu menghantam Mai lebih keras daripada yang bisa ia perkirakan.

Tidak perlu berpura-pura kuat.

Seandainya semudah itu.

Selama berbulan-bulan, ia telah belajar mengatur setiap gerakan, setiap senyum, setiap nada suara. Ia menghafalkan kebiasaan seorang gadis yang sudah meninggal, mempelajari kisah hidupnya, menyesuaikan cara berjalan, bahkan memaksakan diri untuk terlihat seperti adik yang selalu dirindukan Ren.

Ia telah tersenyum ketika hatinya ingin menangis, tertawa ketika ketakutan membuat perutnya melilit, dan mengucapkan kata-kata manis ketika pikirannya dipenuhi ancaman Saito.

Bahkan ketika Ren memperlakukannya dengan kelembutan yang tidak pernah ia duga, ia tetap harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa semua itu bukan untuk Miyauchi Mai.

Semua itu, menurut kontrak, adalah untuk Kisaragi Kanade.

Mai menunduk semakin dalam.

"Aku…"

Suaranya terputus.

Ia mencoba lagi, tetapi hanya desahan kecil yang keluar. Tenggorokannya terasa menyempit, dan matanya mulai panas. Ia segera mengangkat tangan untuk mengusap sudut mata, berusaha menghapus air yang bahkan belum sempat jatuh.

Ren melihat gerakan itu.

"Kanade?"

"Aku capek, Onii-chan."

Kalimat itu keluar begitu lirih hingga nyaris tenggelam oleh dengung pemanas ruangan.

Mai sendiri tampak terkejut mendengarnya. Selama ini, ia selalu berhati-hati memilih kata. Ia selalu mencari jawaban yang aman, jawaban yang tidak akan mengundang pertanyaan lebih lanjut, jawaban yang tidak akan membuat Saito curiga apabila percakapan mereka suatu hari dipantau.

Namun, kali ini ia tidak mampu menahan semuanya.

"Aku capek sekali."

Air mata pertama jatuh ke punggung tangannya.

Mai segera menunduk, seolah malu karena membiarkan dirinya terlihat selemah itu. Bahunya bergetar kecil. Ia berusaha menarik napas panjang, tetapi udara yang masuk justru tersangkut di tengah dada, membuat suaranya pecah ketika ia kembali berbicara.

"Aku terus berusaha melakukan semuanya dengan benar. Aku belajar, aku menghafalkan hal-hal yang harus kuingat, aku berusaha tersenyum pada saat yang tepat… aku berusaha supaya tidak ada yang menyadari kalau ada sesuatu yang salah."

Jemarinya mencengkeram selimut semakin erat.

"Kalau aku melakukan kesalahan sedikit saja, aku takut semuanya akan berantakan. Aku takut seseorang akan marah. Aku takut membuat masalah. Aku takut…"

Ia berhenti.

Nama Saito hampir terucap. Ancaman pemotongan gaji, klausul denda, dan kalimat dingin tentang dirinya yang bukan anggota keluarga Kisaragi berdesakan di belakang giginya.

Mai menutup mulut dengan satu tangan.

Lihat selengkapnya