Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #43

Janji Rahasia di Bawah Bintang

Empat hari setelah malam ketika demamnya mencapai puncak, Mai akhirnya diperbolehkan kembali beraktivitas secara terbatas.

Pemulihannya tidak berlangsung secepat yang ia harapkan. Tubuhnya masih mudah lelah, tenggorokannya sesekali terasa kering, dan kepalanya terkadang berdenyut apabila ia terlalu lama membaca atau berjalan. Dokter yang datang memeriksanya setiap hari telah memberikan izin untuk kembali melakukan rutinitas ringan, tetapi dengan satu syarat yang terus diulangnya: Mai tidak boleh memaksakan diri hanya karena merasa sudah lebih baik.

Sayangnya, bagi seseorang yang selama berbulan-bulan terbiasa mengukur keselamatan dirinya berdasarkan seberapa baik ia memenuhi tuntutan orang lain, beristirahat ternyata jauh lebih sulit daripada bekerja.

Sore itu, Mai duduk di tepi ranjang dengan sebuah buku pelajaran terbuka di pangkuannya. Cahaya matahari musim dingin masuk melalui jendela, menyinari meja belajar yang masih dipenuhi catatan dan lembar latihan. Di luar, lapisan salju yang menutupi taman mulai mencair pada bagian-bagian yang terkena sinar matahari, meskipun udara tetap cukup dingin untuk membuat kaca jendela terasa membeku ketika disentuh.

Mai menutup bukunya.

Ia baru membaca tiga halaman, tetapi pikirannya sudah melayang ke mana-mana.

Sejak bangun dari demam, ia terus mengingat percakapannya dengan Ren. Pemuda itu benar-benar menepati janjinya untuk menemaninya sampai dokter datang, lalu memastikan para pelayan mengantarkan makanan ke kamarnya secara teratur. Ia bahkan beberapa kali muncul hanya untuk memeriksa apakah Mai sudah minum obat dan cukup beristirahat.

Perhatian itu terasa menyenangkan.

Sekaligus menakutkan.

Sebab, semakin banyak kebaikan yang diterimanya, semakin sulit Mai mengingatkan dirinya sendiri bahwa hubungan mereka dibangun di atas kebohongan.

Ia menatap jemarinya yang terlipat di atas buku.

Jangan mengharapkan terlalu banyak, Mai.

Kalimat itu sudah berkali-kali ia ucapkan kepada dirinya sendiri. Namun, semakin keras ia berusaha menekan harapannya, semakin sering pula pikirannya membayangkan kehidupan yang sebenarnya tidak pernah berani ia minta.

Sebuah rumah kecil.

Jendela yang bisa dibuka tanpa harus meminta izin.

Makanan sederhana yang dimasak karena lapar, bukan karena harus memenuhi standar keluarga konglomerat.

Dan seseorang yang duduk di seberang meja makan, mengeluhkan cuaca atau tugas sekolah, tanpa ada kamera tersembunyi yang merekam setiap percakapan mereka.

Mai menghela napas, kemudian segera menggelengkan kepala.

Ia tidak boleh terlalu jauh bermimpi.

Ketukan terdengar dari pintu.

Mai langsung menegakkan punggung. Kebiasaan lamanya membuat tangannya bergerak cepat untuk merapikan buku dan rambut sebelum ia menyahut.

"Masuk."

Pintu terbuka.

Ren berdiri di ambang pintu dengan pakaian kasual: sweter rajut berwarna gelap, celana panjang sederhana, dan sepasang kaus kaki tebal. Rambutnya sedikit berantakan, tidak seperti penampilannya di sekolah yang selalu tertata rapi. Di lengannya terlipat sebuah selimut tebal berwarna abu-abu, sementara tangan satunya memegang dua cangkir bertutup.

Mai mengerjapkan mata.

"Onii-chan? Ada apa?"

Ren masuk, lalu menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati. Ia meletakkan kedua cangkir di atas meja kecil, kemudian melirik buku pelajaran yang terbuka di pangkuan Mai.

"Kau sedang belajar?"

"Sedikit."

"Berapa lama?"

Mai terdiam.

Ren mengangkat alis.

"Kanade."

"Baru… mungkin satu jam?"

"Dokter bilang aktivitas ringan, bukan belajar sampai lupa waktu."

"Aku tidak lupa waktu!"

"Kau bahkan tidak menyadari aku mengetuk dua kali."

Mai membuka mulut untuk membantah, tetapi akhirnya menutupnya kembali. Ia baru menyadari bahwa memang ada dua ketukan sebelum pintu dibuka. Ketika itu, ia terlalu sibuk memikirkan soal matematika hingga tidak mendengar suara pertama.

Ren tersenyum tipis melihat ekspresinya.

"Sudah kuduga."

"Jangan tersenyum begitu! Kau membuatku terlihat seperti anak kecil."

"Kau memang sedang bertingkah seperti anak kecil."

"Onii-chan!"

Mai mengambil bantal kecil di sampingnya dan melemparkannya ke arah Ren. Pemuda itu menangkapnya dengan satu tangan tanpa kesulitan, lalu meletakkannya kembali di atas kursi.

Untuk beberapa detik, keduanya saling berpandangan. Mai akhirnya tertawa kecil, dan Ren ikut tersenyum.

Tawa itu terasa lebih ringan daripada yang pernah terdengar dari kamar tersebut selama beberapa minggu terakhir.

Ren mengambil salah satu cangkir dari meja.

"Aku membawa teh hangat. Tidak terlalu panas."

Mai menerima cangkir yang disodorkannya. Kehangatan merambat ke telapak tangannya, mengusir sedikit rasa dingin yang masih tertinggal di ujung jari.

"Terima kasih."

Ren duduk di kursi dekat meja, lalu memandangnya dengan ekspresi yang agak berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tetapi ia tampak sedang mempertimbangkan bagaimana memulai.

Mai meniup permukaan tehnya.

"Kenapa?"

"Hm?"

"Kau kelihatan seperti sedang merencanakan sesuatu."

Ren menyesap tehnya sebelum menjawab.

"Aku memang sedang merencanakan sesuatu."

Mai langsung menurunkan cangkir.

"Apa?"

"Jangan panik dulu."

"Kalau kau mengatakan jangan panik, biasanya memang ada sesuatu yang perlu membuatku panik."

Kali ini, Ren benar-benar tertawa.

"Aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat."

Mai memiringkan kepala.

"Ke mana?"

Ren melirik pintu kamar, lalu kembali menatapnya.

"Balkon atap."

Mai berkedip.

"Balkon atap?"

"Ya."

"Malam-malam?"

"Ya."

"Di musim dingin?"

Ren menahan senyum ketika melihat Mai mulai menghitung sendiri semua alasan untuk menolak ajakan itu.

"Aku membawa selimut," katanya sambil mengangkat lipatan kain tebal di lengannya. "Dan teh hangat. Kita tidak akan lama di sana."

Mai memandangi selimut itu, lalu menatap Ren.

"Tapi aku baru sembuh."

"Aku tahu. Karena itu aku tidak akan membiarkanmu berdiri lama-lama di luar."

"Dokter juga bilang aku harus menghindari udara dingin."

"Kita akan berpakaian hangat. Kalau kau mulai merasa tidak nyaman, kita langsung kembali."

Mai masih tampak ragu.

Ren menurunkan selimutnya ke kursi, kemudian mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Sesuatu yang tidak ingin kubicarakan di dalam kamar."

Mai terdiam.

Nada suara Ren berubah pada kalimat terakhir. Tidak lagi terdengar seperti pemuda yang sedang mengajak adiknya mencari hiburan setelah berhari-hari terkurung di kamar, melainkan seseorang yang telah memikirkan sesuatu dengan sungguh-sungguh.

Mai melirik sudut langit-langit kamarnya.

Di sana, sebuah perangkat kecil hampir tidak terlihat di antara dekorasi kayu. Kamera pengawas itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka, sama seperti pelayan yang selalu siap menyambut atau pengawal yang berdiri di ujung koridor.

Ia tidak tahu apakah percakapan di kamar mereka sedang dipantau saat itu.

Namun, ia tahu bahwa Ren tidak akan mengajaknya ke suatu tempat tanpa alasan.

"Baiklah," jawabnya pelan.

Ren mengangkat wajah.

"Benarkah?"

Mai mengangguk. Kali ini, senyumnya muncul tanpa harus ia susun terlebih dahulu.

"Tapi kalau aku masuk angin lagi, kau yang harus menjelaskan kepada dokter."

"Kesepakatan yang adil."

"Dan kau harus membuatkan teh untukku besok."

"Aku akan mempertimbangkannya."

"Onii-chan!"

Ren mengangkat kedua tangan seolah menyerah, lalu berdiri untuk mengambil selimut.

"Baik. Aku akan membuatkannya."

Mai tertawa lagi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ada sesuatu yang bisa dinantikannya malam itu, meskipun ia belum tahu apa yang hendak dibicarakan Ren.

Koridor lantai paling atas kediaman Kisaragi jauh lebih sepi dibandingkan bagian rumah lainnya.

Pada malam hari, lampu-lampu dinding menyala dengan cahaya keemasan yang redup. Karpet tebal meredam suara langkah kaki, sementara jendela-jendela tinggi memperlihatkan taman yang gelap dan berkilau oleh sisa salju. Para pelayan sudah menyelesaikan sebagian besar tugas malam mereka, dan hanya sesekali terdengar suara pintu tertutup dari sayap bangunan yang jauh.

Ren berjalan di depan sambil membawa selimut. Mai mengikutinya dengan langkah hati-hati, mengenakan sweter tebal di atas pakaian tidurnya, celana panjang hangat, dan sepasang sandal rumah berlapis kain.

Rambutnya dibiarkan terurai. Ia hanya menyelipkan sebagian helainya di belakang telinga agar tidak mengganggu pandangan.

Ketika mereka melewati sebuah persimpangan koridor, Mai melihat seorang pengawal berdiri di dekat pintu menuju tangga utama.

Pengawal itu membungkuk singkat kepada Ren.

"Tuan Muda."

Ren mengangguk tanpa berhenti.

"Kami hanya akan melihat langit sebentar. Tolong jangan ganggu kami kecuali ada keadaan darurat."

"Baik, Tuan Muda."

Mai terus berjalan, tetapi ia merasakan ketegangan kecil muncul di bahunya. Bahkan untuk keluar menuju balkon, mereka masih harus melewati seseorang yang akan mencatat ke mana mereka pergi dan berapa lama mereka berada di sana.

Ren sepertinya menyadari perubahan langkahnya.

Ia memperlambat langkah hingga berjalan sejajar dengan Mai.

"Jangan khawatir."

Mai menoleh.

"Aku tidak khawatir."

"Kau baru saja berjalan seperti sedang melewati ruang ujian."

"Aku memang sedang melewati lorong yang dijaga pengawal!"

Ren mengangguk seolah menerima alasan itu.

"Kalau begitu, anggap saja kita sedang mengikuti ujian terakhir."

"Ujian apa?"

"Ujian menjadi ahli dalam menyelinap keluar rumah sendiri."

Mai menahan tawa dengan menutup mulutnya.

"Itu bukan sesuatu yang seharusnya dibanggakan oleh pewaris keluarga Kisaragi."

"Aku sudah mulai kehilangan minat pada hal-hal yang seharusnya dibanggakan oleh pewaris keluarga Kisaragi."

Ucapan itu disampaikan dengan nada ringan, hampir seperti lelucon. Namun, ketika Mai menatap wajahnya, ia mendapati Ren tidak sedang tersenyum.

Pemuda itu terus berjalan menuju ujung koridor.

Di sana terdapat pintu kayu berwarna gelap yang jarang digunakan. Ren mengeluarkan kunci kecil dari sakunya, membuka pintu tersebut, lalu mempersilakan Mai masuk lebih dahulu.

Udara dingin segera menyentuh wajah mereka.

Mai menarik napas pendek.

Balkon atap itu tidak terlalu luas, tetapi jauh lebih besar daripada balkon di kamar tidur biasa. Lantainya dilapisi batu berwarna kelabu, dengan pagar besi hitam yang membentang di sepanjang tepian. Beberapa pot tanaman musim dingin ditempatkan di sudut, sebagian besar cabangnya telah meranggas. Sebuah bangku panjang berada di dekat dinding, terlindung dari angin yang datang langsung dari arah kota.

Dari titik tertinggi kediaman Kisaragi, Tokyo terbentang luas di hadapan mereka.

Gedung-gedung tinggi menjulang dengan jendela-jendela bercahaya. Jalan raya tampak seperti aliran cahaya yang terus bergerak, dengan lampu kendaraan berwarna putih dan merah menyusuri persimpangan di kejauhan. Menara-menara kota berdiri di antara bangunan perkantoran, sementara di kejauhan, cahaya kawasan permukiman menyebar seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi.

Langit malam begitu cerah.

Awan hampir tidak terlihat, menyisakan bentangan gelap kebiruan yang dihiasi bintang-bintang kecil. Di tengah kota yang tidak pernah benar-benar tidur, beberapa bintang tampak redup akibat cahaya buatan, tetapi tetap terlihat apabila seseorang mau meluangkan waktu untuk mencari.

Mai berhenti di dekat pintu.

Ia telah tinggal di kediaman Kisaragi selama berbulan-bulan, tetapi jarang sekali melihat pemandangan seperti ini. Sebagian besar waktunya dihabiskan di kamar, ruang keluarga, ruang makan, atau sekolah. Jika ia pergi keluar, biasanya ada sopir dan pengawal yang mengatur setiap pergerakan.

Malam ini, untuk sesaat, ia merasa sedang berdiri di luar semua itu.

Angin menyapu pipinya. Mai segera merapatkan kedua tangan ke tubuh.

"Dingin sekali…"

Ren meletakkan selimut di bangku, lalu membuka lipatannya.

"Aku sudah bilang kita harus berpakaian hangat."

"Aku sudah berpakaian hangat!"

"Kalau begitu, kenapa kau menggigil?"

"Karena udara di sini dingin, bukan karena aku tidak berpakaian hangat!"

Ren tertawa kecil sambil mengibaskan selimut agar terbuka sempurna.

"Baiklah, baiklah. Duduklah."

Ia memastikan bangku tidak terlalu dingin dengan melapisinya menggunakan bagian selimut yang tebal. Setelah Mai duduk, Ren menempatkan dirinya di samping gadis itu, lalu menyelimuti bahu mereka berdua.

Mai sempat mengangkat tangan untuk mengatur posisi kain tersebut. Selimut itu cukup lebar, tetapi angin masih berusaha menyusup dari bagian bawah. Ren menggeser duduknya sedikit mendekat agar kainnya tidak mudah tersingkap.

Bahu mereka bersentuhan.

Mai menegang sesaat, lalu perlahan mengendur ketika merasakan kehangatan tubuh Ren di sisinya.

"Begini lebih baik?" tanya Ren.

Mai mengangguk.

"Jauh lebih baik."

Ren mengambil salah satu cangkir yang tadi dibawanya. Ia menyerahkannya kepada Mai, kemudian memegang cangkir satunya sendiri dengan kedua tangan.

Uap tipis naik dari permukaan teh.

Mereka duduk tanpa berbicara selama beberapa menit, menatap pemandangan kota yang terbentang di bawah. Angin berembus dari waktu ke waktu, menggerakkan ujung selimut dan rambut Mai. Setiap kali itu terjadi, Ren membantu merapatkan kain di sekitar bahunya tanpa banyak bicara.

Mai menyesap teh perlahan.

Rasanya sedikit manis, dengan aroma yang menenangkan. Kehangatan cairan itu menyebar ke tenggorokannya, lalu turun ke dada. Ia mengembuskan napas pelan, memandang deretan lampu yang berkedip di kejauhan.

"Tokyo terlihat berbeda dari sini," katanya.

Ren menoleh sedikit.

"Berbeda bagaimana?"

"Biasanya, kalau aku melihat kota dari dalam mobil, aku hanya melihat jalanan dan gedung-gedung yang dilewati. Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan semuanya." Mai mengangkat dagu ke arah cakrawala. "Tapi dari sini, rasanya seperti seluruh kota punya kehidupan masing-masing."

"Memang begitu."

"Ada orang yang sedang bekerja sampai malam. Ada yang baru pulang sekolah. Ada yang mungkin sedang makan malam bersama keluarganya. Ada juga yang sedang bertengkar karena hal sepele."

Ren tersenyum.

"Kenapa bagian terakhir terdengar begitu spesifik?"

"Karena itu juga bagian dari kehidupan."

"Kalau begitu, mungkin ada seseorang di gedung sana yang sedang bertengkar dengan adiknya karena adiknya menghabiskan semua makanan penutup."

Mai langsung menoleh kepadanya.

"Itu bukan hal sepele!"

"Kau pernah melakukannya?"

"Tidak!"

Ren menatapnya dengan ekspresi penuh keraguan.

Mai memukul lengannya pelan dari balik selimut.

Lihat selengkapnya