Pagi itu, sinar matahari musim dingin menyusup melalui jendela-jendela tinggi ruang kelas 1-A Akademi Seiwa, menyentuh permukaan meja yang mengilap dan lantai kayu yang baru saja dibersihkan petugas kebersihan. Udara di luar masih menyisakan gigitan dingin setelah salju turun pada malam sebelumnya. Sesekali, angin menggoyangkan ranting-ranting pohon di halaman sekolah, mengirimkan bayangan tipis yang bergerak di atas tirai putih.
Ruang kelas mulai dipenuhi suara murid yang berdatangan. Ada yang membicarakan ujian mendatang, ada yang mengeluh tentang suhu udara, dan ada pula yang sibuk memperlihatkan foto-foto dari acara dansa musim gugur yang masih menjadi bahan pembicaraan sejak beberapa hari terakhir.
Di antara keramaian itu, Miyauchi Mai berjalan memasuki kelas dengan tas sekolah tergantung di bahu kirinya.
Tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Meskipun demamnya sudah turun dan dokter telah mengizinkannya kembali beraktivitas secara bertahap, ia masih merasakan sedikit kelemahan setiap kali berjalan terlalu cepat. Namun, ia bersikeras kembali ke sekolah. Ia tidak ingin ketidakhadirannya mengundang pertanyaan dari guru, teman sekelas, ataupun Saito yang selalu mencari-cari alasan untuk menganggapnya gagal menjalankan peran.
Terlebih lagi, sejak malam ketika ia jatuh pingsan, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Ia masih ingat hangatnya tangan Ren yang menggenggam tangannya sepanjang malam. Ia masih ingat suara pemuda itu yang terdengar serak karena kurang tidur, tetapi tetap bersikeras menemaninya meskipun para penjaga berusaha menghalanginya.
Dan ia masih ingat kalimat yang diucapkan Ren ketika ia setengah sadar.
Aku tidak akan membiarkanmu menanggung semuanya sendirian.
Kenangan itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus nyeri.
Mai menunduk sedikit, menyembunyikan senyum kecil yang hampir muncul di bibirnya. Ia tidak boleh terlalu lama memikirkan hal-hal semacam itu. Perasaannya kepada Ren sudah berkembang jauh melampaui batas yang seharusnya dimiliki seorang pekerja kontrak, dan setiap kebaikan yang diterimanya hanya membuat batas tersebut semakin kabur.
Namun, pagi ini ia ingin menikmati sedikit kedamaian.
Setidaknya sampai ia tiba di mejanya.
Mai meletakkan tas di atas kursi, menariknya sedikit agar tidak berdecit, lalu membungkuk untuk mengambil buku pelajaran dari laci meja. Gerakannya masih agak lambat. Jari-jarinya menyentuh sampul buku matematika, tempat ia beberapa hari lalu menyimpan secarik catatan tentang materi yang ingin dipelajarinya bersama Ren.
Ia menarik buku itu keluar.
Lalu pandangannya jatuh pada sesuatu yang tidak seharusnya berada di dalam laci tersebut.
Selembar kertas foto.
Benda itu diselipkan di antara buku catatan dan buku teks, posisinya terlalu rapi untuk dianggap sebagai sampah yang tidak sengaja tertinggal. Permukaan kertasnya memantulkan cahaya ketika Mai mengangkatnya sedikit. Kualitas cetakannya jauh lebih baik daripada foto biasa yang dicetak melalui mesin sekolah.
Untuk sesaat, ia hanya menatapnya tanpa memahami apa yang sedang dilihatnya.
Kemudian, seluruh darah seolah-olah meninggalkan wajahnya.
Foto itu memperlihatkan seorang gadis mengenakan gaun maid hitam-putih, lengkap dengan celemek putih, pita di kepala, dan senyum manis yang selama ini dikenal oleh para pengunjung sebuah maid café di Akihabara.
Gadis itu berdiri di belakang tirai panggung dengan tubuh sedikit condong ke depan, seolah sedang menyapa pelanggan.
Matanya berbinar. Bibirnya membentuk senyum yang terlatih. Salah satu tangannya terangkat dengan gestur khas yang dahulu sering ia gunakan ketika menyambut para tamu.
Di sudut foto, terlihat tulisan kecil dari sebuah kamera digital.
Mei-chan — Akihabara.
Mai membeku.
Ia mengenali foto itu.
Bukan sekadar wajahnya sendiri, bukan pula sekadar kostum yang pernah dikenakannya. Ia mengenali ekspresi yang dibuatnya pada saat pengambilan gambar, sudut ruangan, bahkan hiasan kecil berbentuk bintang di dinding belakang yang sudah lama ia lupakan.
Itu adalah dirinya sebelum menjadi Kisaragi Kanade.
Dirinya yang dahulu bekerja berjam-jam di bawah lampu terang, menahan pegal di kaki, menyapa pelanggan dengan suara ceria, dan pulang ke kamar kecilnya dengan tubuh yang nyaris tidak sanggup berdiri. Dirinya yang pernah menganggap senyum di depan orang lain sebagai cara paling mudah untuk menyembunyikan masalah hidup.
Dirinya yang sekarang seharusnya sudah terkubur di balik identitas palsu.
Tenggorokannya mendadak kering.
Ia buru-buru membalik foto itu, berharap menemukan sesuatu yang dapat menjelaskan mengapa benda tersebut berada di mejanya.
Di bagian belakang terdapat beberapa baris tulisan dengan tinta hitam. Huruf-hurufnya dicetak dengan sengaja, tegas dan rapi, seolah penulisnya ingin memastikan setiap kata terbaca jelas.
Datang ke gang belakang kafe ini hari Sabtu ini, atau foto ini menyebar ke seluruh sekolah.
Di bawah kalimat itu tertera sebuah alamat di Akihabara.
Mai membaca pesan tersebut sekali.
Dua kali.
Pada pembacaan ketiga, ujung jarinya mulai bergetar.
Kertas foto itu berderak pelan ketika genggamannya mengencang.
Tidak mungkin.
Pikiran itu muncul begitu saja, sederhana dan putus asa. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini mungkin hanya lelucon buruk, mungkin ulah seseorang yang ingin menakut-nakutinya setelah melihat foto lama di internet.
Namun, kualitas foto itu terlalu baik. Pesan di belakangnya terlalu spesifik. Dan alamat yang dicantumkan bukan alamat sembarangan.
Itu adalah gang belakang sebuah kafe di Akihabara yang pernah beberapa kali ia lewati ketika masih bekerja sebagai Mei-chan.
Seseorang mengetahui masa lalunya.
Bukan sekadar mengetahui bahwa ia pernah bekerja di maid café, melainkan memiliki bukti visual yang cukup jelas untuk menghubungkan wajah Kisaragi Kanade dengan sosok yang pernah menjadi salah satu maid populer di kawasan Akihabara.
Mai menelan ludah. Bunyi percakapan teman-teman sekelasnya terasa semakin jauh, seolah-olah ia sedang berdiri di dasar kolam sementara suara dari permukaan terdengar samar dan terdistorsi.
Ia memaksa dirinya menarik napas panjang.
Satu hal dulu. Jangan panik.
Ia sudah menghadapi tekanan dari Saito. Ia sudah menghadapi ancaman pemotongan gaji, pengawasan kamera, dan peraturan yang membatasi interaksinya dengan Ren. Ia bahkan pernah berdiri di hadapan Souichiro dan menerima teguran tanpa berani membantah.
Tetapi ancaman ini berbeda.
Jika foto itu tersebar di Akademi Seiwa, semua orang bisa melihatnya. Para siswa akan membandingkan wajah Mei-chan dengan Kisaragi Kanade. Klub otaku yang selama ini sibuk membangun teori konspirasi mereka akan memperoleh bukti yang selama ini mereka cari.
Lalu apa yang akan terjadi?
Saito akan mengetahui bahwa identitas palsu yang dipercayakan kepadanya berada dalam bahaya. Souichiro akan menganggapnya sebagai sumber masalah yang harus disingkirkan. Kontraknya mungkin dihentikan sebelum waktunya, dengan ancaman denda yang tidak akan pernah sanggup ia bayar.
Dan Ren—
Jari Mai berhenti bergerak.
Ia tidak sanggup menyelesaikan pikiran itu.
Bayangan wajah Ren ketika menatapnya dengan penuh kepercayaan muncul begitu jelas di benaknya. Ren yang duduk di samping ranjangnya semalaman. Ren yang membungkus tubuhnya dengan selimut ketika suhu tubuhnya masih tinggi. Ren yang mengatakan bahwa ia tidak ingin Mai menanggung semuanya sendirian.
Jika identitasnya terbongkar, apakah Ren akan merasa dikhianati?
Apakah ia akan memandang Mai sebagai orang asing yang selama ini mempermainkan ingatannya?
Mai menunduk. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah, memberinya alasan untuk tidak menunjukkan ekspresi kepada siapa pun yang kebetulan melihat ke arahnya.
Ia meremas kertas foto itu lebih kuat.
Tepi kertas yang keras menekan telapak tangannya, tetapi ia hampir tidak merasakannya.
"Kanade?"
Suara seorang gadis membuatnya tersentak.
Mai buru-buru melonggarkan genggaman, lalu menyelipkan foto tersebut ke balik buku matematika.
Yuna, teman sekelasnya yang duduk dua meja di sebelah kiri, sedang berdiri di samping mejanya sambil memegang botol minuman hangat. Rambutnya yang diikat setengah bergerak ketika ia memiringkan kepala.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Yuna. "Wajahmu pucat sekali. Apa demammu kambuh?"
Mai mengangkat kepala terlalu cepat. Ia segera menyadari kesalahannya ketika gerakan itu membuat kursinya berdecit.
"Ah, tidak!" jawabnya, sedikit terlalu keras. Ia buru-buru menurunkan nada suaranya. "Aku hanya belum terbiasa kembali ke sekolah setelah sakit."
Yuna mengerutkan kening. "Kamu seharusnya tidak memaksakan diri. Kalau masih lemas, bilang saja kepada wali kelas. Tidak ada yang akan memarahimu karena beristirahat."
Kalimat sederhana itu membuat Mai nyaris tertawa getir.
Kalau saja semudah itu.
Di dunia tempat ia hidup sekarang, bahkan jatuh sakit pun terasa seperti kegagalan profesional. Ia tidak boleh merepotkan siapa pun, tidak boleh melanggar instruksi, dan tidak boleh melakukan sesuatu yang dapat merusak citra keluarga Kisaragi.
Namun, ia tetap memasang senyum yang sudah begitu terbiasa dikenakannya.
"Aku sungguh tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
Yuna masih tampak ragu, tetapi bel masuk berbunyi sebelum ia sempat bertanya lebih jauh.
"Baiklah. Tapi kalau kamu merasa pusing, panggil aku, ya."
"Ya."
Yuna kembali ke tempat duduknya.
Mai menunggu sampai gadis itu membelakanginya, lalu memasukkan foto tersebut ke dalam buku catatan. Ia menyelipkan buku itu ke bagian paling dalam tas sekolah, di antara beberapa buku teks tebal, kemudian menutup ritsleting tas perlahan.
Gerakannya berhati-hati, tetapi jemarinya tidak berhenti bergetar.
Ia memandang tas itu selama beberapa detik.
Benda tersebut tampak sama seperti biasanya. Tidak ada yang berubah dari luar. Namun, sekarang tas itu menyimpan ancaman yang bisa menghancurkan seluruh kehidupan yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Mai merapatkan kedua tangannya di atas meja, berusaha menahan tremor yang masih tersisa.
Hari Sabtu.
Hari ini Rabu.
Hanya ada beberapa hari sebelum ia harus mendatangi tempat yang ditentukan pengirim pesan.
Dan ia tahu, jika ia memberi tahu Saito, kemungkinan besar pengacara itu tidak akan menganggap dirinya sebagai korban. Ia akan menyebut kejadian ini sebagai kegagalan Mai menjaga kerahasiaan identitas, lalu mencari cara untuk mengendalikan situasi dengan metode yang sama dinginnya seperti biasa.
Jika ia memberi tahu Souichiro, keadaan mungkin lebih buruk lagi.
Sementara jika ia memberi tahu Ren—
Mai memejamkan mata sejenak.
Tidak.
Ia tidak bisa menyeret Ren ke dalam masalah ini.
Ren baru mulai pulih. Belakangan ini, ia semakin berani mempertanyakan aturan keluarga, semakin sulit dikendalikan oleh ayahnya, dan semakin jelas menunjukkan bahwa Mai bukan sekadar seseorang yang kebetulan tinggal bersamanya. Jika ia mengetahui ancaman ini, Ren mungkin akan berusaha melindunginya secara langsung.
Dan jika ia melakukan itu, keluarga Kisaragi akan segera menyadari bahwa ada sesuatu yang harus mereka pisahkan.
Mai sudah melihat apa yang dilakukan keluarga itu ketika Ren mulai menunjukkan kedekatan dengannya. Ia tidak ingin memberikan alasan baru kepada Souichiro untuk menghukum Ren.
Kalau aku bisa menyelesaikannya sendiri, semuanya tidak perlu melibatkan Onii-chan.
Pikiran itu terdengar masuk akal.
Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri.
Pelajaran pertama berlangsung seperti biasa.
Guru matematika menulis serangkaian persamaan di papan tulis, sementara kapur putih berderit setiap kali menyentuh permukaan hijau. Beberapa siswa mencatat dengan tekun. Di barisan belakang, seseorang sesekali menguap, lalu buru-buru menutup mulut ketika guru menoleh.
Mai duduk tegak dengan buku terbuka di hadapannya.
Ia mencoba mengikuti penjelasan guru, sungguh-sungguh berusaha memusatkan perhatian pada angka-angka yang ditulis di papan. Tetapi setiap kali pikirannya mulai memahami sebuah persamaan, ingatannya kembali kepada foto di dalam tas.
Datang ke gang belakang kafe ini hari Sabtu ini.
Siapa yang mengambil foto tersebut?
Apakah Haruki dan Tetsuya terlibat? Kedua anggota klub otaku itu sudah beberapa kali menunjukkan kecurigaan terhadapnya. Mereka pernah mengamati gerak-geriknya, membicarakan kemiripannya dengan Mei-chan, bahkan menyusun teori absurd tentang Ren yang menculik seorang maid dan menjadikannya adik.
Dahulu, Mai menganggap semua itu hanya lelucon konyol.
Sekarang, ia tidak lagi bisa tertawa.
Mungkin ada siswa lain yang mengenalinya. Mungkin seseorang pernah mengunjungi maid café tempatnya bekerja dan menyimpan foto-foto lama. Atau mungkin orang yang mengirim ancaman itu memang sengaja mengumpulkan bukti selama berminggu-minggu.
Apa pun jawabannya, ia tidak bisa membiarkan foto tersebut menyebar.
Tangan kanannya bergerak menuju tas.
Ia menghentikan gerakan itu di tengah jalan.