Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #45

Negosiasi di Sudut Akiba

Sabtu siang, Akihabara masih riuh seperti lautan yang tidak pernah mengenal kata surut.

Papan reklame elektronik menjulang di antara gedung-gedung sempit, menumpahkan warna merah muda, biru elektrik, dan ungu ke trotoar yang dipenuhi pejalan kaki. Lagu-lagu anime terdengar bersahutan dari toko elektronik, kios figur karakter, dan kafe bertema yang pintunya terbuka lebar. Suara penyiar toko yang menawarkan diskon bercampur dengan tawa sekelompok anak muda berjaket bergambar karakter favorit mereka. Aroma takoyaki yang baru matang, kopi dari kedai kecil, serta udara lembap dari celah-celah bangunan bercampur menjadi bau khas distrik itu—bau yang dahulu begitu akrab bagi Miyauchi Mai.

Namun, hari itu, setiap sudut Akihabara terasa seperti bagian dari masa lalu yang ingin ia kubur.

Mai berdiri di seberang sebuah toko barang koleksi, mengenakan jaket krem sederhana, rok gelap selutut, dan masker yang menutupi separuh wajahnya. Rambutnya diikat rendah agar tidak mudah dikenali. Tas selempang kecil menggantung di bahunya, sementara tangan kanannya terus menggenggam tali tas itu seolah-olah benda tersebut satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak berbalik dan melarikan diri.

Di dalam tasnya tersimpan foto yang telah mengubah ketenangan beberapa hari terakhir menjadi mimpi buruk.

Foto dirinya dalam seragam maid.

Pita rambut, celemek berenda, senyum manis yang dahulu dilatihnya selama berjam-jam di depan cermin, serta sepasang mata yang kini terasa seperti milik orang lain. Di balik foto itu terdapat alamat dan ancaman singkat. Jika ia tidak datang, foto tersebut akan disebarkan ke seluruh sekolah.

Lebih buruk lagi, pengirimnya mengetahui sesuatu tentang Saito.

Mai menelan ludah. Tenggorokannya masih sedikit kering sejak demam beberapa waktu lalu. Dokter telah menyuruhnya beristirahat, tetapi sejak menerima foto itu, tidur malamnya hanya terdiri atas beberapa jam yang terputus-putus. Setiap kali memejamkan mata, ia membayangkan wajah Saito ketika melihat bukti bahwa identitas palsunya mulai terbongkar.

Lalu wajah Souichiro.

Dan yang paling sulit dihadapi adalah wajah Ren.

Kalau Onii-chan tahu semuanya sekarang, apa yang akan terjadi?

Jari-jarinya mengencang pada tali tas.

Ia masih ingat bagaimana Ren duduk di sisi tempat tidurnya ketika demamnya tinggi. Bagaimana pemuda itu mengganti kompres di dahinya, memegang tangannya sepanjang malam, dan berjanji tidak akan membiarkannya menanggung semuanya sendirian.

Janji itu seharusnya membuatnya merasa aman.

Sebaliknya, janji tersebut justru membuatnya semakin takut.

Mai tidak sanggup membiarkan Ren terseret ke dalam masalah yang sejak awal bukan miliknya. Keluarga Kisaragi sudah mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Saito sudah memangkas separuh bayarannya dan mengancam akan memutus kontrak. Jika foto itu sampai ke tangan mereka, semuanya mungkin berakhir sebelum ia sempat menemukan jalan keluar.

Ini masalahku. Aku yang harus menyelesaikannya.

Mai mengangkat kepala, menarik napas perlahan, lalu menyeberang jalan.

Ia melewati sebuah toko musik, kemudian menyusuri sisi bangunan yang dipenuhi poster karakter anime. Di dekat persimpangan, sekelompok remaja tertawa sambil membicarakan permainan terbaru. Seorang pegawai kafe membagikan selebaran kepada orang-orang yang melintas.

Tidak seorang pun memperhatikan gadis berseragam sekolah yang menyembunyikan wajah di balik masker itu.

Tahun lalu, Mai bisa berjalan di distrik ini tanpa perlu menyamarkan dirinya. Orang-orang mengenalnya sebagai Mei-chan. Ada pelanggan yang selalu datang setiap akhir pekan, ada yang meminta rekomendasi minuman, dan ada pula yang sekadar ingin mendengar sapaan cerianya setelah melewati hari yang melelahkan.

Ia pernah menganggap pekerjaan itu sebagai tempat berlindung.

Sekarang, kenangan tersebut terasa seperti ruangan yang pintunya telah dikunci dari luar.

Mai berbelok ke gang sempit di belakang deretan toko. Suara jalan utama segera meredup. Musik anime yang tadi terdengar begitu jelas kini hanya menjadi dengung jauh, sesekali disela deru mesin pendingin udara dan bunyi tetesan air dari pipa di atas kepala. Kardus-kardus bekas ditumpuk dekat pintu belakang sebuah restoran. Sebuah sepeda tua bersandar pada dinding yang catnya mengelupas.

Gang itu masih sama seperti dahulu.

Termasuk pintu belakang kafe tempat ia pernah bekerja.

Mai berhenti sejenak di hadapan pintu logam berwarna abu-abu yang kini memiliki noda karat di dekat gagangnya. Ia tidak menyentuhnya. Matanya hanya mengikuti goresan kecil di permukaan pintu, tempat seorang pegawai pernah menjatuhkan baki minuman ketika terburu-buru membawa pesanan.

Ingatan itu muncul begitu saja.

Tawa Yui. Rina yang mengomel karena pita rambutnya miring. Manajer kafe yang menyuruh mereka merapikan kostum sebelum giliran berikutnya dimulai.

Dahulu, ia bisa keluar dari pintu itu setelah menyelesaikan sif, melepas sepatu kerja, lalu pulang sebagai Miyauchi Mai.

Kini, ia datang dengan nama orang lain dan tidak tahu apakah ia masih bisa pulang sebagai dirinya sendiri.

"Kau datang juga."

Suara laki-laki terdengar dari ujung gang.

Mai tersentak. Ia segera menoleh.

Seorang siswa berseragam Seiwa berdiri di dekat tumpukan kardus, bersandar pada dinding seolah-olah tempat itu miliknya. Rambutnya ditata rapi, dan sebuah tas selempang hitam menggantung di tubuhnya. Ia mengenakan ekspresi puas yang membuat sudut bibirnya terangkat sedikit, seperti seseorang yang baru saja membuktikan teori yang selama ini diyakininya.

Mai mengenalinya.

Siswa yang pernah dilihatnya bersama kelompok klub budaya populer. Salah satu dari mereka yang belakangan sering berbisik sambil memandang ke arahnya.

Siswa Otaku A.

"Jadi, kamu yang mengirim surat itu?" tanya Mai.

Ia berusaha menjaga suaranya tetap stabil. Kedua tangannya ia turunkan ke sisi tubuh agar lawan bicaranya tidak melihat bagaimana jemarinya gemetar.

Siswa itu terkekeh kecil.

"Langsung ke pokok persoalan, ya. Saya kira kamu akan lebih banyak berputar-putar."

"Aku datang karena kau mengancam akan menyebarkan foto itu." Mai menatapnya lekat-lekat. "Apa yang sebenarnya kau inginkan?"

"Pertanyaan yang bagus."

Siswa itu melepaskan punggungnya dari dinding. Ia berjalan mendekat dengan langkah santai, lalu mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku jaketnya. Sebuah kartu memori berada di antara ibu jari dan telunjuknya.

Mai langsung mengenali bentuknya.

"Foto-foto itu ada di sana?" tanyanya.

"Sebagian." Ia memutar kartu memori itu dengan gerakan malas. "Yang lain masih tersimpan di tempat berbeda. Aku tidak sebodoh itu sampai hanya menyimpan satu salinan."

Mai merasakan perutnya mengencang.

"Kenapa kau melakukan ini?"

"Kenapa?" Siswa itu mengangkat alis, seolah-olah pertanyaan tersebut sungguh menggelikan. "Kau tahu sudah berapa lama aku mengagumi Mei-chan? Aku mengikuti semua informasi tentangnya. Jadwal penampilan, barang edisi terbatas, bahkan rumor tentang alasan dia tiba-tiba menghilang."

Ia mendekat satu langkah lagi.

"Lalu tiba-tiba, di sekolah sendiri, muncul seorang gadis yang wajahnya hampir sama persis dengan Mei-chan. Namanya Kisaragi Kanade. Adik dari Kisaragi Ren yang terkenal itu. Apa kau benar-benar mengharapkan aku akan mengabaikan kebetulan sebesar itu?"

Mai tidak menjawab.

"Awalnya aku pikir mungkin hanya mirip. Lalu aku menemukan cara kau berbicara. Gerakan tanganmu. Kebiasaan membungkuk yang muncul saat kau tidak sadar." Ia tersenyum semakin lebar. "Dan akhirnya, aku mendapatkan foto SSR ini yang membuktikan semuanya."

Mai teringat momen ketika Haruki dan Tetsuya mengamatinya di kelas, juga bagaimana beberapa siswa klub budaya populer berbisik setiap kali ia lewat.

Ia tidak tahu apakah laki-laki di hadapannya merupakan satu-satunya orang yang terlibat. Namun, saat ini, satu hal sudah jelas: ia tidak sedang berhadapan dengan seseorang yang sekadar ingin tahu.

Ia berhadapan dengan seseorang yang merasa berhak memiliki jawaban atas hidup orang lain.

"Jadi, kau ingin uang?" tanya Mai.

"Uang?"

Siswa itu tertawa pendek.

"Kau pikir semuanya bisa diselesaikan dengan uang?"

Mai menahan napas. Ia hampir mengatakan bahwa uang justru merupakan satu-satunya hal yang bisa ia tawarkan. Ia tidak memiliki kekuasaan, nama keluarga, ataupun pengaruh. Ia hanya mempunyai sisa tabungan, bayaran kontrak yang baru saja dipotong, dan kemampuan untuk bertahan di tengah keadaan buruk.

"Kalau kau punya tuntutan, katakan saja," ujarnya. "Aku akan mendengarkannya."

Siswa itu tampak puas melihatnya mengalah.

"Baiklah. Aku ingin kau menjadi maid pribadiku."

Untuk beberapa detik, Mai tidak yakin telah mendengar dengan benar.

"Apa?"

"Kau dengar aku." Ia memasukkan satu tangan ke saku celana. "Kamu akan melayaniku secara pribadi. Memakai kostum maid, menyapa seperti dulu, membuatkan minuman, menemani saat aku ingin. Semuanya."

Wajah Mai terasa dingin di balik masker.

"Kau bercanda."

"Aku serius."

"Kau ingin aku menjadi maid pribadimu?"

"Anggap saja kompensasi atas semua hari ketika aku tidak bisa lagi bertemu Mei-chan." Ia memiringkan kepala, seolah-olah sedang menjelaskan sesuatu yang sangat masuk akal. "Kamu akan melakukannya untukku. Kalau tidak, foto ini akan aku kirim kepada Saito Kazuma. Setelah itu, aku akan memastikan orang-orang di sekolah tahu siapa kau sebenarnya."

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan senyum yang lebih tipis.

"Kalau perlu, aku juga bisa mengirimkannya ke media. Bayangkan berita tentang putri palsu keluarga konglomerat yang ternyata mantan maid kafe. Pasti menarik."

Nama Saito membuat tengkuk Mai menegang.

Ancaman itu bukan lagi sekadar kemungkinan abstrak. Saito memiliki kuasa untuk mengakhiri kontraknya, sementara keluarga Kisaragi dapat membuat hidupnya jauh lebih sulit daripada yang bisa dibayangkan siswa ini.

Namun, permintaan tersebut membuat sesuatu di dalam dirinya mengeras.

Mai telah menghabiskan berbulan-bulan memainkan peran yang tidak pernah benar-benar dipilihnya. Ia telah membiarkan orang lain menentukan cara ia berpakaian, berbicara, tersenyum, bahkan bagaimana ia harus memperlakukan seseorang yang perlahan-lahan menjadi sangat berarti baginya.

Ia tidak akan menyerahkan dirinya kepada seorang siswa yang menganggap ancaman sebagai tiket untuk memiliki orang lain.

"Tidak."

Senyum laki-laki itu memudar.

"Apa?"

"Aku bilang tidak." Mai menegakkan punggung. Suaranya masih sedikit bergetar, tetapi kali ini bukan semata-mata karena takut. "Aku tidak akan menjadi maid pribadimu. Kau tidak berhak meminta itu dariku."

Siswa tersebut menatapnya seakan-akan ia baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.

"Sepertinya kamu belum memahami situasi."

"Aku memahaminya." Mai mengangkat dagu. "Kau punya foto yang bisa merusak hidupku. Karena itu, aku datang untuk mencari jalan keluar. Kalau yang kau inginkan adalah kompensasi, katakan jumlahnya. Aku akan mencoba membayarnya."

"Kau masih mencoba menawar?"

"Aku tidak punya banyak uang," kata Mai jujur. "Tapi aku bisa memberikan sejumlah uang secara bertahap. Kalau jumlahnya masuk akal, aku akan berusaha memenuhinya."

Siswa itu mendengus.

"Aku tidak butuh uang receh darimu."

"Kalau begitu, berapa?"

"Kau tidak mengerti juga, ya?"

Ia melangkah maju dengan cepat. Mai refleks mundur, tetapi punggungnya segera mendekati dinding bata yang dingin.

"Aku tidak ingin uang," katanya dengan suara lebih rendah. "Aku ingin kau melakukan apa yang aku katakan."

"Jangan mendekat."

Mai berusaha menyelinap melewatinya.

Tangan siswa itu menyambar bahunya.

Jari-jarinya mencengkeram kain jaket Mai dengan kasar, membuat tubuh gadis itu tersentak ke belakang. Mai mengeluarkan suara tertahan. Ia segera berusaha melepaskan diri, tetapi laki-laki itu menangkap lengan kirinya dan menariknya kembali.

"Lepaskan aku!"

"Berhenti bergerak!"

Cengkeramannya semakin kuat. Nyeri menjalar dari bahu ke lengan Mai. Ia mencoba memutar tubuh, tetapi ruang di antara dinding dan tumpukan kardus terlalu sempit. Tasnya terhantam ke sisi bangunan, mengeluarkan bunyi gesekan yang kasar.

"Kau seharusnya bersyukur aku tidak langsung menyebarkan foto itu!" bentak siswa tersebut. "Aku sudah memberimu kesempatan untuk menyelesaikannya dengan baik!"

Mai menggertakkan gigi. Ia mendorong tangan yang mencengkeram lengannya, tetapi tenaganya kalah. Jantungnya berdegup begitu cepat hingga ia bisa merasakan denyutnya di ujung jari.

"Jangan sentuh aku!"

"Kalau saja kau mau bekerja sama—"

Sebuah suara tenang memotong kalimatnya.

"Lepaskan tangannya."

Suara itu tidak keras.

Namun, ada sesuatu di dalamnya yang membuat udara seakan-akan berhenti bergerak.

Siswa tersebut menoleh.

Mai membeku.

Di mulut gang, seorang pemuda berdiri dengan mantel gelap dan kedua tangan yang semula berada di saku. Cahaya matahari siang hanya menyentuh sebagian wajahnya; sisi lainnya tertutup bayangan bangunan. Rambut hitamnya sedikit berantakan oleh angin, tetapi tatapannya begitu tajam hingga Mai merasa seluruh tubuhnya kehilangan kemampuan untuk bergerak.

Kisaragi Ren.

"O-Onii-chan?"

Nama panggilan itu terlepas dari bibir Mai sebelum ia sempat menahannya.

Ren tidak menoleh kepadanya. Matanya tetap tertuju pada tangan yang mencengkeram lengan Mai.

"Saya tidak suka mengulang perkataan," katanya.

Siswa itu segera melepaskan bahu Mai, tetapi belum sempat mundur, Ren sudah bergerak.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Ren meraih pergelangan tangan siswa tersebut, memutar lengannya ke arah yang membuat laki-laki itu kehilangan keseimbangan, lalu mendorongnya ke dinding. Punggung siswa itu menghantam bata dengan bunyi tumpul. Kartu memori yang tadi dipegangnya terlepas dan jatuh ke tanah.

"Ah—!"

Ren menahan lengannya di belakang tubuhnya. Gerakannya presisi, tidak tergesa-gesa, seolah-olah ia telah memikirkan urutan tindakan itu jauh sebelum melangkah ke dalam gang.

"Jangan bergerak," ujar Ren dingin.

Siswa itu mengerang, berusaha menarik tangannya.

Lihat selengkapnya