Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #46

Kunci Perak di Laci Tua

Malam merayap perlahan di Kediaman Kisaragi, menyelimuti bangunan megah itu dengan keheningan yang terasa lebih menyerupai aturan daripada ketenangan.

Dari jendela-jendela tinggi di lantai dua, cahaya lampu taman memantul pada permukaan kaca, membentuk garis-garis keemasan di sepanjang koridor. Para pelayan telah menyelesaikan tugas malam mereka. Bunyi roda troli yang biasanya terdengar dari sayap timur sudah lama menghilang, digantikan dengung pendingin udara dan detak jam antik yang tergantung di dinding.

Di rumah sebesar itu, bahkan keheningan memiliki jadwalnya sendiri.

Miyauchi Mai sedang melipat kain lap ketika Kepala Pelayan muncul di ambang pintu ruang penyimpanan.

"Kanade-sama."

Mai mendongak. Tangannya berhenti di atas tumpukan kain putih yang baru saja ia rapikan.

"Ya?"

Wanita berusia enam puluh tahun itu berdiri tegak seperti biasa, mengenakan seragam pelayan berwarna gelap dengan sarung tangan putih yang terselip rapi di saku. Rambutnya yang telah memutih disisir ke belakang, sementara garis-garis halus di sekitar matanya tampak semakin jelas di bawah cahaya lampu.

"Apakah Anda memiliki waktu beberapa menit?"

Mai mengangguk. "Tentu. Ada sesuatu yang perlu saya bantu?"

"Gudang penyimpanan di belakang kamar pelayan perlu dirapikan sebelum pemeriksaan inventaris pekan depan. Beberapa barang lama belum dipindahkan sejak pergantian pengelola dua tahun lalu." Ia melirik tumpukan kain di meja. "Saya sebenarnya hendak meminta salah seorang staf junior melakukannya, tetapi mereka sedang membantu dapur. Jika Anda tidak keberatan, saya akan sangat menghargai bantuan Anda."

Permintaan itu terdengar sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk ukuran seseorang yang selama ini hidup di bawah pengawasan ketat keluarga Kisaragi.

Mai sempat memandang ke arah koridor, memastikan tidak ada orang lain yang menunggu di luar.

"Baik. Aku bisa membantu."

Kepala Pelayan mengangguk singkat. "Terima kasih. Namun, jangan memaksakan diri. Dokter masih meminta Anda membatasi pekerjaan yang menguras tenaga setelah demam beberapa waktu lalu."

Mai tersenyum kecil.

"Aku sudah jauh lebih baik."

"Syukurlah."

Ada jeda singkat sebelum wanita tua itu berbalik. Namun, tepat ketika Mai hendak mengambil tumpukan kain yang sudah selesai dilipat, ia mendengar suara Kepala Pelayan sekali lagi.

"Dan, Kanade-sama?"

"Ya?"

Wanita itu tidak segera menoleh. Pandangannya tertuju pada pintu gudang yang terbuka di ujung koridor.

"Jika Anda menemukan barang-barang lama yang tidak tercantum dalam daftar inventaris, jangan langsung membuangnya. Beberapa benda di rumah ini mungkin tidak lagi memiliki nilai guna, tetapi belum tentu kehilangan arti bagi seseorang."

Mai mengerjap.

Kalimat itu terdengar ganjil untuk sekadar petunjuk merapikan gudang. Ada kehati-hatian dalam cara wanita tua itu mengucapkannya, seolah-olah ia sedang memperingatkan Mai tentang sesuatu yang lebih besar daripada tumpukan barang bekas.

Namun, sebelum Mai sempat bertanya, Kepala Pelayan sudah berjalan menuju ujung koridor.

"Silakan mulai dari lemari paling belakang," katanya tanpa menoleh. "Saya akan kembali untuk memeriksa hasilnya nanti."

Mai menatap punggungnya beberapa saat.

Kemudian, ia mengambil sarung tangan kerja yang tersedia di dekat pintu dan mengikuti petunjuk tersebut.

Gudang penyimpanan itu berada di bagian belakang sayap timur, di antara kamar pelayan yang sudah jarang digunakan dan sebuah ruangan kecil untuk menyimpan perlengkapan rumah tangga.

Begitu Mai membuka pintunya, aroma debu dan kayu tua langsung menyambutnya.

Udara di dalam ruangan terasa lebih pengap daripada koridor. Sebuah lampu panjang di langit-langit menyala dengan dengung pelan, menerangi rak-rak logam yang dipenuhi kardus, koper tua, bingkai foto yang dibungkus kain, serta berbagai perlengkapan rumah yang tampaknya telah dilupakan selama bertahun-tahun. Di sudut ruangan, beberapa kursi kayu ditumpuk secara tidak beraturan. Sebuah jam berdiri tanpa bandul bersandar pada dinding, sementara gulungan kain penutup furnitur memenuhi rak paling atas.

Mai menarik napas melalui hidung, lalu mengembuskannya perlahan.

"Baiklah. Mari kita mulai."

Ia mengambil kotak kosong dari dekat pintu dan mulai memisahkan barang-barang berdasarkan kondisi. Peralatan yang masih dapat digunakan diletakkan di satu sisi. Benda yang perlu diperiksa lebih lanjut dipindahkan ke meja panjang di tengah ruangan, sementara barang-barang yang benar-benar rusak ia catat untuk dilaporkan kepada Kepala Pelayan.

Pekerjaan itu mengingatkannya pada masa ketika ia masih bekerja di kafe Akihabara.

Di sana, ia juga terbiasa menyelesaikan pekerjaan yang tidak terlihat oleh pelanggan. Membersihkan meja setelah jam tutup, menyusun gelas, memeriksa persediaan, dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal di ruang belakang. Ia tidak pernah menganggap pekerjaan semacam itu memalukan. Selama pekerjaan tersebut dilakukan dengan baik, ia merasa dirinya memiliki tempat yang jelas di dunia.

Berbeda dengan perannya sekarang.

Di Kediaman Kisaragi, bahkan ketika ia melakukan sesuatu yang sederhana, ia tidak pernah sepenuhnya yakin apakah dirinya sedang bekerja sebagai pelayan, menjalankan kewajiban kontrak, atau berpura-pura menjadi gadis lain.

Mai mengangkat sebuah bingkai foto berukuran kecil dari dalam kardus.

Permukaannya tertutup debu. Ia mengusapnya dengan kain, memperlihatkan foto sebuah taman yang dipenuhi bunga putih. Tidak ada orang di dalamnya, hanya bangku besi di bawah pohon dan jalan setapak yang mengarah ke sebuah rumah kecil.

Ia membalik bingkai itu.

Tidak ada tulisan.

Mai meletakkannya di atas meja, kemudian melanjutkan pekerjaannya.

Beberapa menit berlalu. Debu mulai menempel pada sarung tangannya, dan helai rambut yang terlepas dari ikatannya jatuh di dekat pipi. Ia menyelipkannya ke belakang telinga, lalu menggeser sebuah kursi tua yang menghalangi akses ke rak bawah.

Di belakang kursi itu terdapat meja kayu kecil.

Meja tersebut tampak jauh lebih tua daripada perabot lain di gudang. Salah satu kakinya sedikit miring, permukaan kayunya penuh goresan, dan gagang lacinya telah kehilangan sebagian lapisan logam. Sebuah kain kusam menutupi bagian atasnya, seolah-olah seseorang sengaja menyembunyikannya dari pandangan.

Mai menarik kain tersebut.

Debu beterbangan di bawah cahaya lampu.

Ia terbatuk sekali, menutup mulut dengan punggung tangan, kemudian memandang meja itu lebih teliti.

"Meja kerja?"

Tidak ada label inventaris yang menempel pada permukaannya. Tidak ada pula tanda bahwa meja itu pernah dipindahkan atau diperbaiki. Namun, pada bagian samping, ia melihat ukiran kecil berupa lambang keluarga Kisaragi—sebuah motif yang juga terdapat pada beberapa lemari tua di koridor lantai tiga.

Mai menyentuh ukiran tersebut dengan ujung jarinya.

Barang lama milik keluarga?

Ia mencoba membuka laci paling atas. Laci itu tersendat, lalu terbuka dengan bunyi gesekan kayu yang kasar. Isinya hanya beberapa lembar kertas kosong, tali pengikat, dan pena yang tintanya sudah mengering.

Laci kedua lebih sulit dibuka. Mai harus menariknya dengan kedua tangan sebelum akhirnya berhasil menggesernya keluar. Di dalamnya terdapat amplop-amplop usang, beberapa map tipis, dan buku catatan inventaris yang sampulnya telah terkelupas.

Ia memeriksa isinya satu per satu.

Nama-nama lama. Tanggal pemindahan barang. Catatan singkat mengenai perbaikan furnitur. Semuanya ditulis dengan tulisan tangan yang berbeda-beda, seolah-olah meja itu pernah digunakan oleh beberapa generasi staf rumah tangga.

Mai hampir menutup laci ketika ia melihat sesuatu di bagian sudut yang tertutup bayangan.

Sebuah laci kecil tambahan tersembunyi di balik papan kayu bagian dalam.

Mai mengerutkan kening.

Ia mencoba menariknya, tetapi tidak ada pegangan yang bisa digunakan. Setelah memeriksa bagian tepinya, ia menemukan sebuah celah tipis. Dengan hati-hati, ia menekan salah satu sisi papan.

Terdengar bunyi klik pelan.

Papan itu bergeser beberapa milimeter.

Mai menahan napas.

Di baliknya terdapat ruang sempit yang cukup untuk menyimpan beberapa benda kecil. Debu di dalamnya jauh lebih tebal daripada di laci utama, menandakan bahwa bagian tersebut sudah lama tidak dibuka.

Di dalam ruang tersembunyi itu tergeletak sebuah kotak kayu berukir.

Ukurannya tidak lebih besar daripada buku pelajaran. Permukaannya berwarna cokelat tua, dengan ukiran bunga kecil di sepanjang tepi tutupnya. Pada bagian tengah terdapat lambang yang berbeda dari ukiran keluarga Kisaragi di meja: sebuah bunga berkelopak lima, dikelilingi garis-garis melengkung yang halus.

Mai mengangkat kotak itu dengan kedua tangan.

Beratnya ringan, tetapi tutupnya terkunci.

Ia memiringkannya untuk memeriksa bagian bawah. Tidak ada tulisan, hanya beberapa goresan kecil yang tampak seperti bekas benda tajam. Pada sisi depan, tepat di bawah ukiran bunga, terdapat lubang kunci mungil dengan bingkai logam yang mulai menghitam.

Mai mencoba membuka tutupnya.

Tidak bergerak.

Ia menggoyangkannya sedikit, berharap mungkin penguncinya sudah longgar, tetapi kotak itu tetap tertutup rapat.

"Kenapa ada kotak seperti ini di dalam laci tersembunyi?"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja.

Ia menoleh ke arah pintu gudang, lalu kembali memandangi benda di tangannya. Sebagian dirinya ingin segera memanggil Kepala Pelayan dan menyerahkan kotak tersebut. Itu tindakan paling masuk akal. Ia sedang membantu merapikan gudang, bukan mencari-cari rahasia keluarga Kisaragi.

Namun, ada sesuatu pada ukiran bunga di tutupnya yang membuat ia enggan meletakkannya kembali.

Bukan karena ia mengenali simbol itu.

Justru karena ia merasa pernah melihat sesuatu yang serupa, tetapi tidak mampu mengingat di mana.

Mai mengusap permukaan kayu dengan ibu jari. Debu yang menempel berpindah ke sarung tangannya, memperlihatkan garis ukiran yang lebih jelas.

Kemudian ia melihat lubang kecil di bagian bawah kotak, seukuran ujung kuku. Di dalamnya terdapat serpihan logam yang berkilau samar.

Sebuah kunci.

Tidak. Bukan kunci di dalam kotak—melainkan mungkin tempat untuk memasukkan sesuatu yang telah lama hilang.

Mai membalik kotak itu sekali lagi, memeriksa sambungannya, kemudian meletakkannya di atas meja dengan hati-hati.

Ia hendak memeriksa ruang tersembunyi itu lebih jauh ketika suara langkah kaki terdengar dari koridor.

"Kanade-sama?"

Mai langsung menoleh.

Kepala Pelayan berdiri di ambang pintu. Tatapannya mula-mula tertuju pada tumpukan barang yang sudah disortir, kemudian turun ke meja tua dan laci yang terbuka.

"Bagaimana pekerjaannya?" tanyanya.

"Hampir selesai." Mai berdiri, lalu sedikit membungkuk. "Aku menemukan meja tua di belakang kursi. Sepertinya belum tercatat dalam inventaris."

Wanita itu melangkah masuk.

"Meja itu?"

Ia berhenti di samping meja, memandang permukaannya yang penuh goresan. Ketika melihat laci tersembunyi yang terbuka, langkahnya terhenti sejenak.

Hanya sejenak.

Namun, Mai menangkap perubahan itu.

Jari-jari Kepala Pelayan yang semula terlipat rapi di depan tubuhnya mengendur. Ia menarik napas perlahan, lalu menundukkan pandangan ke kotak kayu yang terletak di atas meja.

"Anda menemukannya," katanya lirih.

Mai memandangnya.

"Anda tahu kotak ini?"

Lihat selengkapnya