Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #47

Diari Lembar demi Lembar

Jarum jam di dinding kamar menunjukkan pukul dua belas lewat tujuh belas menit ketika Mai kembali membuka kotak kayu berukir yang tergeletak di atas meja belajarnya.

Di luar jendela, malam musim dingin membentang tanpa suara. Cahaya lampu taman menyentuh lapisan tipis embun pada kaca, sementara ranting-ranting pohon yang telanjang bergoyang pelan diterpa angin. Kediaman Kisaragi telah lama tenggelam dalam kesunyian. Para pelayan beristirahat di sayap mereka masing-masing, kedua orang tua Ren berada di lantai atas, dan petugas keamanan berjaga di pos-pos yang tersebar di sekitar bangunan.

Namun, Mai tahu bahwa kesunyian rumah ini tidak pernah benar-benar berarti kebebasan.

Ada kamera yang terus merekam. Ada aturan yang selalu mengintai. Ada rahasia-rahasia yang terkubur di balik dinding megah, menunggu seseorang cukup berani untuk membukanya.

Malam ini, salah satu rahasia itu berada tepat di hadapannya.

Mai mengeluarkan buku bersampul kulit cokelat dari kotak kayu. Tali tipis yang mengikatnya telah mengendur, dan permukaan sampulnya terasa kasar di bawah jemarinya. Pada beberapa bagian, kulit itu mulai mengelupas, meninggalkan bercak-bercak pucat yang menunjukkan usianya. Bau kertas tua dan kayu lembap terangkat ketika Mai mendekatkan buku tersebut ke lampu meja.

Di halaman pertama, tertulis sebuah nama.

Kisaragi Kanade.

Di bawahnya terdapat tanggal yang telah memudar, disusul beberapa baris tulisan tangan yang rapi.

Mai duduk perlahan. Kursi kayu berderit kecil ketika ia menariknya mendekati meja. Ia sempat menoleh ke arah pintu, memastikan gagangnya tidak bergerak, sebelum kembali menatap buku itu.

Gadis yang namanya tercetak di halaman tersebut telah meninggal dunia.

Namun, entah mengapa, melihat tulisan tangannya terasa lebih menggetarkan daripada melihat foto-fotonya di lorong kediaman. Foto hanya menunjukkan wajah. Diari ini mungkin menyimpan suara yang tidak pernah didengar siapa pun—suara seorang anak yang hidup di dalam rumah yang sama dengan Ren, tetapi barangkali telah terlalu lama menangis tanpa seorang pun benar-benar mendengarnya.

Mai menarik napas panjang.

“Aku hanya ingin mengenalmu,” bisiknya.

Ia membuka lembar pertama.

3 April

Ayah mengatakan jadwal latihan tahun ini akan ditingkatkan karena penampilanku pada resital musim semi belum memenuhi standar yang diharapkan.

Mulai hari ini, aku harus berlatih biola sepuluh jam sehari.

Pukul lima pagi sampai tujuh pagi: latihan teknik dasar.

Pukul delapan pagi sampai dua belas siang: repertoar utama.

Pukul satu siang sampai lima sore: latihan intensif dan pengulangan bagian yang masih salah.

Pukul tujuh malam sampai sembilan malam: evaluasi dan latihan tambahan.

Istirahat makan siang tiga puluh menit. Istirahat makan malam tiga puluh menit.

Ayah mengatakan aku tidak boleh membuang waktu.

Ibu mengatakan jadwal itu diperlukan agar aku bisa mempertahankan posisi keluarga Kisaragi di antara para musisi muda berbakat.

Sepuluh jam bukan waktu yang terlalu lama, bukan?

Kalau aku ingin menjadi lebih baik, aku harus berusaha.

Mai membaca kalimat terakhir itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Ujung jarinya berhenti di atas kertas.

Sepuluh jam.

Ia mencoba membayangkan seorang anak berusia empat belas tahun duduk dengan biola di bawah dagu sejak matahari belum terbit, mengulang tangga nada dan bagian-bagian sulit hingga cahaya di jendela berubah warna. Makan menjadi jeda yang diukur. Istirahat menjadi kemewahan yang harus dipertanggungjawabkan. Bahkan malam, waktu ketika anak-anak seusianya seharusnya bisa berbaring sambil memikirkan hal-hal sederhana, telah diisi oleh kewajiban untuk memperbaiki kesalahan.

Mai menunduk, menatap kedua tangannya sendiri.

Jemarinya pernah pegal setelah bekerja berjam-jam di kedai maid café. Ia pernah berdiri sampai telapak kakinya nyeri, tersenyum kepada pelanggan meskipun tubuhnya ingin segera duduk, dan pulang dengan bahu kaku setelah seharian menjaga nada suara tetap ceria.

Namun, ia selalu bisa pulang sebagai dirinya sendiri.

Ia bisa melepas celemek, membersihkan riasan, merebahkan diri, atau mengeluh kepada Yui dan Rina tentang pelanggan yang menyebalkan. Pekerjaannya melelahkan, tetapi di luar jam kerja, ia masih memiliki waktu yang menjadi miliknya.

Kanade bahkan tidak memiliki kemewahan itu.

Mai membalik halaman berikutnya.

18 April

Hari ini aku melakukan kesalahan pada bagian ketiga konserto.

Ayah menghentikan latihan setelah mendengarnya untuk kedua kali.

Beliau tidak berteriak. Aku justru berharap beliau berteriak saja, karena kalau Ayah marah dengan suara keras, setidaknya aku tahu kapan kemarahannya akan berakhir.

Beliau hanya meletakkan lembar partitur di atas piano dan mengatakan bahwa bakat yang tidak disertai disiplin hanyalah kebetulan.

Aku meminta maaf.

Beliau menyuruhku mengulang bagian itu sampai benar.

Aku mengulanginya tiga puluh tujuh kali.

Pada pengulangan terakhir, suaranya terdengar benar.

Ayah tetap tidak tersenyum.

Besok aku akan berusaha lebih baik.

Mai menggigit bibir bawahnya.

Ia mengenali kalimat-kalimat semacam itu. Bukan karena pernah mendengarnya dari orang tua sendiri, melainkan karena selama berbulan-bulan hidup di kediaman Kisaragi, ia telah menyaksikan bagaimana kesalahan kecil dapat berubah menjadi perkara besar apabila menyangkut kepentingan Souichiro.

Pria itu tidak perlu membanting meja atau mengangkat tangan untuk membuat seseorang merasa tidak berharga. Cukup dengan menatap tanpa emosi, lalu menyebut kegagalan sebagai fakta yang tidak perlu diperdebatkan.

Mai teringat bagaimana Ren selalu meminta maaf setiap kali ayahnya mengajukan tuntutan. Bahkan ketika tubuhnya masih lemah setelah bangun dari koma, bahkan ketika ia jelas-jelas kesakitan, kata maaf tetap keluar dari mulutnya seolah-olah ia telah melakukan sesuatu yang salah hanya karena belum mampu memenuhi harapan orang lain.

Selama ini, Mai mengira kebiasaan itu merupakan akibat trauma yang tidak sepenuhnya ia pahami.

Sekarang, ia mulai melihat akarnya.

Ia membalik halaman lagi.

Hari-hari dalam diari itu mula-mula tercatat dengan tulisan yang nyaris sempurna. Setiap tanggal ditulis dengan rapi. Setiap paragraf memiliki jarak yang teratur. Bahkan ketika Kanade menceritakan kegagalannya, kalimat-kalimatnya tetap tenang, seolah-olah gadis itu berusaha membuktikan kepada seseorang bahwa ia masih mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Namun, semakin jauh Mai membaca, semakin banyak celah muncul di antara baris-baris tersebut.

7 Mei

Jemari telunjuk dan tengah tangan kiriku terasa sakit setelah latihan kemarin.

Dokter keluarga mengatakan kulitku mengalami iritasi dan aku harus mengurangi tekanan pada ujung jari untuk sementara waktu.

Ayah mengatakan jadwal resital tidak bisa diubah hanya karena rasa sakit kecil.

Aku sudah mengoleskan obat yang diberikan dokter.

Besok aku akan memakai sarung jari tipis saat berlatih. Semoga tidak mengganggu pergerakan.

Mai mengerutkan kening.

Ia mendekatkan buku itu ke wajahnya, seakan-akan jarak yang lebih dekat akan membuat isi tulisan tersebut menjadi kurang menyakitkan.

22 Mei

Hari ini kulit di ujung jariku kembali terbuka.

Ada sedikit darah yang menempel pada senar.

Aku membersihkannya sebelum Ayah masuk ke ruang musik.

Beliau mengatakan tanganku harus dijaga baik-baik karena itulah aset terpentingku.

Aset.

Mai berhenti membaca.

Kata itu terasa begitu asing ketika ditulis oleh seorang anak tentang tubuhnya sendiri. Ia teringat bagaimana Souichiro berbicara mengenai Ren, tentang kemampuan akademisnya, kecerdasannya, dan masa depannya sebagai pewaris perusahaan. Seolah-olah setiap bagian dari kehidupan putranya telah dicatat dalam neraca, diberi nilai, lalu disiapkan untuk menghasilkan keuntungan.

Ternyata Kanade pun tidak pernah dipandang sebagai anak yang sekadar menyukai musik.

Jemarinya adalah aset. Bakatnya adalah investasi. Setiap penampilannya menjadi pengembalian modal yang harus memuaskan pemiliknya.

Mai menekan bibir hingga memutih.

“Dia anak kecil...” gumamnya.

Suara itu terdengar begitu kecil di kamar yang luas.

“Dia cuma anak kecil.”

Tidak ada yang menjawab.

Mai kembali menatap halaman tersebut. Di bagian bawah, terdapat noda kecokelatan yang mungkin berasal dari air atau usia kertas. Di sampingnya, tinta membentuk goresan pendek yang lebih gelap daripada tulisan lain, seolah-olah pena sempat ditekan terlalu kuat.

Ia menyentuh noda itu dengan ujung jari, lalu menarik tangannya kembali.

Bukan haknya untuk menganggap ia memahami semua penderitaan Kanade hanya dari beberapa halaman. Namun, ia tidak bisa mengabaikan apa yang terbentang di hadapannya. Ada seorang gadis yang telah berusaha mengikuti semua perintah, memperbaiki setiap kesalahan, dan menyembunyikan rasa sakitnya agar tidak mengecewakan orang-orang yang seharusnya menjaganya.

Mai melanjutkan membaca.

9 Juni

Jemari tanganku gemetar pagi ini.

Saat mencoba memainkan bagian pembuka, busurku beberapa kali bergerak terlalu jauh dari posisi yang seharusnya.

Ayah bertanya apakah aku kurang tidur.

Aku mengatakan tidak.

Sebenarnya, aku hanya tidur tiga jam tadi malam. Setelah latihan selesai, aku masih harus menyelesaikan analisis partitur untuk guru musik. Aku tertidur di meja sebelum sempat menyelesaikan dua halaman terakhir.

Ayah mengatakan alasan bukan bagian dari penilaian.

Jadi, aku tidak akan menggunakan alasan lagi.

Tulisan pada baris terakhir sedikit miring.

Mai merasakan tenggorokannya mengencang.

Ia membayangkan Kanade duduk di depan meja pada malam yang dingin, mata perih karena mengantuk, sementara lembar partitur dan buku analisis memenuhi permukaan meja. Mungkin gadis itu berkali-kali mengusap wajah, mencoba mempertahankan kesadaran, sebelum akhirnya tertidur tanpa sempat mengganti pakaian.

Lalu pagi datang, dan ia harus kembali memegang biola.

Tidak ada ruang untuk mengatakan bahwa ia lelah.

Tidak ada ruang untuk berkata bahwa tubuhnya membutuhkan tidur.

Tidak ada ruang untuk menjadi anak berusia empat belas tahun.

Mai menelan ludah. Dadanya mulai terasa sesak, tetapi ia tetap membalik halaman demi halaman.

Bulan Juli membawa perubahan yang lebih jelas.

Tulisan tangan Kanade tidak lagi konsisten. Beberapa huruf tampak bergetar, garis-garisnya kadang terlalu tipis, kadang menekan kertas begitu kuat hingga meninggalkan bekas di halaman belakang. Jarak antarkalimat semakin rapat, seolah-olah penulisnya ingin segera menyelesaikan catatan sebelum tenaga yang tersisa habis.

2 Juli

Hari ini aku hampir menjatuhkan biola.

Tanganku tiba-tiba terasa lemas saat latihan sore. Aku sempat kehilangan keseimbangan dan harus duduk di lantai.

Guru musik bertanya apakah aku sakit.

Aku mengatakan hanya sedikit pusing.

Ayah mendengar percakapan kami dan menyuruhku beristirahat selama lima belas menit. Setelah itu, aku harus melanjutkan latihan karena waktu yang terbuang harus diganti.

Lima belas menit ternyata terasa sangat singkat.

Ketika kembali berdiri, kakiku masih gemetar.

Mai mengangkat tangan ke mulutnya.

Ia membayangkan bunyi kayu biola yang nyaris membentur lantai, suara busur yang terlepas dari pegangan, dan seorang anak yang buru-buru bangkit bukan karena takut terluka, melainkan karena takut dianggap gagal.

Di kediaman ini, bahkan tubuh yang hampir menyerah tampaknya harus meminta izin sebelum berhenti.

Mai membaca halaman selanjutnya.

16 Juli

Jari manisku sakit sekali hari ini.

Rasa sakitnya menjalar sampai pergelangan tangan. Saat aku mencoba menekuknya, rasanya seperti ada sesuatu yang menarik dari dalam.

Dokter menyarankan pemeriksaan lebih lanjut dan mengatakan aku perlu mengurangi latihan.

Ayah tidak menyukai saran itu.

Beliau berkata dokter tidak memahami pentingnya persiapan konser internasional.

Ibu mengatakan aku harus belajar membedakan rasa sakit yang perlu diperhatikan dan rasa sakit yang hanya menguji ketekunan.

Aku ingin bertanya bagaimana cara membedakannya.

Tetapi aku tidak jadi bertanya.

Kalau aku bertanya, mungkin mereka akan mengira aku mencari alasan untuk berhenti.

Mai memejamkan mata.

Di kepalanya, muncul gambaran tangan kecil yang menggenggam busur biola dengan susah payah. Ujung jari yang seharusnya menekan senar dengan presisi kini berdenyut, mungkin memerah, mungkin membengkak. Namun, bukannya diberi kesempatan untuk pulih, rasa sakit itu justru diperlakukan sebagai ujian moral.

Seakan-akan Kanade harus membuktikan bahwa ia pantas menjadi anak keluarga Kisaragi dengan mengabaikan tubuhnya sendiri.

Mai teringat Ren yang pernah berusaha berjalan sendirian di taman belakang, meskipun kedua kakinya masih gemetar. Saat itu, ia menemukannya terjatuh di dekat jalan setapak. Ren berkeras ingin pulih, ingin bisa berjalan keluar bersamanya, ingin kembali menjadi seseorang yang tidak perlu terus-menerus ditolong.

Kini Mai memahami bahwa keinginan itu mungkin tidak sepenuhnya lahir dari semangat untuk sembuh.

Bisa jadi, jauh di dalam dirinya, Ren telah terbiasa percaya bahwa ketidakmampuan adalah kesalahan yang harus segera diperbaiki.

Ia menunduk lagi.

Di halaman berikutnya, terdapat sebuah kalimat yang ditulis lebih kecil daripada kalimat-kalimat sebelumnya.

Aku tidak ingin Onii-chan melihat tanganku seperti ini.

Mai membeku.

Nama itu.

Panggilan itu.

Ia mengusap permukaan kertas dengan ibu jarinya, tetapi tidak segera melanjutkan membaca. Sesuatu yang berat bergerak di dadanya, menekan perlahan dari dalam.

Ren.

Bahkan ketika Kanade sendiri sedang kesakitan, ia masih memikirkan kakaknya.

Mai membalik halaman dengan hati-hati.

28 Juli

Onii-chan datang ke ruang musik sore ini.

Beliau baru pulang dari sekolah dan masih mengenakan seragamnya. Aku tidak menyangka beliau akan datang karena Ayah melarang siapa pun mengganggu latihan menjelang konser.

Onii-chan melihat tanganku.

Beliau bertanya kenapa aku tidak memakai kompres seperti yang disarankan dokter.

Aku mengatakan aku baik-baik saja.

Beliau tidak percaya.

Onii-chan mengambil biola dari tanganku dan meletakkannya di dalam kotak. Aku sempat panik karena latihan hari ini belum selesai. Aku mengatakan Ayah akan marah jika aku berhenti sebelum waktunya.

Onii-chan menjawab bahwa Ayah boleh marah kepadanya.

Beliau lalu membawaku keluar dari ruang musik dan meminta pelayan membuatkan teh hangat.

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, aku bisa duduk tanpa merasa harus segera berdiri lagi.

Mai merasakan matanya mulai panas.

Ia berhenti sejenak, mengedipkan mata berkali-kali, lalu menarik napas melalui hidung. Ia tidak ingin menodai halaman itu dengan air mata. Pikiran tersebut terdengar konyol bahkan baginya sendiri, tetapi ia tetap mengangkat punggung tangannya untuk menyeka sudut mata sebelum setetes pun jatuh.

Diari ini adalah satu-satunya tempat Kanade bisa berbicara tanpa perlu memikirkan bagaimana wajahnya akan dinilai.

Mai tidak ingin merusaknya.

Ia melanjutkan.

29 Juli

Ayah memanggil Onii-chan ke ruang kerja.

Aku tidak mendengar semua yang mereka bicarakan, tetapi aku mendengar suara Ayah meninggi. Onii-chan mengatakan bahwa aku tidak bisa terus berlatih dengan tangan yang sakit.

Ayah bertanya apakah Onii-chan sekarang merasa lebih memahami dunia musik daripada orang yang membesarkan keluarga ini.

Onii-chan tidak menjawab.

Ketika beliau keluar, buku-buku jarinya tampak memerah. Aku tidak tahu apakah beliau memukul sesuatu atau hanya mengepalkan tangan terlalu keras.

Aku bertanya apakah Ayah memarahinya karena aku.

Onii-chan tersenyum dan mengatakan mereka hanya membicarakan jadwal.

Lihat selengkapnya