Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #48

Kembalinya Tuntutan Sang Ayah

Pagi di kediaman Kisaragi selalu dimulai sebelum matahari benar-benar menghangatkan Tokyo.

Cahaya kelabu musim dingin menyelinap melalui jendela-jendela tinggi ruang makan utama, memantul pada permukaan meja mahoni yang dipoles hingga mengilap. Tirai berwarna gading tersibak dengan jarak yang sama di setiap sisi, sementara vas porselen di tengah meja menampung rangkaian bunga putih yang diganti setiap dua hari sekali. Tidak ada kelopak yang layu. Tidak ada daun yang menguning. Bahkan aroma bunga itu terasa begitu samar, seolah-olah seseorang telah memastikan wanginya tidak akan mengganggu siapa pun.

Para pelayan bergerak tanpa suara berarti. Piring porselen diletakkan di atas tatakan perak, sendok dan garpu diselaraskan dengan tepi meja, lalu cangkir teh dituangkan dengan gerakan terukur. Aroma roti panggang, telur, dan sup bening menguar di udara, bercampur dengan wangi teh hitam yang baru diseduh.

Semuanya tampak sempurna.

Namun, bagi Mai, kesempurnaan ruang makan itu selalu mengingatkannya pada panggung yang tidak pernah benar-benar kosong. Setiap benda berada di tempatnya. Setiap orang mengetahui perannya. Bahkan percakapan saat sarapan seolah-olah memiliki batas yang tidak boleh dilewati.

Ia duduk di sebelah kanan Ren, mengenakan seragam rumah berwarna krem yang telah disiapkan pelayan sejak malam sebelumnya. Rambutnya diikat sederhana, dan pita merah muda yang dahulu dibuat Ren masih tersimpan rapi di laci kamarnya. Pagi ini, ia tidak berani mengenakannya. Entah mengapa, setelah membaca diari Kanade semalam, pita itu terasa seperti sesuatu yang terlalu berharga untuk dibawa ke meja makan keluarga Kisaragi.

Mai hampir tidak menyentuh sarapannya.

Pikirannya masih dipenuhi tulisan tangan yang semakin gemetar pada halaman-halaman terakhir diari itu. Ia terus teringat jemari Kanade yang terluka, jadwal latihan sepuluh jam sehari, dan kalimat-kalimat yang menunjukkan betapa keras gadis itu berusaha menjadi anak yang tidak mengecewakan siapa pun.

Yang paling mengganggunya adalah janji Ren kepada Kanade.

Beliau berjanji akan membawaku pergi setelah aku sehat.

Mai tidak tahu apakah Ren masih mengingat percakapan tersebut. Namun, ketika ia melihat pemuda itu duduk di sampingnya dengan punggung tegak dan ekspresi tenang, ia merasakan sesuatu yang dingin menjalar di sepanjang tulang belakangnya.

Ren sedang membaca berita di tablet sambil sesekali menyeruput teh. Wajahnya tampak biasa saja. Rambut hitamnya tertata rapi, kemeja putihnya licin tanpa kerutan, dan matanya bergerak tenang mengikuti baris-baris teks di layar.

Jika seseorang melihatnya dari kejauhan, orang itu mungkin akan menganggapnya sebagai pewaris konglomerat yang telah pulih sepenuhnya dari masa sulitnya.

Mai tahu penampilan bisa menipu.

Ia pernah melihat Ren terbangun dari mimpi buruk dengan napas terputus-putus. Ia pernah merasakan genggaman pemuda itu menguat ketika suara biola dari televisi memicu kenangan yang tidak mampu ia pahami. Ia juga pernah melihatnya berdiri di tengah hujan, melindunginya dari tiga siswi senior dengan tatapan yang begitu dingin hingga suasana di sekeliling mereka terasa membeku.

Ren tidak selalu menunjukkan apa yang dirasakannya.

Kadang-kadang, justru ketika wajahnya paling tenang, Mai merasa ada sesuatu yang sedang ia tahan sendirian.

“Onii-chan, supnya masih hangat,” ucap Mai akhirnya, berusaha mempertahankan nada manis yang telah menjadi kebiasaannya. Ia menggeser mangkuk kecil ke arah Ren. “Dokter juga bilang kamu jangan melewatkan sarapan, kan?”

Ren mengalihkan pandangan dari tablet. Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Aku tidak melewatkannya, Kanade. Aku hanya membaca sebentar.”

“Sebentar itu bisa berubah jadi lama kalau Onii-chan sudah membaca sesuatu yang menarik.”

“Begitu, ya?”

Ren meletakkan tablet di samping piring, kemudian mengambil sendok. Ia mencicipi sup yang masih mengepulkan uap tipis.

“Kalau begitu, aku akan berhenti membaca.”

Mai tersenyum kecil. “Bagus. Kalau Onii-chan sampai lupa makan, nanti aku yang harus menjelaskan kepada dokter.”

“Sepertinya aku harus lebih berhati-hati. Adikku sekarang punya banyak alasan untuk memarahiku.”

“Eh? Aku tidak memarahi Onii-chan!”

“Benarkah?”

Ren menoleh kepadanya dengan ekspresi polos yang dibuat-buat. Untuk sesaat, suasana di antara mereka terasa seperti pagi-pagi sebelumnya—sederhana, hangat, dan bebas dari segala sesuatu yang berusaha memisahkan mereka.

Mai hampir tertawa.

Hampir.

Kemudian terdengar langkah sepatu dari lorong di luar ruang makan.

Senyum di wajah Mai menegang sebelum ia sempat menyadarinya.

Ren juga berhenti mengangkat sendok.

Langkah itu tidak terburu-buru. Setiap pijakannya mantap dan berjarak sama, diikuti bunyi samar tongkat penyangga pintu yang disentuhkan pelayan pada lantai ketika seseorang lewat. Seorang pelayan berdiri tegak di ambang pintu, membungkuk, lalu mempersilakan pemilik langkah tersebut masuk.

Kisaragi Souichiro memasuki ruang makan dengan setelan gelap yang sempurna.

Pada usia lima puluh tahun, pria itu masih memiliki postur tegak dan tatapan tajam yang membuat orang-orang di sekelilingnya cenderung menahan gerakan. Rambutnya disisir rapi ke belakang, tidak ada sehelai pun yang tampak keluar dari tempatnya. Ia membawa sebuah map hitam tipis di tangan kiri, sementara tangan kanannya merapikan ujung manset kemeja.

Tidak ada sapaan hangat.

Tidak ada pertanyaan mengenai bagaimana tidur mereka semalam.

Souichiro hanya mengangguk singkat kepada istrinya yang telah duduk di sisi lain meja, lalu menarik kursi di hadapan Ren.

“Selamat pagi, Ayah,” kata Ren.

Suaranya tenang. Ia meletakkan sendok di samping mangkuk dan meluruskan punggung.

“Selamat pagi, Ayah,” Mai menyusul, sedikit membungkuk.

Souichiro tidak segera menjawab. Ia membuka map hitamnya, mengeluarkan beberapa lembar dokumen, kemudian meletakkannya di samping piring.

“Ren, kita perlu membicarakan masa depan akademismu.”

Kalimat itu disampaikan dengan nada yang sama seperti seseorang mengumumkan perubahan jadwal rapat.

Ren menatap ayahnya. “Baik.”

Mai melirik dokumen-dokumen tersebut. Di sudut halaman teratas, ia melihat logo sebuah lembaga pendidikan yang pernah disebutkan beberapa kali oleh siswa-siswa Seiwa. Lembaga itu terkenal menyediakan program bimbingan intensif bagi calon mahasiswa universitas terkemuka, dengan tutor privat, simulasi ujian, dan jadwal belajar yang disusun berdasarkan target nilai individual.

Ia belum sempat membaca judul dokumen itu ketika Souichiro menggesernya ke depan Ren.

Lembar pendaftaran tersebut berhenti tepat di depan piring makan sang putra.

“Program persiapan khusus Universitas Tokyo,” ujar Souichiro. “Kelas privat, evaluasi mingguan, simulasi ujian nasional, serta pendampingan untuk seluruh mata pelajaran utama. Jadwal awalnya sudah disusun. Kau hanya perlu menandatangani persetujuan dan mengikuti program sesuai ketentuan.”

Ren menunduk untuk membaca halaman pertama.

Mai memperhatikan gerakan matanya. Pada awalnya, Ren tampak sekadar memeriksa dokumen. Namun, ketika ia membalik halaman kedua dan melihat tabel jadwal yang terlampir, gerakannya melambat.

Jadwal itu padat.

Sesi pagi sebelum sekolah. Bimbingan sore setelah jam pelajaran berakhir. Latihan soal pada malam hari. Evaluasi akhir pekan. Simulasi ujian berkala dengan target skor yang telah ditentukan.

Di bagian bawah halaman, tercantum keterangan bahwa jadwal dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa, tetapi tidak ada satu pun kolom yang memberikan ruang khusus bagi pemulihan medis.

Ren membaca sampai selesai tanpa mengubah ekspresi.

“Programnya dimulai minggu depan,” lanjut Souichiro. “Kau akan mengikuti ujian masuk Universitas Tokyo pada jalur reguler. Targetnya bukan sekadar lulus.”

Pria itu berhenti sejenak, membiarkan keheningan menekan meja makan.

“Kau harus meraih peringkat pertama dalam ujian nasional.”

Sendok di tangan Mai berhenti tepat sebelum menyentuh bibirnya.

Ia menatap Souichiro, lalu kembali memandang jadwal yang terbentang di depan Ren. Ada sesuatu yang terasa begitu akrab dalam cara pria itu menyampaikan tuntutan tersebut. Tidak ada pertanyaan tentang kemampuan Ren saat ini. Tidak ada pembicaraan mengenai kesulitan yang mungkin muncul setelah koma. Tidak ada ruang untuk mempertimbangkan apakah target itu realistis.

Target telah ditetapkan.

Tugas Ren hanya mencapainya.

“Peringkat pertama?” Ren mengulang pelan.

“Ya.”

Souichiro menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia mengambil cangkir kopi yang telah disiapkan pelayan, menyeruputnya sedikit, lalu meletakkannya kembali tanpa suara berarti.

“Kau adalah putra tunggal keluarga Kisaragi. Prestasimu bukan urusan pribadi semata. Ada standar yang telah dibangun selama beberapa generasi, dan kau memiliki kewajiban untuk mempertahankannya.”

Ren tetap memandang dokumen.

“Aku mengerti.”

“Bagus. Kalau begitu, aku berharap tidak perlu menjelaskan hal mendasar kepadamu.”

Mai merasakan jari-jarinya menegang di sekitar sendok.

Kata-kata itu mengingatkannya pada tulisan Kanade diari semalam. Pada cara gadis itu mencatat kesalahannya, lalu berjanji akan berusaha lebih baik. Pada kalimat-kalimat yang menunjukkan bahwa ia telah menganggap tuntutan ayahnya sebagai sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan.

Mai menatap Ren lebih saksama.

Pemuda itu tidak membantah. Ia tidak bertanya apakah jadwal tersebut akan mengganggu pemulihannya. Ia bahkan tidak menunjukkan keterkejutan yang jelas. Ia hanya duduk dengan punggung tegak, membaca dokumen yang telah disiapkan untuknya, seolah-olah semua ini merupakan bagian wajar dari kehidupan yang harus ia jalani.

Namun, di bawah meja, tangan kirinya telah mengepal.

Mai tidak langsung menyadarinya. Ia baru melihat perubahan itu ketika Ren menggeser lututnya sedikit, membuat ujung lengan kemejanya bergerak di dekat pangkuan.

Jari-jari tangan Ren terlipat rapat ke dalam telapak. Buku-buku jarinya menegang hingga kulitnya memucat. Ibu jarinya menekan sisi telunjuk dengan kekuatan yang tidak perlu, sementara pergelangan tangannya tetap diam di atas paha.

Gerakan itu kecil.

Begitu kecil hingga Souichiro mungkin tidak memperhatikannya.

Namun, Mai melihatnya.

Dan tiba-tiba, diari Kanade yang ia baca semalam terasa terbuka kembali di hadapannya.

Kalau aku tidak bisa menjadi seperti yang Ayah inginkan, apa yang tersisa dariku?

Mai meletakkan sendoknya dengan hati-hati. Bunyi logam yang menyentuh porselen terdengar lebih nyaring daripada yang ia harapkan.

“Ayah,” katanya, berusaha membuat suaranya terdengar wajar. “Bukankah Onii-chan masih harus menjaga kondisi tubuhnya? Dokter juga pernah bilang kalau pemulihannya perlu dilakukan secara bertahap. Kalau jadwal belajarnya terlalu padat, mungkin—”

“Kanade.”

Satu kata.

Souichiro tidak meninggikan suaranya. Ia bahkan tidak segera menoleh kepadanya. Namun, cara pria itu mengucapkan nama tersebut membuat Mai menghentikan kalimatnya di tengah jalan.

Souichiro kemudian mengangkat pandangan.

Tatapannya jatuh pada Mai, dingin dan lurus, tanpa sedikit pun kehangatan yang biasa ia lihat dari orang dewasa ketika mendengarkan kekhawatiran seorang anak.

“Aku sedang berbicara dengan putraku.”

Mai merasakan tengkuknya menegang.

“Maaf, Ayah. Aku hanya berpikir—”

“Kau tidak perlu berpikir mengenai urusan yang tidak menjadi tanggung jawabmu.”

Kata-kata itu jatuh dengan tenang, tetapi setiap suku katanya terasa seperti pintu yang ditutup tepat di depan wajah Mai.

Ia menunduk. Jari-jarinya meremas serbet di pangkuan hingga kainnya berkerut.

“Baik, Ayah.”

Souichiro kembali mengalihkan perhatian kepada Ren, seolah-olah percakapan dengan Mai tidak pernah terjadi.

“Seperti yang kukatakan, kondisi fisik dan mentalmu harus kembali stabil. Tetapi pemulihan bukan alasan untuk membiarkan kemampuanmu menurun. Justru karena kau telah kehilangan waktu, kau harus bekerja lebih keras daripada siswa lain.”

Ren mengangkat kepala.

“Aku akan mengikuti programnya.”

Jawaban itu keluar begitu cepat hingga Mai menoleh kepadanya.

Tidak ada perlawanan.

Tidak ada pertanyaan.

Hanya sebuah persetujuan yang disampaikan dengan suara datar.

Souichiro mengamati putranya selama beberapa detik, mungkin memastikan bahwa tidak ada keberatan yang tersembunyi di balik jawaban tersebut. Setelah itu, ia mengangguk puas.

“Bagus. Aku sudah meminta pihak lembaga menyiapkan tutor terbaik. Mereka akan berkoordinasi dengan sekolahmu agar tidak ada materi yang tertinggal. Kau harus mulai membiasakan diri dengan jadwal yang lebih ketat.”

Ren mengangguk sekali. “Aku mengerti.”

“Dan aku tidak ingin mendengar alasan mengenai koma atau amnesiamu.”

Kalimat berikutnya membuat udara di sekitar meja seakan-akan berhenti bergerak.

Mai menatap Souichiro dengan mata membesar.

Lihat selengkapnya