Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #49

Bayangan Lembar Nilai

Malam telah lama menyelimuti Kediaman Kisaragi ketika lampu-lampu di lantai dua dan tiga mulai dipadamkan satu demi satu. Dari balik jendela tinggi yang menghadap taman, halaman luas itu tampak seperti lukisan monokrom: pepohonan yang membeku dalam gelap, jalan setapak yang diterangi lampu taman, dan patung-patung marmer yang berdiri tanpa ekspresi di antara semak-semak yang dipangkas sempurna. Tidak ada suara kendaraan dari jalan utama yang mampu menembus dinding kediaman itu. Bahkan angin musim dingin yang sesekali menyentuh kaca jendela hanya terdengar sebagai gesekan tipis, seolah-olah dunia di luar pun memahami bahwa rumah ini tidak menyediakan ruang bagi kebisingan yang tidak diperlukan.

Di ruang kerja Souichiro Kisaragi, sebuah jam berdiri berdentang pelan. Jarum panjangnya bergerak mendekati pukul sembilan malam.

Kisaragi Ren berdiri di depan meja kerja ayahnya dengan selembar map transparan di tangan. Seragam sekolahnya telah diganti dengan kemeja putih berlengan panjang dan celana bahan berwarna gelap. Rambut hitamnya masih sedikit lembap setelah mandi, tetapi lingkaran samar di bawah matanya tidak bisa disembunyikan hanya dengan membasuh wajah. Sejak program bimbingan intensif itu dimulai, waktu tidurnya semakin pendek. Setiap pagi ia bangun sebelum matahari terbit untuk menyelesaikan latihan soal, mengikuti pelajaran tambahan, lalu menghabiskan malam dengan evaluasi dan pembahasan materi.

Di atas meja, tumpukan buku persiapan ujian nasional berdiri nyaris setinggi lampu baca. Beberapa lembar kertas penuh coretan tergeletak di samping laptop yang menampilkan jadwal belajar untuk minggu berikutnya. Semua tersusun rapi, bahkan penggaris logam dan pena hitam diletakkan sejajar dengan tepi meja.

Tidak ada satu pun benda di ruangan itu yang terlihat berada di tempat yang salah.

Ren menurunkan pandangan ke map di tangannya. Di bagian atas lembar hasil ujian simulasi tercetak logo lembaga pendidikan yang menyelenggarakan evaluasi nasional tersebut. Ia sudah membaca angka-angkanya berkali-kali sejak sore tadi, bukan karena tidak memahaminya, melainkan karena ia tahu angka itulah yang akan menentukan suasana malam ini.

Peringkat pertama secara keseluruhan.

Nilai tertinggi di antara seluruh peserta paralel.

Dua poin di bawah nilai sempurna.

Ujung jarinya menekan plastik map sedikit lebih kuat.

"Masuk," terdengar suara Souichiro dari balik meja.

Ren melangkah maju setelah mengetuk pintu sekali lagi. Ia berhenti pada jarak yang sopan, lalu meletakkan map itu di atas meja.

"Hasil ujian simulasi sudah keluar, Ayah."

Souichiro tidak segera menjawab. Pria berusia lima puluh tahun itu sedang membaca laporan keuangan di layar tabletnya, mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan yang digulung tepat di bawah siku. Jam tangan mewah di pergelangan kirinya memantulkan cahaya lampu ketika ia menggeser layar. Baru setelah menyelesaikan satu halaman, ia meletakkan tablet dan mengulurkan tangan untuk mengambil map tersebut.

"Berapa nilaimu?"

"Secara keseluruhan, saya mendapat peringkat pertama di antara seluruh peserta paralel."

Jawaban Ren terdengar tenang. Tidak ada kebanggaan yang mencolok di dalamnya, tetapi juga tidak ada usaha untuk merendahkan hasil yang telah ia capai.

Souichiro membuka map.

Lembar pertama menampilkan tabel peringkat, nilai setiap mata pelajaran, dan persentase jawaban benar. Matanya bergerak cepat menelusuri kolom demi kolom. Matematika, sempurna. Bahasa Inggris, sempurna. Ilmu sosial, sempurna. Bahasa Jepang, nyaris sempurna.

Ia berhenti pada bagian penilaian esai.

Dua kesalahan.

Dua poin yang hilang.

Suara kertas yang dibalik terdengar lebih keras daripada seharusnya ketika Souichiro mengangkat lembar jawaban dan memeriksa bagian yang ditandai pemeriksa dengan tinta merah. Alisnya turun sedikit. Sudut mulutnya mengeras.

"Jelaskan ini."

Ren mencondongkan tubuh untuk melihat bagian yang ditunjuk ayahnya.

"Pada soal esai pertama, saya menggunakan interpretasi yang berbeda terhadap data pendukung. Pemeriksa menganggap penjelasan saya tidak cukup spesifik. Pada soal kedua, kesimpulan saya benar, tetapi saya tidak mencantumkan satu tahapan argumentasi yang mereka minta."

"Jadi, kau mengetahui letak kesalahanmu?"

"Ya, Ayah."

"Dan kau masih menganggap hasil ini layak diserahkan kepadaku?"

Ren terdiam sesaat.

Di luar jendela, sebuah cabang pohon bergerak diterpa angin. Bayangannya melintas di atas lantai, lalu menghilang ketika ranting itu kembali ke posisi semula.

"Saya sudah memeriksa ulang kedua jawaban tersebut," ujar Ren. "Saya akan memperbaikinya pada evaluasi berikutnya."

Souichiro mengembuskan napas melalui hidung. Ia mengangkat lembar jawaban itu lebih tinggi, seolah-olah dua kesalahan kecil di atas kertas tersebut merupakan bukti yang cukup untuk membatalkan seluruh hasil yang lain.

"Peringkat pertama," katanya, dengan nada yang justru membuat pencapaian itu terdengar seperti sesuatu yang memalukan. "Kau menempatkan dirimu di posisi pertama, tetapi masih kehilangan dua poin karena hal-hal yang sebenarnya bisa dihindari."

Ren tidak menyela.

"Apa gunanya menjadi yang terbaik di antara orang-orang yang tidak mampu mencapai standar keluarga Kisaragi?"

Lembar jawaban itu diremas pada salah satu ujungnya. Kertas yang semula rata kini membentuk lipatan kecil di bawah jemari Souichiro.

"Nilai sempurna bukan sesuatu yang mustahil. Kau hanya perlu membaca instruksi dengan lebih teliti, menyusun argumen dengan lebih cermat, dan memastikan tidak ada satu pun bagian yang terlewat. Semua itu merupakan dasar. Dasar, Ren."

"Baik, Ayah."

Jawaban itu keluar begitu saja, pendek dan terlatih.

Souichiro menatap putranya, barangkali menunggu bantahan, alasan, atau setidaknya tanda bahwa Ren memahami betapa seriusnya kesalahan tersebut. Namun, pemuda itu hanya berdiri dengan kedua tangan di sisi tubuhnya. Bahunya tegak, tetapi tidak sepenuhnya rileks. Jemarinya sesekali bergerak kecil, seperti sedang menahan dorongan untuk meremas sesuatu.

"Berikan padaku alasan mengapa aku harus menerima hasil seperti ini."

Ren membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

Ia bisa mengatakan bahwa ujian simulasi itu dirancang untuk mengukur kemampuan peserta secara keseluruhan, bukan hanya ketepatan setiap butir soal. Ia bisa menjelaskan bahwa dua jawaban esainya masih dinilai benar sebagian, dan bahwa perbedaan penilaian pada soal terbuka merupakan hal yang lazim. Ia bahkan bisa menunjukkan bahwa nilainya jauh melampaui peserta lain, sehingga secara objektif tidak ada alasan untuk menyebut hasil tersebut buruk.

Namun, semua penjelasan itu akan berakhir di tempat yang sama.

Ayahnya tidak sedang meminta alasan.

Ia sedang menuntut pengakuan atas kegagalan yang telah ditentukannya sendiri.

"Tidak ada alasan yang dapat membenarkan kesalahan itu," jawab Ren akhirnya. "Saya akan belajar lebih keras."

Souichiro meletakkan lembar jawaban dengan gerakan tajam. Kertas itu meluncur melewati permukaan meja, jatuh ke lantai, lalu berhenti di dekat sepatu Ren.

"Belajar lebih keras?" ulangnya. "Kau sudah diberi tutor terbaik, materi terbaik, fasilitas yang tidak dimiliki siswa lain, dan waktu yang seharusnya cukup untuk mempersiapkan diri. Apa lagi yang kurang?"

Ren menunduk untuk mengambil kertas tersebut, tetapi suara ayahnya menghentikan gerakannya.

"Biarkan."

Tangannya berhenti beberapa sentimeter dari lantai.

Souichiro bersandar pada kursinya. Cahaya lampu baca menyoroti garis-garis tegas di wajahnya, membuat bayangan di sekitar matanya tampak semakin dalam.

"Keluarga Kisaragi tidak membutuhkan ahli waris yang melakukan kesalahan sepele. Dunia di luar sana tidak akan peduli berapa banyak waktu yang kau habiskan untuk belajar. Mereka hanya akan melihat hasilnya. Satu kesalahan saja cukup untuk membuat orang meragukan kemampuanmu."

"Ya, Ayah."

"Kalau kau bahkan tidak mampu mempertahankan nilai sempurna dalam ujian simulasi, bagaimana kau akan menghadapi persaingan yang sesungguhnya? Bagaimana kau akan mengelola perusahaan? Bagaimana kau akan memastikan tidak ada satu keputusan yang merugikan keluarga?"

Pertanyaan-pertanyaan itu jatuh berturut-turut tanpa memberi Ren kesempatan untuk menjawab. Setiap kalimat seolah memperluas kesalahan dua poin tersebut, mengubahnya dari kekurangan kecil dalam lembar ujian menjadi ancaman terhadap masa depan seluruh keluarga.

Ren merasakan tekanan samar di belakang matanya. Sejak sore, sakit kepala itu datang dan pergi dalam gelombang pendek. Ia sudah meneguk air, mengatur napas, bahkan memijat pelipisnya ketika tutor sedang memeriksa pekerjaan lain. Tidak satu pun benar-benar membantu. Kini, di bawah cahaya lampu yang terlalu terang dan tatapan ayahnya yang tidak pernah melunak, rasa nyeri itu mulai menjalar ke bagian belakang kepalanya.

Ia mengedipkan mata sekali, kemudian kembali memusatkan pandangan pada wajah Souichiro.

Jangan tunjukkan.

Kalimat itu muncul di benaknya tanpa perlu dipikirkan.

Jika ia terlihat kelelahan, ayahnya akan menganggapnya tidak disiplin. Jika ia mengaku pusing, hal itu akan menjadi alasan lain untuk mempertanyakan kemampuannya. Jika ia meminta waktu untuk beristirahat, ia mungkin akan mendengar bahwa pemimpin tidak boleh membiarkan tubuhnya menghalangi kewajiban.

Maka Ren berdiri diam.

Souichiro menggeser map transparan itu ke tepi meja.

"Besok, ulangi seluruh bagian esai. Bukan hanya dua soal yang salah. Aku ingin kau menulis ulang semua jawaban dengan struktur argumentasi yang lebih kuat. Minta tutormu memeriksa setiap kalimat. Lakukan sampai kau tidak lagi membuat kesalahan seperti ini."

"Baik."

"Dan jangan mengira peringkat pertama akan membuatku melonggarkan standar."

"Saya mengerti, Ayah."

"Kalau begitu, kau boleh pergi."

Ren membungkuk tipis. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu, dengan langkah terukur yang tidak memperlihatkan betapa berat kepalanya terasa. Tangannya sudah menyentuh gagang ketika suara Souichiro kembali terdengar dari belakang.

"Ren."

Ia berhenti.

"Kesempatan yang kau miliki sekarang tidak datang dua kali. Jangan sia-siakan hanya karena kau merasa sudah melakukan cukup banyak."

Ren menatap gagang pintu selama beberapa detik.

"Saya tidak akan menyia-nyiakannya."

Ia membuka pintu dan keluar tanpa menoleh lagi.

Di belakangnya, Souichiro telah kembali memeriksa laporan di tabletnya. Lembar jawaban yang terjatuh tetap berada di lantai, tergeletak begitu saja di antara meja besar dan kursi kulit. Tidak ada yang mengambilnya. Tidak ada pula yang menganggap perlu melakukannya.

Lorong lantai dua terasa lebih dingin daripada ruang kerja yang baru saja ditinggalkannya.

Lampu dinding menyinari karpet berwarna krem dengan cahaya kekuningan, menciptakan deretan bidang terang dan gelap di sepanjang lorong. Potret-potret keluarga Kisaragi tergantung dalam bingkai mahal. Wajah-wajah di dalamnya tampak tenang, berwibawa, dan tidak tersentuh oleh waktu. Tidak satu pun menampilkan senyum yang benar-benar lepas.

Ren berjalan melewati semuanya dengan kepala sedikit menunduk.

Langkahnya tetap teratur, tetapi ketika ia mencapai persimpangan menuju sayap kamar tidur, ia memperlambat gerakan. Pandangannya sempat kehilangan fokus. Garis tepi lukisan di dinding tampak berbayang, lalu kembali jelas setelah ia berhenti sejenak dan menarik napas melalui hidung.

Ia menempelkan dua jari pada pelipis.

Nyeri itu berdenyut sekali, cukup kuat untuk membuat rahangnya mengeras.

"…Sial."

Kata itu keluar nyaris tanpa suara. Ren segera menurunkan tangan dan melanjutkan langkahnya sebelum ada pelayan yang mungkin melintas dan melihatnya.

Ia tidak ingin menjelaskan apa pun kepada siapa pun malam ini.

Tidak ingin mendengar bahwa ia harus beristirahat lebih banyak, lalu melihat jadwal belajarnya diperketat karena dianggap belum mampu mengatur waktu. Tidak ingin mendengar bahwa ia harus bersyukur karena diberi kesempatan kedua setelah koma. Tidak ingin kembali berdiri di hadapan seseorang yang mengukur nilai dirinya berdasarkan angka yang tercetak di atas kertas.

Ia hanya ingin sampai ke kamarnya, menutup pintu, dan membiarkan kepalanya berhenti berdenyut selama beberapa menit.

Namun, sebelum mencapai belokan menuju kamarnya, Ren melihat cahaya dari sebuah lampu kecil di dekat ceruk lorong.

Seseorang sedang berdiri di sana.

Mai mengenakan kardigan rajut berwarna krem di atas pakaian rumahnya. Rambut hitamnya diikat longgar, menyisakan beberapa helai yang jatuh di dekat pipi. Di atas meja konsol kecil di sampingnya terdapat nampan kayu dengan teko teh, dua cangkir, dan sepiring kue berbentuk bunga yang ditaburi sedikit gula halus.

Begitu melihat Ren, ia langsung menegakkan tubuh.

"Onii-chan."

Suaranya terdengar cerah, tetapi tidak terlalu nyaring. Mai melirik ke arah ruang kerja Souichiro yang masih menyala jauh di ujung lorong, lalu kembali menatap Ren.

"Akhirnya keluar juga."

Ren berhenti.

Untuk sesaat, ekspresi lelah di wajahnya tidak berubah. Ia hanya memandang Mai, seolah-olah membutuhkan waktu untuk memahami bahwa gadis itu benar-benar sedang menunggunya.

"Kanade? Kenapa belum tidur?"

Mai mengangkat nampan dengan kedua tangan. Aroma teh melati yang hangat menyebar dari teko, bercampur dengan wangi mentega dan gula dari kue-kue kecil di atas piring.

"Aku tahu evaluasi Onii-chan selesai malam ini, jadi kupikir mungkin Onii-chan ingin minum sesuatu sebelum tidur." Ia berusaha tersenyum santai. "Aku membuat kue juga. Jangan khawatir, kali ini dapurnya masih utuh. Tidak ada kebakaran, tidak ada alarm, dan tidak ada koki yang memandangku seperti aku baru saja melakukan kejahatan besar."

Sudut bibir Ren bergerak sedikit.

Lihat selengkapnya