Jam dinding di kamar Miyauchi Mai menunjukkan pukul dua belas lewat tujuh menit ketika ia akhirnya menutup buku yang sejak tadi terbuka di atas meja belajarnya.
Ia tidak benar-benar membaca satu halaman pun selama hampir setengah jam terakhir. Matanya berkali-kali bergerak mengikuti baris-baris tulisan, tetapi pikirannya terus kembali pada lembaran-lembaran diari berkulit cokelat yang tersembunyi di dalam laci kamarnya. Kalimat-kalimat tulisan tangan Kisaragi Kanade yang asli masih melekat begitu jelas dalam ingatannya: jari-jari yang terluka, latihan biola yang berlangsung sampai tubuhnya gemetar, serta seorang gadis yang terus meminta maaf karena merasa belum cukup baik bagi keluarganya.
Mai mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
Ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk melindungi Ren. Namun, semakin banyak yang ia ketahui tentang masa lalu keluarga Kisaragi, semakin sulit baginya membedakan antara hal-hal yang perlu ia ungkapkan dan rahasia yang mungkin justru akan melukai pemuda itu.
Diari Kanade telah memberinya gambaran tentang penderitaan yang selama ini disembunyikan di balik kemegahan kediaman ini. Tetapi, di antara baris-baris tulisan itu, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya: Ren pernah berusaha melindungi adiknya. Ia pernah mengambil biola dari tangan Kanade, membelanya di hadapan ayah mereka, dan berjanji akan membawanya pergi ketika keadaannya membaik.
Apa yang sebenarnya terjadi di ruang musik itu?
Dan seberapa banyak yang masih diingat Ren?
Mai membuka laci meja, mengeluarkan saputangan kecil, lalu memindahkan sebuah kunci perak dari dalam lipatan kain ke telapak tangannya. Benda itu memantulkan cahaya lampu meja dalam garis tipis. Ukiran pada kepalanya sudah aus dimakan waktu, tetapi bentuknya masih sama seperti ketika ia menemukannya di dalam kompartemen tersembunyi pada meja tua di gudang penyimpanan.
Kunci ruang musik.
Ia telah menyimpannya selama beberapa hari tanpa berani menggunakannya. Setiap kali melewati tangga menuju lantai tiga, ia selalu teringat peringatan kepala pelayan agar tidak memasuki ruangan itu sembarangan. Biola di dalamnya, menurut lelaki tua itu, adalah benda yang telah menghancurkan rumah ini.
Namun, setelah melihat Ren berusaha menahan sakit kepala di ruang kerja Souichiro malam sebelumnya, Mai merasa tidak sanggup terus berpura-pura bahwa ia tidak mengetahui apa-apa.
Ia tidak ingin memaksa Ren mengingat sesuatu yang belum siap dihadapinya. Ia hanya ingin memahami mengapa suara biola mampu membuat seluruh tubuh pemuda itu membeku, mengapa napasnya mendadak tersendat, dan mengapa ada ketakutan yang begitu dalam di balik matanya setiap kali melodi klasik terdengar.
Mungkin, pikirnya, tempat itu menyimpan jawaban.
Atau mungkin hanya akan memberinya lebih banyak pertanyaan.
Mai memasukkan kunci perak ke saku kardigan, mematikan lampu meja, lalu berdiri. Ia mengenakan sandal rumah dan membuka pintu kamar selembut mungkin. Lorong di luar sudah sunyi. Hanya lampu malam yang tertanam di dinding menerangi karpet, sedangkan dari balik pintu-pintu kamar para penghuni terdengar keheningan yang nyaris mutlak.
Ia melangkah menuju kamar Ren.
Di depan pintunya, Mai berhenti dan mengangkat tangan. Ia sempat ragu sebelum mengetuk dua kali, pelan.
Tidak ada jawaban.
Ia menunggu beberapa detik, kemudian mengetuk sekali lagi.
"Kanade?"
Suara Ren terdengar dari dalam, sedikit serak karena kantuk.
Mai membuka pintu setelah mendengar langkah mendekat. Ren berdiri di baliknya dengan kaus tidur berwarna gelap dan celana panjang sederhana. Rambutnya sedikit berantakan, sementara sebuah buku terbuka di atas meja dekat jendela menunjukkan bahwa ia belum benar-benar bersiap tidur.
"Kenapa belum tidur?" tanyanya sambil mengerjapkan mata. "Ada sesuatu?"
Mai menggenggam ujung kardigannya.
"Aku ingin mengajak Onii-chan ke suatu tempat."
Ren menatapnya selama beberapa saat, mencoba membaca ekspresinya.
"Ke mana?"
"Lantai tiga."
Perubahan kecil muncul di wajah Ren. Dahinya berkerut, dan tangannya yang semula bertumpu pada kusen pintu perlahan turun ke sisi tubuh.
"Lantai tiga?"
Mai mengangguk.
"Ke ruang musik."
Keheningan langsung menyelimuti mereka.
Dari dalam kamar, jam kecil di atas meja berdetak teratur. Ren tidak bergerak, tetapi pandangannya berubah, seolah-olah nama ruangan itu baru saja membuka pintu lain di dalam kepalanya—pintu yang selama ini tertutup rapat, tanpa pegangan yang dapat ia temukan.
"Kenapa sekarang?" tanyanya akhirnya.
Mai menunduk sebentar. Ia sudah menyiapkan beberapa alasan di dalam kepala, tetapi semuanya terdengar buruk ketika harus diucapkan kepada Ren.
"Karena aku ingin tahu apa yang membuat Onii-chan begitu takut setiap kali mendengar biola."
Ren tidak segera menjawab.
Mai buru-buru melanjutkan, takut pemuda itu mengira dirinya sedang memaksakan sesuatu.
"Tapi kalau Onii-chan tidak mau, kita tidak perlu pergi. Aku tidak akan memaksa. Aku hanya berpikir… mungkin ada sesuatu di sana yang bisa membantu Onii-chan memahami perasaan yang selama ini mengganggu."
Ren menatap wajahnya. Di bawah cahaya lampu kamar, Mai tampak lebih serius daripada biasanya. Tidak ada senyum manis yang biasa ia gunakan ketika memanggilnya Onii-chan, tidak ada nada bercanda untuk mengalihkan pembicaraan. Hanya kecemasan yang berusaha ia kendalikan dan sesuatu yang menyerupai tekad.
"Kau pernah masuk ke sana?" tanya Ren.
"Belum."
Itu bukan kebohongan sepenuhnya. Mai memang belum pernah memasuki ruangan itu sejak menemukan kuncinya. Ia hanya pernah berdiri di depan pintu yang terbuka sedikit dan melihat sebagian kecil isinya.
Ren menurunkan pandangan ke lantai.
"Baiklah."
Mai mengangkat kepala. "Benarkah?"
"Aku akan ikut."
"Kalau Onii-chan merasa tidak nyaman, kita bisa langsung kembali."
"Aku mengerti."
Ren mengambil kardigan tipis dari sandaran kursi dan mengenakannya. Sebelum keluar, ia mematikan lampu kamar serta memastikan pintunya tertutup. Gerakannya terlihat tenang, tetapi Mai memperhatikan bagaimana jemarinya sempat berhenti pada gagang pintu, seolah-olah ia sedang mempertimbangkan untuk membatalkan semuanya.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Mai hanya menunggu sampai Ren berdiri di sampingnya, kemudian mulai berjalan menuju tangga.
Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka akan memasuki tempat yang selama ini dijauhkan dari mereka berdua.
Tangga menuju lantai tiga berada di ujung lorong sayap timur, terpisah dari jalur utama yang biasa digunakan para penghuni kediaman. Karpet di anak tangga pertama telah menipis di bagian tengah, sedangkan pegangan kayunya terasa dingin ketika Mai menyentuhnya. Lampu-lampu di sepanjang dinding tidak dinyalakan seluruhnya. Beberapa bagian tangga tenggelam dalam bayangan, membuat lantai tiga tampak lebih jauh daripada jarak sebenarnya.
Mai berjalan di depan, sesekali menoleh untuk memastikan Ren masih mengikutinya.
Pemuda itu tidak banyak bicara. Ia menapaki setiap anak tangga dengan hati-hati, dan ketika mereka mencapai bordes pertama, ia berhenti sebentar untuk memandang lorong yang terbentang di atas.
"Rasanya aneh," gumamnya.
Mai menoleh. "Apa yang terasa aneh?"
Ren mengerutkan dahi, berusaha menemukan kata yang tepat.
"Aku tidak tahu. Sepertinya aku pernah berada di sini, tetapi juga merasa belum pernah."
Ia menatap dinding di samping tangga. Ada bekas goresan tipis pada kayu, nyaris tak terlihat dalam cahaya redup.
"Aku mengenali bentuk tangganya. Aku tahu bahwa kita sedang berjalan menuju lantai tiga. Tapi ada sesuatu yang membuatku ingin berhenti."
Mai merasakan kunci perak di dalam sakunya menekan telapak tangannya.
"Mungkin tubuh Onii-chan mengingat sesuatu yang belum bisa diingat oleh pikiranmu," katanya pelan. "Dokter pernah mengatakan bahwa ingatan bisa kembali dengan cara yang tidak teratur, kan?"
Ren mengangguk samar.
"Ya. Tapi aku tidak tahu apakah aku benar-benar mengingat sesuatu atau hanya mencoba mengisi bagian yang kosong."
"Kalau begitu, kita tidak perlu memaksakan kesimpulan malam ini."
Ren meliriknya.
"Kau selalu mengatakan itu."
"Karena memang begitu."
"Dan kau akan tetap mengatakan hal yang sama kalau aku tidak berhasil mengingat apa pun?"
Mai mengangguk tanpa ragu.
"Tentu saja."
Ren menatapnya beberapa detik lebih lama, kemudian kembali menaiki tangga.
Ketika mencapai lantai tiga, udara terasa lebih dingin. Lorongnya panjang dan sempit, dengan jendela-jendela tinggi yang menghadap taman belakang. Tirai tebal menutupi sebagian besar kaca, sementara lapisan debu tipis tampak di ambang jendela yang tidak pernah dibersihkan dengan saksama. Di ujung lorong terdapat sebuah pintu kayu gelap, berbeda dari pintu-pintu lain di kediaman itu. Permukaannya dihiasi ukiran sederhana, tetapi gagang kuningannya telah kusam.
Ruang musik.
Mai berhenti beberapa langkah dari pintu tersebut.
Ren ikut berhenti di sampingnya.
Tidak ada suara dari balik pintu. Tidak ada melodi, tidak ada bunyi metronom, tidak ada latihan yang berlangsung hingga larut malam. Hanya keheningan yang terasa begitu pekat, seakan-akan ruangan di baliknya telah menelan semua suara yang pernah memenuhi tempat itu.
Mai mengeluarkan kunci perak dari sakunya.
Ketika benda itu terlihat di bawah cahaya lampu lorong, Ren menatapnya dengan alis sedikit berkerut.
"Dari mana kau mendapatkan kunci itu?"
Mai terdiam sepersekian detik.
Ia bisa mengatakan bahwa ia menemukannya di gudang penyimpanan, di dalam kompartemen tersembunyi sebuah meja tua. Namun, penjelasan itu akan memunculkan pertanyaan lain: mengapa ia berada di sana, mengapa ia membuka laci yang tidak seharusnya dibuka, dan apa lagi yang telah ia temukan.
"Aku menemukannya ketika membantu kepala pelayan merapikan gudang lama," jawabnya akhirnya. "Aku tidak tahu apakah kunci ini benar-benar untuk ruangan ini sampai aku melihat lubang kuncinya."
Ren tidak tampak sepenuhnya puas dengan penjelasan tersebut, tetapi ia tidak mendesak.
Mai memasukkan kunci ke lubang kunci.
Bunyi logam yang beradu terdengar jelas di lorong sunyi. Ia memutarnya perlahan. Pada awalnya, mekanisme di dalam pintu terasa kaku, seolah-olah enggan bergerak setelah bertahun-tahun tidak digunakan. Mai mencoba sekali lagi dengan tekanan yang sedikit lebih kuat.
Klik.
Kunci terbuka.
Ia menarik napas dan menggenggam gagang pintu. Saat pintu bergerak ke dalam, engselnya mengeluarkan suara berderit panjang yang membuat keduanya spontan menahan napas.
Udara dari ruangan itu mengalir keluar, membawa aroma kayu tua, kain yang lama tersimpan, dan damar dari instrumen musik. Ada pula bau debu yang kering dan samar, seperti halaman buku yang tidak pernah disentuh selama bertahun-tahun.
Mai menyalakan lampu dinding di dekat pintu.
Cahaya kekuningan menyebar perlahan ke seluruh ruangan.
Ruang musik itu jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan. Lantainya terbuat dari kayu berwarna cokelat tua, dengan beberapa bagian yang kehilangan kilap akibat usia. Tirai beludru tebal menggantung di jendela-jendela tinggi, membuat cahaya bulan hanya masuk melalui celah sempit. Sebuah piano besar berdiri di sisi kiri ruangan, permukaannya tertutup kain pelindung berdebu. Di dekat dinding terdapat rak-rak berisi partitur yang disusun dalam map, sebagian dengan sudut menguning dan punggung yang mulai melengkung.
Di sudut ruangan, sebuah kursi tanpa sandaran tangan menghadap ke arah cermin tinggi. Ada bekas goresan pada lantai di depannya, seperti tanda bahwa kursi itu dahulu sering dipindahkan ke posisi yang sama.
Dan di tengah ruangan, di atas sebuah meja rendah, terletak kotak biola berwarna cokelat gelap.
Mai tidak langsung masuk.
Ia berdiri di ambang pintu, memandang benda-benda yang tertutup debu itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia pernah melihat foto Kanade asli sedang memegang biola, tetapi melihat ruangan tempat gadis itu berlatih membuat segalanya terasa berbeda. Foto hanyalah gambar yang membeku. Ruangan ini menyimpan jejak kehidupan: bekas kaki kursi di lantai, partitur yang masih terbuka pada halaman tertentu, dan kotak instrumen yang diletakkan seolah-olah pemiliknya akan kembali mengambilnya kapan saja.
Namun, pemiliknya tidak akan pernah kembali.
"Kanade?"
Suara Ren membuat Mai tersadar.
Ia menoleh. Ren masih berdiri di ambang pintu, satu tangan bertumpu pada kusen. Wajahnya tampak lebih pucat daripada beberapa menit sebelumnya.
"Onii-chan?"
Ren tidak menjawab. Pandangannya bergerak dari piano ke rak partitur, kemudian berhenti pada kotak biola di tengah ruangan.
Ia menarik napas, tetapi udara seolah-olah tidak masuk dengan sempurna ke paru-parunya.
"Aku…" Ren menelan ludah. "Aku tidak tahu kenapa, tapi tempat ini membuat kepalaku terasa berat."
Mai segera mendekatinya, berhenti cukup dekat untuk meraih tangannya jika diperlukan.
"Kita bisa keluar sekarang."
Ren menggeleng kecil, meski tatapannya masih terpaku pada kotak biola.
"Tunggu sebentar."
Ia melangkah masuk.
Satu langkah.
Lalu satu langkah lagi.
Bunyi sepatunya menyentuh lantai kayu terdengar lebih nyaring daripada yang seharusnya. Setiap pijakan menghasilkan bunyi pendek yang memantul dari dinding, lalu kembali kepadanya dalam bentuk gema yang samar. Ren berhenti di dekat piano, menatap permukaan kain pelindungnya.
Ada sesuatu pada ruangan itu yang terasa akrab, tetapi keakraban tersebut tidak membawa ketenangan. Justru sebaliknya. Semakin jauh ia melangkah, semakin kuat perasaan bahwa ia sedang memasuki tempat yang pernah menjadi saksi atas sesuatu yang seharusnya tidak ia lupakan.
Ren mengangkat tangan ke pelipis.
"Suara itu…"