Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #51

Dinding Kaca Imposter Syndrome

Sore itu, perpustakaan pribadi Kediaman Kisaragi diselimuti cahaya keemasan yang merembes melalui jendela-jendela tinggi. Sinar matahari yang mulai condong ke barat jatuh di atas meja mahoni, menyentuh punggung buku-buku berlapis kulit, serta membentuk garis-garis panjang di lantai kayu yang dipoles hingga mengilap. Aroma kertas tua dan kayu cendana memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi samar teh yang telah lama kehilangan uapnya di atas meja.

Bagi orang lain, perpustakaan itu mungkin tampak seperti tempat yang menyimpan kebanggaan sebuah keluarga besar. Rak-raknya dipenuhi buku-buku sejarah, ekonomi, filsafat, dan literatur klasik dalam berbagai bahasa. Di salah satu sudut, beberapa piala akademik berjejer di dalam lemari kaca. Di sudut lainnya, foto-foto keluarga Kisaragi dipajang dalam bingkai perak dan kayu gelap, seolah setiap generasi yang pernah tinggal di rumah itu wajib meninggalkan bukti bahwa mereka telah memenuhi tempatnya dalam sejarah keluarga.

Namun, bagi Miyauchi Mai, setiap benda di ruangan tersebut memiliki arti yang berbeda.

Buku-buku itu mengingatkannya pada kehidupan Ren yang sejak kecil diatur oleh tuntutan prestasi. Piala-piala tersebut mengingatkannya pada standar kesempurnaan yang tak pernah memberikan ruang bagi kesalahan. Sementara foto-foto keluarga di sepanjang dinding mengingatkannya pada seorang gadis yang wajah dan namanya kini ia gunakan setiap hari.

Kisaragi Kanade.

Nama itu telah menjadi jawaban otomatis setiap kali seseorang memanggilnya. Senyumnya telah menjadi kebiasaan yang ia latih hingga terasa alami. Bahkan caranya menundukkan kepala, merajuk manja, atau memanggil Ren dengan sebutan Onii-chan kadang muncul tanpa perlu ia pikirkan terlebih dahulu.

Tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Ia bukan Kanade.

Dan semakin dalam ia jatuh cinta kepada Ren, semakin sulit baginya mengabaikan kenyataan tersebut.

Mai melangkah memasuki perpustakaan dengan membawa dua cangkir teh hangat di atas nampan kecil. Ia baru saja selesai mengerjakan tugas sekolah dan berniat menemani Ren yang belakangan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mempelajari kembali catatan-catatan lamanya. Sejak kunjungan mereka ke ruang musik yang terkunci, Ren beberapa kali terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang dari ingatannya, sesuatu yang mungkin jauh lebih penting daripada sekadar nama atau tanggal.

Mai memahami alasan di balik perubahan itu.

Diari Kanade masih tersimpan di tempat tersembunyi dalam kamarnya. Beberapa kali, ketika rumah telah sunyi dan tak ada langkah pelayan di koridor, ia kembali membuka halaman-halaman yang telah mulai menguning. Ia membaca tentang latihan biola yang panjang, jari-jari yang terluka, dan seorang gadis kecil yang terus meminta maaf karena merasa belum cukup baik.

Ia mengetahui sesuatu tentang kehidupan Kanade yang tidak diketahui Ren.

Setiap kali ingatan Ren bergerak mendekati kebenaran, Mai merasa seolah sedang berdiri di depan sebuah pintu yang seharusnya tidak pernah ia buka.

Pintu menuju kehidupan orang lain.

Mai meletakkan nampan di meja samping, lalu mengangkat wajah.

“Onii-chan?”

Tidak ada jawaban.

Ren sedang duduk di kursi dekat rak foto keluarga, membelakangi pintu masuk. Seragam sekolahnya telah diganti dengan kemeja putih berlengan panjang yang digulung hingga siku. Sebuah buku terbuka di pangkuannya, tetapi pandangannya tidak tertuju pada halaman-halamannya.

Ia sedang menatap sebuah foto.

Mai mengenali bingkai perak itu. Ukurannya tidak terlalu besar, dengan ukiran sulur-sulur tipis di keempat sudutnya. Selama beberapa minggu tinggal di rumah tersebut, ia telah melihat foto itu berkali-kali tanpa benar-benar memperhatikannya.

Kini, ia dapat melihat sosok seorang anak perempuan berambut hitam sebahu, mengenakan gaun putih sederhana dengan pita kecil di bagian dada. Gadis itu berdiri di bawah pohon sakura, kedua tangannya memegang sebuah boneka kelinci yang telinganya tampak sedikit miring. Senyumnya begitu tenang, nyaris malu-malu, sementara matanya memandang kamera dengan kelembutan yang sulit dibuat-buat.

Kanade kecil.

Mungkin berusia tujuh atau delapan tahun.

Di sebelahnya, seorang anak laki-laki berdiri dengan pakaian formal yang tampak sedikit kebesaran. Rambut hitamnya disisir rapi, wajahnya jauh lebih kaku daripada wajah Ren sekarang. Satu tangannya menggenggam tangan gadis kecil itu, sementara tangan lainnya memegang ujung jasnya sendiri.

Ren kecil.

Mai berhenti beberapa langkah dari kursi tersebut.

Ia tidak tahu kapan foto itu diambil. Tidak ada keterangan tanggal pada bingkainya, dan ia tidak pernah menanyakan asal-usulnya kepada pelayan rumah. Selama ini, ia menganggap foto-foto keluarga hanyalah bagian dari dekorasi rumah besar yang menyimpan terlalu banyak kenangan untuk dijelaskan satu per satu.

Namun, cara Ren memandang foto itu membuatnya mengerti bahwa sore ini benda tersebut bukan sekadar hiasan.

“Onii-chan?” panggil Mai sekali lagi, kali ini lebih pelan.

Ren menoleh.

“Oh.” Ia berkedip seolah baru menyadari keberadaan Mai. Kemudian, senyum kecil muncul di wajahnya. “Kanade. Aku tidak mendengar kamu masuk.”

Mai membalas senyumnya dengan refleks yang sudah begitu terlatih.

“Hehe, maaf. Apa Onii-chan sedang belajar?”

Ia mengangkat nampan sedikit, memperlihatkan kedua cangkir teh. Biasanya, ia akan melangkah mendekat sambil mengucapkan sesuatu yang manja, mungkin mengeluh bahwa kakaknya terlalu serius atau meminta pujian karena berhasil membuat teh dengan rasa yang pas.

Sore ini, kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

Ren mengangkat foto tersebut sedikit.

“Aku sedang mencoba mengingat sesuatu.”

Mai mengikuti arah pandangannya. “Tentang foto itu?”

“Ya.”

Ren kembali menatap gambar di tangannya. Ibu jarinya bergerak perlahan menyusuri tepi bingkai perak, mengikuti lekukan ukiran yang terasa dingin di bawah kulitnya.

“Aku tidak tahu kapan foto ini diambil,” katanya. “Aku tahu ini Kanade. Aku juga tahu anak laki-laki di sebelahnya adalah aku.”

Ia berhenti sejenak, mengerutkan kening.

“Tapi ketika mencoba mengingat tempatnya, aku tidak bisa menemukan apa-apa.”

Mai meletakkan nampan di meja terdekat. Bunyi porselen yang menyentuh permukaan kayu terdengar lebih nyaring daripada yang ia perkirakan.

“Tidak apa-apa, Onii-chan. Dokter juga bilang ingatan Onii-chan mungkin tidak akan kembali sekaligus.”

“Aku tahu.”

Ren menjawab tanpa nada keberatan. Ia tidak terdengar kesal, juga tidak menunjukkan frustrasi yang biasanya muncul ketika seseorang memaksanya mengingat sesuatu. Justru ketenangannya membuat Mai merasa semakin tidak nyaman.

Ren tidak sedang marah karena gagal mengingat.

Ia tampak sedih karena mengetahui ada sesuatu yang penting di dalam dirinya, tetapi tidak mampu menjangkaunya.

“Lucu, ya,” lanjut Ren, menatap foto itu lagi. “Aku bahkan tidak bisa mengingat apakah hari itu menyenangkan atau tidak.”

Ia tersenyum tipis, tetapi senyum tersebut tidak sampai ke matanya.

“Padahal, melihat foto ini membuatku merasa seharusnya aku ingat.”

Mai berdiri diam.

Di luar jendela, angin sore menggoyangkan dedaunan. Bayangan ranting bergerak di atas karpet, berpotongan dengan cahaya matahari yang perlahan meredup. Jauh di koridor, terdengar bunyi langkah seorang pelayan yang segera menghilang di balik pintu.

Ren mengangkat tangan dan menyentuh permukaan kaca pada bagian wajah gadis kecil dalam foto itu. Gerakannya begitu hati-hati, seolah takut sentuhan yang terlalu keras akan merusak sesuatu yang rapuh.

“Wajah ini sangat penting bagiku,” katanya.

Dada Mai terasa sesak.

Ren tidak menyadari perubahan kecil pada ekspresinya. Ia masih sibuk memandangi foto tersebut, berusaha mengumpulkan potongan-potongan perasaan yang muncul setiap kali ia melihat wajah adiknya.

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.” Ren menarik napas perlahan. “Ketika melihatnya, rasanya ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadanya. Sesuatu yang belum sempat kuselesaikan.”

Jari-jarinya mengencang pada bingkai.

“Tapi setiap kali aku mencoba mengingat lebih jauh, yang muncul hanya perasaan sedih.”

Ia menunduk, memperhatikan pantulan wajahnya sendiri pada kaca bingkai.

“Bukan sedih karena tidak bisa mengingat. Rasanya lebih seperti...” Ia berhenti, mencari kata-kata yang tepat. “Seperti aku pernah kehilangan sesuatu yang sangat berharga, lalu baru menyadarinya setelah semuanya terlambat.”

Mai merasakan ujung jarinya mendingin.

Ia ingin mengatakan sesuatu. Apa saja. Ia ingin menghibur Ren sebagaimana biasanya, mengusap bahunya, menggenggam tangannya, lalu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun, setiap kalimat penghiburan yang muncul di benaknya terasa seperti pencurian lain.

Onii-chan, aku di sini.

Kalimat itu telah menjadi pegangan mereka selama berbulan-bulan. Ia mengucapkannya ketika Ren terbangun dari mimpi buruk, ketika tubuhnya gemetar setelah mendengar suara biola, ketika orang tua mereka datang membawa tuntutan baru, dan ketika malam terasa terlalu panjang untuk dilalui seorang diri.

Ren selalu tampak lebih tenang setelah mendengarnya.

Tetapi bagaimana jika ketenangan itu bukan miliknya untuk diberikan?

Bagaimana jika setiap kali Ren menggenggam tangannya, setiap kali ia tersenyum mendengar suaranya, setiap kali ia mengatakan bahwa kehadirannya membuat hidup terasa lebih mudah, semua itu sebenarnya ditujukan kepada gadis kecil dalam foto tersebut?

Kepada Kanade yang asli.

Gadis yang pernah berdiri di samping Ren sebelum Mai datang.

Gadis yang telah menderita di bawah tekanan ayah mereka, yang jari-jarinya terluka karena latihan biola, yang tubuhnya kehabisan tenaga sementara orang-orang dewasa di sekitarnya terus meminta lebih banyak.

Gadis yang pernah dicintai Ren jauh sebelum Mai mengetahui bahwa pemuda itu ada.

Mai menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

“Kanade?”

Ia tersentak kecil ketika Ren memanggilnya.

“Ya?”

Ren menatapnya dengan sedikit kekhawatiran. “Kamu baik-baik saja?”

Mai segera mengangguk. “Tentu saja. Kenapa?”

“Wajahmu agak pucat.”

“Oh, ini?” Ia mengangkat tangan ke pipinya, lalu memaksakan tawa kecil. “Mungkin karena aku terlalu lama mengerjakan tugas matematika. Angka-angka itu benar-benar tidak punya belas kasihan, tahu?”

Ia mencoba mengubah nada suaranya menjadi ceria, seperti biasanya ketika ingin membuat Ren tertawa. Bahkan jemarinya bergerak membentuk kepalan kecil di depan dada, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk menghadapi musuh bebuyutannya.

Ren memperhatikan gerakan itu.

Untuk sesaat, sudut bibirnya terangkat.

“Kamu masih kesulitan dengan soal integral?”

“Jangan sebut nama musuhku di depan umum, Onii-chan.”

“Di sini hanya ada kita berdua.”

“Itu justru lebih berbahaya. Musuhku mungkin mendengar dari balik buku.”

Ren tertawa kecil.

Suara itu seharusnya membuat Mai lega. Selama ini, ia selalu merasa berhasil ketika mampu membuat Ren tertawa dengan cara yang sederhana. Ia menyukai suara tawa tersebut, perubahan halus pada wajah Ren, dan bagaimana ketegangan di antara alisnya menghilang untuk beberapa saat.

Namun, kali ini, kegembiraan itu hanya bertahan sesaat sebelum kembali digantikan oleh rasa bersalah.

Ia baru saja membuat Ren tertawa dengan cara yang mungkin pernah dilakukan Kanade.

Atau mungkin tidak.

Ia bahkan tidak tahu.

Dan ketidaktahuan itulah yang membuat pikirannya semakin kacau.

Ren akhirnya meletakkan foto itu kembali di rak. Ia memastikan bingkainya berdiri tegak, kemudian menggeser sedikit bagian bawahnya agar sejajar dengan foto-foto lain.

Gerakannya sederhana, tetapi Mai memperhatikan betapa lama ia memandangi foto tersebut sebelum melepaskannya.

“Kalau ingatanku tidak kembali,” gumam Ren, “aku mungkin tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kami.”

Mai menunduk.

“Ingatan bukan satu-satunya cara untuk mengetahui sesuatu, Onii-chan.”

Ren menoleh kepadanya.

Mai tidak berani menatap matanya terlalu lama. Ia mengalihkan pandangan ke buku yang masih terbuka di pangkuan Ren, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.

“Kadang-kadang, kita bisa mengetahui bahwa seseorang penting bagi kita dari perasaan yang masih tersisa. Meskipun kita lupa apa yang terjadi, bukan berarti semuanya benar-benar hilang.”

Ia berhenti.

Kata-kata itu terdengar seperti penghiburan yang baik. Ia sendiri ingin mempercayainya. Namun, begitu kalimat terakhir terucap, ia menyadari bahwa dirinya sedang menggunakan kebenaran untuk menutupi kebohongan.

Perasaan Ren terhadap Kanade mungkin masih tersisa.

Tetapi perasaan Ren terhadap dirinya?

Mai tidak tahu apakah hal itu benar-benar ada.

Ren memandangnya beberapa saat sebelum mengangguk perlahan.

“Kamu benar.”

Ia tersenyum kecil.

“Entah kenapa, setiap kali berbicara denganmu, aku merasa tidak harus menemukan semua jawabannya sekarang juga.”

Mai memaksa bibirnya membentuk senyum.

“Kalau begitu, jangan terlalu memaksakan diri. Onii-chan sudah cukup banyak belajar hari ini.”

“Baik, Nona Guru.”

“Bagus. Murid yang patuh akan mendapatkan hadiah berupa teh hangat.”

Ren tertawa lagi, kali ini sedikit lebih lepas. Ia meraih cangkir yang telah disiapkan Mai dan menghirup aromanya sebelum meminum seteguk.

Mai memperhatikannya dalam diam.

Ia ingin percaya bahwa ada sesuatu di antara mereka yang tidak bergantung pada nama Kanade. Sesuatu yang tumbuh dari percakapan-percakapan kecil, dari tawa di kedai ramen sederhana, dari tangan yang saling menggenggam ketika hujan turun, dari malam-malam panjang ketika Ren terbangun dengan napas terengah-engah dan Mai tetap berada di sisinya.

Tetapi di antara dirinya dan keyakinan itu, selalu ada dinding kaca yang tak terlihat.

Ia dapat melihat kehangatan Ren dengan jelas. Ia dapat menyentuhnya, merasakannya, bahkan berlindung di baliknya ketika dunia di sekeliling mereka terasa terlalu kejam.

Namun, ia tidak pernah benar-benar yakin apakah kehangatan itu ditujukan kepada dirinya.

Atau kepada sosok yang ia perankan dengan begitu sempurna hingga dirinya sendiri mulai kehilangan batas di antara keduanya.

Matahari telah turun lebih rendah ketika mereka meninggalkan perpustakaan.

Ren membawa sebuah buku tipis di tangan, sementara Mai berjalan di sampingnya dengan langkah yang lebih lambat daripada biasanya. Lorong menuju pintu belakang dipenuhi cahaya senja yang berwarna jingga pucat. Lampu-lampu dinding mulai menyala satu demi satu, memantulkan kilau lembut pada bingkai lukisan dan permukaan lantai.

Biasanya, Mai akan mengisi perjalanan singkat itu dengan cerita tentang sekolah. Ia mungkin akan mengeluh mengenai tugas kelompok, menirukan gaya bicara guru matematika, atau menceritakan tingkah konyol Haruki dan Tetsuya yang masih belum menyerah pada teori konspirasi mereka tentang Mei-chan.

Ren selalu mendengarkan, sesekali mengajukan pertanyaan atau tertawa pada bagian yang menurutnya lucu.

Sore ini, Mai hanya menjawab ketika ditanya.

Lihat selengkapnya