Auditorium Utama Akademi Seiwa berkilauan di bawah cahaya lampu kristal yang menggantung dari langit-langit berkubah. Pantulan cahaya keemasan menyebar di antara deretan kursi berlapis beludru merah marun, menyentuh permukaan lantai kayu panggung yang dipoles sempurna, serta berkilat pada bingkai-bingkai emas yang menghiasi dinding. Di sisi kanan dan kiri ruangan, rangkaian bunga putih dan merah muda disusun dengan ketelitian nyaris berlebihan, sementara layar besar di belakang panggung menampilkan lambang Akademi Seiwa beserta tulisan Annual Music Gala dalam huruf perak.
Malam itu, sekolah tersebut tidak sekadar menyelenggarakan pertunjukan musik.
Gala Musik tahunan Seiwa merupakan salah satu acara yang paling dinantikan oleh keluarga-keluarga terpandang di Tokyo. Para siswa berbakat memperoleh kesempatan untuk tampil di hadapan orang tua, sponsor, alumni, dan tamu undangan yang memiliki pengaruh di berbagai bidang. Bagi sebagian orang, acara itu menjadi panggung untuk menunjukkan kemampuan artistik. Bagi yang lain, gala tersebut merupakan kesempatan untuk memperkuat hubungan sosial, memperkenalkan generasi penerus keluarga, atau sekadar memastikan bahwa nama mereka tetap terlihat di tengah lingkaran elite yang sama.
Gaun malam, jas formal, perhiasan mahal, dan percakapan mengenai prestasi anak-anak memenuhi lobi auditorium sebelum pertunjukan dimulai. Gelas-gelas minuman berkilau di atas nampan pelayan, sementara aroma parfum mahal bercampur dengan wangi bunga segar yang memenuhi ruangan.
Di antara para tamu yang berdatangan, nama Kisaragi Ren tentu tidak luput dari perhatian.
Kehadirannya setelah masa pemulihan panjang selalu menjadi bahan pembicaraan tersendiri. Beberapa orang tua murid menyapanya dengan keramahan yang terlalu terukur, menanyakan kesehatannya sambil diam-diam mengamati apakah ia sudah kembali seperti pewaris keluarga Kisaragi yang mereka kenal. Beberapa siswa senior menundukkan kepala dengan hormat ketika berpapasan dengannya, sedangkan sebagian lainnya hanya berbisik sambil melirik dari kejauhan.
Ren menanggapi semuanya dengan senyum sopan.
Malam itu, ia mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih dan dasi gelap. Rambutnya disisir rapi, memperlihatkan garis wajah yang tegas dan mata jernih yang membuatnya tampak jauh lebih tenang daripada yang sebenarnya ia rasakan. Di sampingnya, Mai mengenakan gaun malam berwarna biru tua dengan potongan sederhana, dipilih agar sesuai dengan suasana formal tanpa terlalu menarik perhatian. Rambut hitamnya disanggul setengah, dihiasi aksesori kecil yang berkilau lembut ketika ia bergerak.
Dari luar, mereka tampak seperti pasangan kakak-adik dari keluarga terhormat yang datang untuk menghadiri acara sekolah.
Hanya Mai yang tahu betapa melelahkannya mempertahankan gambaran tersebut.
Ia berjalan di sisi Ren sambil sesekali membalas sapaan para tamu. Senyum yang muncul di wajahnya tetap manis dan terukur, tetapi jari-jarinya beberapa kali meremas lipatan kecil tas tangannya. Ia tidak terbiasa dengan ruangan yang dipenuhi orang-orang yang berbicara seolah setiap kalimat merupakan bagian dari negosiasi.
Di Akihabara, ia pernah melayani pelanggan dari berbagai latar belakang. Ia tahu cara tersenyum kepada orang yang cerewet, menghadapi pelanggan yang terlalu banyak meminta, bahkan mengubah suasana hati seseorang dengan percakapan ringan. Namun, lingkungan seperti ini berbeda. Di sini, orang-orang tidak selalu mengucapkan maksud mereka secara langsung. Pujian dapat menyembunyikan penilaian, perhatian dapat mengandung kepentingan, dan sebuah senyuman terkadang lebih tajam daripada kritik terbuka.
Mai sudah cukup lama berada di Kediaman Kisaragi untuk memahami aturan tidak tertulis itu.
Sayangnya, memahami tidak berarti ia menyukainya.
“Kanade.”
Mai menoleh ketika Ren memanggilnya.
“Ya, Onii-chan?”
“Kamu berjalan terlalu dekat dengan ujung gaunmu sendiri.”
Ia menunduk. Benar saja, ujung gaunnya hampir terinjak oleh sepatu hak yang dikenakannya.
“Ah!”
Mai buru-buru mengangkat sedikit kain gaunnya, lalu melirik Ren dengan wajah malu.
“Aku tahu cara berjalan, kok.”
“Aku tidak mengatakan sebaliknya.”
“Tapi wajah Onii-chan mengatakan hal lain.”
Ren tersenyum tipis. “Kalau begitu, jangan biarkan wajahku mengganggumu. Perhatikan langkahmu.”
Mai menggembungkan pipi sejenak sebelum kembali merapikan ekspresinya. “Baiklah, baiklah. Kakak yang cerewet.”
“Kalau aku tidak cerewet, kamu mungkin sudah tersandung tiga kali.”
“Dua kali!”
“Jadi kamu menghitungnya?”
Mai membuka mulut, kemudian menutupnya lagi.
Ren tertawa kecil.
Suara itu terdengar begitu alami sehingga untuk sesaat Mai lupa bahwa mereka sedang berada di tengah aula yang dipenuhi orang-orang penting. Ia ikut tertawa, lalu segera menundukkan kepala ketika menyadari beberapa tamu melirik ke arah mereka.
Di luar, mereka tampak seperti dua saudara yang sedang bercanda.
Di dalam diri Mai, kehangatan kecil itu selalu diikuti sesuatu yang menusuk.
Ia semakin terbiasa dengan Ren. Semakin mengenal kebiasaannya, semakin mudah baginya menebak kapan pemuda itu sedang berusaha menyembunyikan kegelisahan atau kapan ia benar-benar merasa nyaman. Ia bahkan mulai mengetahui perubahan kecil pada suaranya, jeda singkat sebelum menjawab, dan cara jemarinya bergerak ketika pikirannya sedang dipenuhi sesuatu.
Semua itu tidak pernah tertulis dalam kontrak.
Tidak ada instruksi Saito yang mengajarinya cara memahami Ren seperti ini.
Kedekatan tersebut tumbuh dari waktu yang mereka habiskan bersama, dari percakapan kecil yang berulang, dan dari begitu banyak momen ketika mereka tidak perlu berpura-pura untuk merasa nyaman.
Namun, Ren masih mengenalnya sebagai Kanade.
Dan malam ini, sebuah pertunjukan musik akan mengingatkannya pada kenyataan bahwa nama itu bukan sekadar identitas yang dipinjam Mai.
Nama itu milik seseorang yang pernah benar-benar berada di dalam kehidupan Ren.
Seseorang yang mungkin masih menunggunya di suatu tempat dalam ingatan yang belum berhasil ia buka.
Ketika bel tanda dimulainya acara berbunyi, para tamu mulai memasuki auditorium. Suara percakapan yang semula memenuhi lobi perlahan mereda, digantikan bunyi langkah sepatu di lorong berkarpet dan gesekan halus kain gaun malam. Para petugas mengarahkan tamu ke tempat duduk masing-masing, sementara anggota panitia memeriksa susunan acara untuk terakhir kalinya.
Ren dan Mai mendapat tempat duduk di bagian tengah, beberapa baris dari depan. Posisi itu cukup dekat dengan panggung untuk melihat ekspresi para pemain, tetapi juga cukup jauh dari lorong utama sehingga mereka tidak terus-menerus terganggu oleh orang yang berlalu-lalang.
Ren duduk terlebih dahulu, kemudian menunggu Mai merapikan gaunnya sebelum gadis itu mengambil tempat di sampingnya.
“Nyaman?” tanyanya.
Mai mengangguk. “Lumayan. Hanya saja, aku merasa semua orang di ruangan ini tahu cara duduk yang benar kecuali aku.”
Ren menoleh dengan ekspresi geli. “Kamu duduk seperti biasa.”
“Justru itu masalahnya.”
“Kalau begitu, berpura-puralah bahwa mereka semua duduk dengan cara yang salah.”
Mai menahan tawa. “Wah, nasihat yang sangat cocok untuk keluarga Kisaragi.”
“Jangan terlalu keras. Nanti mereka mendengarnya.”
Mai menutup mulut dengan punggung tangan, tertawa pelan.
Beberapa saat kemudian, lampu auditorium meredup. Percakapan yang tersisa segera menghilang, dan sorotan lampu panggung menyalakan sebuah lingkaran cahaya di tengah tirai merah tua.
Seorang pembawa acara naik ke panggung, menyampaikan sambutan mengenai tradisi musik Akademi Seiwa, dedikasi para siswa, dan pentingnya seni dalam membentuk kepekaan generasi muda. Kata-katanya terdengar terlatih, diselingi tepuk tangan pada bagian-bagian yang telah diperkirakan oleh panitia.
Mai mendengarkan dengan sopan, meskipun sesekali ia melirik Ren untuk memastikan pemuda itu tidak terlalu lelah. Sejak beberapa waktu terakhir, Ren mulai berusaha mengumpulkan potongan ingatannya sendiri. Ia membaca catatan lama, menanyakan beberapa hal kepada dokter, bahkan sesekali kembali mengunjungi ruang musik yang sebelumnya dihindari semua orang.
Usaha itu tidak selalu membuatnya terlihat lebih baik.
Terkadang, setelah terlalu lama mencoba mengingat, Ren menjadi pendiam selama berjam-jam. Tatapannya seolah tertinggal pada sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain. Ada kalanya ia mengusap pelipis, menarik napas panjang, atau berhenti di tengah kalimat karena kehilangan kata yang hendak diucapkannya.
Mai mengenali tanda-tanda itu.
Ia juga mengetahui bahwa suara biola dapat memicu reaksi yang lebih kuat daripada hal-hal lain.
Karena itulah, ketika pembawa acara mulai memperkenalkan para pemain utama, perhatian Mai segera terarah pada nama yang disebutkan berikutnya.
“Selanjutnya, kita akan menyambut salah satu violinis unggulan Akademi Seiwa, Saionji Clara.”
Tepuk tangan terdengar memenuhi ruangan.
“Clara berasal dari keluarga Saionji yang telah lama mendukung pendidikan seni klasik. Malam ini, ia akan membawakan sebuah karya dari repertoar klasik Eropa menggunakan biola warisan keluarganya.”
Mai melihat Ren mengangkat wajah.
Tidak ada perubahan mencolok pada ekspresinya. Ia tetap duduk tegak dengan kedua tangan di atas pangkuan, memperhatikan panggung sebagaimana para tamu lainnya.
Namun, Mai melihat ibu jari Ren mengusap perlahan sisi telunjuknya.
Gerakan kecil yang berulang.
Sebuah kebiasaan yang muncul ketika ia sedang berusaha menenangkan diri.
Mai menatap tangan itu selama beberapa detik, lalu kembali memandang panggung.
Tirai terbuka.
Clara melangkah ke bawah sorotan lampu.
Gaun merah yang dikenakan Clara tampak anggun di bawah cahaya panggung. Warnanya pekat, menyerupai merah delima, dengan potongan sederhana yang membiarkan keanggunan pemakainya berbicara tanpa bantuan hiasan berlebihan. Rambutnya ditata rapi, memperlihatkan leher dan garis bahu yang tegak. Sebuah kalung tipis berkilau di bawah cahaya, sementara anting-anting kecil bergerak mengikuti setiap langkahnya.
Di tangannya, ia membawa sebuah kotak biola berwarna cokelat gelap.
Clara berjalan dengan ketenangan seseorang yang telah terbiasa tampil di hadapan banyak orang. Tidak ada gerakan tergesa-gesa ketika ia mencapai bagian tengah panggung. Ia membungkuk kepada penonton, menerima sambutan mereka dengan senyum anggun, kemudian duduk di kursi yang telah disiapkan.
Seorang pianis pendamping menempati bangku di belakangnya.
Clara membuka kotak biola.
Di dalamnya terbaring instrumen berwarna cokelat kemerahan, permukaannya memantulkan cahaya keemasan. Ia mengangkatnya dengan hati-hati, memeriksa senarnya sekilas, lalu meletakkan biola itu di bawah dagu. Busur kayu berada di tangan kanannya, sementara jari-jari kirinya menempati posisi awal pada leher instrumen.
Auditorium menjadi sunyi.
Bahkan suara pendingin ruangan seolah terdengar lebih jelas dalam keheningan itu.
Clara memejamkan mata sejenak, menarik napas, kemudian mengangkat busurnya.
Nada pertama pun terdengar.
Suara biola yang jernih mengalun di udara.
Dan tubuh Ren membeku.
Pada awalnya, perubahan itu begitu kecil hingga mungkin tidak akan diperhatikan oleh siapa pun selain Mai.
Bahu Ren menegang. Punggungnya yang semula bersandar pada kursi perlahan menjadi tegak, seolah ada sesuatu yang menarik tubuhnya dari dalam. Jemari yang berada di atas pangkuannya berhenti bergerak, lalu mencengkeram kain celana dengan kekuatan yang tidak sesuai dengan sikap tenangnya.
Mai menoleh.
“Onii-chan?”
Ren tidak menjawab.
Matanya tetap tertuju pada panggung, tetapi tatapannya tidak lagi mengikuti Clara. Ia memandang ke arah yang sama tanpa benar-benar melihat apa yang ada di hadapannya.
Nada kedua menyusul, kemudian ketiga.
Melodi klasik itu bergerak dengan anggun, mengisi auditorium dengan rangkaian bunyi yang saling terhubung. Clara memainkan bagian awal dengan ketepatan yang mengesankan. Setiap gerakan busurnya halus, setiap perpindahan jari terukur, dan nada-nada yang dihasilkannya menyatu dengan iringan piano tanpa cela.
Namun, bagi Ren, suara itu bukan lagi sekadar musik.
Napasnya mulai memendek.
Ia menarik udara melalui hidung, berusaha mempertahankan irama yang biasa ia gunakan ketika tubuhnya terasa tidak nyaman. Akan tetapi, udara yang masuk seolah tidak cukup. Dadanya terasa sempit, dan ada tekanan yang perlahan naik dari perut menuju tenggorokan.
Jemarinya bergetar.
Ren segera mengepalkan tangan, berusaha menyembunyikan getaran itu di balik lipatan jasnya. Ia tidak ingin menarik perhatian para tamu. Ia tidak ingin seseorang bertanya apakah dirinya baik-baik saja. Ia juga tidak ingin membuat keluarganya kembali memiliki alasan untuk menganggapnya rapuh.
Tenang.
Ia mengulang kata itu dalam hati.
Ini hanya musik.
Suara biola kembali meninggi.
Sesuatu di dalam kepalanya berderak.
Bukan ingatan yang utuh, melainkan fragmen-fragmen yang datang tanpa urutan.
Sebuah ruangan terang dengan jendela tinggi.
Cahaya putih yang jatuh di atas lantai kayu.
Bunyi metronom.
Tik.
Tik.
Tik.
Suara itu begitu teratur, begitu dingin, seolah tidak peduli pada apa pun yang terjadi di sekitarnya.
Di hadapannya, sebuah lembar partitur terbuka di atas dudukan musik. Garis-garis not memenuhi kertas, tetapi hampir seluruh bagiannya dipenuhi tanda koreksi berwarna merah. Beberapa lingkaran melingkari not tertentu. Panah-panah kecil mengarah pada bagian yang harus diulang. Di tepi halaman, terdapat tulisan tangan yang tegas dan menekan, seakan orang yang menulisnya tidak memiliki kesabaran untuk menerima kesalahan sekecil apa pun.
Kemudian, sebuah suara terdengar.
“Ulangi.”
Ren tersentak dalam pikirannya sendiri.
Suara itu berat. Dingin. Tidak memberi ruang untuk pertanyaan.
“Bagian itu salah.”
Tik.
Tik.
Tik.
“Dari awal.”
Ia melihat bayangan seseorang duduk di depan dudukan musik.
Tubuh kecil.
Bahu yang kurus.
Tangan yang menggenggam busur.
Wajahnya tidak jelas. Setiap kali Ren mencoba memusatkan perhatian pada sosok itu, gambarnya bergoyang seperti pantulan di permukaan air. Namun, ia dapat melihat gerakan tangan yang berulang, dapat mendengar napas pendek yang berusaha disembunyikan, dan dapat merasakan ketegangan yang memenuhi ruangan.
“Jangan berhenti.”
Suara itu kembali terdengar.
“Kalau kamu berhenti sekarang, semua latihanmu akan sia-sia.”
Metronom terus berdetak.
Tik.
Tik.
Tik.
Seseorang menarik napas dengan gemetar.
Kemudian suara lain muncul, lebih muda, nyaris tenggelam di antara bunyi-bunyi yang lain.
“Maaf... aku akan mengulanginya.”
Ren merasakan sesuatu menghantam dadanya.
Ia tidak tahu siapa yang berbicara.
Ia tidak tahu di mana ruangan itu berada.
Ia bahkan tidak tahu apakah semua yang dilihatnya benar-benar kenangan atau hanya bayangan yang dibentuk oleh ketakutannya sendiri.
Namun, ketika suara biola Clara melengking lembut di auditorium, perasaan yang muncul begitu kuat hingga ia hampir tidak mampu menahannya.
Takut.
Bersalah.
Dan kehilangan.
Ren menarik napas tajam.
Dunia di sekelilingnya kembali terlihat, tetapi semuanya terasa terlalu terang. Cahaya lampu kristal memantul di permukaan mata penonton. Bayangan panggung bergerak samar di sudut penglihatannya. Suara biola yang semula jernih kini terdengar seperti sesuatu yang mendesaknya dari segala arah.
Ia menelan ludah.
Tangannya bergetar semakin hebat.
Mai melihat semuanya.
Ia melihat bagaimana rahang Ren mengeras, bagaimana otot di sekitar matanya menegang, dan bagaimana pemuda itu berusaha menyembunyikan tangannya yang mulai gemetar. Ia juga melihat perubahan pada napasnya, yang kini datang terlalu cepat dan terlalu dangkal untuk seseorang yang hanya sedang duduk mendengarkan musik.
Mai mengenal ekspresi itu.
Ia pernah melihatnya ketika suara biola muncul di televisi. Ia pernah merasakan tubuh Ren menegang di ruang musik lantai tiga. Ia mengingat bagaimana pemuda itu menggenggam kepalanya ketika berusaha mengingat sesuatu yang belum siap muncul ke permukaan.
Dan ia tahu bahwa malam ini, Ren sedang berjuang menghadapi sesuatu yang tidak dapat ia lihat.
Mai menggeser tubuh sedikit lebih dekat.
“Onii-chan,” bisiknya, nyaris tanpa menggerakkan bibir. “Lihat aku.”
Ren tidak langsung menoleh.
Mai menahan keinginan untuk menyentuh bahunya. Mereka berada di tengah auditorium, dikelilingi keluarga-keluarga terpandang dan tamu undangan yang selalu memperhatikan gerak-gerik orang lain. Satu gerakan yang terlalu mencolok dapat menarik perhatian, dan perhatian itu mungkin akan berubah menjadi pertanyaan yang tidak ingin dijawab siapa pun.
Ia tidak peduli pada pandangan orang-orang itu.
Namun, ia tahu Ren mungkin akan semakin tertekan jika menyadari bahwa dirinya sedang menjadi pusat perhatian.
Karena itu, Mai menurunkan tangan ke pangkuan, menyembunyikannya di balik lipatan mantel tipis yang menutupi sebagian gaunnya.
Lalu, perlahan, ia menyentuh punggung tangan Ren.
Jemari Ren terasa dingin.
Mai menyelipkan tangannya ke sela jemari pemuda itu, menggenggamnya dengan lembut. Ia tidak menarik tangan Ren ke arahnya atau melakukan gerakan yang dapat terlihat dari kursi-kursi di sekitar mereka. Ia hanya membiarkan telapak tangannya menempel pada telapak Ren, memberikan tekanan kecil yang cukup untuk menyampaikan bahwa ia berada di sana.
Ren tersentak samar.
Untuk sesaat, jemarinya justru mengencang, seolah tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan sebelum pikirannya memahami apa yang terjadi.
Mai mengusap ibu jarinya perlahan di punggung tangan Ren.
“Tidak apa-apa,” bisiknya.
Ia tidak tahu apakah Ren dapat mendengarnya di antara alunan musik. Karena itu, ia mengulangi kalimat tersebut dengan suara yang sama lembutnya.
“Aku di sini, Onii-chan.”
Ren akhirnya menoleh.
Mata mereka bertemu.
Mai tidak tersenyum terlalu lebar. Ia tidak menggunakan ekspresi ceria yang biasa ia kenakan ketika berusaha menghibur Ren di hadapan orang lain. Ia hanya menatapnya dengan tenang, membiarkan wajahnya menunjukkan apa yang benar-benar ia rasakan.
Kekhawatiran.
Kehangatan.
Kesediaan untuk tetap berada di sana tanpa menuntut penjelasan.
Ren memandangnya seolah sedang berusaha menemukan sesuatu yang dapat ia pegang di tengah ruangan yang tiba-tiba terasa asing.
Napasnya masih pendek, tetapi perlahan ia mulai memperhatikan sentuhan tangan Mai.
Hangat.
Nyata.
Tidak seperti bayangan samar yang berkelebat di dalam kepalanya.
Mai menggerakkan ibu jarinya sekali lagi, mengikuti irama napasnya sendiri. Ia menarik udara perlahan, menahannya sesaat, kemudian mengembuskannya dengan tenang.
Ren memperhatikan gerakan kecil itu.
Ia mencoba mengikutinya.
Tarikan napas pertama masih tersendat. Tarikan kedua sedikit lebih panjang. Pada tarikan ketiga, bahunya mulai turun, meskipun ketegangan belum sepenuhnya menghilang dari wajahnya.
Suara biola masih mengalun.
Metronom dalam pikirannya perlahan menjauh, meski belum benar-benar lenyap.
Ren tidak tahu mengapa sentuhan tangan Mai memberikan rasa aman yang begitu kuat. Ia tidak mengerti mengapa, di tengah ribuan bunyi yang memenuhi auditorium, suara lembut gadis itu seolah mampu membawanya kembali ke tempat yang lebih tenang.
Ia hanya tahu bahwa ketika Mai berada di sisinya, ia tidak perlu berusaha menghadapi semuanya sendirian.
Tanpa melepaskan genggaman, Ren menundukkan kepala sedikit.