Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #53

Gaun Hitam dan Foto yang Hilang

Siang itu, cahaya matahari menembus jendela-jendela tinggi Kediaman Kisaragi, jatuh di atas lantai marmer foyer utama dalam petak-petak keemasan. Kilau permukaannya memantulkan bayangan para pelayan yang berlalu-lalang membawa kotak aksesori, gantungan pakaian, dan beberapa bingkai foto berlapis kaca. Di dekat tangga utama, dua orang staf sedang mengatur posisi sebuah kamera profesional, sementara seorang fotografer berjas abu-abu memeriksa peralatan pencahayaannya.

Rumah itu tampak lebih sibuk daripada biasanya, tetapi kesibukan tersebut tidak membawa kehangatan. Setiap orang bergerak mengikuti instruksi, setiap benda ditempatkan sesuai arahan, dan setiap suara segera merendah begitu seseorang dari keluarga Kisaragi melintas.

Di ruang duduk yang bersebelahan dengan foyer, Kisaragi Reiko duduk tegak di sofa berlapis beludru. Sebuah tablet terletak di pangkuannya, menampilkan jadwal kegiatan keluarga untuk beberapa pekan mendatang. Di sampingnya terdapat sebuah map kulit hitam yang di dalamnya tersimpan daftar tamu, agenda perusahaan, dan rancangan dokumentasi keluarga terbaru.

“Gaunnya sudah ditemukan?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Seorang kepala pelayan membungkuk. “Sudah, Nyonya. Gaun hitam milik mendiang Nona Kanade telah dibawa dari ruang penyimpanan pakaian. Kami sudah memeriksa kondisinya.”

“Bagus. Bawa ke ruang rias. Pastikan tidak ada lipatan atau noda yang tertinggal.”

“Baik, Nyonya.”

Reiko meletakkan tablet di atas meja. Gerakannya halus, nyaris tanpa suara, tetapi tatapannya membuat kepala pelayan itu tetap berdiri beberapa detik lebih lama, menunggu apabila masih ada perintah lain.

“Saya juga ingin penata rambut dan perias berada di sana. Gunakan foto keluarga terakhir sebagai acuan. Rambutnya harus ditata dengan benar, dan riasannya jangan berlebihan.”

Kepala pelayan itu sempat mengangkat wajah. “Apakah Nyonya menghendaki gaya rambut yang sama persis seperti dalam foto?”

“Tentu saja.” Reiko mengangkat alis tipis, seolah pertanyaan itu tidak masuk akal. “Kita sedang memperbarui dokumentasi keluarga, bukan mencoba-coba penampilan baru.”

Ia kembali mengambil tabletnya.

“Foto-foto ini nantinya akan digunakan untuk arsip keluarga, publikasi sosial, dan beberapa keperluan perusahaan. Saya tidak ingin hasilnya terlihat janggal hanya karena ada perubahan yang tidak perlu.”

“Dimengerti, Nyonya.”

Setelah kepala pelayan pergi, Reiko memandang sekilas ke arah tangga. Di lantai atas, Miyauchi Mai sedang berada di kamarnya, mungkin masih mengerjakan tugas sekolah atau beristirahat setelah beberapa hari terakhir yang melelahkan.

Bagi Reiko, gadis itu tidak lebih dari seseorang yang harus mengisi tempat kosong dalam susunan keluarga. Selama penampilan, sikap, dan identitas yang diperlihatkannya dapat diterima oleh orang luar, tidak ada alasan untuk mempertimbangkan apakah proses tersebut membuatnya nyaman.

Foto keluarga harus terlihat utuh.

Dan bagi Reiko, keutuhan selalu lebih penting daripada perasaan orang-orang yang berada di dalam bingkainya.

Ketukan terdengar di pintu kamar Mai ketika ia baru saja menutup buku pelajaran matematikanya.

“Silakan masuk.”

Seorang pelayan perempuan muncul dengan membawa gantungan pakaian yang ditutupi kain pelindung berwarna gelap. Di belakangnya, seorang penata rambut dan perias mengikuti dengan koper perlengkapan masing-masing.

“Maaf mengganggu, Nona Kanade,” ujar pelayan itu. “Nyonya Reiko meminta Anda bersiap untuk sesi pemotretan keluarga siang ini.”

Mai berkedip.

“Pemotretan keluarga?”

“Benar, Nona. Kami diminta menyiapkan pakaian dan riasan sesuai arahan Nyonya.”

Pelayan itu meletakkan gantungan pakaian di dekat cermin besar di sudut kamar, lalu membuka kain pelindungnya.

Mai tidak segera bergerak.

Gaun hitam itu menggantung di hadapannya dengan keanggunan yang hampir tidak nyata. Bahannya tampak halus, dengan potongan klasik yang sederhana tetapi mahal. Bagian pinggangnya dirancang mengikuti siluet pemakainya, sementara lengan pendek dan kerahnya dihiasi detail renda hitam yang nyaris tidak terlihat jika tidak diperhatikan dari dekat. Sebuah pita kecil terpasang di bagian belakang, melengkapi desain yang tampak sesuai untuk potret keluarga kalangan aristokrat.

Gaun itu indah.

Justru itulah yang membuat Mai merasa sesuatu di dalam dadanya perlahan mengeras.

“Gaun ini...” Suaranya terhenti sejenak. “Milik siapa?”

Pelayan perempuan itu merapatkan kedua tangannya di depan tubuh.

“Gaun yang pernah dikenakan mendiang Nona Kanade dalam foto keluarga lama, Nona.”

Untuk sesaat, Mai hanya menatap kain hitam tersebut.

Ia pernah melihat foto itu.

Bukan secara langsung pada saat pemotretan berlangsung, melainkan dalam dokumentasi keluarga yang diperlihatkan kepadanya ketika pertama kali mempelajari identitas palsunya. Kanade berdiri di antara kedua orang tuanya, mengenakan gaun hitam serupa, dengan rambut tertata rapi dan senyum tipis yang hampir tidak mencapai matanya.

Saat itu, Mai mengira ekspresi Kanade hanyalah ciri khas seorang gadis pendiam dari keluarga kaya.

Setelah membaca diari yang disembunyikan di dalam kotak kayu, ia tidak lagi dapat melihat foto tersebut dengan cara yang sama.

Ia kini tahu bahwa tangan kecil yang terlihat tenang di dalam foto itu pernah terluka akibat latihan biola berjam-jam. Ia tahu bahwa gadis yang berdiri tegak di antara orang tuanya mungkin telah menahan pusing, kelelahan, dan rasa takut agar tidak mengecewakan siapa pun.

Dan sekarang, gaun yang pernah dikenakan gadis itu sedang disodorkan kepadanya.

“Apakah Nyonya yang memilihnya?” tanya Mai.

“Benar, Nona. Beliau juga meminta agar rambut dan riasan Anda disesuaikan dengan foto tersebut.”

Mai menunduk, meremas ujung lengan seragam rumahnya dengan ibu jari.

“Begitu, ya.”

Ia ingin bertanya mengapa ia harus mengenakan gaun milik seseorang yang telah meninggal. Ia ingin tahu apakah tidak ada pakaian lain yang bisa digunakan, atau apakah pemotretan itu benar-benar membutuhkan kemiripan sedetail ini.

Namun, ia sudah mengenal jawaban yang mungkin akan diterimanya.

Ini bagian dari tugasmu.

Jangan membuat masalah.

Ingat kontrakmu.

Kata-kata itu tidak harus diucapkan keras-keras. Setelah berbulan-bulan tinggal di Kediaman Kisaragi, Mai telah belajar bahwa terkadang sebuah tatapan saja cukup untuk membuatnya mengurungkan pertanyaan.

Ia mengembuskan napas pelan.

“Baik. Tolong bantu saya memakainya.”

Pelayan itu segera memberi isyarat kepada penata rambut dan perias untuk memulai persiapan.

Mai berdiri di depan cermin ketika para perempuan itu mulai bekerja. Seragam rumahnya dilepas dan diganti dengan gaun hitam yang terasa sejuk saat menyentuh kulit. Kainnya jatuh dengan sempurna mengikuti tubuhnya, seolah pakaian itu memang dibuat khusus untuknya. Penata rambut menyisir rambut panjangnya, membaginya dengan cermat, kemudian menyematkan beberapa bagian agar membentuk gaya yang serupa dengan foto lama.

Perias mengoleskan alas bedak tipis, menyamarkan lingkaran lelah di bawah mata Mai, lalu memberikan sedikit warna pada bibirnya.

“Mohon angkat dagu sedikit, Nona.”

Mai menurut.

“Bagus. Sekarang, jangan terlalu banyak tersenyum. Dalam foto lama, Nona Kanade memiliki ekspresi yang tenang.”

Kuas kecil menyentuh pipinya.

“Tatapannya sedikit ke samping, seperti ini.”

Mai mengarahkan pandangan sesuai instruksi.

“Ya, tepat. Anda memiliki bentuk wajah yang sangat cocok untuk gaya ini.”

Pujian itu terdengar tulus, tetapi Mai tidak merasakan kegembiraan sedikit pun.

Ia hanya melihat wajah yang semakin sulit dikenali sebagai miliknya sendiri.

Ketika penata rambut selesai memasang aksesori sederhana di sisi kepalanya, mereka mundur beberapa langkah untuk memeriksa hasilnya. Gaun hitam itu membingkai tubuhnya dengan anggun. Rambutnya jatuh dalam gelombang lembut yang tertata rapi. Riasan tipis membuat wajahnya tampak lebih pucat dan tenang daripada biasanya.

Di hadapannya berdiri seorang gadis yang sangat mirip dengan sosok dalam foto lama.

Seorang gadis bernama Kisaragi Kanade.

Mai mengangkat tangannya perlahan, menyentuh permukaan cermin dengan ujung jari.

Permukaan dingin itu menyentuh kulitnya.

“...Siapa kamu?” bisiknya nyaris tanpa suara.

Tidak ada yang menjawab.

Dari belakangnya, pelayan perempuan membetulkan lipatan kain di bagian pinggang gaun.

“Nona, Nyonya Reiko sudah menunggu di foyer. Kita harus segera turun.”

Mai menurunkan tangannya.

“Ya. Saya mengerti.”

Ia mengambil satu langkah menjauhi cermin, tetapi pandangannya kembali tertarik pada pantulan itu. Untuk sesaat, ia ingin melepas gaun tersebut, merusak tatanan rambutnya, lalu mengenakan pakaian sederhana yang biasa ia gunakan di kamar.

Ia ingin melihat Miyauchi Mai lagi.

Gadis yang pernah bekerja di Akihabara, yang terbiasa berdiri di balik meja kafe dengan senyum lebar dan suara ceria, yang terkadang pulang ke kamar kecilnya dengan kaki pegal tetapi masih sempat tertawa bersama teman-temannya.

Gadis yang tidak perlu bertanya kepada siapa pun apakah ia berhak mengenakan pakaiannya sendiri.

Namun, keinginan itu hanya bertahan selama beberapa detik.

Mai merapikan ekspresinya, mengangkat dagu, lalu mengikuti para pelayan keluar dari kamar.

Ia kembali menjadi Kanade.

Foyer utama telah berubah menjadi studio pemotretan kecil.

Dua lampu besar berdiri di sisi tangga, sementara kamera profesional dipasang menghadap ruang terbuka di antara sofa dan meja konsol. Seorang asisten fotografer memeriksa pengaturan cahaya, dan beberapa pelayan mengatur posisi vas bunga agar tidak menghalangi latar belakang.

Di dekat jendela, Reiko berdiri sambil memegang sebuah bingkai foto berukuran sedang.

“Sedikit lebih ke kiri,” katanya kepada seorang pelayan yang sedang menggeser vas. “Tidak, bukan sebanyak itu. Kembalikan sedikit. Saya tidak ingin benda-benda di latar belakang terlihat bertumpuk.”

Pelayan tersebut segera memperbaiki posisinya.

Reiko mengangkat bingkai foto di tangannya. Foto itu memperlihatkan keluarga Kisaragi dalam susunan yang formal: Souichiro berdiri tegak dengan satu tangan di depan tubuhnya, Reiko berada di sampingnya, Ren yang masih lebih muda berdiri dengan ekspresi serius, dan Kanade mengenakan gaun hitam di sisi lain.

Senyum tipis menghiasi wajah Kanade dalam foto tersebut.

Tidak lebar, tidak benar-benar ceria, tetapi cukup untuk memenuhi tuntutan sebuah potret keluarga.

“Foto ini akan menjadi acuan,” ujar Reiko kepada fotografer. “Kami ingin komposisinya tetap konsisten dengan dokumentasi sebelumnya.”

Fotografer mengangguk sambil memperhatikan gambar itu.

“Tentu, Nyonya. Kami bisa menyesuaikan posisi dan pencahayaan agar hasilnya serupa.”

“Bagus.”

Reiko menurunkan bingkai tersebut tepat ketika suara langkah terdengar dari arah tangga.

Mai muncul di ujung anak tangga terakhir.

Percakapan para staf tidak langsung berhenti, tetapi beberapa pasang mata beralih kepadanya. Gaun hitam itu menyerap cahaya dengan lembut, membuat penampilannya tampak menyatu dengan suasana rumah yang megah. Ia berjalan perlahan, satu tangan memegang ringan sisi rok agar kainnya tidak tersangkut pada ujung anak tangga.

“Kanade,” panggil Reiko.

Mai berhenti di dekat tangga dan menoleh.

“Ya, Ibu?”

Reiko memandangnya dari kepala hingga kaki. Tatapannya bergerak memeriksa tatanan rambut, riasan, posisi bahu, dan panjang gaun. Ia tidak terlihat sedang menilai seorang gadis, melainkan hasil pekerjaan yang harus disesuaikan sebelum dipresentasikan kepada orang lain.

“Rambutmu sedikit berbeda dari foto. Bagian sampingnya perlu dirapikan lagi.”

“Baik.”

“Dan bahumu jangan terlalu turun. Berdirilah lebih tegak. Kamu harus terlihat percaya diri.”

Mai meluruskan punggungnya.

“Seperti ini?”

“Sedikit lebih baik. Jangan kaku, tetapi jangan pula terlihat santai.”

Mai mengangguk sekali.

Ia berusaha mengendurkan bahunya, tetapi semakin keras ia berusaha terlihat alami, semakin sadar dirinya terhadap setiap gerakan. Jari-jarinya mencengkeram kain rok sedikit lebih kuat. Ia melepaskannya, lalu kembali merapikan lipatan yang sebenarnya sudah rapi.

“Sekarang, kemarilah.” Reiko mengangkat bingkai foto. “Lihat baik-baik. Ini posisi yang akan kita gunakan.”

Mai mendekat.

Foto itu tampak lebih jelas dari jarak dekat. Wajah Kanade yang berusia empat belas tahun terlihat tenang, dengan mata yang sedikit mengarah ke samping. Satu tangannya terletak di depan tubuh, sementara bahunya sejajar dengan bahu Reiko. Tidak ada satu pun bagian dari pose itu yang terlihat berlebihan.

Namun, setelah membaca diari Kanade, Mai merasa foto tersebut menyimpan sesuatu yang tidak dapat ditangkap kamera.

Ia membayangkan gadis itu berdiri di tempat yang sama, mengenakan gaun yang sama, mengikuti instruksi yang sama. Barangkali Kanade juga pernah diminta mengangkat dagu atau memperbaiki posisi bahu. Barangkali ia juga pernah mendengar bahwa ia harus tersenyum dengan cara tertentu.

Dan barangkali, setelah semua itu selesai, tidak ada seorang pun yang bertanya apakah ia baik-baik saja.

“Lihat posisi dagunya,” kata Reiko, memotong lamunan Mai. “Sedikit terangkat, tetapi jangan sampai terlihat menantang. Kemudian arahkan pandangan ke kamera. Senyumnya cukup tipis.”

Mai mengamati foto tersebut lebih lama.

“Apakah saya harus meniru semuanya persis, Ibu?”

Reiko menurunkan bingkai itu sedikit.

“Tentu saja. Bukankah sudah jelas bahwa foto ini adalah acuan kita?”

Mai menelan ludah.

“Saya mengerti.”

“Bagus. Kalau begitu, mari kita mulai. Fotografer sudah menunggu.”

Mai mengangguk, lalu bergerak menuju tanda kecil yang telah dipasang di lantai.

Setiap langkah terasa seperti memasuki sebuah ruang yang semakin sempit.

Ia berdiri di tempat yang ditunjuk, menempatkan kedua kakinya sesuai arahan, lalu mengangkat dagu. Asisten fotografer mendekat untuk membetulkan sedikit posisi bahunya. Reiko mengawasi dari samping, sesekali memberikan instruksi tambahan.

“Luruskan punggungmu.”

Mai menurut.

“Jangan terlalu tegang.”

Ia mencoba mengendurkan bahunya.

“Pandangan ke depan.”

Mai mengangkat wajah.

“Sekarang, senyum sedikit.”

Sudut bibirnya bergerak.

“Bukan seperti itu. Terlalu jelas. Kanade dalam foto ini memiliki senyum yang lebih tenang.”

Mai menahan napas sesaat, lalu mengubah ekspresinya.

“Ya. Begitu.”

Ia mempertahankan senyum tipis tersebut sambil menatap kamera yang belum mulai memotret.

Lampu studio memancarkan panas yang perlahan terasa di wajahnya. Aroma kosmetik masih tertinggal di sekitar hidungnya, bercampur dengan wangi bunga segar yang diletakkan di meja konsol. Di belakang kamera, seseorang sedang membicarakan pengaturan pencahayaan, sementara Reiko kembali membandingkan posisi Mai dengan foto lama.

“Sedikit miringkan kepala ke kanan.”

Mai mengikutinya.

“Tidak, terlalu jauh. Kembali sedikit.”

Ia memperbaiki posisi.

“Bagus. Sekarang tanganmu. Letakkan di depan tubuh seperti dalam foto.”

Mai menurunkan tangannya ke posisi yang diminta.

Jari-jarinya saling bertaut.

Ia berusaha menjaga tangan tetap tenang, tetapi ibu jarinya terus mengusap sisi telunjuk tanpa disadari. Ketika menyadarinya, ia segera menghentikan gerakan itu dan menekan kedua telapak tangannya agar tidak bergerak.

“Jangan meremas tanganmu,” ujar Reiko. “Kamu terlihat gugup.”

“Maaf.”

“Tidak perlu meminta maaf. Cukup lakukan dengan benar.”

Mai menundukkan pandangan sepersekian detik.

“Baik, Ibu.”

Ia kembali menatap kamera.

Di dalam kepalanya, sebuah pertanyaan terus berulang.

Kalau aku harus meniru wajahnya, pakaiannya, senyumnya, bahkan cara berdirinya, bagian mana dari diriku yang masih boleh tinggal?

Ia tidak berani membiarkan pertanyaan itu muncul di wajahnya.

Ren turun dari lantai atas ketika salah seorang pelayan sedang membawa perlengkapan tambahan menuju foyer.

Ia baru saja menyelesaikan sesi belajar bersama tutor pribadi. Buku-buku pelajaran masih tersusun di dalam tas yang dibawanya, dan kepalanya sedikit pening akibat berjam-jam menatap soal latihan. Ia berniat mengambil air sebelum kembali ke kamar, tetapi langkahnya melambat ketika mendengar suara ibunya memberikan instruksi dari arah foyer.

“Posisi dagunya harus sama. Kita tidak ingin hasil yang berbeda dari foto sebelumnya.”

Ren berhenti di anak tangga terakhir.

Awalnya, ia hanya melihat kerumunan staf dan peralatan pemotretan. Kemudian, di antara dua lampu besar, ia melihat seorang gadis mengenakan gaun hitam.

Kanade.

Ia mengenali wajah itu, tentu saja. Gadis yang berdiri di sana adalah adiknya—setidaknya, itulah yang dikatakan semua orang kepadanya sejak ia terbangun dari koma. Gadis yang selalu berada di dekatnya, yang menyiapkan makanan, menemaninya belajar, dan menggenggam tangannya ketika suara biola membuat dadanya terasa sesak.

Namun, sesuatu dalam pemandangan itu membuat langkahnya terhenti.

Gaun hitam tersebut terasa familier.

Bukan sekadar karena ia pernah melihatnya dalam foto keluarga. Ada sesuatu yang lebih samar, lebih dekat dengan tubuhnya sendiri daripada ingatan yang tersimpan di kepalanya. Sebuah perasaan tidak nyaman merambat dari tengkuk hingga bahunya, disertai kilasan singkat berupa cahaya lampu yang terlalu terang dan suara seseorang menyuruh seorang gadis berdiri tegak.

Ren mengerjapkan mata.

Bayangan itu lenyap.

Ia mencoba menarik napas dengan teratur, tetapi pandangannya tetap tertahan pada Mai.

Gadis itu berdiri begitu kaku hingga hampir tidak tampak seperti dirinya sendiri. Bahunya terangkat sedikit, tangannya saling bertaut terlalu erat, dan senyum di bibirnya terlihat seperti sesuatu yang dipasang dengan susah payah. Bahkan dari jarak beberapa meter, Ren dapat melihat bagaimana jari-jarinya sesekali menegang sebelum kembali diam.

Ia pernah melihat Mai tertawa dengan bebas di kedai ramen kecil. Ia pernah melihatnya mengomel ketika ia kesulitan menggunakan sumpit, kemudian tertawa sampai matanya menyipit ketika kuah ramen hampir tumpah ke meja. Ia pernah melihat gadis itu mengantuk di perpustakaan, menahan kesedihan di balik senyum, dan menangis ketika demam membuatnya tidak mampu lagi mempertahankan sikap cerianya.

Semua ekspresi itu berbeda dari wajah yang sekarang dilihatnya.

“...Kanade?”

Panggilan itu keluar begitu saja, tetapi tidak cukup keras untuk mengganggu persiapan.

Mai menoleh ke arahnya.

Untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu.

Ren melihat sesuatu melintas di wajah Mai—kelegaan yang begitu singkat hingga hampir tidak terlihat, disusul ketegangan ketika ia menyadari bahwa semua orang sedang memperhatikannya. Senyum Mai kembali terbentuk, kali ini sedikit lebih lebar, seolah-olah ia sedang berusaha meyakinkan Ren bahwa semuanya baik-baik saja.

Dan justru karena itu, Ren merasa ada sesuatu yang salah.

Ia berjalan mendekati mereka.

“Permisi,” katanya kepada fotografer. “Bisa berhenti sebentar?”

Fotografer yang sedang memeriksa kamera menoleh dengan terkejut.

“Oh, Tuan Ren. Tentu. Apakah ada yang perlu disesuaikan?”

“Tolong tunggu dulu sebelum mengambil gambar.”

Reiko memalingkan wajah dari bingkai foto.

“Ren? Apa yang kamu lakukan di sini?”

Ren tidak segera menjawab. Ia memandang Mai sekali lagi, memperhatikan tangannya yang masih bertaut di depan tubuh.

“Kalian sudah memulai pemotretan?”

Lihat selengkapnya