Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #54

Bisik-Bisik di Koridor Ujian

Pagi itu, Akademi Seiwa terasa lebih sunyi daripada biasanya.

Di sepanjang koridor gedung kelas satu, suara langkah kaki terdengar lebih jelas daripada percakapan para siswa. Papan pengumuman yang biasanya dikerumuni murid-murid kini hanya dilewati sekilas, sementara pintu-pintu kelas dibiarkan terbuka untuk sirkulasi udara sebelum ujian dimulai. Dari balik jendela, cahaya matahari musim dingin menyinari meja-meja yang telah dirapikan, memperlihatkan debu halus yang melayang di udara.

Ujian Tengah Semester akhirnya tiba.

Bagi sebagian siswa Seiwa, ujian itu merupakan rutinitas yang sudah mereka hadapi sejak tahun pertama. Mereka terbiasa dengan soal-soal analitis yang menuntut lebih dari sekadar hafalan, terbiasa dengan batas waktu yang ketat, dan terbiasa melihat angka-angka pada papan peringkat sebagai penentu reputasi akademis mereka. Di sekolah tempat anak-anak keluarga berpengaruh bersaing dengan siswa berprestasi dari berbagai latar belakang, nilai bukan sekadar catatan hasil belajar. Nilai juga menjadi bagian dari cara seseorang dinilai.

Namun, bagi Miyauchi Mai, ujian kali ini memiliki arti yang jauh lebih berat.

Di atas meja kelas 1-A, buku-buku pelajaran telah disingkirkan. Hanya alat tulis, kartu identitas siswa, dan jam kecil yang diperbolehkan berada di sana. Mai duduk di dekat jendela, kedua tangannya terlipat di atas meja, sementara pandangannya sesekali beralih ke jam dinding.

Jarum panjang bergerak perlahan menuju angka dua belas.

Masih ada beberapa menit sebelum pengawas memasuki ruangan.

Mai menunduk, membuka telapak tangannya, lalu memijat pangkal ibu jari yang terasa pegal akibat terlalu lama memegang pena selama beberapa malam terakhir. Di bawah matanya terdapat bayangan samar yang tidak sepenuhnya tertutupi oleh tidur singkatnya. Rambutnya telah disisir rapi, seragamnya dikenakan dengan benar, dan wajahnya menunjukkan ketenangan yang biasa diharapkan dari seorang siswi keluarga Kisaragi.

Akan tetapi, di dalam tasnya, terselip selembar kertas kecil berisi rumus-rumus yang sempat ia tulis ulang pada pagi hari. Ia tahu kertas itu tidak akan berguna selama ujian berlangsung. Ia hanya belum sanggup membuangnya sebelum memastikan semua rumus tersebut benar-benar melekat di kepalanya.

“Kanade?”

Mai mengangkat wajah.

Yuna berdiri di samping mejanya sambil membawa tempat pensil berwarna krem. Rambutnya diikat sederhana, dan di wajahnya terpasang senyum kecil yang berusaha mengusir ketegangan pagi itu.

“Kamu sudah siap?” tanya Yuna.

Mai membalas senyumnya. “Kurasa begitu.”

“Kurasa begitu?” Yuna memiringkan kepala. “Kamu biasanya lebih percaya diri daripada itu.”

“Benarkah?”

“Benar. Minggu lalu kamu bahkan menjelaskan soal matematika kepadaku sampai aku merasa sedang mengikuti kelas tambahan.”

Mai tertawa kecil. “Itu karena kamu terus mengulang pertanyaan yang sama.”

“Karena penjelasanmu terlalu cepat!”

“Kalau begitu, hari ini aku akan menjelaskannya lebih pelan.”

Yuna mengembuskan napas panjang, lalu menarik kursi kosong di samping meja Mai untuk duduk sebentar sebelum pengawas datang.

“Aku serius, lho. Kamu terlihat lebih lelah akhir-akhir ini. Jangan bilang kamu belajar sampai tengah malam lagi.”

Tangan Mai yang sedang merapikan alat tulis berhenti sejenak.

Ia teringat lampu meja di perpustakaan Kediaman Kisaragi, halaman-halaman buku yang dipenuhi catatan, serta suara Ren yang tetap sabar meskipun mereka sudah mengulang satu soal berkali-kali. Ia juga teringat jam yang bergerak melewati pukul sepuluh malam ketika matanya mulai terasa berat, sementara tumpukan materi yang harus dikuasainya masih belum selesai.

“Sedikit,” jawabnya.

Yuna mengerutkan dahi.

“Sedikit itu sampai pukul berapa?”

“Tidak terlalu larut.”

“Kanade.”

Nada Yuna terdengar seperti teguran seorang teman yang mulai kehilangan kesabaran.

Mai tertawa gugup. “Aku benar-benar baik-baik saja. Hanya ingin memastikan aku memahami semua materinya.”

Yuna memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas.

“Kalau kamu bilang begitu, aku tidak akan memaksamu bercerita. Tapi jangan sampai kamu jatuh sakit hanya karena ujian.”

Kalimat itu membuat Mai terdiam sesaat.

Jangan sampai jatuh sakit.

Ia hampir tersenyum pahit mengingat bahwa beberapa minggu lalu, dirinya benar-benar tumbang karena memaksakan diri terus bertahan di rumah itu. Sejak kejadian tersebut, Ren menjadi lebih peka terhadap kelelahan yang berusaha ia sembunyikan. Pemuda itu bahkan beberapa kali menghentikan sesi belajar ketika melihat Mai menguap terlalu sering, meskipun ia tahu gadis itu masih memiliki banyak materi yang belum dikuasai.

“Aku akan berhati-hati,” jawab Mai akhirnya.

Yuna tampak puas mendengar jawaban itu. Ia berdiri kembali, lalu menepuk ringan bahu Mai.

“Semoga berhasil. Setelah ujian selesai, kita harus makan sesuatu yang enak. Aku tidak mau menghabiskan seluruh hari hanya dengan membicarakan soal.”

“Setuju.”

Yuna baru saja hendak kembali ke tempat duduknya ketika suara sepatu terdengar dari arah koridor. Seorang pengawas memasuki kelas dengan membawa tumpukan lembar soal, disusul seorang guru lain yang membawa lembar jawaban.

Percakapan yang masih tersisa segera berhenti.

Kursi-kursi bergeser untuk terakhir kalinya. Pena diletakkan di atas meja. Beberapa siswa menarik napas panjang, sementara yang lain menatap lurus ke depan dengan ekspresi serius.

Mai merapikan posisi duduknya.

Ia mengeluarkan satu pena cadangan, meletakkannya sejajar dengan pena utama, kemudian mengangkat pandangan ke depan kelas.

Ujian akan segera dimulai.

Dan kali ini, ia tidak boleh gagal.

Ancaman itu pertama kali disampaikan Saito tiga malam sebelumnya.

Saat itu, Mai baru saja menyelesaikan sesi belajar bersama Ren di perpustakaan pribadi Kediaman Kisaragi. Buku matematika dan bahasa Jepang masih terbuka di atas meja mahoni, sementara secangkir teh yang disiapkan pelayan telah mendingin tanpa sempat dihabiskan.

Ren sedang membereskan lembar latihan ketika seorang pelayan datang membawa pesan bahwa Saito ingin bertemu Mai di ruang kerja sayap barat.

Mai langsung tahu bahwa malam belajarnya telah berakhir.

Ia menutup buku, merapikan kertas-kertasnya, lalu berpamitan kepada Ren.

“Kamu mau ke mana?” tanya Ren ketika melihatnya memasukkan alat tulis ke dalam tas.

“Ada urusan sebentar dengan Saito-san.”

Ren mengangkat pandangan dari buku.

“Sekarang?”

Mai mengangguk kecil.

“Katanya tidak akan lama.”

Ren tidak tampak puas, tetapi ia tidak menahannya.

“Kalau begitu, aku akan menunggumu di sini. Kita masih belum menyelesaikan latihan esai yang tadi.”

Mai memaksakan senyum.

“Baik, Onii-chan. Aku akan kembali secepatnya.”

Ia meninggalkan perpustakaan dengan langkah terukur, meskipun perutnya mulai terasa tidak nyaman. Ia sudah cukup lama mengenal pola pertemuan seperti itu. Saito jarang memanggilnya hanya untuk menanyakan kabar. Setiap percakapan biasanya membawa instruksi baru, evaluasi, atau pengingat tentang konsekuensi jika ia gagal menjalankan perannya.

Ruang kerja Saito terletak di sayap barat, jauh dari ruang keluarga dan kamar-kamar utama. Ketika Mai tiba, pria berjas gelap itu sudah duduk di belakang meja dengan sebuah map terbuka di hadapannya. Lampu meja menerangi tumpukan dokumen yang tersusun dalam beberapa kelompok.

“Duduk, Kisaragi Kanade.”

Mai duduk di kursi di seberang meja.

Lihat selengkapnya