Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #55

Jangan Memaksakan Diri

Malam demi malam, ia terus belajar. Ada saat-saat ketika ia merasa mampu mengejar ketertinggalannya. Ada pula saat-saat ketika ia menatap halaman yang sama selama hampir dua puluh menit tanpa benar-benar memahami apa yang dibacanya.

Ketika itu terjadi, Ren biasanya menutup buku Mai.

“Berhenti sebentar.”

“Tapi aku belum selesai.”

“Kamu sudah membaca bagian yang sama tiga kali.”

“Karena aku belum mengerti.”

“Dan kalau kamu terus memaksakan diri sekarang, kamu mungkin akan membacanya lima kali tanpa memahami apa pun.”

Mai mengerucutkan bibir.

“Aku tidak punya banyak waktu.”

Ren menatapnya dengan serius.

“Kalau kamu jatuh sakit, kamu akan kehilangan lebih banyak waktu daripada kalau kamu beristirahat sepuluh menit.”

Mai terdiam.

Ia tahu Ren benar. Namun, setiap kali ia mengingat ancaman Saito, beristirahat terasa seperti mengambil risiko yang tidak mampu ia tanggung.

“Aku hanya ingin memastikan nilaiku cukup baik,” katanya pelan.

“Aku tahu.”

Ren merapikan lembar latihan yang berserakan, lalu mendorong segelas air ke arahnya.

“Karena itu, kita akan belajar dengan benar. Bukan dengan membuatmu kelelahan sampai tidak bisa berpikir.”

Mai menatap gelas air tersebut.

Ia mengambilnya dengan kedua tangan, membiarkan kehangatan tipis dari gelas menyentuh telapak tangannya.

“...Baik, Onii-chan.”

Ren tidak tahu alasan sebenarnya di balik kegigihan Mai. Ia tidak tahu bahwa setiap halaman yang berhasil dipahaminya terasa seperti satu langkah menjauh dari kemungkinan dikeluarkan dari sekolah. Ia juga tidak tahu bahwa Mai terkadang terbangun di tengah malam hanya untuk memeriksa kembali catatan, karena takut ada materi yang terlupakan.

Namun, ia terus membantunya dengan sabar.

Dan bagi Mai, kesabaran itu menjadi salah satu alasan mengapa ia masih mampu bertahan.

Pada malam terakhir sebelum ujian, mereka baru selesai membahas latihan soal ketika jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat sedikit. Mai menutup buku terakhir dengan kedua tangan, lalu menyandarkan punggung ke kursi.

“Aku rasa... cukup untuk malam ini.”

Ren mengangguk.

“Bagus. Besok kamu perlu pikiran yang jernih.”

Mai menatap tumpukan buku di hadapannya.

“Aku masih takut.”

Kalimat itu keluar sebelum sempat ia tahan.

Ren berhenti membereskan kertas.

“Takut apa?”

Mai memandang jari-jarinya sendiri. Ada bekas tekanan pensil di sisi tengah jarinya, dan kulit di sekitar kuku tampak sedikit kering akibat terlalu sering mencuci tangan dan menghapus catatan.

“Takut kalau semua yang kupelajari tidak keluar saat ujian. Takut salah memahami soal. Takut...” Ia berhenti, menggigit bibir sebentar. “Takut usahaku tidak cukup.”

Ren tidak segera menjawab.

Ia menarik kursi mendekat, lalu duduk menghadap Mai.

“Kanade, kamu sudah bekerja keras.”

Mai tertawa kecil tanpa kegembiraan.

“Bekerja keras tidak menjamin hasil yang baik.”

“Benar.”

Mai mengangkat wajah, sedikit terkejut karena Ren tidak menyangkalnya.

Ren melanjutkan, “Kamu bisa melakukan semua persiapan dengan benar dan tetap menemukan soal yang sulit. Itu mungkin terjadi. Tapi bukan berarti semua usahamu menjadi sia-sia.”

Mai menatapnya dalam diam.

“Kamu tidak bisa mengendalikan semua hal yang akan muncul besok,” kata Ren. “Yang bisa kamu lakukan adalah membaca soal dengan teliti, mengerjakan apa yang kamu pahami, lalu menggunakan waktu yang tersisa untuk memikirkan bagian yang sulit.”

Ia mengambil sebuah lembar kosong dan menuliskan tiga kalimat pendek.

Baca dengan teliti.

Kerjakan yang kamu pahami.

Kembali ke soal yang sulit.

Ren menggeser kertas itu ke hadapan Mai.

“Kalau kamu mulai panik, ingat tiga hal ini.”

Mai membaca tulisan tersebut berulang kali.

Tulisan tangan Ren rapi dan tegas, berbeda dari catatannya sendiri yang penuh panah, garis bawah, dan simbol-simbol kecil. Ia melipat kertas itu dengan hati-hati, lalu menyimpannya di dalam buku catatan.

“Terima kasih, Onii-chan.”

Ren mengangguk kecil.

“Sekarang tidurlah. Aku akan memastikan kamu tidak kembali ke perpustakaan setelah semua orang tidur.”

Mai langsung mendongak.

“Eh? Kenapa?”

“Karena aku mengenalmu.”

“Aku tidak akan melakukannya!”

Ren mengangkat alis.

Mai terdiam selama dua detik.

“...Mungkin.”

Ren tertawa, dan Mai akhirnya ikut tertawa meskipun pipinya sedikit memerah.

Malam itu, ia benar-benar kembali ke kamarnya tanpa membawa buku tambahan. Namun, sebelum tidur, ia membuka buku catatannya sekali lagi untuk membaca tiga kalimat yang ditulis Ren.

Kemudian ia melipat kertas itu, meletakkannya di samping tempat tidur, dan memejamkan mata.

Besok, ia akan menghadapi ujian.

Ia tidak tahu apakah hasilnya akan cukup baik.

Tetapi ia tidak lagi harus menghadapi ketakutannya sendirian.

“Waktu ujian dimulai sekarang.”

Suara pengawas memecah keheningan kelas 1-A.

Tumpukan lembar soal dibagikan dari barisan depan ke belakang. Kertas-kertas bergerak dari satu meja ke meja lain dengan bunyi gesekan yang terdengar jelas di ruangan sunyi itu. Beberapa siswa langsung membalik lembar pertama, sementara yang lain menunggu sampai seluruh soal berada di tangan mereka sebelum mulai membaca.

Mai menerima lembar soal dari teman di depannya.

Ia meletakkannya di atas meja, meluruskan sudut kertas yang sedikit terlipat, lalu membaca instruksi di bagian atas.

Ujian Tengah Semester — Matematika.

Waktu pengerjaan: sembilan puluh menit.

Mai menarik napas perlahan.

Di sekelilingnya, tidak ada percakapan. Pengawas berjalan menyusuri lorong di antara meja, sesekali berhenti untuk memastikan tidak ada alat yang tidak diperbolehkan. Jam dinding berdetak teratur. Dari luar jendela, terdengar suara samar kendaraan yang melintas di jalan jauh di bawah gedung sekolah.

Mai memejamkan mata selama satu detik.

Baca dengan teliti.

Ia membuka mata dan mulai membaca soal pertama.

Pertanyaan awal cukup mudah. Ia mengenali konsep yang digunakan, menuliskan rumus, lalu menyelesaikan perhitungan dengan langkah-langkah yang telah berulang kali dilatih bersama Ren. Ia memeriksa kembali hasilnya sebelum berpindah ke soal kedua.

Soal kedua lebih panjang, tetapi masih dapat dipahami.

Lihat selengkapnya