Suara riuh memenuhi koridor utama Akademi Seiwa sejak bel istirahat siang berbunyi. Murid-murid dari berbagai kelas berbondong-bondong menuju papan pengumuman besar yang berdiri di dekat tangga tengah, membawa rasa penasaran, kecemasan, dan harapan yang bercampur menjadi satu. Beberapa berjinjit di belakang kerumunan, sementara yang lain menyelipkan diri di antara bahu teman-temannya demi mendapatkan pandangan yang lebih jelas. Sesekali terdengar seruan kecewa, tawa lega, atau teriakan kegirangan ketika seseorang menemukan namanya di posisi yang diharapkan.
Papan pengumuman itu terbagi menjadi beberapa bagian berdasarkan tingkat kelas dan paralel. Lembaran-lembaran kertas putih yang baru ditempel masih tampak kaku, dengan daftar nama serta nilai yang tersusun rapi dalam kolom-kolom. Di bagian paling atas, judul Hasil Ujian Pertengahan Semester dicetak tebal, diikuti cap resmi akademi yang membuat hasil tersebut tampak seperti keputusan pengadilan kecil bagi masa depan para siswa.
Bagi sebagian murid Seiwa, peringkat bukan sekadar angka. Ia merupakan bahan percakapan di meja makan keluarga, ukuran keberhasilan di mata orang tua, sekaligus penentu siapa yang pantas duduk di antara calon-calon penerus perusahaan besar. Di sekolah yang dipenuhi anak-anak keluarga terpandang, dua atau tiga posisi dapat mengubah suasana hati seseorang sepanjang pekan.
Namun, bagi Miyauchi Mai, selembar kertas itu menyimpan taruhan yang jauh lebih besar daripada sekadar kebanggaan akademis.
Di tengah kerumunan, Mai berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam di depan rok seragamnya. Jari-jarinya terasa dingin meskipun udara siang cukup hangat. Sejak pagi, ia sudah berusaha meyakinkan diri bahwa apa pun hasilnya, ia telah mengerjakan ujian dengan sebaik mungkin. Ren pun sudah berulang kali mengingatkannya bahwa nilai bukan satu-satunya ukuran kemampuan seseorang.
Sayangnya, suara Saito masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Masuk dua puluh besar kelas satu. Kalau tidak, saya akan mempertimbangkan kembali kelayakan Anda untuk melanjutkan pendidikan di Seiwa.
Mai menelan ludah. Ia masih ingat bagaimana pria berjas itu menyampaikan syarat tersebut dengan nada datar, seolah-olah masa depannya hanyalah satu baris tambahan dalam dokumen evaluasi. Tidak ada ruang untuk alasan, tidak ada toleransi untuk kegagalan. Bahkan kesempatan untuk belajar di sekolah pun harus ia pertahankan dengan memenuhi standar yang ditetapkan orang-orang yang mempekerjakannya.
Ia menarik napas perlahan, lalu mencoba menyelipkan diri ke celah di antara dua siswa kelas satu.
“Permisi, maaf. Aku cuma mau lihat sebentar.”
“Eh, Kisaragi-san!”
Seseorang dari depan menoleh. Mai segera berhenti ketika beberapa murid mengenalinya. Sejak hari pertama masuk Seiwa, nama Kisaragi Kanade telah menarik perhatian, terutama karena ia merupakan adik perempuan Ren Kisaragi. Kini, setelah beberapa pekan mengikuti pelajaran dan terlihat berusaha keras mengejar materi yang tertinggal, ia kembali menjadi pusat perhatian karena alasan yang berbeda.
“Kanade-san, kamu juga mau lihat hasilnya?” tanya seorang siswi yang rambutnya diikat dengan pita biru.
Mai mengangguk. “Iya. Aku agak gugup, sebenarnya.”
“Wah, sama sekali tidak kelihatan, lho. Kamu selalu tenang di kelas.”
Mai hampir tertawa mendengar komentar itu. Jika siswi tersebut tahu berapa kali ia terbangun tengah malam untuk mengulang rumus matematika, atau berapa banyak halaman catatan yang harus dibaca sambil menahan kantuk, mungkin ia akan mengubah penilaiannya.
“Aku cuma berusaha supaya tidak membuat kesalahan,” jawab Mai, berusaha tersenyum sewajar mungkin.
“Kalau begitu, ayo. Aku bantu cari namamu!”
Siswi itu menariknya mendekati papan pengumuman. Kerumunan mulai sedikit terurai ketika beberapa murid yang sudah menemukan hasil mereka menyingkir. Mai berdiri di hadapan daftar kelas satu, lalu menggerakkan telunjuknya mengikuti baris demi baris. Matanya bergerak cepat, menyusuri nama-nama yang disusun berdasarkan peringkat paralel.
Peringkat pertama.
Kedua.
Ketiga.
Ia berhenti sebentar untuk memastikan tidak melewatkan satu baris, kemudian melanjutkan pencarian.
Keempat.
Kelima.
Keenam.
Ketujuh—
Napasnya tertahan.
8. Kisaragi Kanade.
Nama itu tercetak jelas di sana, diikuti nilai akhir yang merupakan hasil dari berhari-hari belajar, malam-malam panjang di perpustakaan pribadi keluarga Kisaragi, serta kesabaran Ren yang tak pernah habis ketika ia kembali salah mengerjakan soal.
Mai menatapnya beberapa detik lebih lama daripada yang diperlukan.
Ia membaca namanya sekali lagi, kali ini lebih pelan. Huruf-huruf itu tidak berubah. Angka delapan di sebelah kirinya pun tetap sama.
Peringkat kedelapan dari seluruh siswa kelas satu.
Bukan sekadar masuk dua puluh besar. Bukan pula hasil keberuntungan karena kebetulan mendapatkan soal yang mudah. Ia benar-benar berhasil mencapai posisi itu setelah berjuang dengan kemampuan yang ia miliki sendiri.
Bibir Mai terbuka sedikit. Ia lupa mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan, sampai dadanya terasa sesak oleh kelegaan yang datang begitu tiba-tiba.
“Aku...” Suaranya nyaris tidak terdengar. Ia berdeham, lalu mencoba lagi. “Aku berhasil.”
Siswi di sebelahnya segera menepuk lengannya dengan antusias.
“Kanade-san! Peringkat delapan! Itu luar biasa!”