Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #57

Aku Bangga Padamu

“Bagaimanapun, kamu berhasil melewatinya,” ujar Ren. “Aku bangga padamu.”

Kali ini Mai benar-benar terdiam.

Di rumah Kisaragi, kata-kata seperti itu jarang terdengar. Souichiro dapat membicarakan peringkat, standar, dan target selama berjam-jam tanpa sekalipun mengucapkan bahwa usaha seseorang layak dihargai. Bahkan ketika Ren berhasil meraih hasil terbaik, ayah mereka masih menemukan kekurangan yang perlu diperbaiki.

Karena itulah, kalimat sederhana dari Ren terasa begitu berbeda.

Tidak ada syarat tambahan setelahnya.

Tidak ada tuntutan agar peringkat delapan berubah menjadi peringkat lima pada ujian berikutnya.

Ren hanya bangga padanya.

Mai menggigit bibir bawah, berusaha menahan senyum yang semakin sulit dikendalikan.

“Kalau Onii-chan yang bilang begitu, rasanya aku jadi ingin belajar lebih giat lagi.”

“Belajarlah dengan giat,” jawab Ren, “tapi jangan sampai kamu lupa beristirahat.”

Ia mengangkat tangan dan mengusap puncak kepala Mai dengan lembut. Gerakan itu sudah begitu akrab bagi mereka selama masa pemulihan Ren, tetapi sentuhan tersebut tetap membuat jantung Mai berdegup sedikit lebih cepat.

Beberapa siswi di dekat mereka mengeluarkan suara tertahan. Salah seorang bahkan memegang lengan temannya, seolah-olah baru saja menyaksikan adegan yang terlalu manis untuk dibiarkan berlalu begitu saja.

Mai buru-buru menundukkan kepala.

“Onii-chan, banyak orang melihat.”

“Memangnya kenapa?”

“Karena—” Mai melirik sekeliling. “Karena nanti mereka mengira aku masih anak kecil.”

Ren memperhatikan wajahnya selama sesaat, kemudian menarik tangannya kembali.

“Kalau begitu, aku akan berhenti.”

Jawaban yang terlalu mudah itu justru membuat Mai merasa sedikit kehilangan. Ia segera menyembunyikan perasaan tersebut di balik senyum kecil.

Ren lalu mengulurkan tangan ke arahnya.

“Ayo ikut aku sebentar.”

Mai menatap tangan itu, kemudian wajah Ren. “Ke mana?”

“Ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu.”

“Sekarang?”

“Kalau menunggu sampai besok, kejutan itu tidak akan menjadi kejutan lagi.”

Mai tertawa kecil. Ia menyambut tangan Ren tanpa banyak berpikir.

Namun, begitu jari-jari mereka bertaut, Ren segera mengubah arah langkahnya menuju koridor samping. Ia tidak berjalan melewati kerumunan utama, melainkan memilih jalur yang lebih sepi di belakang gedung akademik. Mai mengikuti dengan langkah kecil, masih mencoba menebak apa yang sedang direncanakan kakaknya.

“Onii-chan, apa ini ada hubungannya dengan hasil ujian?”

“Mungkin.”

“Jawabannya mencurigakan sekali.”

“Kalau begitu, berhentilah bertanya dan ikut saja.”

Mai menggembungkan pipi. “Onii-chan jahat.”

Ren menoleh, dan senyum tipis di bibirnya semakin jelas.

“Kalau aku jahat, kamu tidak akan menggenggam tanganku seerat itu.”

Mai langsung menyadari jari-jarinya masih bertaut erat dengan jari Ren. Ia hendak melepaskannya karena malu, tetapi Ren justru menggenggam tangannya sedikit lebih mantap—cukup untuk menahannya, tanpa membuatnya merasa terpaksa.

“Tidak perlu dilepas,” katanya santai.

Wajah Mai terasa panas.

“A-aku tidak bilang mau melepasnya!”

“Bagus.”

Ren kembali berjalan seolah-olah tidak baru saja membuat Mai kehilangan kemampuan untuk menyusun kalimat yang masuk akal. Gadis itu mengikutinya dengan telinga memerah, sesekali melirik profil wajah Ren yang tampak tenang.

Ia tidak tahu apa yang menunggunya di ujung perjalanan singkat itu. Namun, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, rasa penasaran mengalahkan kecemasan yang terus-menerus menempel di pikirannya.

Bagian belakang gedung olahraga jauh lebih sepi daripada koridor utama. Suara kerumunan yang tadi memenuhi papan pengumuman kini terdengar seperti dengung jauh di balik bangunan, sesekali diselingi bunyi peluit dari lapangan olahraga. Angin siang bergerak melewati pagar kawat, membawa aroma rumput yang baru dipotong dan sedikit bau tanah lembap dari taman kecil di sisi gedung.

Di sana tumbuh beberapa pohon gugur dengan batang kokoh dan cabang-cabang yang membentang lebar. Sebagian besar daunnya masih bertahan, meskipun beberapa helai telah berubah warna menjadi kuning kecokelatan. Cahaya matahari menyusup di antara dedaunan, jatuh di atas bangku kayu dan permukaan jalan setapak dalam bercak-bercak keemasan.

Ren membawa Mai ke bawah salah satu pohon yang paling rindang. Ia memastikan tidak ada murid lain di sekitar mereka, lalu melepaskan tangan Mai dan menepuk bangku kayu di sebelahnya.

“Duduklah.”

Mai menuruti permintaannya. Ia merapikan rok seragam sebelum duduk, kemudian menatap Ren yang masih berdiri di hadapannya dengan rasa ingin tahu yang semakin besar.

“Jadi, apa yang ingin Onii-chan berikan?”

Ren tidak segera menjawab. Ia justru membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan sebuah kantong kertas berwarna krem. Logo toko kue terkenal tercetak elegan pada permukaannya, disertai pita kecil berwarna merah muda yang melingkari pegangan kantong.

Mata Mai langsung membesar.

“Eh?”

Ren duduk di sebelahnya, meletakkan kantong itu di antara mereka. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah kotak kue kecil yang dibungkus rapi. Tutup kotak tersebut transparan, memperlihatkan sepotong strawberry shortcake dengan lapisan krim putih lembut, potongan stroberi merah segar, dan taburan gula halus yang berkilauan terkena cahaya matahari.

Kue itu tampak begitu cantik hingga Mai merasa sayang untuk menyentuhnya.

“Ini...” Ia menoleh cepat kepada Ren. “Onii-chan membelinya?”

“Ya.”

“Untuk siapa?”

Ren menatapnya sejenak, seolah-olah pertanyaan itu tidak masuk akal.

“Menurutmu?”

Mai menunjuk dirinya sendiri dengan ragu. “Aku?”

“Tidak. Untuk pohon ini.” Ren melirik batang pohon di sebelah mereka dengan ekspresi datar. “Katanya, pohon-pohon di Seiwa juga membutuhkan gula setelah bekerja keras.”

Mai menutup mulutnya, menahan tawa yang akhirnya tetap lolos.

“Onii-chan!”

“Apa? Kamu bertanya, aku menjawab.”

“Pohon tidak bisa makan kue!”

“Kalau begitu, sepertinya kita harus menyelamatkan kue ini.”

Ren membuka tutup kotak, kemudian mengeluarkan dua garpu kecil yang ternyata telah ia siapkan sejak awal. Ia memberikan satu kepada Mai, sementara yang lain ia gunakan untuk memotong bagian kecil dari kue tersebut.

Aroma manis krim segar dan stroberi segera tercium. Lapisan sponsnya tampak ringan, dengan potongan buah yang tersusun di antara krim putih. Mai mengenali nama toko pada kotak itu. Toko tersebut terkenal di Tokyo karena menggunakan stroberi musiman berkualitas tinggi dan krim segar yang dibuat setiap hari. Harganya bukan sesuatu yang akan ia bayarkan hanya untuk camilan sepulang sekolah.

“Onii-chan, bukankah toko ini mahal sekali?”

“Sedikit.”

“Sedikit itu berapa?”

Lihat selengkapnya