Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #58

Hadiah yang Salah Nama

Sore merayap perlahan di Kediaman Kisaragi, menyusup melalui tirai tipis kamar Mai dan meninggalkan semburat jingga di lantai kayu yang mengilap. Dari balik jendela, taman belakang tampak tenang. Daun-daun pohon gugur bergerak pelan ditiup angin, sementara bayangan ranting memanjang di atas jalan setapak yang mulai kehilangan cahaya matahari.

Mai duduk di tepi tempat tidur dengan seragam sekolah yang telah diganti menjadi pakaian rumah. Di pangkuannya terletak sebuah novel klasik bersampul hijau tua, dengan sudut-sudut yang sedikit aus dan tulisan emas pada punggungnya yang mulai memudar.

Novel itu dipinjamkan Ren dua hari sebelumnya.

Kalau kamu ingin mencoba membaca sesuatu yang sedikit berbeda, mungkin kamu akan menyukai ini, katanya waktu itu, sambil menyerahkan buku tersebut di perpustakaan pribadi. Ceritanya agak lambat di awal, tetapi tokoh utamanya menarik setelah kamu memahami cara berpikirnya.

Mai masih ingat ekspresi Ren saat menjelaskan isi buku itu. Pemuda tersebut tampak begitu bersemangat membicarakan tokoh yang disukainya, sampai-sampai ia menjelaskan akhir dari salah satu bab sebelum Mai sempat membuka halaman pertama.

Saat itu, Mai tertawa dan memprotesnya. Ren meminta maaf, tetapi beberapa menit kemudian kembali membocorkan bagian cerita lain tanpa sengaja.

Kenangan itu membuat sudut bibir Mai terangkat.

Ia menyukai sisi Ren yang seperti itu. Sisi yang tidak selalu muncul ketika mereka berada di hadapan orang lain, ketika keluarga Kisaragi mengawasi setiap gerak-gerik mereka, atau ketika mereka harus memainkan peran yang telah ditentukan. Di antara tumpukan buku dan percakapan sederhana, Ren terkadang terlihat seperti pemuda delapan belas tahun biasa yang ingin membagikan sesuatu yang disukainya kepada orang lain.

Dan Mai menyukai kesempatan untuk menjadi orang yang mendengarkan cerita-cerita itu.

Ia membuka novel tersebut pada halaman yang telah diberi lipatan kecil di sudutnya. Baru beberapa paragraf dibaca, perhatiannya teralihkan oleh selembar kertas tipis yang menyembul di antara halaman. Mai mengira itu mungkin catatan lama atau secarik kertas yang digunakan sebagai penanda halaman. Ia menyelipkan telunjuk di bawahnya, lalu membalik halaman berikutnya.

Sesuatu yang berkilau jatuh ke pangkuannya.

Klik.

Benda kecil itu memantul sekali di atas sampul buku sebelum meluncur ke seprai.

Mai menunduk.

Sebuah pembatas buku perak tergeletak di sana.

Bentuknya sederhana, berupa lempengan tipis memanjang dengan ujung membulat. Permukaannya sedikit kusam, seolah-olah telah bertahun-tahun tersimpan di tempat yang jarang disentuh. Pada salah satu ujungnya terdapat ukiran sulur bunga yang halus, sementara bagian tengahnya dihiasi sederet huruf yang ditorehkan dengan presisi.

Mai mengambilnya menggunakan ibu jari dan telunjuk.

Cahaya matahari yang tersisa menyentuh permukaan perak itu. Ukirannya menjadi lebih jelas, memperlihatkan nama yang tertulis di sana.

Kisaragi Kanade.

Jari-jari Mai berhenti bergerak.

Untuk beberapa detik, ia tidak mendengar apa pun selain bunyi samar pendingin ruangan. Udara sejuk mengalir dari ventilasi di atas pintu, menyentuh kulit lengannya, tetapi ia justru merasakan telapak tangannya menghangat. Ia membalik pembatas buku itu, seolah-olah berharap menemukan tulisan lain di sisi belakang yang dapat menjelaskan mengapa benda tersebut berada di dalam novel Ren.

Tidak ada apa-apa.

Hanya permukaan perak yang halus, dengan beberapa goresan kecil akibat pemakaian.

Mai kembali menatap nama di bagian depan.

Kisaragi Kanade.

Bukan sekadar nama yang pernah ia baca dalam berkas kontrak, bukan pula nama yang selama ini harus ia ucapkan setiap kali seseorang memanggilnya di sekolah. Ukiran itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang terlalu pribadi dalam bentuk huruf-huruf tersebut—seolah-olah benda itu dibuat untuk dimiliki oleh seseorang, disimpan di antara halaman buku yang disukainya, lalu disentuh setiap kali ia kembali membaca cerita yang sama.

Pembatas buku itu bukan barang dekorasi yang sengaja diletakkan untuk mempertahankan citra keluarga. Ia tampak benar-benar pernah digunakan.

Mungkin Kanade asli pernah menandai halaman tertentu dengan benda tersebut. Mungkin ia menyelipkannya di antara halaman setelah membaca sampai larut malam. Mungkin ia membawanya ke perpustakaan, lalu meninggalkannya di dalam novel ketika seseorang memanggilnya untuk kembali berlatih biola.

Mai tidak mengetahui satu pun dari semua kemungkinan itu.

Namun, justru karena tidak mengetahui apa-apa, pikirannya mulai mengisi kekosongan dengan bayangan yang sulit dihentikan.

Ia membayangkan seorang gadis berusia empat belas tahun duduk di tempat tidur yang sama, membaca buku yang sama, dengan rambut dan wajah yang tidak pernah benar-benar dapat ia tiru. Seorang gadis yang pernah tinggal di kediaman ini, pernah dipanggil dengan nama itu oleh orang-orang yang sama, dan pernah memiliki tempat dalam kehidupan Ren jauh sebelum Mai datang.

Seorang gadis yang tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun.

Mai menelan ludah.

“...Jadi, buku ini milikmu juga, Kanade-san.”

Kalimat itu lolos dalam bisikan yang nyaris tidak terdengar.

Ia segera menutup mulutnya sendiri, seolah-olah baru saja melakukan sesuatu yang tidak sopan. Tidak ada seorang pun di dalam kamar, tetapi ia tetap merasa bersalah karena berbicara kepada nama yang terukir di benda itu.

Di luar jendela, angin menggoyangkan cabang pohon. Bayangan daun bergerak di dinding kamar, menyapu permukaan lemari dan meja belajar. Mai memandangi pembatas buku itu lagi, lalu menggeser ibu jarinya perlahan di atas huruf-huruf yang terukir.

Ia teringat hari ketika Ren memberinya pita satin merah muda buatan tangan. Pita itu sedikit miring ketika dipasangkan ke rambutnya, tetapi Ren tampak begitu gugup ketika menunggu reaksinya. Ia juga teringat kue stroberi yang mereka makan bersama di belakang gedung olahraga setelah hasil ujian diumumkan. Ren membelikannya kue mahal bukan karena ia diwajibkan melakukannya, melainkan karena ia ingin merayakan keberhasilan Mai.

Setiap kenangan itu masih terasa hangat.

Namun, kini kehangatan tersebut disusupi pertanyaan yang tidak berani ia ajukan.

Apakah Ren akan melakukan hal yang sama jika aku tidak mengenakan nama Kanade?

Mai memejamkan mata sebentar.

Ia ingin menyangkal pertanyaan itu. Ia ingin mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa Ren telah mengenalnya melalui setiap percakapan, setiap tawa, setiap kekhawatiran yang mereka bagi bersama. Ia ingin percaya bahwa hubungan mereka telah berkembang menjadi sesuatu yang tidak lagi bergantung pada identitas palsu yang mempertemukan mereka.

Tetapi bagaimana ia bisa memastikan semua itu ketika sejak awal Ren tidak pernah diberi kesempatan untuk mengenal dirinya yang sebenarnya?

Ren mengenalnya sebagai Kisaragi Kanade.

Ren mengkhawatirkannya sebagai Kisaragi Kanade.

Ren bangga kepadanya ketika ia memperoleh peringkat kedelapan sebagai Kisaragi Kanade.

Bahkan ketika Ren memeluknya pada malam demam, ketika ia menjaganya sepanjang malam dan menggenggam tangannya seolah-olah takut kehilangannya, nama yang ada di dalam pikirannya tetaplah nama itu.

Mai merasakan tenggorokannya mengencang.

Ia tidak bisa menyalahkan Ren. Pemuda itu tidak mengetahui kebohongan yang membungkus kehidupan mereka. Ia hanya berusaha memulihkan hubungan dengan adik yang diyakininya masih hidup, sambil mencoba memahami potongan-potongan masa lalu yang hilang akibat amnesia.

Kalau ada seseorang yang pantas disalahkan, orang itu adalah dirinya sendiri—atau setidaknya, itulah yang selalu dikatakan Mai kepada dirinya ketika rasa bersalah datang.

Namun, ada bagian kecil dalam dirinya yang tidak sanggup menerima kenyataan tersebut dengan tenang.

Bagian yang ingin dicintai bukan karena ia mampu memainkan peran dengan baik.

Bagian yang ingin mendengar namanya sendiri diucapkan oleh Ren.

Bagian yang ingin suatu hari nanti duduk di sampingnya tanpa harus mengingatkan diri sendiri bahwa tempat itu seharusnya milik orang lain.

Mai menunduk semakin dalam. Pembatas buku perak itu terasa dingin di antara jari-jarinya.

“Apa aku benar-benar punya tempat di sisimu, Onii-chan...?”

Tidak ada jawaban.

Hanya dengung pendingin ruangan dan bunyi jam kecil di atas meja yang menghitung detik demi detik.

Mai akhirnya meletakkan pembatas buku itu di atas seprai, tepat di samping novel yang terbuka. Ia menatap keduanya cukup lama, lalu menarik napas perlahan, berusaha menenangkan pikirannya.

Benda itu hanyalah kenangan lama.

Ia mengulang kalimat tersebut dalam hati, seolah-olah pengulangan dapat mengubahnya menjadi kebenaran yang tidak menyakitkan.

Pembatas buku itu mungkin tertinggal bertahun-tahun lalu. Ren mungkin meminjamkan novel tersebut tanpa menyadari bahwa barang peninggalan adiknya masih tersimpan di dalamnya. Tidak ada alasan untuk menganggap penemuan itu sebagai sesuatu yang disengaja. Tidak ada alasan untuk merasa tersingkir hanya karena sebuah benda masih menyimpan nama orang yang telah meninggal.

Ia tahu semua itu.

Ia juga tahu bahwa rasa cemburu yang mulai tumbuh di dalam dirinya tidak masuk akal.

Kanade asli tidak pernah memilih untuk meninggalkan dunia. Ia tidak pernah meminta Mai mengambil namanya, apalagi meminta seseorang berpura-pura menjadi dirinya. Ia adalah seorang gadis yang pernah hidup di rumah itu, mencintai keluarganya dengan caranya sendiri, dan menanggung penderitaan yang tidak seharusnya ditanggung seorang anak.

Mai telah membaca diarinya. Ia tahu betapa berat kehidupan Kanade sebelum kematiannya. Ia tahu gadis itu pernah berusaha keras memenuhi harapan ayahnya, bahkan ketika tubuhnya mulai menyerah.

Bagaimana mungkin Mai merasa iri kepada seseorang yang telah mengalami semua itu?

Namun, perasaan tidak selalu tunduk pada pengetahuan.

Mai tidak membenci Kanade. Justru karena ia mulai memahami penderitaan gadis itu, ia semakin sulit mengabaikan keberadaan sang pemilik nama yang sesungguhnya. Kanade bukan hanya seseorang yang telah meninggal. Ia masih hadir melalui benda-benda yang tersimpan di kediaman ini, melalui foto-foto lama, melalui ruangan musik yang terkunci, dan melalui ingatan Ren yang perlahan-lahan berusaha kembali.

Mai hanya memiliki kontrak yang menghitung hari.

Dan semakin lama ia tinggal di sini, semakin sulit baginya membedakan antara kebahagiaan yang benar-benar ia miliki dan kebahagiaan yang ia peroleh karena diberi kesempatan menempati kehidupan orang lain.

Ia mengangkat pembatas buku itu sekali lagi. Sesaat, ia hampir memasukkannya ke dalam saku dan membawanya kepada Ren. Ia bisa bertanya dari mana benda itu berasal. Ia bisa mendengar cerita tentang Kanade yang mungkin belum pernah ia ketahui. Ia bahkan bisa mengamati wajah Ren ketika mengenali ukiran tersebut, mencoba memahami bagian masa lalu yang masih tersisa dalam dirinya.

Namun, pertanyaan-pertanyaan lain segera menyusul.

Bagaimana jika Ren mengenang sesuatu yang selama ini tidak ia ingat?

Bagaimana jika benda itu membangkitkan kesedihan yang lebih besar?

Bagaimana jika Ren bertanya mengapa Mai begitu memperhatikan barang-barang peninggalan adiknya?

Dan yang paling menakutkan: bagaimana jika ia melihat pembatas buku itu lalu menyadari bahwa gadis yang duduk di hadapannya bukanlah orang yang seharusnya berada di sana?

Mai menutup jari-jarinya di sekeliling benda perak itu.

Ia tidak ingin menyakiti Ren. Ia tidak ingin memaksanya kembali menghadapi kenangan yang belum siap ia pahami. Tetapi, di balik alasan-alasan yang terdengar masuk akal itu, Mai juga mengetahui satu hal yang lebih sulit diakui.

Ia takut.

Takut jika Ren mulai mengingat Kanade dengan lebih jelas, ia akan kehilangan tempat yang selama ini perlahan tumbuh di antara mereka. Takut jika semua kehangatan yang telah mereka bangun ternyata hanya sebuah jembatan menuju masa lalu yang tidak pernah menjadi miliknya.

Dan ia lebih takut lagi pada kemungkinan bahwa Ren akan tetap menyayanginya setelah mengetahui kebenaran, tetapi dengan cara yang sama sekali berbeda dari yang diam-diam ia harapkan.

Mai mengembuskan napas yang bergetar.

“Aku tidak boleh egois,” bisiknya kepada diri sendiri.

Ia meletakkan pembatas buku itu kembali di antara halaman-halaman novel, tepat di tempat semula. Kemudian ia menutup sampulnya dengan hati-hati, memastikan ujung perak itu tidak lagi terlihat.

Gerakannya begitu lembut, seolah-olah ia sedang mengembalikan sesuatu ke tempat yang memang menjadi haknya.

Buku itu kembali tampak seperti novel biasa.

Tidak ada nama yang terlihat. Tidak ada tanda yang menunjukkan bahwa halaman-halamannya pernah menyimpan kenangan seseorang.

Mai menaruhnya di atas meja belajar, lalu duduk tegak dan membuka buku pelajaran yang seharusnya ia baca sejak tadi. Ia mencoba memusatkan perhatian pada soal-soal matematika, tetapi angka-angka di halaman tersebut berulang kali kehilangan bentuk ketika pikirannya kembali kepada ukiran perak itu.

Setelah beberapa menit, ia menutup buku pelajaran dan memijat pelipis.

“Aku benar-benar harus menyelesaikan tugasku,” gumamnya.

Lihat selengkapnya