Air mengalir deras dari pancuran, menghantam bahu Mai dan merambat turun melewati punggungnya. Uap perlahan memenuhi kamar mandi pribadi di sayap timur Kediaman Kisaragi, mengaburkan permukaan cermin besar di atas wastafel marmer. Di luar jendela buram yang tinggi, malam telah menelan taman dengan pepohonan yang diam membeku di bawah cahaya lampu lanskap. Sesekali, suara angin menyusup melalui celah ventilasi, tipis dan dingin, sebelum tenggelam dalam gemuruh air.
Mai berdiri tanpa bergerak.
Rambut hitamnya basah dan melekat di pipi. Kedua tangannya menggantung lemas di sisi tubuh, sementara air hangat terus membasahi piyama tipis yang dikenakannya. Ia seharusnya sudah selesai mandi sejak beberapa menit lalu. Ia seharusnya mematikan pancuran, mengeringkan rambut, lalu kembali ke kamar dengan senyum kecil yang biasa ia gunakan setiap kali berpapasan dengan pelayan rumah.
Namun, tubuhnya seolah lupa bagaimana cara bergerak.
Di benaknya, sebuah benda kecil berwarna perak terus berputar.
Pembatas buku.
Permukaannya yang berkilau. Ukirannya yang rapi. Nama yang tertera di sana, dibuat dengan huruf-huruf elegan yang tidak mungkin disalahartikan.
Kisaragi Kanade.
Mai memejamkan mata rapat-rapat.
Nama itu tetap ada.
Bahkan ketika ia berusaha mengusirnya dengan suara air, bayangan ukiran tersebut terus muncul di balik kelopak matanya. Ia kembali melihat pembatas buku itu tergeletak di atas halaman novel klasik yang dipinjamkan Ren kepadanya. Ia membayangkan tangan mungil seorang gadis berusia empat belas tahun menyelipkannya di antara halaman, mungkin setelah selesai membaca pada suatu sore yang tenang.
Mungkin Kanade menyukai buku itu.
Mungkin Ren yang memberikannya.
Mungkin mereka pernah duduk berdampingan, membaca buku yang sama, lalu memperdebatkan akhir ceritanya. Mungkin Ren pernah mengacak rambut adiknya sambil tertawa karena gadis itu terlalu serius membicarakan tokoh fiksi.
Mungkin ada begitu banyak kenangan yang tidak pernah bisa diingat Ren, tetapi tetap tersimpan dalam benda-benda yang ditinggalkan Kanade.
Dan Mai tidak memiliki satu pun dari kenangan itu.
Ia hanya memiliki sebuah kontrak.
Kontrak yang memberinya nama orang lain, seragam sekolah orang lain, kamar tidur orang lain, bahkan tempat di sisi seorang pemuda yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan orang lain.
Mai menundukkan kepala. Air mengalir melewati ujung hidungnya dan jatuh ke lantai, bercampur dengan tetesan yang merembes dari dagunya.
Jangan bodoh, Mai.
Ia mengucapkannya dalam hati dengan nada tegas, seperti ketika dahulu ia memaksa dirinya tetap tersenyum meski kakinya pegal setelah berdiri berjam-jam di maid café.
Kamu tahu dari awal pekerjaan ini seperti apa.
Ia tahu namanya bukan Kisaragi Kanade. Ia tahu dirinya bukan adik perempuan Ren. Ia tahu setiap kali Ren memanggilnya dengan nama itu, ada sebuah kebohongan yang berdiri di antara mereka, setipis kaca tetapi cukup kuat untuk memisahkan dua dunia.
Dan ia juga tahu bahwa dirinya dibayar untuk memainkan peran tersebut.
Lima puluh persen gajinya telah dipotong. Gerak-geriknya diawasi. Setiap perubahan perilaku harus dipertanggungjawabkan kepada Saito. Bahkan kedekatan yang terasa begitu alami antara dirinya dan Ren dapat dianggap sebagai pelanggaran apabila tidak sesuai dengan instruksi.
Lalu, mengapa ia masih berharap?
Mengapa ia terus mengingat cara Ren menggenggam tangannya ketika ia ketakutan, bagaimana pemuda itu menunggu di depan kelas hanya untuk memberinya minuman stroberi, atau bagaimana ia pernah berlutut di samping tempat tidurnya sepanjang malam ketika demam membuat tubuhnya tidak berdaya?
Mengapa ia mengingat semua itu sebagai sesuatu yang berharga bagi dirinya sendiri, bukan sekadar bagian dari pekerjaan?
Mai mengangkat kedua tangan, menutupi wajah.
“Bodoh,” bisiknya.
Suara itu hampir hilang ditelan air.
“Aku benar-benar bodoh.”
Ia mematikan pancuran setelah beberapa saat, tetapi tidak segera mengambil handuk. Keheningan yang menyusul justru membuat isi kepalanya terdengar semakin jelas. Air masih menetes dari ujung rambutnya ke lantai, sementara uap hangat mengembun di dinding dan kaca.
Mai meraih handuk besar dari rak, menyampirkannya di bahu, lalu berjalan menuju wastafel. Kakinya terasa berat ketika ia berdiri di depan cermin. Pantulan wajahnya tampak samar di balik lapisan embun, dengan mata yang memerah dan bibir yang terkatup rapat.
Ia mengusap permukaan cermin menggunakan telapak tangan.
Wajahnya perlahan menjadi jelas.
Wajah seorang gadis enam belas tahun.
Bukan wajah Kanade.
Namun, selama beberapa bulan terakhir, ia telah mempelajari cara tersenyum seperti gadis itu, cara menundukkan kepala dengan anggun, cara memanggil Ren dengan nada manis yang terdengar begitu wajar di telinga orang-orang di rumah ini. Ia bahkan telah terbiasa melihat namanya sendiri tergantikan oleh nama yang tercetak di buku pelajaran, dokumen sekolah, dan jadwal harian.
Kadang-kadang, ketika bangun tidur, ia membutuhkan beberapa detik untuk mengingat siapa dirinya sebelum mengenakan seragam.
Hal itu membuatnya takut.
Bukan karena ia khawatir kehilangan kemampuan berakting. Ia tahu ia bisa memainkan peran dengan baik. Pengalaman bertahun-tahun menghadapi pelanggan di Akihabara telah mengajarinya bagaimana membaca ekspresi, mengubah nada suara, dan menyembunyikan kelelahan di balik senyum yang cerah.
Yang membuatnya takut adalah kenyataan bahwa ia mulai menginginkan kehidupan yang tidak pernah dijanjikan kepadanya.
Ia ingin mendengar Ren memanggilnya bukan karena ia sedang memainkan peran adik perempuan, melainkan karena pemuda itu memang ingin berbicara dengannya.
Ia ingin duduk di samping Ren tanpa harus menghitung jarak yang diizinkan Saito.
Ia ingin membuatkan bekal makan siang untuknya, mendengarkan keluhannya tentang ayahnya, melihat senyumnya ketika berhasil menyelesaikan soal sulit, dan mungkin—hanya mungkin—menjadi seseorang yang akan ia cari ketika hari-harinya terasa berat.
Ia ingin menjadi orang yang membuat Ren bahagia.
Bukan sebagai Kanade.
Sebagai dirinya sendiri.
Keinginan itu terasa begitu sederhana sampai-sampai Mai hampir tertawa. Namun, ketika ia mencoba membayangkan dirinya berdiri di hadapan Ren tanpa seragam, tanpa nama palsu, tanpa seluruh kebohongan yang melindungi mereka, dadanya langsung terasa sesak.
Apa yang akan terjadi ketika Ren mengetahui semuanya?
Bahwa gadis yang selama ini ia genggam tangannya bukanlah adiknya.
Bahwa senyum yang membuatnya merasa aman berasal dari seseorang yang dibayar untuk berada di sisinya.
Bahwa perempuan yang ia percayai telah membiarkannya membangun kembali kehidupannya di atas identitas yang dicuri.
Dan yang paling menyakitkan, bahwa perempuan itu telah jatuh cinta kepadanya.
Mai menggigit bibir bawahnya sampai rasa perih menyadarkannya kembali.
“Tidak boleh,” katanya kepada pantulannya sendiri. “Jangan berharap terlalu jauh.”
Ia mencoba tersenyum, mengangkat kedua sudut bibirnya seperti yang biasa dilakukannya ketika Ren muncul di ambang pintu.
Hasilnya buruk.
Senyum itu bergetar, lalu runtuh sebelum sempat terbentuk sempurna.
Mai menunduk. Jemarinya mencengkeram tepi wastafel begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Aku bahkan belum pernah memberitahunya siapa aku sebenarnya.”
Kalimat itu keluar begitu lirih sehingga ia sendiri nyaris tidak mendengarnya.
Ia teringat malam ketika Ren menemukan dirinya pingsan di koridor. Ia teringat tangan pemuda itu yang terus menggenggam tangannya, suara serak yang berulang kali meyakinkan bahwa ia tidak akan ditinggalkan sendirian. Ia teringat bagaimana Ren menatapnya setelah ia bangun, seolah kehadirannya adalah sesuatu yang begitu penting sampai-sampai ia tidak tahu harus berkata apa.
Saat itu, Mai hampir mempercayai bahwa ia benar-benar memiliki tempat di sisi Ren.
Sekarang, kenangan itu terasa seperti pisau yang berputar perlahan.
Ren mungkin tidak akan pernah mengetahui apakah ia menyukai Mai yang sesungguhnya. Ia bahkan belum diberi kesempatan untuk mengenal gadis itu.
Selama ini, ia hanya mengenal Kanade—gadis yang disajikan kepadanya melalui cerita keluarga, dokumen palsu, dan sebuah kontrak yang dirancang tanpa sepengetahuannya.
Bagaimana mungkin Mai mengharapkan Ren menerima dirinya, jika ia sendiri terus menyembunyikan orang yang ingin diterima itu?
Namun, bagaimana ia bisa mengungkapkan semuanya tanpa menghancurkan satu-satunya hubungan yang kini terasa berarti baginya?
Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban yang berani ia hadapi.
Lutut Mai akhirnya menyerah.
Ia meluncur turun hingga terduduk di lantai kamar mandi, menyandarkan punggung pada lemari kecil di bawah wastafel. Handuk yang melilit bahunya bergeser, tetapi ia tidak berusaha membetulkannya. Ubin dingin menyentuh telapak kakinya yang telanjang, kontras dengan sisa hangat air yang masih menempel pada kulitnya.
Ia menarik kedua lutut ke dada.
Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada alasan untuk mempertahankan ekspresi ceria.
Tidak ada Ren yang perlu ditenangkan.
Tidak ada pelayan yang harus diyakinkan bahwa ia baik-baik saja.
Tidak ada Saito yang akan menilai apakah air matanya sesuai dengan peran yang diberikan kepadanya.
Mai menutup mulut dengan punggung tangan.
Isak pertama lolos begitu saja.
Ia segera menekannya, seolah masih takut seseorang akan mendengar. Bahunya bergetar. Napasnya tersendat, masuk terlalu cepat lalu terputus sebelum sempat keluar dengan teratur. Air mata menuruni pipinya, jatuh ke punggung tangan yang menutupi bibirnya.
Ia mencoba menarik napas panjang, tetapi yang keluar justru suara tangis yang pecah.
“Maaf…”
Satu kata itu menggantung di udara lembap.
“Maafkan aku…”
Ia tidak tahu kepada siapa ia sedang meminta maaf.
Kepada Ren, karena telah membohonginya.
Kepada Kanade, karena menggunakan nama dan tempat yang seharusnya menjadi miliknya.
Atau kepada dirinya sendiri, karena telah begitu lama meyakini bahwa ia bisa menjaga batas antara pekerjaan dan perasaan.
Mai menekan kedua telapak tangan ke mata. Ia teringat saat Ren memakaikan pita satin merah muda yang dibuatnya sendiri. Cara pemuda itu menatapnya dengan canggung, lalu mengatakan bahwa ia berharap Kanade selalu bahagia. Saat itu, Mai merasa seolah ada sesuatu yang hangat tumbuh di dalam dadanya.
Ia masih menyimpan pita itu.
Masih memakainya sesekali.
Dan setiap kali melihatnya, ia merasa bahagia sekaligus bersalah.
Kalau aku bukan Kanade, apakah dia akan tetap membuatkan pita itu untukku?
Pertanyaan itu menyakitkan karena tidak mungkin dijawab.
Ia teringat kue stroberi yang mereka bagi berdua setelah hasil ujian keluar. Cara Ren tersenyum ketika mengatakan bahwa ia bangga kepadanya. Ia teringat bagaimana pemuda itu tidak pernah mengejeknya ketika ia salah menjawab soal, bagaimana ia bersabar menjelaskan sesuatu yang tidak dipahami Mai, dan bagaimana ia selalu menyadari ketika senyum di wajahnya mulai terasa dipaksakan.
Semua perhatian itu nyata.
Mai tahu bahwa Ren tidak sedang berpura-pura ketika ia mengusap kepalanya atau menggenggam tangannya. Tidak ada alasan untuk meragukan ketulusan pemuda itu dalam momen-momen tersebut.
Namun, ketulusan tidak selalu berarti apa yang ingin dipercayai seseorang.
Ren mungkin sungguh-sungguh menyayangi gadis yang berdiri di sisinya. Hanya saja, gadis yang ia kira sebagai Kanade bukanlah orang yang sebenarnya.
Dan Mai tidak tahu apakah kasih sayang itu akan tetap ada ketika nama palsu tersebut akhirnya runtuh.
Tangisnya semakin keras. Ia membenamkan wajah di antara kedua lutut, menggenggam kain handuk hingga kusut di antara jemarinya.
“Aku tahu aku bukan dia,” bisiknya dengan suara patah-patah. “Aku tahu dari awal…”
Ia menarik napas yang bergetar.
“Tapi kenapa aku malah…”
Kalimatnya terputus.
Karena ia telah membiarkan dirinya jatuh cinta.
Karena ia telah mulai berharap.
Karena selama beberapa bulan terakhir, di tengah rumah besar yang dingin dan kehidupan yang dipenuhi pengawasan, Ren telah menjadi satu-satunya orang yang membuatnya merasa bahwa dirinya lebih dari sekadar pekerja kontrak.
Ia tidak pernah merencanakan itu.
Tidak pernah membayangkan bahwa pemuda yang seharusnya ia dampingi selama tiga ratus enam puluh lima hari akan menjadi seseorang yang begitu sulit ditinggalkan.
Mai mengusap pipinya dengan kasar, tetapi air mata baru terus menggantikan yang lama.
“Tidak adil,” gumamnya.
Ia tidak tahu apakah ia sedang membicarakan dirinya sendiri atau Ren.
Tidak adil jika ia berharap Ren mencintainya, sementara pemuda itu bahkan belum mengetahui namanya yang sebenarnya.
Tidak adil jika ia merasa cemburu kepada seorang gadis yang telah meninggal, padahal gadis itu sendiri tidak pernah meminta untuk dijadikan saingannya.
Tidak adil pula jika ia terus menikmati kebaikan Ren tanpa memberinya kesempatan untuk memutuskan apakah ia masih ingin berada di sisinya setelah mengetahui kebenaran.
Mai menggigit bibirnya lagi, kali ini untuk menahan suara tangis yang kembali naik.
“Aku minta maaf, Kanade-san…”
Nama itu membuat dadanya semakin sesak.
Ia tidak pernah mengenal Kanade secara langsung. Yang ia ketahui tentang gadis itu hanyalah potongan-potongan tulisan diari, foto-foto lama, dan kenangan yang masih tertinggal di rumah ini. Namun, semakin banyak yang ia ketahui, semakin sulit baginya menganggap Kanade sekadar pemilik identitas yang sedang ia pinjam.
Kanade pernah kesakitan.
Pernah takut.
Pernah berusaha begitu keras sampai tubuhnya tidak sanggup bertahan.
Dan sekarang, Mai menggunakan nama gadis itu untuk memperoleh sesuatu yang bahkan tidak pernah sempat dinikmatinya: kesempatan untuk berada di sisi Ren.
Rasa bersalah itu terasa lebih berat daripada ancaman Saito.
Mai membiarkan tangisnya berlangsung sampai tubuhnya kehabisan tenaga. Tidak ada suara yang menenangkannya. Tidak ada tangan yang mengusap kepalanya. Tidak ada siapa pun yang berkata bahwa ia sudah bekerja keras dan boleh beristirahat.
Hanya suara tetesan air dari ujung rambutnya, detak jam kecil di atas rak, dan napasnya sendiri yang perlahan kembali teratur.
Ketika akhirnya ia mengangkat kepala, matanya bengkak dan kulit di sekitar hidungnya memerah.
Ia memandangi kedua tangannya.
Tangan yang sama pernah melayani pelanggan di Akihabara. Tangan yang sama kini menulis nama Kisaragi Kanade di buku sekolah. Tangan yang sama telah menggenggam tangan Ren berkali-kali, menerima kehangatan yang tidak pernah berani ia minta.
Mai mengepalkan jari-jarinya perlahan, kemudian melepaskannya lagi.
“Aku harus berhenti berharap.”
Kali ini suaranya lebih tenang.
Bukan karena ia telah menemukan jawaban, melainkan karena ia terlalu lelah untuk terus bertengkar dengan dirinya sendiri.
Ia tidak bisa mengubah kontrak yang telah ditandatanganinya. Ia juga belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan kebenaran. Selama masih berada di rumah ini, ia harus menjalankan tugasnya dengan baik, menjaga Ren sesuai kebutuhan pemulihannya, dan memastikan bahwa tidak ada masalah baru yang membuat Saito mengambil tindakan lebih jauh.
Tetapi ia bisa berhenti membangun masa depan yang tidak pernah dijanjikan kepadanya.
Ia bisa berhenti menafsirkan setiap sentuhan sebagai tanda bahwa dirinya memiliki tempat istimewa.
Ia bisa berhenti berharap bahwa suatu hari nanti Ren akan memilihnya, meskipun ia tidak tahu siapa yang sebenarnya sedang dipilih.
Mulai besok, ia akan menjaga jarak.
Tetap tersenyum ketika harus tersenyum. Tetap membantu Ren belajar. Tetap berada di sisinya selama dibutuhkan.
Namun, ia tidak akan lagi mencari alasan untuk memperpanjang percakapan, tidak akan membiarkan dirinya terlalu larut ketika Ren menggenggam tangannya, dan tidak akan menjadikan setiap kebaikan kecil sebagai alasan untuk berharap.
Ketika hari terakhir kontrak tiba, ia akan pergi.
Ia akan mengembalikan nama Kanade kepada keluarga Kisaragi dan kembali menjadi Miyauchi Mai, gadis biasa yang pernah bekerja di sebuah maid café di Akihabara.
Dan jika setelah itu Ren tidak pernah mencarinya, setidaknya ia tidak perlu menyaksikan sendiri bagaimana pemuda itu menyadari bahwa perempuan yang selama ini ia sayangi hanyalah sebuah kebohongan.
Mai memejamkan mata.
Keputusan itu seharusnya membuatnya merasa lega.
Namun, ketika ia membayangkan hari ketika ia harus melepaskan tangan Ren untuk terakhir kalinya, dadanya kembali terasa sakit.
Ia menekan telapak tangan ke mulut, menahan satu isak terakhir.
“Maafkan aku, Onii-chan.”
Kali ini, tidak ada senyum yang menyertai panggilan itu.
Ketika Mai akhirnya keluar dari kamar mandi, jam digital di dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh menit.
Rambutnya telah dikeringkan seadanya, dan ia mengenakan piyama bersih berwarna pucat. Matanya masih sedikit sembap, sehingga ia menghabiskan beberapa menit tambahan di depan cermin untuk memastikan bekas tangisnya tidak terlalu kentara.
Ia menempelkan kompres dingin pada kedua kelopak mata, menunggu sampai kulitnya tidak lagi terasa panas, lalu berlatih tersenyum.
Satu kali.
Dua kali.
Pada percobaan ketiga, ia berhasil membentuk senyum kecil yang tampak cukup wajar.
Tidak selebar biasanya, tetapi setidaknya tidak akan membuat siapa pun langsung bertanya.
Ketukan terdengar di pintu.
Mai terkejut hingga kompres yang dipegangnya hampir jatuh.
“Kanade?”
Suara Ren terdengar dari luar.
Jantungnya berdegup keras. Ia buru-buru meletakkan kompres di atas meja rias, memeriksa wajahnya sekali lagi, lalu berjalan menuju pintu.
“Iya, Onii-chan. Tunggu sebentar.”
Ia membuka pintu.
Ren berdiri di koridor dengan pakaian rumah berwarna gelap. Di satu tangannya terdapat sebuah buku, sementara tangan yang lain dimasukkan ke saku celana. Rambut hitamnya sedikit berantakan, seolah ia baru saja menghabiskan waktu cukup lama di ruang kerja.
Begitu melihatnya, Ren mengangkat alis tipis.
“Kau belum tidur?”
“Aku baru selesai mandi.” Mai tersenyum sopan. “Ada yang bisa kubantu?”
Pertanyaan itu terdengar wajar.
Terlalu wajar.
Ren menurunkan pandangannya sejenak, lalu kembali menatap wajahnya.
“Aku ingin bertanya tentang tugas bahasa Jepangmu. Tadi kau bilang masih ada bagian yang belum kau pahami, bukan?”
Mai sempat terdiam.