Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #60

Ulang Tahun yang Ditukar

Pukul tujuh malam, ruang makan utama Kediaman Kisaragi telah disiapkan dengan ketelitian yang nyaris menyerupai persiapan sebuah jamuan kenegaraan.

Taplak putih menutupi meja panjang yang mengilap. Peralatan makan perak disusun dengan jarak yang sama, gelas-gelas kristal berkilau di bawah lampu gantung, sementara rangkaian bunga putih dan merah muda ditempatkan di antara piring-piring porselen. Di ujung meja, sebuah kue ulang tahun berwarna putih berdiri di atas tatakan perak, dihiasi bunga-bunga gula dan lilin kecil yang belum dinyalakan.

Tidak ada balon.

Tidak ada pita warna-warni yang menjuntai dari langit-langit.

Tidak ada kartu ucapan dengan tulisan tangan yang berantakan atau hadiah-hadiah yang dibungkus dengan kertas cerah. Tidak ada pula suara tawa yang biasanya mengisi sebuah pesta ulang tahun.

Segala sesuatu berada di tempatnya, begitu sempurna sampai-sampai ruangan itu tampak seperti belum pernah digunakan untuk merayakan sesuatu yang benar-benar membahagiakan.

Mai berdiri di depan cermin besar di kamarnya ketika seorang pelayan perempuan merapikan lipatan gaun putih yang dikenakannya. Gaun itu memiliki potongan sederhana dengan kerah kecil dan lengan panjang, dipilih Reiko karena dianggap sesuai dengan citra Kanade semasa hidup. Rambut Mai disisir rapi, sebagian diikat ke belakang dengan aksesori mutiara, sementara beberapa helai dibiarkan jatuh di sisi wajahnya.

“Sudah selesai, Nona Kanade,” kata pelayan itu sambil mundur selangkah. “Nyonya meminta Anda turun sebelum para tamu keluarga tiba.”

Mai mengangguk.

“Terima kasih.”

Ia memandang pantulan dirinya sendiri.

Gaun itu indah. Terlalu indah untuk dipakai seseorang yang hanya ingin duduk bersama keluarga, meniup lilin, kemudian tertawa karena krim kue menempel di ujung hidungnya.

Namun, malam ini bukan tentang apa yang ia inginkan.

Malam ini adalah ulang tahun Kisaragi Kanade.

Gadis yang telah meninggal.

Gadis yang namanya kini tertera di setiap dokumen sekolah Mai, yang fotonya tergantung di salah satu sudut ruang keluarga, dan yang kehidupannya harus ia tiru agar seorang pemuda dapat bertahan menghadapi kehilangan.

Mai merapikan ujung lengan gaunnya.

Ia teringat pembatas buku perak yang ditemukan di dalam novel beberapa hari lalu. Nama Kanade masih terukir di sana, tidak berubah meskipun waktu telah berjalan bertahun-tahun. Ia juga teringat keputusannya sendiri untuk menjaga jarak dari Ren, keputusan yang ternyata jauh lebih sulit dijalankan daripada yang dibayangkannya ketika menangis sendirian di kamar mandi.

Ia belum bertemu Ren sejak percakapan singkat di depan kamarnya semalam.

Tidak ada pesan darinya pagi ini. Tidak ada ketukan di pintu untuk mengajaknya belajar. Tidak ada pula kebiasaan kecil yang biasanya membuat Mai merasa bahwa ia benar-benar menjadi bagian dari kehidupan seseorang.

Ia seharusnya merasa lega.

Jarak akan membantunya mengingat batas.

Namun, ketika ia menyadari bahwa Ren tidak muncul sepanjang pagi, ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa kehilangan.

Mai menekan bibirnya rapat-rapat.

“Bukan waktunya memikirkan itu,” gumamnya.

Ia mengangkat dagu, mengatur napas, lalu berbalik menuju pintu.

Di koridor, dua pelayan berdiri menunggu. Mereka segera membungkuk ketika Mai keluar dari kamar. Salah seorang di antaranya berjalan beberapa langkah di depannya, sementara yang lain mengikuti dari belakang.

Langkah mereka teratur di atas lantai kayu yang dipoles mengilap.

Semakin dekat ke ruang makan utama, semakin jelas aroma hidangan yang memenuhi lorong: sup bening, ikan panggang, daging yang dimasak dengan saus anggur, dan roti hangat. Aroma itu seharusnya menggugah selera. Namun, bagi Mai, semuanya terasa seperti bagian dari pertunjukan yang telah dipersiapkan terlalu lama.

Ketika ia tiba di ambang pintu, seorang pelayan membukakan pintu ganda.

“Putri Kisaragi telah tiba.”

Kalimat itu meluncur dari mulut pelayan dengan nada resmi.

Mai merasakan jantungnya tersentak.

Putri Kisaragi.

Ia melangkah masuk tanpa mengubah ekspresi.

Souichiro telah duduk di ujung meja, mengenakan setelan gelap dengan dasi yang terpasang sempurna. Di sebelah kanannya, Reiko tampak anggun dalam gaun malam berwarna krem. Rambutnya disanggul rapi, dan sepasang anting mutiara menghiasi telinganya.

Ren duduk di sisi kiri meja, sedikit lebih jauh dari kedua orang tuanya.

Pemuda itu mengenakan kemeja hitam dengan kerah terbuka satu kancing. Wajahnya tampak tenang, tetapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Mai berhenti sesaat.

Ren sedang memperhatikannya.

Bukan dengan senyum lembut yang biasa ia berikan ketika melihat Mai mengenakan seragam sekolah. Bukan pula dengan tatapan kosong seseorang yang sedang berusaha mengingat masa lalu.

Ia menatapnya dengan keseriusan yang sulit dimengerti.

Mai segera menunduk kecil.

“Maaf membuat kalian menunggu.”

“Tidak masalah,” jawab Reiko. Matanya menelusuri penampilan Mai dari ujung rambut hingga lipatan gaunnya. “Gaun itu cocok untukmu. Berdirilah di samping Ayahmu sebelum makan malam dimulai.”

Mai mematuhi instruksi tersebut.

Ia berjalan ke tempat yang telah disiapkan, tepat di samping Souichiro. Sebuah kursi diletakkan di sana, sedikit terpisah dari kursi Ren. Jaraknya tidak jauh, tetapi cukup untuk membuat Mai menyadari bahwa ia tidak akan dapat duduk berdampingan dengan Ren seperti ketika mereka makan bersama pada hari-hari biasa.

Souichiro melirik jam tangannya.

“Baik. Kita mulai.”

Ia memberi isyarat kepada pelayan yang berdiri di dekat pintu.

Lampu utama ruangan diredupkan. Cahaya lilin di atas meja menjadi lebih menonjol, memantul pada gelas-gelas kristal dan permukaan perak. Seorang pelayan membawa korek api panjang, lalu menyalakan lilin-lilin kecil di atas kue ulang tahun.

Satu demi satu, api menyala.

Mai memandang nyala-nyala kecil itu.

Ada empat belas lilin.

Usia Kanade ketika meninggal.

Tenggorokannya terasa kering.

Reiko melipat tangan di atas meja, menunggu sampai semua lilin menyala sempurna. Setelah itu, ia mengangkat dagu sedikit ke arah Mai.

“Kanade, berdirilah di depan kue.”

Mai menurut.

Kursinya bergeser pelan ketika ia bangkit. Bunyi kecil itu terdengar jelas di tengah keheningan. Ia berjalan mengitari meja dan berhenti di depan kue ulang tahun, berhadapan dengan keempat belas lilin yang bergetar tertiup aliran udara dari pendingin ruangan.

“Seperti yang selalu kita lakukan,” kata Reiko. “Ucapkan permohonanmu sebelum meniup lilin.”

Mai memandangi kue itu.

Ia tidak tahu bagaimana Kanade asli menjalani ulang tahunnya. Apakah gadis itu menyukai kue stroberi? Apakah ia pernah tertawa ketika lilinnya hampir padam sebelum sempat ditiup? Apakah ia pernah meminta sesuatu yang sederhana, seperti waktu luang untuk membaca buku atau kesempatan beristirahat dari latihan biola?

Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan pasti.

Yang ia ketahui hanya bahwa Kanade pernah berusaha keras menyenangkan keluarganya, bahkan ketika tubuhnya sendiri mulai menyerah.

Mai menelan ludah.

“Aku berharap…”

Suaranya hampir tersangkut.

Ia berhenti sejenak, memaksa bibirnya melanjutkan kalimat yang telah ia hafalkan sebelumnya.

“Aku berharap tahun ini membawa kebahagiaan bagi keluarga Kisaragi. Semoga Ayah dan Ibu selalu sehat, dan semoga Onii-chan bisa terus pulih.”

Ia menundukkan kepala sedikit.

“Terima kasih karena selalu menjagaku.”

Kalimat terakhir itu terasa seperti sesuatu yang patah di dalam dadanya.

Ia tahu Souichiro tidak pernah menjaganya. Ia tahu Reiko tidak pernah menjadi ibunya. Dan ia tahu Ren telah memberikan perhatian yang jauh lebih besar daripada yang dapat ia jelaskan dengan kata-kata.

Namun, dalam peran ini, ia harus mengucapkan terima kasih kepada keluarga yang tidak pernah menjadi miliknya.

Souichiro mengangguk singkat.

Lihat selengkapnya