Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #61

Kebimbangan

Pukul sepuluh lewat empat puluh menit, Ren kembali ke ruang kerja pribadinya.

Ia telah mengganti pakaian formalnya dengan kemeja sederhana dan celana rumah. Jas yang dikenakannya saat makan malam tergantung di sandaran kursi, sementara dasinya diletakkan di atas meja.

Ruangan itu tampak sama seperti sebelumnya, tetapi sekarang ada satu benda yang menunggu di atas permukaan kayu: sebuah map tipis berwarna abu-abu dengan label arsip yang telah ia telusuri sejak malam sebelumnya.

Ia tidak menemukannya melalui pencarian biasa.

Setelah membaca rujukan dalam catatan pemulihan, Ren menghubungi bagian administrasi keluarga dengan alasan memerlukan salinan dokumen terkait pengaturan perawatan selama masa koma. Ia menggunakan kewenangannya sebagai ahli waris untuk meminta daftar berkas yang disimpan dalam arsip terpisah.

Petugas administrasi sempat mengatakan bahwa beberapa dokumen memerlukan persetujuan Saito.

Ren tidak mendesak melalui telepon.

Ia hanya meminta daftar nomor referensi dan lokasi penyimpanan, lalu mengirimkan permintaan tertulis untuk memeriksa dokumen yang menyangkut kehidupannya sendiri.

Beberapa menit kemudian, ia menerima konfirmasi bahwa satu berkas dapat diperlihatkan di ruang arsip dengan pengawasan staf administrasi.

Berkas itulah yang kini berada di atas mejanya.

Ren duduk, membuka map tersebut, lalu mengeluarkan halaman pertama.

Judulnya dicetak dengan huruf formal:

Pengaturan Pendampingan dan Penyesuaian Identitas Keluarga Selama Masa Pemulihan Pasien.

Ia membaca kalimat itu perlahan.

Kemudian membalik halaman.

Ada ringkasan kondisi Ren setelah bangun dari koma, catatan konsultasi psikologis, dan beberapa rekomendasi mengenai lingkungan yang dianggap dapat mengurangi tekanan emosional. Bahasa yang digunakan sangat teknis. Setiap kalimat disusun sedemikian rupa sehingga keputusan yang dibuat tampak masuk akal dan terukur.

Namun, di halaman ketiga, terdapat bagian yang membuat Ren berhenti membaca.

Tujuan penugasan: mempertahankan kontinuitas figur keluarga yang dikenali pasien serta meminimalkan risiko disorientasi emosional akibat kehilangan.

Di bawahnya tercantum sebuah nama.

Miyauchi Mai.

Ren tidak bergerak.

Matanya terpaku pada dua kata itu.

Ia membacanya sekali lagi, kemudian mengangkat halaman tersebut lebih dekat ke lampu meja, seolah jarak dapat mengubah huruf-huruf yang tercetak di sana.

Miyauchi Mai.

Nama yang tidak pernah ia dengar di rumah ini.

Nama yang tidak pernah digunakan ketika gadis itu diperkenalkan kepadanya sebagai Kanade.

Nama yang sekarang berdiri di antara dirinya dan seluruh kehidupan yang selama ini ia yakini sebagai kenyataan.

Ren menurunkan kertas perlahan.

Jari-jarinya mulai terasa dingin.

Ia membalik halaman berikutnya dengan gerakan yang lebih hati-hati.

Di sana tercantum keterangan mengenai perekrutan Mai oleh Saito Kazuma, kepala tim hukum keluarga Kisaragi. Dokumen itu menyebutkan bahwa gadis tersebut akan menjalankan identitas Kisaragi Kanade selama periode kontrak yang telah ditentukan, dengan kewajiban menjaga konsistensi perilaku, riwayat pribadi, dan interaksi keluarga sesuai narasi yang disiapkan.

Ada tanggal mulai penugasan.

Ada jangka waktu.

Ada ketentuan mengenai evaluasi berkala.

Dan ada tanda tangan Saito.

Ren merasakan sesuatu menghantam dadanya.

Ia menarik napas, tetapi udara seolah berhenti di tengah jalan. Pandangannya bergerak kembali ke bagian atas halaman, kemudian turun ke nama yang tercetak di sana.

Miyauchi Mai.

Gadis yang selama ini ia panggil Kanade.

Gadis yang membawakannya teh ketika ia kesulitan tidur, yang mengajarinya makan ramen, yang memegang tangannya ketika suara biola membuatnya ketakutan.

Gadis yang menangis diam-diam setelah ia menghukumnya karena berusaha menyembunyikan sesuatu.

Gadis yang selama ini ia anggap sebagai adik perempuannya.

Bukan Kanade.

Bukan adiknya.

Ren meletakkan dokumen itu di atas meja, lalu segera mengambilnya kembali, seolah ia takut tulisan tersebut akan menghilang jika tidak terus diperiksa.

Ia membaca seluruh halaman dari awal sampai akhir.

Dokumen itu tidak menyebutkan semua alasan yang membuat Mai menerima tawaran tersebut. Tidak ada uraian mengenai keadaan finansialnya, kehidupan yang dijalaninya sebelum datang ke rumah ini, atau perasaan yang mungkin tumbuh selama ia menjalankan peran tersebut.

Namun, satu hal tidak dapat disangkal.

Mai direkrut untuk menggantikan Kanade.

Bukan untuk membantu seorang adik yang sedang sakit.

Bukan untuk mengisi kekosongan sementara dalam keluarga.

Melainkan untuk mempertahankan sebuah identitas di hadapan seseorang yang dianggap terlalu rapuh untuk menghadapi kenyataan.

Ren menutup mata.

Ruangan itu mendadak terasa terlalu sunyi.

Ia mendengar dengung pendingin ruangan, detak jam di dinding, dan suara samar kendaraan yang melintas jauh di luar pagar kediaman. Semuanya terdengar seperti berasal dari tempat yang sangat jauh.

Dalam benaknya, wajah Kanade muncul.

Seorang gadis kecil dengan rambut panjang, mata lembut, dan biola di tangan. Ia tidak dapat mengingat semua detailnya, tetapi ia tahu bahwa wajah itu bukan wajah Mai.

Ia tahu bahwa adiknya telah meninggal.

Ia telah mendengar kabar itu sejak pertama kali sadar. Ia telah diberi tahu bahwa Kanade tidak lagi berada di dunia ini, bahwa ia harus menerima kehilangan tersebut dan berusaha pulih.

Namun, selama ini, ada sesuatu yang membuat kehilangan itu terasa tidak sepenuhnya nyata.

Kanade masih ada di rumah.

Namanya masih dipanggil ketika makan malam.

Kebiasaannya masih diceritakan oleh orang tua mereka.

Dan seorang gadis dengan wajah yang mirip dengannya selalu berdiri di sisi Ren, tersenyum, memanggilnya Onii-chan, dan menjanjikan bahwa ia tidak sendirian.

Ren menatap dokumen di tangannya.

Kini ia mengerti mengapa ia begitu mudah menerima kehadiran gadis itu.

Bukan karena ia telah mengikhlaskan kematian Kanade.

Justru karena ia belum mampu melakukannya.

Sebagian dirinya masih mencari adiknya di antara wajah-wajah yang dikenalnya, di dalam suara-suara yang akrab, dan di setiap kebiasaan kecil yang mengingatkannya pada masa lalu. Ketika Mai muncul dengan wajah yang mirip dan peran yang telah disiapkan untuknya, bagian dirinya yang terluka menerima gadis itu tanpa banyak pertanyaan.

Ia ingin percaya bahwa Kanade masih berada di sisinya.

Ia ingin percaya bahwa kehilangan itu tidak benar-benar mengubah seluruh hidupnya.

Dan keluarga Kisaragi telah memberinya seseorang yang memungkinkan keinginan tersebut bertahan.

Seseorang yang bahkan tidak diberi kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri.

Ren menundukkan kepala.

“Aku…”

Suaranya berhenti.

Ia tidak tahu apa yang ingin dikatakannya.

Ia marah kepada ayahnya. Kepada ibunya. Kepada Saito. Kepada seluruh sistem yang telah mengatur kehidupannya tanpa memberinya kesempatan untuk memahami kenyataan.

Namun, di balik kemarahan itu, ada sesuatu yang lebih menyakitkan.

Ia teringat bagaimana ia pernah mengatakan kepada Mai bahwa ia tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan mereka.

Ia teringat bagaimana ia memegang tangan gadis itu ketika ia ketakutan, bagaimana ia meminta Mai untuk tidak menyembunyikan rasa sakitnya, dan bagaimana ia berulang kali mengatakan bahwa ia boleh mengandalkannya.

Padahal, ia sendiri tidak mengetahui siapa yang sebenarnya sedang ia ajak bicara.

Air mata pertama jatuh ke atas dokumen.

Ren tidak segera menyadarinya.

Baru ketika titik air itu membasahi ujung tulisan, ia mengangkat tangan dan menyentuh pipinya. Jemarinya basah.

Ia menatap air mata di ujung jarinya dengan kebingungan singkat, seolah tubuhnya telah melakukan sesuatu yang tidak dapat ia kendalikan.

Kemudian ia tertawa kecil.

Suara itu kering dan getir.

“Jadi, begitu…”

Ia menunduk lagi, mengusap wajahnya dengan telapak tangan.

“Pantas saja.”

Pantas saja ia tidak pernah benar-benar mengingat masa kecil Kanade ketika berada di dekat gadis itu.

Pantas saja beberapa kebiasaan Mai terasa asing, meskipun ia selalu menganggapnya sebagai bagian dari perubahan setelah trauma.

Pantas saja Saito begitu ketat mengatur jarak mereka.

Pantas saja Mai selalu terlihat tegang setiap kali pembicaraan menyentuh masa lalu.

Ia mengira semua itu hanyalah bagian dari pemulihan yang rumit.

Ternyata, ada seseorang yang telah menulis peran untuknya, kemudian menempatkan seorang gadis lain di dalam peran tersebut.

Dan Ren telah menerima semuanya.

Ia menyeka air mata yang tersisa, tetapi pandangannya kembali kabur ketika membaca nama Mai di halaman pertama.

Miyauchi Mai.

Nama itu kini terasa lebih nyata daripada semua penjelasan yang pernah diberikan keluarganya.

Ren mengulangnya dalam hati, perlahan, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak akan melupakannya.

Miyauchi Mai.

Bukan Kanade.

Mai.

Gadis yang selama ini berada di sisinya.

Gadis yang telah memberikan kehangatan ketika ia bahkan tidak mampu memahami rasa sakitnya sendiri.

Gadis yang mungkin juga sedang menanggung sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan.

Ren menarik napas panjang. Ia mencoba menenangkan dirinya, tetapi dadanya masih terasa berat.

Dokumen itu tidak menjelaskan mengapa Mai menerima pekerjaan tersebut. Ia tidak tahu apakah gadis itu datang karena membutuhkan uang, karena berada dalam keadaan terdesak, atau karena Saito menjanjikan sesuatu yang tidak dapat ditolaknya.

Ia juga tidak tahu apakah semua perhatian yang diberikan Mai selama ini merupakan bagian dari kontrak.

Apakah senyumnya telah dilatih?

Apakah tangannya menggenggam tangan Ren karena instruksi?

Apakah ia benar-benar ingin tinggal bersamanya, atau hanya berusaha menyelesaikan pekerjaan tanpa melanggar ketentuan yang telah disepakati?

Ren menatap foto Mei-chan yang tersimpan di map pribadi.

Wajah dalam foto itu tersenyum cerah, dengan ekspresi yang berbeda dari penampilan anggun Kanade di rumah. Namun, kini ia dapat melihat kesamaan yang tidak pernah benar-benar ia pahami sebelumnya.

Itu Mai.

Bukan hanya nama dalam dokumen.

Bukan hanya seorang pekerja yang disewa untuk menggantikan orang lain.

Seseorang yang memiliki kehidupan sebelum datang ke Kediaman Kisaragi.

Seseorang yang mungkin memiliki teman, kenangan, keinginan, dan impian yang tidak ada hubungannya dengan keluarga ini.

Ren menutup map tersebut dengan hati-hati.

Ia belum tahu apa yang akan dikatakannya kepada Mai.

Ia belum tahu bagaimana menghadapi kenyataan bahwa hubungan mereka dimulai dari sebuah kebohongan yang begitu besar.

Namun, satu hal ia ketahui dengan jelas: ia tidak ingin mengulangi kesalahan keluarganya dengan menentukan siapa Mai tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara.

Jika ia benar-benar ingin mengetahui kebenaran, ia harus mendengarnya langsung dari gadis itu.

Bukan dari Saito.

Bukan dari dokumen.

Lihat selengkapnya