“Kalau kau tidak menyukainya, kita bisa menukarnya.”
“Bukan begitu.” Mai buru-buru menggeleng. “Aku suka. Sungguh. Aku hanya…”
Ia mengangkat liontin itu sedikit, membiarkan huruf yang terukir di permukaannya terlihat jelas.
“…ingin tahu kenapa kau memilih huruf M ini.”
Ren memandang huruf tersebut.
Sesaat, bibirnya mengatup rapat. Ia menarik kursi kecil di dekat meja belajar, tetapi tidak langsung duduk. Tangannya berhenti di sandaran kursi, sementara matanya tetap tertuju pada liontin itu.
“Karena hadiah itu untukmu.”
Mai mengerutkan kening.
“Untukku?”
“Untuk Miyauchi Mai.”
Nama itu jatuh di antara mereka tanpa peringatan.
Tidak ada suara keras. Tidak ada pintu yang dibanting. Bahkan Ren tidak meninggikan suaranya sedikit pun.
Namun, bagi Mai, seolah-olah seluruh udara di kamar mendadak berhenti bergerak.
Jari-jarinya menegang di sekitar rantai kalung. Liontin itu bergetar kecil, memantulkan kilatan cahaya ke dinding.
Ren akhirnya menarik kursi dan duduk. Ia meletakkan kedua tangannya di atas lutut, lalu mengembuskan napas pelan.
“Aku menemukan dokumennya,” katanya. “Dokumen yang menjelaskan siapa dirimu sebelum datang ke rumah ini. Termasuk kontrak yang mengatur peranmu sebagai Kanade.”
Mai tidak menjawab.
Wajahnya kehilangan warna sedikit demi sedikit. Ia menunduk, tetapi tidak cukup cepat untuk menyembunyikan perubahan ekspresinya. Kedua bibirnya terbuka seolah-olah hendak mengatakan sesuatu, lalu kembali tertutup tanpa suara.
Ren memperhatikan tangannya yang gemetar.
“Aku tahu namamu,” lanjutnya. “Aku tahu kau bukan Kisaragi Kanade.”
Kamar itu kembali sunyi.
Mai menatap kalung di tangannya. Huruf M yang tadi terasa seperti hadiah kini tampak begitu tajam, seolah-olah ukiran kecil itu telah membelah seluruh kebohongan yang selama ini ia gunakan untuk bertahan hidup.
Ia ingin menyangkalnya.
Ingin mengatakan bahwa Ren salah membaca dokumen, bahwa semuanya tidak seperti yang ia pikirkan, bahwa ia masih bisa menjelaskan sesuatu sebelum pemuda itu mengambil kesimpulan.
Namun, ia tahu tidak ada lagi gunanya berpura-pura.
“Jadi…” Suaranya keluar begitu pelan hingga ia sendiri hampir tidak mendengarnya. Ia berdeham, mencoba lagi. “Jadi, Onii-chan sudah tahu?”
Ren memejamkan mata sejenak ketika mendengar panggilan itu.
Bukan karena ia membencinya. Bukan pula karena ia ingin menghukum Mai dengan menolak kebiasaan yang telah tumbuh di antara mereka. Justru karena panggilan itu kini terasa memiliki terlalu banyak lapisan: sebuah peran yang diwajibkan kontrak, sebuah kebiasaan yang lahir selama pemulihannya, dan kedekatan yang ternyata tidak sesederhana yang selama ini ia bayangkan.
“Ya,” jawabnya. “Aku sudah tahu.”
Mai menunduk lebih dalam.
“Sejak kapan?”
“Dokumennya baru kutemukan belum lama ini.” Ren berhenti sejenak, menyusun kata-katanya dengan hati-hati. “Sebelumnya, aku hanya menemukan hal-hal yang tidak cocok. Aku belum tahu apa artinya.”
Ia menggeser kursi sedikit, tetapi tetap menjaga jarak. Tidak ada upaya untuk menyentuh Mai atau memaksanya mengangkat wajah.
“Awalnya, aku tidak mencurigaimu.”
Mai mengangkat mata perlahan.
Ren menatapnya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan.
“Ketika aku bangun dari koma, aku tidak bisa mengandalkan ingatanku sendiri. Banyak hal yang terasa asing. Aku tidak tahu bagaimana hari-hariku sebelumnya, apa yang telah terjadi di rumah ini, atau mengapa orang-orang memperlakukanku seolah-olah aku harus segera menjadi seseorang yang bahkan tidak kuingat dengan jelas.”
Ia menurunkan pandangan ke tangannya sendiri.
“Lalu mereka mengatakan bahwa kau adalah Kanade. Adikku. Aku mempercayai mereka karena tidak punya alasan untuk melakukan sebaliknya.”
Ren berhenti sejenak. Jari telunjuknya mengusap ruas ibu jari, gerakan kecil yang muncul ketika ia sedang menahan sesuatu agar tidak langsung keluar sebagai kata-kata.
“Aku ingin mengingatnya. Aku ingin percaya bahwa masih ada seseorang dari masa laluku yang bisa kukenali, meskipun aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya.”
Mai merasakan tenggorokannya mengencang.
Ia masih ingat hari-hari pertama setelah Ren terbangun. Tatapan kosong pemuda itu, kebingungan yang tersembunyi di balik kesopanan, serta cara tangannya mencengkeram seprai setiap kali seseorang menyebut masa lalu. Saat itu, ia telah memahami bahwa pekerjaannya bukan sekadar mengenakan seragam dan memanggil Ren dengan sebutan Onii-chan. Ia harus menjadi sesuatu yang hilang dari kehidupan seseorang yang bahkan belum mampu memahami kehilangan tersebut.
Tetapi ia tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana rasanya bagi Ren untuk mengetahui bahwa orang yang membantunya bertahan ternyata bukan orang yang ia kira.
“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya,” kata Ren. “Ada bagian dari diriku yang merasa lega setiap kali kau datang. Ketika kau berbicara denganku, ketika kau membantuku berjalan, ketika kau duduk di sampingku saat aku tidak bisa tidur… aku merasa tidak sendirian.”
Ia tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak bertahan lama.
“Dan karena aku percaya kau Kanade, aku menganggap perasaan itu sebagai sesuatu yang bisa kumengerti.”
Mai menggenggam liontin lebih erat. Ujung rantainya menekan kulit telapak tangannya.
“Ren…”
“Aku tidak mengatakan bahwa aku sengaja membiarkanmu berbohong,” lanjutnya. “Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku memang mempercayainya. Aku benar-benar mengira kau adalah adikku. Aku tidak sedang berpura-pura sejak awal.”
Kejujuran itu terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Seandainya Ren membentaknya, Mai mungkin bisa berlindung di balik rasa takut. Seandainya ia menyebutnya penipu dan menyuruhnya pergi, Mai bisa menerima hukuman itu sebagai sesuatu yang pantas ia dapatkan.
Namun, Ren justru mengakui bahwa ia telah percaya.
Ia telah membangun kembali sebagian hidupnya di atas identitas yang diberikan kepadanya, tanpa mengetahui bahwa orang yang berdiri di sisinya juga sedang berusaha mempertahankan sebuah kebohongan yang tidak sepenuhnya ia ciptakan sendiri.
“Lalu kapan kau mulai curiga?” tanya Mai.
Ren menarik napas.
“Sedikit demi sedikit. Ada hal-hal tentang dirimu yang tidak cocok dengan cerita yang diberikan kepadaku. Beberapa kebiasaanmu, caramu bereaksi terhadap hal-hal tertentu, juga hal-hal yang kau ketahui meskipun menurut cerita mereka, kau seharusnya tidak mengetahuinya.”
Pandangan Ren beralih sebentar ke jendela.
“Lalu ada Akihabara.”
Tubuh Mai menegang.
Ren melihatnya, tetapi tidak berhenti.
“Aku tahu kau mengenal tempat itu jauh lebih baik daripada seseorang yang hanya pernah berkunjung. Aku tahu ada sesuatu yang membuatmu begitu cemas setiap kali masa lalumu hampir terbuka. Dan setelah melihat foto itu…” Ia terdiam sesaat. “Setelah menemukan penanda buku itu dan membaca dokumennya, aku tidak bisa lagi menganggap semuanya kebetulan.”
Mai merasa ujung jarinya mulai dingin.
Jadi, semua hal yang selama ini berusaha ia sembunyikan ternyata telah meninggalkan jejak. Slip lidahnya di sekolah, kegugupannya saat mendengar nama Akihabara, foto Mei-chan yang beredar, bahkan perubahan sikapnya belakangan ini—semuanya telah membentuk potongan-potongan gambar yang akhirnya disatukan Ren.
Ia mengira dirinya berhasil menjaga kebohongan tetap utuh karena Ren tidak pernah bertanya terlalu jauh.
Ternyata, pemuda itu hanya belum memiliki jawaban.
“Aku minta maaf,” bisik Mai.
Ren tidak segera membalas.
Mai mengangkat kedua tangannya ke depan dada, masih memegang kalung itu. Ia mencoba menatap Ren, tetapi matanya berkaca-kaca sebelum sempat bertahan lebih dari beberapa detik.
“Aku tahu kata maaf tidak akan cukup. Aku tahu aku seharusnya memberitahumu sejak awal. Aku tahu aku tidak punya hak untuk membuatmu percaya bahwa aku adalah seseorang yang sudah tidak ada.”
Napasnya mulai tidak teratur. Ia menekan bibir, berusaha menghentikan getaran kecil di dagunya.
“Tapi waktu aku datang ke sini, aku tidak tahu semuanya akan menjadi seperti ini.”
Ren tetap diam.
“Aku direkrut oleh Saito-san,” lanjut Mai. “Dia yang memberiku tawaran itu. Aku harus memainkan peran sebagai Kisaragi Kanade selama tiga ratus enam puluh lima hari. Aku harus mempelajari kebiasaanmu, mengikuti cerita yang mereka siapkan, dan memastikan tidak ada orang yang mengetahui siapa aku sebenarnya.”
Ia tertawa pendek tanpa kegembiraan.
“Bahkan cara aku tersenyum pun ada aturannya. Apa yang boleh kukatakan, bagaimana aku harus bersikap di depanmu, apa yang harus kulakukan kalau kau mengingat sesuatu yang tidak sesuai dengan cerita mereka… semuanya sudah diatur.”
Mai menunduk. Kalung di tangannya berayun pelan.
“Kalau aku gagal, aku bisa kehilangan pekerjaanku. Saito-san selalu mengingatkanku tentang denda, tentang kontrak, tentang betapa mudahnya mereka menghancurkan masa depanku kalau aku membuat kesalahan.”
Ia berhenti untuk menarik napas.
“Aku menerima tawaran itu karena aku membutuhkan uang. Keadaanku waktu itu buruk, dan aku tidak melihat banyak pilihan. Aku tahu pekerjaan itu berisiko, tapi aku pikir aku hanya perlu bertahan selama setahun. Aku akan menjalankan tugas, mendapatkan bayaran, lalu kembali ke kehidupanku sendiri.”
Matanya beralih ke kalung perak.
“Aku tidak pernah membayangkan akan mengenalmu seperti ini.”
Suara terakhirnya pecah.
Mai menutup mulut dengan punggung tangan, tetapi air mata telanjur jatuh. Satu tetes membasahi ujung jarinya. Ia segera mengusapnya, seolah-olah bahkan tangisan pun merupakan kesalahan yang harus disembunyikan.
“Awalnya, aku memang melakukan semuanya karena pekerjaan,” katanya. “Aku menghiburmu karena itu tugasku. Aku menenangkanmu karena Saito-san mengharapkanku menjaga kondisi emosionalmu. Aku menemanimu karena itulah alasan mereka membawaku ke sini.”
Ia mengangkat wajah. Kali ini ia memaksa dirinya menatap Ren meskipun pandangannya kabur.
“Tapi kemudian aku mulai melihatmu sebagai dirimu sendiri.”
Ren tidak bergerak.
“Aku melihat bagaimana kau meminta maaf bahkan ketika kau tidak melakukan kesalahan. Aku melihat bagaimana kau berusaha berjalan meskipun kakimu masih gemetar. Aku melihat bagaimana kau menahan rasa sakit setiap kali sesuatu mengingatkanmu pada masa lalu. Aku melihatmu tertawa karena hal-hal kecil, seperti ramen murah atau kue stroberi, seolah-olah kau baru saja menemukan sesuatu yang sangat berharga.”
Bibir Mai bergetar. Ia mencoba tersenyum, tetapi yang muncul justru ekspresi menyedihkan di antara tangis dan tawa.
“Aku mulai menunggu saat-saat seperti itu. Aku mulai ingin membuatmu tertawa bukan karena ada orang yang mengawasiku, tetapi karena aku ingin melihatmu bahagia. Aku mulai takut ketika kau kesakitan. Aku mulai sedih ketika kau menjauh. Dan setiap kali kau menggenggam tanganku, aku…”
Ia terhenti.
Tangannya turun ke pangkuan. Liontin M terbaring di telapak tangannya yang basah oleh air mata.
“Aku mulai berharap kau akan tetap menggenggamnya, bahkan setelah kontrak itu selesai.”