Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #63

Ruang untuk Duka yang Sebenarnya

Pukul dua lewat tiga belas menit dini hari, Kisaragi Ren masih terjaga.

Lampu meja di samping ranjang menyala dengan cahaya kekuningan, menerangi buku yang terbuka di atas selimut tanpa benar-benar menarik perhatiannya. Sejak kembali ke kamarnya malam sebelumnya, Ren sudah mencoba tidur tiga kali. Ia mematikan lampu, memejamkan mata, mengatur napas seperti yang pernah diajarkan dokter, lalu membalikkan tubuh ketika pikirannya kembali dipenuhi kalimat-kalimat yang tidak bisa ia singkirkan.

Miyauchi Mai.

Nama itu terus terngiang di kepalanya.

Bukan suara orang lain yang menyampaikan informasi dari sebuah dokumen. Bukan pula suara seorang saksi yang menjelaskan penipuan yang dilakukan seseorang. Ia masih bisa membayangkan Mai duduk di tepi ranjang dengan mata merah, kedua tangan gemetar di sekitar kalung berinisial M, berusaha menjelaskan bagaimana seorang gadis yang menerima pekerjaan untuk bertahan hidup akhirnya terjerat dalam kehidupan keluarga Kisaragi.

Ren menutup mata, tetapi bayangan itu tidak menghilang.

Selama berbulan-bulan, ia mengenal gadis itu sebagai Kanade. Ia telah membiarkan dirinya bergantung pada kehadirannya, menganggap senyum, sentuhan, dan perhatian yang diberikan kepadanya sebagai sesuatu yang akrab dari masa lalu. Ketika ingatannya gagal memberinya jawaban, Ren menerima cerita yang disediakan keluarga karena ia tidak memiliki pegangan lain.

Ia tidak pernah berpura-pura mengenali Kanade. Ia sungguh-sungguh mempercayai bahwa adiknya masih berada di sisinya.

Dan sekarang ia mengetahui bahwa gadis yang membantunya melewati hari-hari terburuk bukanlah orang yang ia kira.

Ren membuka mata dan menatap langit-langit.

Ia ingin menyalahkan Saito. Ingin marah kepada ayah dan ibunya karena membiarkan sebuah kebohongan tumbuh di sekelilingnya ketika ia bahkan belum mampu memahami keadaan dirinya sendiri. Ingin merobek dokumen kontrak itu, membuangnya, lalu menganggap seluruh persoalan selesai.

Namun, kemarahan tersebut tidak menjawab pertanyaan yang paling mengganggunya.

Mengapa ia begitu takut kehilangan Mai setelah mengetahui siapa dirinya?

Jawabannya bukan karena gadis itu adalah Kanade. Sekarang ia tahu keduanya berbeda. Mai memiliki masa lalu sendiri, kebiasaan sendiri, dan kehidupan yang tidak ada hubungannya dengan rumah ini sebelum ia direkrut oleh Saito. Bahkan cara ia tersenyum ketika tidak sedang memainkan perannya terasa berbeda dari senyum manis yang dulu biasa ia tunjukkan di depan Ren.

Namun, justru senyum yang tidak dibuat-buat itulah yang paling sering ia ingat.

Ren duduk di tepi ranjang, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Udara malam terasa dingin di kulitnya. Ketika ia berdiri untuk mengambil air, lututnya sempat menyentuh sisi meja kecil. Gelas di atasnya bergetar, menimbulkan bunyi pendek yang membuatnya terdiam.

Ia menunggu sampai bunyi itu benar-benar lenyap.

Dulu, ada seseorang yang ia kenal dan ingin lindungi. Seseorang yang ia yakini pernah berdiri di antara dirinya dan tekanan keluarga, meskipun ia belum bisa mengingat kapan tepatnya hal itu terjadi. Ada pula seseorang yang kini masih hidup, yang selama ini menemaninya ketika ia merasa tersesat di dalam pikirannya sendiri.

Ren telah kehilangan yang pertama.

Ia tidak ingin menjadikan yang kedua sebagai cara untuk menyangkal kehilangan tersebut.

Tetapi memahami perbedaan itu ternyata jauh lebih mudah daripada menerima perasaan yang mengikutinya.

Ia meletakkan gelas kembali ke meja, mengambil ponsel, lalu memeriksa waktu. Jarum jam seakan bergerak terlalu lambat. Ren menatap layar beberapa detik sebelum meletakkannya lagi.

Malam berikutnya, ia telah meminta Mai menemaninya ke ruang musik.

Kini ia mengerti bahwa ia tidak bisa terus menunda pertemuan itu.

Pukul 21.18 pada malam berikutnya, lorong lantai tiga Kediaman Kisaragi terasa lebih dingin daripada bagian rumah lainnya.

Lampu dinding memancarkan cahaya redup ke atas panel kayu gelap. Karpet tebal meredam langkah, sementara aroma furnitur yang dipoles bercampur dengan bau samar debu dari bagian rumah yang jarang digunakan. Di ujung lorong, pintu ruang musik berdiri tertutup, seolah-olah tidak pernah ada yang memasuki ruangan itu selama bertahun-tahun.

Ren berdiri di depannya dengan kunci di tangan.

Mai berada beberapa langkah di belakangnya. Ia mengenakan kardigan abu-abu dan rok panjang sederhana, dengan rambut diikat longgar agar tidak mengganggu pandangannya. Tidak ada pita yang biasa dikenakannya sebagai Kanade. Setelah percakapan semalam, ia belum tahu apakah benda itu masih pantas berada di rambutnya.

Ia juga belum tahu bagaimana harus bersikap terhadap Ren.

Biasanya, ketika melihat pemuda itu diam terlalu lama, Mai akan mencari sesuatu untuk dikatakan. Ia akan melontarkan lelucon kecil, menggodanya, atau sengaja membuat ekspresi berlebihan agar Ren mengalihkan perhatian dari pikiran yang menyakitkan. Kebiasaan itu telah menjadi refleks selama berbulan-bulan.

Malam ini, ia menahan diri.

Bukan karena tidak ingin menghiburnya, melainkan karena ia mulai memahami bahwa tidak setiap kesedihan harus segera dihilangkan.

Ren memasukkan kunci ke lubang pintu. Tangannya berhenti sebelum memutarnya.

“Mai.”

Gadis itu mengangkat wajah.

“Ya?”

“Kalau nanti aku ingin keluar, jangan mencoba membujukku untuk bertahan di sini.”

Mai terdiam sejenak. “Baik.”

“Dan kalau aku ingin tetap di sini, jangan menganggap kau harus membuatku merasa lebih baik.”

Ia menoleh. Wajahnya tenang, tetapi ada garis ketegangan di antara kedua alisnya.

“Aku tidak tahu apa yang akan kuingat. Mungkin tidak ada apa-apa. Mungkin ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman. Aku hanya ingin mencoba menghadapinya tanpa berpura-pura bahwa aku baik-baik saja.”

Mai mengangguk perlahan.

“Aku mengerti.”

Ren memandangnya sesaat, seolah-olah sedang memastikan bahwa jawaban itu tidak sekadar bentuk kepatuhan.

“Kau juga boleh mengatakan kalau kau ingin berhenti.”

“Aku tahu.”

“Benar?”

Mai menarik napas, kemudian mengembuskannya pelan.

“Benar, Ren.”

Nama itu terdengar lebih alami kali ini. Tidak ada panggilan manis yang sengaja dipanjangkan, tidak ada nada kekanak-kanakan yang biasa ia gunakan ketika menjalankan peran sebagai adik Kisaragi. Hanya sebuah jawaban sederhana dari seorang gadis kepada pemuda yang berdiri di depannya.

Ren mengangguk.

Kemudian ia memutar kunci.

Bunyi mekanisme tua terdengar dari dalam pintu. Ketika daun pintu didorong, udara yang telah lama terperangkap di dalam ruangan menyambut mereka, membawa bau kayu tua, kain berdebu, dan resin yang samar-samar mengingatkan pada alat musik berdawai.

Ren berhenti sejenak di ambang.

Mai tidak menyentuh lengannya. Ia tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Ia hanya menunggu sampai Ren memutuskan sendiri untuk melangkah masuk.

Ruang musik itu hampir tidak berubah sejak kunjungan mereka sebelumnya.

Piano besar berdiri di sisi kiri ruangan, permukaannya tertutup lapisan debu tipis. Di atasnya, beberapa lembar partitur lama tersusun tidak rata, sebagian sudut kertasnya melengkung akibat kelembapan. Rak kayu di dinding menyimpan buku-buku teori musik, sementara tirai tebal yang menutupi jendela membuat ruangan terasa lebih sempit daripada ukuran sebenarnya.

Di sudut paling jauh, di bawah cahaya lampu dinding yang redup, kotak biola Kanade masih berada di tempatnya.

Ren melihatnya hampir seketika.

Jari-jarinya menegang.

Napas yang baru saja ia atur perlahan menjadi pendek. Ada sensasi tidak nyaman yang merambat dari tengkuk ke bahu, seolah-olah tubuhnya mengenali sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh pikirannya. Ia bisa merasakan denyut jantungnya meningkat, tetapi tidak ada ingatan utuh yang muncul untuk menerangkan mengapa.

Hanya ada suara samar dalam kepalanya.

Ketukan teratur.

Satu. Dua. Tiga.

Lalu suara seseorang yang terdengar keras, memerintahkan agar latihan diulang.

Ren memejamkan mata.

Suara itu lenyap sebelum ia sempat menangkap wajah pemiliknya.

“Ren?”

Mai berdiri di dekat pintu. Ia tidak bergerak mendekat, tetapi suaranya terdengar cukup jelas untuk menembus kebingungan yang mulai menguasai pikiran Ren.

“Aku di sini,” katanya. “Kau tidak perlu buru-buru.”

Ren membuka mata dan mengangguk kecil.

“Aku tahu.”

Ia melangkah menuju meja panjang di tengah ruangan. Setiap langkah terasa seperti keputusan yang harus dibuat secara terpisah. Ia tidak sedang mengejar ingatan yang hilang, juga tidak berusaha memaksa dirinya menemukan jawaban dalam setiap benda yang dilihatnya.

Malam ini, ia hanya ingin berada di ruangan itu tanpa menjadikan Mai sebagai jembatan menuju masa lalu.

Ren menarik sebuah kursi dan duduk. Ia memandang permukaan meja yang dipenuhi bekas goresan halus, lalu menoleh kepada Mai.

“Kau bilang menemukan diarinya di sebuah kotak lama.”

Mai mengangguk. Ia membawa tas kain kecil yang sejak tadi disandangnya di bahu. Perlahan, ia mengeluarkan sebuah buku bersampul kulit cokelat yang diikat dengan tali tipis.

Diari itu tampak lebih tua di bawah cahaya lampu. Bagian tepi sampulnya telah aus, dan beberapa noda samar menggelapkan kulit di dekat punggung buku. Namun, tali yang mengikatnya masih terpasang rapi.

Mai tidak langsung menyerahkannya.

Ia memegang buku itu dengan kedua tangan, mengusap permukaan sampulnya sekali sebelum memandang Ren.

“Aku belum tahu apakah kau benar-benar siap membacanya,” katanya. “Ada beberapa bagian yang mungkin sulit.”

Ren menatap diari tersebut. Tenggorokannya bergerak ketika ia menelan ludah.

“Aku tidak yakin siap,” jawabnya jujur. “Tapi aku ingin mencoba.”

Mai mengangguk, lalu mengulurkan buku itu.

Ren menyambutnya dengan kedua tangan.

Bobotnya ringan, tetapi ketika buku itu berpindah ke pangkuannya, bahunya seakan menerima beban yang jauh lebih besar daripada beberapa lembar kertas. Ia mengusap sampulnya dengan ibu jari. Di bagian dalam, tulisan tangan yang rapi mencantumkan nama pemiliknya.

Kisaragi Kanade.

Ren tidak segera membuka halaman pertama.

Ia hanya menatap nama itu.

Selama ini, Kanade baginya adalah potongan-potongan ingatan yang tidak lengkap. Sebuah wajah dalam foto, bayangan seorang anak perempuan di ruang latihan, perasaan bahwa ia pernah berjanji melindungi seseorang. Kadang-kadang, nama itu muncul bersama kesedihan yang begitu mendadak hingga ia tidak tahu harus berbuat apa selain menunggu sampai perasaan tersebut mereda.

Diari ini berbeda.

Di dalamnya ada tulisan tangan Kanade sendiri. Bukan cerita yang disusun orang tua mereka, bukan laporan dokter, dan bukan penjelasan yang dibuat untuk menjaga kestabilan emosional Ren. Ini adalah sesuatu yang ditinggalkan oleh gadis itu ketika ia masih hidup.

Ren melepaskan napas panjang melalui hidung. Kemudian ia menarik napas sekali lagi, lebih dalam, sebelum membuka ikatan tali.

“Boleh aku membaca beberapa halaman?” tanyanya, meskipun diari itu kini berada di tangannya.

Mai mengangguk.

“Tentu. Bacalah selama yang kau perlukan.”

Ren membuka halaman pertama.

Tulisan di sana rapi, hampir tidak memiliki coretan. Ia membaca beberapa baris tentang latihan, jadwal harian, dan harapan untuk tampil lebih baik pada kesempatan berikutnya. Kalimat-kalimatnya pendek, seperti catatan seseorang yang terbiasa mengatur waktunya dengan ketat.

Pada halaman-halaman berikutnya, jadwal latihan semakin panjang.

Pagi. Sekolah. Latihan teknik. Repetisi bagian yang sulit. Latihan tambahan setelah makan malam.

Ren membalik halaman.

Di sana tertulis tentang rasa sakit pada jari-jari tangan, tentang kulit yang terkelupas akibat terlalu lama menekan senar, tentang kesulitan tidur karena ia terus memikirkan kesalahan kecil dalam permainan.

Ren berhenti membaca.

Matanya tertuju pada satu kalimat yang ditulis lebih tebal daripada yang lain, seolah-olah pena telah ditekan terlalu keras ke atas kertas.

Kalau aku berlatih lebih keras, mungkin Ayah tidak akan kecewa besok.

Ia membaca kalimat itu sekali lagi.

Lalu sekali lagi.

“Dia menulis ini setiap hari?” tanyanya pelan.

Mai mengangguk.

“Tidak semua hal ditulis secara langsung. Ada hari-hari ketika catatannya hanya berisi jadwal atau latihan yang harus diselesaikan. Tapi semakin jauh aku membaca, semakin jelas betapa besar tekanan yang dia rasakan.”

Ren mengusap tepi halaman.

“Kenapa aku tidak tahu?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Mai tidak langsung menjawab. Ia tahu jawaban yang terlalu cepat akan terdengar seperti pembelaan terhadap Ren atau tuduhan terhadap dirinya sendiri.

Lihat selengkapnya