Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #64

Tekanan Ujian Masuk Universitas

Pagi di kediaman Kisaragi selalu datang tanpa suara.

Cahaya matahari merembes melalui jendela-jendela tinggi perpustakaan utama, menyentuh punggung buku berlapis kulit yang tersusun rapi hingga hampir mencapai langit-langit. Aroma kertas tua bercampur dengan wangi kayu mahoni yang dipoles setiap hari, sementara jam antik di atas perapian berdetak dengan keteraturan yang nyaris mengganggu. Di luar jendela, embun masih melekat pada dedaunan taman. Para pelayan telah menyelesaikan tugas pagi mereka, dan lorong-lorong kediaman itu kembali tenggelam dalam kesunyian yang terjaga.

Namun, pagi itu ada sesuatu yang berbeda.

Di atas meja panjang di tengah perpustakaan, buku-buku persiapan ujian masuk universitas telah ditumpuk menjadi beberapa menara kecil. Kumpulan soal matematika tingkat lanjut, buku latihan bahasa Jepang, materi sejarah, lembar simulasi ujian nasional, serta catatan-catatan tambahan yang disusun berdasarkan mata pelajaran memenuhi hampir seluruh permukaan meja. Sebuah papan tulis portabel berdiri di dekat jendela, dipenuhi jadwal berwarna merah, biru, dan hitam.

Di sampingnya, sebuah jam digital menampilkan angka 07.00.

Ren berdiri di hadapan meja dengan kemeja putih yang lengannya tergulung hingga siku. Rambut hitamnya masih sedikit basah setelah mandi pagi. Ia memandangi tumpukan buku di hadapannya, lalu mengalihkan pandangan kepada ayahnya yang duduk di kursi berlengan dekat perapian.

Souichiro Kisaragi sedang memeriksa beberapa lembar dokumen melalui tablet. Jasnya telah terpasang sempurna, dasinya lurus, dan ekspresinya tidak menunjukkan sedikit pun tanda bahwa ia sedang berada di rumah bersama putranya sendiri.

Di sebelahnya berdiri seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun. Rambutnya yang disisir rapi mulai memperlihatkan sedikit uban di bagian pelipis. Ia mengenakan setelan abu-abu gelap, membawa tas kulit tebal, dan memegang sebuah map berisi dokumen yang telah diberi pembatas warna.

Pria itu membungkuk singkat ketika Ren menoleh.

"Selamat pagi, Kisaragi-sama. Nama saya Shibata Masanori. Mulai hari ini, saya akan bertanggung jawab atas program persiapan ujian masuk universitas Anda."

Suaranya datar, jelas, dan tanpa keramahan yang tidak diperlukan.

Ren membalas dengan anggukan sopan.

"Senang bertemu dengan Anda, Shibata-sensei."

"Semoga kita dapat bekerja sama dengan baik."

Shibata tidak tersenyum. Ia justru membuka mapnya, mengeluarkan beberapa lembar jadwal, lalu meletakkannya di atas meja seolah sedang mempresentasikan rancangan proyek perusahaan.

Souichiro akhirnya mengangkat wajah dari tabletnya.

"Duduklah, Ren."

Ren menarik kursi di sisi meja dan duduk tanpa membantah. Di seberang ruangan, pintu perpustakaan terbuka sesaat, memperlihatkan Mai yang sedang membawa nampan sarapan ringan untuk diletakkan di meja kecil dekat rak buku. Gadis itu melangkah masuk dengan hati-hati, masih mengenakan seragam sekolahnya, dengan rambut yang diikat rapi menggunakan aksesori yang selama ini menjadi bagian dari penampilannya sebagai Kanade.

Langkahnya melambat ketika melihat tumpukan buku di atas meja.

Ia tidak perlu membaca judul-judulnya untuk memahami apa yang sedang terjadi. Sejak tuntutan akademik Souichiro kembali diarahkan kepada Ren, ia sudah menduga bahwa kedamaian yang sempat mereka rasakan tidak akan bertahan lama.

Mai meletakkan nampan tanpa suara.

"Selamat pagi, Ayah. Shibata-sensei."

Souichiro hanya mengangguk tipis.

"Kanade, kau tidak perlu berada di sini. Ini urusan pendidikan Ren."

"Baik, Ayah."

Mai menundukkan kepala. Namun, sebelum berbalik, ia sempat melirik Ren.

Pemuda itu tidak sedang membaca jadwal. Tatapannya tertuju pada tangan kiri yang terletak di atas meja, sementara ibu jarinya mengusap perlahan sisi telunjuknya. Gerakan kecil itu mengingatkan Mai pada kebiasaan Ren ketika ia berusaha menahan sesuatu agar tidak terlihat oleh orang lain.

Ren mengangkat mata dan menangkap pandangannya.

Hanya sesaat.

Tidak ada senyum yang biasa mereka tukarkan ketika berada berdua. Tidak ada sapaan hangat atau pertanyaan sederhana tentang apakah ia sudah sarapan. Mereka masih berada di rumah yang sama, tetapi setelah malam ketika identitas Mai terbongkar, keduanya memahami bahwa kejujuran di antara mereka tidak otomatis menghapus seluruh aturan yang mengurung mereka.

Di hadapan Souichiro dan Shibata, Mai tetaplah Kanade.

Dan Ren tidak berniat memberikan alasan baru bagi siapa pun untuk mencurigai perubahan hubungan mereka.

"Mulai hari ini," kata Souichiro, memotong keheningan, "seluruh perhatianmu akan dipusatkan pada persiapan ujian masuk Universitas Tokyo."

Ren mengalihkan pandangan kepadanya.

"Aku mengerti."

"Aku tidak sedang memintamu mengerti. Aku sedang menetapkan apa yang harus kau lakukan."

Souichiro meletakkan tablet di meja. Bunyi permukaannya yang menyentuh kayu terdengar kecil, tetapi cukup untuk membuat Mai yang sudah mencapai pintu menahan langkah.

"Program sebelumnya hanya bersifat evaluasi awal. Sekarang, dengan kondisi fisikmu yang semakin stabil dan kemampuan kognitifmu yang telah kembali mendekati tingkat semula, tidak ada alasan untuk membuang waktu. Universitas Tokyo adalah jalur yang telah disiapkan untukmu sejak awal. Aku tidak akan membiarkan masa depanmu menyimpang hanya karena kau sempat kehilangan beberapa bulan akibat koma."

Jari Ren berhenti bergerak.

Beberapa bulan.

Souichiro mengucapkan rentang waktu itu seperti seseorang sedang membicarakan keterlambatan pengiriman barang. Bukan masa ketika Ren terbaring tidak sadar, ketika tubuhnya bergantung pada perawatan medis, ketika ia terbangun tanpa mengenali sebagian masa lalunya, dan ketika kematian Kanade tetap menjadi luka yang tidak mampu dijelaskan oleh ingatannya sendiri.

Ren menunduk sedikit.

"Baik, Ayah."

"Shibata-sensei akan mengawasi seluruh kegiatan belajarmu. Jadwal, evaluasi, waktu istirahat, bahkan hasil setiap sesi akan dilaporkan kepadaku. Tidak ada perubahan sepihak."

Shibata membuka lembar pertama dari mapnya.

"Untuk memastikan hasil yang optimal, saya telah menyusun program intensif berdasarkan evaluasi kemampuan terakhir Kisaragi-sama. Target kita bukan sekadar lulus seleksi. Kita harus memastikan posisi yang kompetitif sejak ujian simulasi pertama."

Ia membalik lembar berikutnya.

"Seluruh materi akan dibagi menjadi blok pembelajaran. Setiap sesi memiliki target soal, batas waktu, dan evaluasi. Jika hasilnya tidak memenuhi standar, materi yang sama akan diulang sampai kesalahan dapat dikoreksi."

"Berapa lama jadwalnya?" tanya Ren.

"Empat belas jam sehari, tidak termasuk persiapan pribadi dan waktu makan."

Mai merasakan jari-jarinya menegang di sisi tubuh.

Empat belas jam.

Ia menoleh sedikit, berusaha menyembunyikan reaksi yang hampir muncul di wajahnya. Angka itu bukan sekadar panjangnya jadwal. Bagi Ren, yang masih berjuang menghadapi kelelahan dan pecahan ingatan yang terkadang muncul tanpa peringatan, empat belas jam berarti tidak banyak ruang tersisa untuk memulihkan diri.

Shibata melanjutkan tanpa menyadari perubahan ekspresi Mai.

"Kita akan mulai pukul tujuh pagi dan berakhir pukul sembilan malam. Waktu makan telah disesuaikan agar tidak mengganggu alur belajar. Istirahat akan diberikan dalam interval singkat di antara sesi. Setiap hari, Anda akan menyelesaikan ratusan soal dari berbagai mata pelajaran. Setiap pekan, akan ada evaluasi menyeluruh."

Ren memandangi jadwal itu.

Pukul tujuh hingga sembilan malam. Empat belas jam, dengan waktu makan dan jeda yang telah ditetapkan di antara blok-blok belajar. Di bagian bawah lembar terdapat kolom bertuliskan Kepatuhan Jadwal, Akurasi, Kecepatan Pengerjaan, dan Pencapaian Target.

Tidak ada kolom untuk kualitas tidur.

Tidak ada kolom untuk tingkat kelelahan.

Tidak ada kolom yang menanyakan apakah orang yang duduk di hadapan tumpukan buku itu masih sanggup menjalani hari berikutnya.

Ren mengangkat pandangan.

"Kalau saya merasa kelelahan, apakah jadwalnya dapat disesuaikan?"

Pertanyaan itu disampaikan dengan nada sopan. Tidak menantang, tidak pula terdengar seperti permohonan. Namun, Souichiro menyipitkan mata sedikit, seolah sedang menilai apakah pertanyaan tersebut menyembunyikan bentuk perlawanan.

"Apakah dokter telah menyatakan bahwa kau tidak mampu belajar selama empat belas jam?"

"Belum ada pembicaraan khusus mengenai durasi itu."

"Kalau begitu, jangan mencari alasan sebelum mencoba."

Souichiro menyandarkan punggungnya pada kursi.

"Kau telah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk pulih. Sekarang tubuhmu sudah jauh lebih baik. Aku tidak akan membiarkanmu menggunakan masa pemulihan sebagai pembenaran untuk mengendurkan standar."

Ren diam sejenak.

Kemudian ia merapikan ujung kertas jadwal yang sedikit bergeser.

"Baik, Ayah. Aku akan mengikuti programnya."

Jawaban itu membuat Souichiro mengangguk puas.

Di ambang pintu, Mai menundukkan kepala lebih dalam sebelum keluar. Ia tidak berani menatap Ren lagi. Jika ia melakukannya, ia khawatir kecemasan yang ditahannya akan terlihat jelas, dan tatapan seorang ayah yang terbiasa memperhatikan setiap penyimpangan kecil mungkin akan menangkap sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi.

Pintu perpustakaan menutup perlahan di belakangnya.

Di dalam ruangan, Shibata mulai menjelaskan pembagian materi hari itu. Ren mendengarkan, sesekali mengangguk, dan mencatat beberapa poin di buku tulisnya.

Dari luar, ia tampak seperti putra keluarga terpandang yang siap kembali ke jalur kesuksesan.

Namun, ketika Shibata menunduk untuk memeriksa dokumen, tangan Ren kembali mengepal di bawah meja.

Kali ini, ia tidak melakukannya karena tidak berdaya.

Ia sedang menghitung.

Empat belas jam sehari. Evaluasi mingguan. Laporan langsung kepada ayahnya. Tidak ada perubahan sepihak.

Jika ia menolak sekarang, Souichiro mungkin akan memperketat pengawasan terhadap seluruh kegiatannya, termasuk komunikasi dengan Mai dan aksesnya terhadap dokumen-dokumen keluarga. Setelah apa yang ditemukannya tentang kontrak Mai dan kematian Kanade, Ren tidak dapat membiarkan dirinya kehilangan kesempatan untuk mencari tahu lebih jauh.

Ia akan mengikuti jadwal itu.

Setidaknya, untuk sementara.

Bukan karena ia menerima bahwa hidupnya adalah milik ayahnya, melainkan karena ia perlu mengetahui sejauh mana kendali yang masih dimiliki keluarga Kisaragi atas dirinya.

Pukul sembilan lewat tiga puluh, sesi pertama telah dimulai.

Perpustakaan utama berubah menjadi ruang ujian pribadi. Shibata duduk di sisi kanan meja, mengawasi pengerjaan Ren dengan jam penghitung waktu di tangannya. Di hadapan Ren terbuka sebuah buku soal matematika tingkat lanjut, sementara lembar jawaban kosong diletakkan tepat di sampingnya.

"Bagian pertama, tiga puluh soal. Waktu pengerjaan empat puluh menit."

Ren memeriksa nomor soal pertama.

"Baik."

"Jangan hanya mengejar jawaban akhir. Tuliskan langkah penyelesaian secara lengkap. Kesalahan perhitungan sekecil apa pun akan dicatat."

Ren mengambil pensil mekanis.

"Dimengerti."

Jam penghitung waktu berbunyi pendek.

Ren mulai bekerja.

Pada awalnya, ritmenya cukup stabil. Matanya bergerak cepat dari satu baris ke baris berikutnya. Ia menuliskan persamaan, mencoret variabel, lalu memindahkan hasil perhitungan ke lembar jawaban dengan tulisan yang rapi. Ketika menemui soal yang lebih sulit, ia berhenti sejenak, menelusuri kembali informasi yang tersedia, kemudian menemukan pendekatan yang tepat.

Shibata memperhatikan tanpa memberikan pujian.

Setiap beberapa menit, ia mencatat sesuatu pada lembar evaluasi.

Di luar jendela, matahari semakin tinggi. Cahaya yang semula pucat berubah menjadi terang, menimpa sisi meja dan memantulkan kilau tipis pada permukaan jam digital. Para pelayan sesekali lewat di koridor, tetapi tidak seorang pun memasuki perpustakaan tanpa izin.

Pada pukul sepuluh lewat sepuluh, Shibata mengambil lembar jawaban Ren.

Ia memeriksa hasilnya dengan cepat, memberi tanda pada beberapa nomor, lalu mengembalikan kertas itu.

"Kesalahan pada nomor dua belas dan dua puluh satu."

Ren menunduk untuk memeriksa.

"Nomor dua belas saya salah menyalin tanda negatif. Nomor dua puluh satu, saya melewatkan satu kondisi pada soal."

"Kesalahan yang sebenarnya dapat dihindari."

"Ya."

"Anda harus membangun kebiasaan memeriksa setiap detail sebelum menyerahkan jawaban. Ujian masuk universitas tidak memberi nilai tambahan hanya karena Anda memahami konsepnya. Yang dinilai adalah hasil."

Ren membetulkan jawabannya tanpa berdebat.

Shibata melirik jam.

"Kita akan mengulang sepuluh soal dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Setelah itu, langsung beralih ke bahasa Jepang."

Ren mengusap jari telunjuknya yang mulai pegal, lalu membuka halaman berikutnya.

"Baik."

Menjelang tengah hari, Mai kembali ke perpustakaan dengan nampan makan siang.

Ia membawa nasi, ikan panggang, sayuran rebus, dan semangkuk sup bening yang masih mengeluarkan uap. Di samping piring Ren, ia meletakkan segelas air hangat. Pilihan menunya sederhana, tetapi ia telah meminta koki memastikan porsi makan Ren cukup untuk menggantikan energi yang terus terkuras sejak pagi.

Ketika ia mendekati meja, Shibata segera mengangkat tangan.

"Letakkan di meja samping."

Mai menghentikan langkah.

"Baik, Shibata-sensei. Saya hanya ingin memastikan Onii—"

Ia terdiam.

Kata itu hampir meluncur begitu saja, sebuah kebiasaan lama yang belum sepenuhnya terlepas dari lidahnya.

Ren mengangkat mata dari lembar latihan.

Untuk sepersekian detik, pandangan mereka bertemu.

Mai segera menunduk.

"Memastikan Kisaragi-sama mendapatkan makan siangnya," lanjutnya, memperbaiki kalimat dengan susah payah. "Beliau sudah belajar sejak pagi."

Shibata mengangguk tipis.

"Beliau akan makan pada waktu yang telah ditentukan. Saya tidak membutuhkan pengingat."

"Maaf."

Mai meletakkan nampan di meja samping. Ia tidak bisa menahan diri untuk melirik lembar soal yang masih terbuka di hadapan Ren. Ada beberapa coretan di bagian tepi, dan di sudut kertas tampak bekas tekanan pensil yang cukup dalam.

Ren pasti menulis terlalu keras.

Sebuah kebiasaan yang muncul ketika ia berusaha mempertahankan konsentrasi di tengah kelelahan.

"Silakan makan, Kisaragi-sama," kata Shibata. "Dua puluh menit. Setelah itu kita lanjutkan."

Ren meletakkan pensilnya.

"Baik."

Mai berdiri di dekat meja samping, berpura-pura merapikan sendok yang sebenarnya sudah berada di posisi benar. Ia ingin mengatakan bahwa Ren harus makan perlahan. Ia ingin bertanya apakah kepalanya masih sakit, apakah matanya terasa berat, atau apakah ia sudah cukup tidur semalam.

Namun, pertanyaan-pertanyaan itu terasa terlalu pribadi untuk diucapkan di hadapan tutor yang mencatat setiap perubahan rutinitasnya.

Ren mengambil sendok, lalu mencicipi sup.

Ia berhenti sesaat.

"Supnya enak."

Mai mendongak tanpa sadar.

Ren tidak menatapnya secara langsung. Pandangannya tetap tertuju pada mangkuk, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit, hampir tidak terlihat.

"Rasanya lebih ringan daripada biasanya."

Mai memahami maksudnya. Ia telah meminta koki mengurangi garam dan minyak karena Ren sempat mengeluh perutnya terasa tidak nyaman beberapa hari terakhir.

"Senang kalau cocok," jawabnya pelan.

Shibata mengangkat mata dari catatan.

"Apakah ada sesuatu yang perlu dibicarakan?"

Mai segera merapatkan kedua tangan di depan tubuhnya.

"Tidak ada. Saya hanya memastikan makan siangnya sesuai."

"Kalau begitu, Anda dapat kembali ke kegiatan Anda. Kehadiran orang lain akan mengganggu konsentrasi Kisaragi-sama."

Ucapan itu disampaikan tanpa nada kasar, tetapi tidak menyisakan ruang untuk bernegosiasi.

Mai menunduk.

"Baik."

Ia berbalik menuju pintu.

Di belakangnya, suara sendok yang menyentuh mangkuk terdengar pelan. Mai memaksa dirinya terus berjalan, meskipun setiap langkah terasa lebih berat daripada sebelumnya.

Ketika ia hampir mencapai ambang pintu, suara Ren menghentikannya.

"Kanade."

Mai menoleh.

Ren masih duduk di kursinya. Ia telah meletakkan sendok, lalu menatapnya dengan ekspresi tenang yang sulit dibaca oleh orang lain.

"Bukankah kau ada kelas tambahan hari ini?"

Pertanyaan itu sederhana. Bagi Shibata, mungkin hanya percakapan singkat antara dua saudara yang saling mengingatkan jadwal.

Bagi Mai, itu adalah cara Ren memberinya jalan keluar.

Ia segera mengangguk.

"Ya. Aku harus memeriksa beberapa materi sebelum berangkat."

"Kalau begitu, jangan sampai terlambat."

Mai menahan napas sejenak.

"Baik. Kau juga jangan lupa makan."

Kalimat terakhir itu keluar lebih spontan daripada yang direncanakannya.

Shibata mengerutkan kening tipis, tetapi Ren sudah kembali mengambil sendok.

"Aku akan makan."

Mai membungkuk, kemudian meninggalkan ruangan.

Di lorong, ia baru menyadari betapa kuat dirinya menggenggam ujung lengan seragam. Kainnya telah kusut di antara jari-jari.

Ia melepaskannya perlahan.

Bahkan untuk mengingatkan Ren agar makan pun, ia harus berhitung.

Dulu, ia bisa duduk di sampingnya, mengambilkan lauk, atau mengomel ketika Ren sengaja melewatkan sarapan. Kini, setelah kebenaran di antara mereka terbuka, ia tidak ingin kembali menjadikan dirinya sebagai pengganti siapa pun. Ia juga tidak ingin menggunakan kedekatan mereka sebagai alasan untuk mengganggu upaya Ren mendapatkan kembali kendali atas hidupnya sendiri.

Namun, ada perbedaan besar antara menghormati batasan dan membiarkan seseorang dihancurkan di hadapan mata.

Mai melirik ke arah pintu perpustakaan yang telah tertutup.

Ia harus menemukan cara untuk membantu tanpa membuat Ren kembali terjebak dalam persoalan yang sama.

Pukul dua siang, udara di perpustakaan mulai terasa pengap meskipun pendingin ruangan bekerja dengan stabil.

Ren telah menyelesaikan latihan bahasa Jepang dan beralih ke materi sejarah. Di hadapannya, beberapa lembar soal telah dipenuhi jawaban, sedangkan buku referensi terbuka di sisi kiri meja. Shibata berdiri di dekat papan tulis, menjelaskan hubungan antara kebijakan ekonomi dan perubahan sosial pada periode tertentu, kemudian meminta Ren menyusun analisis singkat tanpa melihat catatan.

"Anda memiliki waktu lima belas menit."

Ren membaca pertanyaan.

"Baik."

Ia mulai menulis.

Beberapa baris pertama mengalir lancar. Ren terbiasa menyusun informasi dalam struktur yang jelas, menghubungkan sebab dan akibat, lalu menarik kesimpulan berdasarkan data yang tersedia. Namun, ketika sampai pada bagian kedua, ia berhenti.

Ujung pensilnya menggantung di atas kertas.

Ada sesuatu yang mengganggu konsentrasinya.

Bukan bunyi, bukan gerakan di luar jendela, melainkan rasa berat yang perlahan merambat dari belakang mata menuju pelipis. Ia berkedip beberapa kali, mencoba menghilangkan bayangan samar yang muncul ketika menatap tulisan terlalu lama.

Untuk sesaat, baris-baris di hadapannya tampak saling bertumpuk.

Ren memejamkan mata sebentar.

Ketika membukanya kembali, ia menarik napas melalui hidung dan melanjutkan menulis.

"Apakah ada masalah?" tanya Shibata.

"Tidak."

"Anda berhenti selama hampir satu menit."

"Saya sedang menyusun urutan argumen."

Shibata berjalan mendekat dan melihat lembar jawabannya.

"Kalau begitu, gunakan waktu Anda dengan lebih efisien. Dalam ujian sesungguhnya, Anda tidak akan diberi kesempatan untuk memperpanjang waktu hanya karena sedang berpikir."

Ren mengangguk.

"Dimengerti."

Ia kembali menulis.

Di balik ketenangan wajahnya, tekanan di kepalanya belum menghilang. Punggungnya terasa kaku, dan jari-jari yang memegang pensil mulai kehilangan keluwesan. Ia menggeser posisi duduk, berusaha mengurangi rasa nyeri di bahu.

Shibata melihat gerakan itu.

"Jangan terlalu sering mengubah posisi. Anda akan kehilangan ritme."

Ren menghentikan gerakannya.

"Baik."

Ia menegakkan punggung kembali.

Di luar perpustakaan, Mai berdiri di dekat meja kecil yang menghadap ke taman. Ia baru saja menyelesaikan beberapa tugas sekolah yang harus dikumpulkan keesokan harinya. Buku catatannya terbuka, tetapi selama hampir sepuluh menit ia tidak menulis satu kata pun.

Dari posisi itu, ia dapat melihat sebagian jendela perpustakaan utama melalui celah di antara dua pilar.

Lihat selengkapnya