Sore itu, perpustakaan utama kediaman Kisaragi terasa lebih dingin daripada biasanya.
Cahaya matahari yang menembus jendela-jendela tinggi telah kehilangan kehangatan siangnya. Sinar keemasan jatuh miring di atas meja mahoni, menyinari tumpukan buku persiapan ujian dan lembar-lembar jawaban yang berserakan. Di luar, ranting pohon bergesekan pelan tertiup angin, sementara jarum jam antik di dekat perapian bergerak menuju pukul empat dengan ketukan teratur.
Di tengah ruangan, Kisaragi Ren masih duduk di kursinya.
Punggungnya tegak, tetapi tidak lagi setegak pagi tadi. Bahunya sedikit turun, dan tangan kanannya bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih lambat ketika menuliskan jawaban. Di dekat siku kirinya, segelas air yang disediakan sejak sesi sebelumnya telah kosong. Beberapa lembar tisu bekas terlipat di samping buku catatan, sebagian masih menyisakan noda kemerahan yang belum sepenuhnya hilang.
Ren membaca soal di hadapannya sekali lagi.
Ia tahu rumus yang harus digunakan. Ia bahkan dapat membayangkan urutan penyelesaiannya sebelum pensilnya menyentuh kertas. Namun, ketika mulai menulis, pikirannya seperti tertahan di antara satu langkah dan langkah berikutnya. Ia harus berhenti beberapa kali untuk memastikan angka yang dituliskannya tidak keliru.
Rasa berat di belakang matanya belum hilang sejak mimisan tadi.
Ren mengembuskan napas melalui mulut, mengendurkan genggaman pada pensil, lalu mencoba kembali.
Satu baris.
Dua baris.
Ujung pensilnya berhenti di tengah persamaan.
"Kisaragi-sama."
Suara Shibata Masanori terdengar dari seberang meja.
Ren mengangkat kepala perlahan.
"Ya?"
"Anda sudah menghabiskan hampir enam menit untuk soal yang seharusnya dapat diselesaikan dalam tiga menit."
Ren melirik jam penghitung waktu di dekat tangan tutor itu.
"Saya sedang memeriksa kembali perhitungannya."
"Anda sudah memeriksanya dua kali."
"Kalau begitu, saya akan melanjutkan."
Ren menunduk kembali. Ia tidak membantah, tetapi juga tidak meminta maaf. Jari-jarinya sedikit gemetar ketika ia memutar pensil di antara telunjuk dan ibu jari, lalu menuliskan angka berikutnya.
Shibata memperhatikan selama beberapa detik sebelum kembali membuka catatannya.
"Target hari ini belum tercapai. Kita masih memiliki dua puluh soal matematika, satu evaluasi bahasa Jepang, dan pembahasan kesalahan pada simulasi sebelumnya. Saya tidak ingin ada materi yang tertunda tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan."
Ren tidak menjawab.
Ia mencoba memusatkan perhatian pada kertas, tetapi cahaya di atas meja terasa terlalu terang. Ia memiringkan kepala sedikit untuk menghindari pantulan jendela, kemudian mengusap pelipisnya dengan ujung jari.
Gerakan itu hanya berlangsung sesaat.
Shibata tetap melihatnya.
"Apakah kepala Anda masih sakit?"
"Sedikit."
"Apakah rasa sakitnya menghalangi Anda mengerjakan soal?"
Ren diam.
Pertanyaan itu terdengar seperti pertanyaan medis, tetapi Ren tahu jawaban apa yang sebenarnya diinginkan oleh tutor tersebut. Selama ia masih mampu membaca, menulis, dan duduk di kursinya, sesi belajar akan dianggap dapat dilanjutkan.
"Belum sepenuhnya," jawabnya akhirnya.
"Kalau begitu, kita lanjutkan."
Shibata mendorong lembar soal berikutnya ke hadapan Ren.
"Silakan."
Ren menatap kertas itu. Ia tidak langsung mengambilnya.
Untuk pertama kalinya sejak program intensif dimulai, ia mempertimbangkan kemungkinan untuk menolak tanpa menunggu tubuhnya benar-benar menyerah. Namun, suara Souichiro kembali terngiang di kepalanya—tentang waktu yang terbuang, standar keluarga, dan kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.
Ren mengembuskan napas perlahan.
Tangannya bergerak mengambil lembar soal.
Pada saat itulah, pintu perpustakaan terbuka.
Mai berdiri di ambang pintu dengan sebuah nampan kecil di kedua tangan. Di atasnya terdapat segelas air, kain bersih yang dilipat rapi, beberapa lembar tisu, serta kotak pertolongan pertama yang tadi sore ia bawa keluar dari ruangan. Ia telah meminta pelayan mengisi kembali persediaan di dalamnya, lalu menunggu sampai koridor cukup sepi sebelum kembali ke perpustakaan.
Ia tidak datang untuk mengganggu Ren.
Ia datang karena tidak sanggup membiarkan kejadian tadi dianggap selesai hanya karena darahnya sudah berhenti mengalir.
Langkah pertama Mai memasuki ruangan terdengar pelan di atas lantai kayu. Matanya langsung tertuju pada Ren. Begitu melihat pemuda itu masih membungkuk di atas lembar soal, sementara wajahnya tetap pucat dan tangannya bergerak dengan susah payah, jantung Mai seolah menghantam tulang rusuknya sendiri.
Ia berhenti di sisi meja.
"Ren—"
Nama itu nyaris terucap.
Mai segera mengatupkan bibir, menundukkan kepala sedikit, lalu memperbaiki panggilannya.
"Onii-sama."
Shibata mengangkat wajah dengan ekspresi tidak senang.
"Kanade-san, saya rasa saya sudah menjelaskan bahwa sesi belajar tidak boleh diganggu."
Mai meletakkan nampan di atas meja samping. Ia berusaha menjaga gerakannya tetap tenang, meskipun ujung jarinya terasa dingin.
"Saya mengerti, Shibata-sensei."
"Kalau begitu, silakan kembali ke kamar Anda. Kisaragi-sama sedang menyelesaikan evaluasi."
Mai melirik lembar soal yang berada di hadapan Ren, kemudian memandang wajah pemuda itu sekali lagi. Ada lingkaran samar di bawah matanya. Bibirnya terlihat lebih pucat daripada biasanya, dan tangan yang memegang pensil beberapa kali berhenti sebelum mencapai ujung baris.
Mai mengenali tanda-tanda itu.
Ia pernah melihat Ren berusaha tersenyum ketika kepalanya sakit. Pernah melihatnya mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, padahal ia harus berpegangan pada meja untuk menjaga keseimbangan. Dan sore tadi, ia melihat darah menetes di atas lembar jawaban sementara orang yang bertanggung jawab mengawasi belajarnya justru memikirkan target soal yang belum selesai.
Mai menarik napas.
"Shibata-sensei, saya ingin meminta agar sesi belajar hari ini dihentikan."
Pensil Ren berhenti bergerak.
Shibata menatap Mai seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
"Maaf?"
"Saya ingin sesi belajar dihentikan sampai kondisi Onii-sama diperiksa oleh tenaga medis."
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Jarum jam antik terus berdetak. Dari luar jendela terdengar suara burung yang singgah sebentar di dahan, kemudian terbang menjauh. Shibata perlahan menutup buku catatannya, tetapi tidak langsung menjawab.
"Apakah Anda menyadari apa yang sedang Anda minta?"
Mai menautkan kedua tangan di depan tubuhnya.
"Saya menyadarinya."
"Jadwal ini ditetapkan oleh Tuan Kisaragi. Saya menerima mandat langsung untuk memastikan seluruh program dijalankan sesuai ketentuan. Anda tidak memiliki kewenangan untuk membatalkan sesi."
Mai merasakan tengkuknya menegang. Ia tahu siapa yang sedang dihadapinya. Shibata bukan sekadar tutor yang keras kepala. Ia adalah orang yang diberi kuasa untuk mengawasi Ren, menyusun laporan, dan memastikan bahwa tuntutan Souichiro dijalankan tanpa penyimpangan.
Menentangnya secara terbuka berarti mengambil risiko.
Namun, Mai telah belajar bahwa diam pun memiliki konsekuensi.
"Benar, saya tidak menyusun jadwal itu," jawabnya. "Dan saya tidak berniat mengambil alih tugas Anda sebagai tutor."
"Kalau begitu, jangan mencampuri pelaksanaan program."
"Tetapi saya juga tidak bisa berpura-pura bahwa kondisi Onii-sama tidak perlu diperhatikan."
Shibata mengerutkan kening.
"Beliau sudah tidak mengalami pendarahan. Tidak ada alasan untuk membuat keadaan ini menjadi lebih besar daripada yang sebenarnya."
Mai menoleh ke arah Ren.
Pemuda itu masih duduk diam. Pensilnya terletak di atas kertas, sementara tangannya yang lain menekan pelipis. Ia tidak meminta Mai berbicara atas namanya. Ia juga tidak menggeleng untuk menyuruhnya berhenti.
Ia hanya menatapnya.
Mai kembali memandang Shibata.
"Beliau mengalami mimisan saat mengerjakan soal, mengeluhkan sakit kepala, dan kesulitan mempertahankan konsentrasi. Anda sendiri melihat semua itu."
"Dan saya sudah menghentikan sesi sementara untuk menangani pendarahannya."
"Setelah itu, Anda kembali meminta beliau mengerjakan soal."
"Itu bagian dari evaluasi."
"Evaluasi terhadap kemampuan akademik tidak dapat menggantikan pemeriksaan kesehatan."
Nada suara Mai tetap sopan, tetapi setiap katanya kini terdengar lebih tegas. Ia tidak lagi berusaha menyamarkan maksudnya di balik alasan sederhana untuk membawakan air atau merapikan meja.
Shibata menegakkan punggung.
"Kanade-san, saya menghargai kepedulian Anda terhadap kakak Anda. Namun, kedekatan keluarga tidak boleh menjadi alasan untuk mengintervensi program pendidikan yang telah dirancang secara profesional."
Kata kakak membuat dada Mai terasa sesak sesaat.
Dulu, ia mungkin akan menunduk dan menerima ucapan itu sebagai pengingat tentang batas perannya. Ia mungkin akan meminta maaf, meninggalkan ruangan, kemudian menangis sendirian karena tidak sanggup menolong seseorang yang mulai disayanginya.
Namun, sekarang ia tahu bahwa hubungan mereka tidak lagi dapat dijelaskan hanya melalui peran yang diberikan kepadanya.
Mai tidak perlu menjadi adik kandung Ren untuk mengakui bahwa ia sedang kesakitan.
Dan ia tidak perlu menyangkal perasaannya hanya karena orang lain mengira kepeduliannya berasal dari hubungan keluarga.
"Justru karena saya peduli, saya tidak bisa membiarkan ini berlanjut," katanya.
Shibata terdiam.
Mai melanjutkan sebelum keberaniannya surut.
"Anda bertanggung jawab atas pelaksanaan bimbingan akademik. Anda bertugas mengatur materi, mengawasi pengerjaan soal, dan mengevaluasi hasil belajar. Tetapi kewenangan itu tidak berarti Anda boleh mengabaikan kondisi kesehatan murid yang Anda awasi."
"Kondisi beliau tidak berada dalam penilaian Anda."
"Benar. Karena itu, saya meminta pemeriksaan tenaga medis, bukan membuat diagnosis sendiri."
Mai menunjuk perlahan ke arah nampan yang dibawanya.
"Air minum, kain bersih, dan perlengkapan pertolongan pertama ini bukan pengganti pemeriksaan. Saya membawanya karena saya melihat beliau membutuhkan bantuan. Jika Anda yakin kondisi beliau tidak serius, biarkan tenaga medis memastikan hal itu. Saya tidak meminta Anda memutuskan sendiri apakah mimisan dan sakit kepala tersebut cukup penting untuk diperiksa."
Shibata menatapnya tajam.
"Anda sedang melampaui batas."
Mai merasakan telapak tangannya mulai berkeringat. Ia dapat membayangkan laporan yang mungkin ditulis Shibata setelah ini. Ia juga dapat membayangkan Souichiro memanggilnya ke ruang kerja, mempertanyakan keberaniannya, lalu menggunakan kejadian tersebut sebagai alasan untuk membatasi geraknya lebih jauh.
Namun, jika ia mundur sekarang, Ren akan kembali duduk di hadapan soal-soal itu sampai malam.
Mai mengangkat dagunya sedikit.
"Kalau pemeriksaan medis dianggap sebagai gangguan terhadap jadwal, saya akan meminta bantuan tenaga medis keluarga secara langsung."
Shibata terdiam sesaat.
Mai tahu ia telah menyentuh titik yang tidak nyaman. Program belajar itu mungkin memiliki jadwal yang ketat, tetapi tidak seorang pun dapat dengan mudah mengklaim bahwa seorang murid tidak memerlukan pemeriksaan setelah mengalami gejala fisik di tengah kegiatan.
"Apakah Anda mengancam saya?" tanya Shibata.
"Tidak, Shibata-sensei."
Mai menggeleng pelan.
"Saya sedang menjelaskan apa yang akan saya lakukan jika kondisi Onii-sama terus diabaikan."
Untuk pertama kalinya, Shibata tidak segera membalas.
Ia menatap gadis berusia enam belas tahun di hadapannya. Penampilan Mai tetap rapi, suaranya masih menggunakan kesopanan yang diharapkan dari putri keluarga Kisaragi, dan ia tidak meninggikan suara. Namun, tidak ada keraguan yang biasanya muncul ketika seorang gadis muda berhadapan dengan orang dewasa yang memiliki kewenangan lebih besar.
Mai tidak sedang mengamuk.
Ia sedang menuntut pertanggungjawaban.
Dan hal itu jauh lebih sulit untuk disingkirkan dengan teguran biasa.
Ren memperhatikan percakapan itu tanpa menyela.
Ia mengenal Mai sebagai seseorang yang mampu mengubah suasana ruangan dengan senyum, menenangkan orang lain melalui candaan kecil, atau menyamarkan kegelisahan dengan gerakan tangan yang cekatan. Ia juga pernah melihatnya mempertahankan profesionalisme bahkan ketika berada di bawah ancaman Saito.
Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam sikapnya sore itu.