Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #66

Pertemuan Singkat di Akihabara

Siang itu, Mai hanya diberi waktu dua jam.

Dua jam untuk membeli perlengkapan sekolah yang menurut daftar dari wali kelasnya mulai menipis. Dua jam untuk meninggalkan Kediaman Kisaragi tanpa pengawalan yang terlalu mencolok, meskipun ia tahu kebebasan semacam itu hanyalah bentuk lain dari pengawasan yang dibuat lebih mudah diterima. Dua jam, dengan waktu keberangkatan, tujuan, dan batas kepulangan yang sudah ditulis rapi dalam catatan kecil milik Saito Kazuma.

“Pastikan Anda kembali paling lambat pukul tiga belas empat puluh,” ujar pria itu pagi tadi, sambil membetulkan posisi kacamatanya di ruang makan. “Kendaraan akan menjemput Anda di gerbang stasiun. Jangan mengubah tujuan tanpa pemberitahuan. Simpan tanda terima pembelian Anda.”

Mai, yang sedang merapikan tali tas sekolahnya, mengangkat wajah.

“Baik, Saito-san.”

“Dan satu hal lagi.” Saito menutup map hitam yang dibawanya. Bunyi sampulnya beradu dengan meja terdengar pendek dan tegas. “Mengingat insiden di perpustakaan beberapa hari lalu, saya harap Anda memahami bahwa kelonggaran ini diberikan berdasarkan kepercayaan yang terbatas. Jangan membuat saya menyesal telah menyetujuinya.”

Mai menundukkan kepala sedikit, memasang senyum manis yang sudah menjadi kebiasaan.

“Tentu saja. Saya hanya akan membeli perlengkapan sekolah.”

Saito menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah sedang mencari celah dalam jawaban sesederhana itu. Mai membalas tatapannya dengan mata bulat dan ekspresi patuh yang sudah berkali-kali menyelamatkannya dari pertanyaan lebih jauh.

Akhirnya, Saito berdiri.

“Kalau begitu, silakan.”

Mai menunggu sampai pria itu keluar dari ruang makan sebelum mengembuskan napas perlahan. Jemarinya yang tadi mencengkeram tali tas baru mengendur setelah suara langkah Saito menjauh di lorong.

Ia memang membutuhkan beberapa perlengkapan sekolah. Buku catatan, isi pensil mekanis, dan penghapus yang sudah mulai habis bukanlah alasan yang dibuat-buat. Namun, tujuan sebenarnya bukan toko alat tulis di pusat perbelanjaan dekat stasiun.

Tujuannya adalah Akihabara.

Ia ingin menemui seseorang yang pernah mengenalnya jauh sebelum ia mengenakan seragam Akademi Seiwa, jauh sebelum nama Kisaragi Kanade menjadi sesuatu yang harus ia ucapkan dengan hati-hati, dan jauh sebelum setiap keputusan kecil dalam hidupnya perlu dipertimbangkan berdasarkan risiko pelanggaran kontrak.

Ia ingin bertemu mantan manajernya.

Orang yang dahulu memarahinya karena datang terlambat tiga menit, tetapi diam-diam menyisihkan roti melon ketika mengetahui Mai belum sempat sarapan. Orang yang mengajarinya cara menahan senyum saat pelanggan bersikap menyebalkan, sekaligus mengingatkannya bahwa ia tidak harus menoleransi perlakuan yang melewati batas. Orang yang mengenalnya sebagai Miyauchi Mai, bukan sebagai seorang adik perempuan yang telah meninggal atau gadis panggung bernama Mei-chan.

Dan yang paling penting, orang itu mengenalnya tanpa perlu membaca berkas apa pun untuk mengetahui siapa dirinya.

Kereta menuju Akihabara bergerak dengan getaran teratur, berderak lembut setiap kali melewati sambungan rel. Di dalam gerbong, suara pengumuman stasiun berselang-seling dengan percakapan para penumpang dan bunyi notifikasi ponsel. Matahari siang menyusup melalui jendela, memantulkan garis-garis cahaya pada lantai dan sisi kursi.

Mai duduk dekat pintu, tas sekolah diletakkan di pangkuan. Di dalamnya terdapat dompet, daftar perlengkapan sekolah, dan ponsel yang layarnya beberapa kali ia periksa tanpa benar-benar membaca apa pun.

Pukul dua belas lewat delapan menit.

Ia masih punya waktu.

Di sampingnya, seorang siswi berseragam sedang tertawa bersama temannya sambil menunjukkan sesuatu di layar ponsel. Dua kursi di seberang, seorang pegawai kantoran memejamkan mata dengan kepala terangguk-angguk mengikuti gerakan kereta. Seorang anak kecil menempelkan telapak tangan ke kaca, menunjuk bangunan yang melintas di luar.

Pemandangan biasa. Orang-orang biasa. Hari yang biasa.

Mai memperhatikan mereka dengan perasaan ganjil, seperti seseorang yang kembali mengunjungi lingkungan masa kecil setelah bertahun-tahun tinggal di tempat yang asing.

Dahulu, perjalanan seperti ini merupakan bagian kecil dari kehidupannya. Ia naik kereta dengan kaki pegal setelah berdiri berjam-jam, menghitung uang receh untuk makan malam, dan sesekali tertidur sambil memeluk tas. Tidak ada sopir yang menunggunya di gerbang. Tidak ada pengacara yang mengingatkan batas waktu kepulangannya. Tidak ada kamera yang membuatnya bertanya-tanya apakah seseorang sedang memperhatikan caranya berbicara atau berjalan.

Kehidupan itu tidak mudah. Ia bahkan tidak yakin bisa menyebutnya bahagia tanpa merasa sedang memperindah masa lalu.

Namun, setidaknya, ketika ia pulang terlambat, alasan yang harus ia pertanggungjawabkan adalah miliknya sendiri.

Jari Mai meraba kalung tipis yang tersembunyi di balik kerah bajunya.

Liontin berinisial M itu menyentuh ujung kukunya. Permukaannya dingin, tetapi beratnya terasa menenangkan.

Ren memberikannya bukan sebagai hadiah untuk Kanade.

Ia memberikannya kepada Miyauchi Mai.

Ingatan itu membuat sudut bibirnya terangkat sedikit. Sesaat kemudian, senyum tersebut memudar ketika bayangan Ren di perpustakaan kembali muncul dalam benaknya: wajah pucat, bekas darah di bawah hidung, dan tangan yang masih hendak meraih lembar soal meskipun tubuhnya jelas-jelas meminta istirahat.

Mai menunduk, menatap kedua tangannya.

Ia tidak bisa terus-menerus hanya bereaksi setiap kali Ren terluka. Tidak cukup baginya untuk datang membawa air, membersihkan darah, atau berdiri di depan seorang tutor yang menganggap kesehatan muridnya sebagai urusan sekunder. Jika mereka benar-benar ingin meninggalkan kehidupan itu, mereka membutuhkan sesuatu yang lebih dari keberanian sesaat.

Mereka membutuhkan jalan keluar.

Dan untuk pertama kalinya, Mai mulai memikirkan masa depan bukan hanya sebagai tempat yang ingin ia tuju, melainkan sebagai sesuatu yang harus ia persiapkan.

Kereta melambat. Pengumuman stasiun terdengar dari pengeras suara.

Mai mengangkat kepala.

Akihabara.

Ia berdiri, merapikan rok seragamnya, lalu melangkah bersama arus penumpang menuju pintu yang terbuka.

Begitu keluar dari stasiun, udara kota menyambutnya dengan campuran aroma aspal hangat, makanan dari kedai-kedai kecil, dan sedikit bau logam dari rel kereta. Papan iklan berwarna cerah memenuhi pandangan. Musik dari toko elektronik terdengar dari pengeras suara di pinggir jalan, bercampur dengan suara pedagang, derap langkah pejalan kaki, serta percakapan para penggemar yang berkumpul di depan etalase.

Akihabara masih sama.

Setidaknya, dari kejauhan.

Mai berjalan melewati sebuah toko yang menjual figur karakter anime. Di balik kaca, barisan benda koleksi dipajang dalam susunan yang rapi. Ia mengenali beberapa karakter yang dahulu sering menjadi bahan percakapan pelanggan di kafe tempatnya bekerja.

Tanpa sadar, ia tersenyum.

Dulu, ia bisa menghabiskan waktu sepuluh menit hanya untuk mendengarkan seorang pelanggan menjelaskan mengapa karakter tertentu adalah yang terbaik dalam satu serial. Ia tidak selalu memahami seluruh istilah yang mereka gunakan, tetapi ia tahu kapan harus mengangguk, kapan perlu bertanya, dan kapan sebuah seruan antusias akan membuat mereka merasa didengarkan.

Ada pelanggan yang datang untuk kopi. Ada yang datang untuk makanan penutup. Ada pula yang datang karena mereka ingin seseorang menyambut mereka dengan hangat setelah menjalani hari yang buruk.

Mai pernah menjadi bagian dari ritual kecil itu.

Dan, untuk beberapa waktu, ia menyukainya.

Ponselnya bergetar.

Ia segera mengeluarkannya.

Sebuah pesan pengingat dari nomor yang telah disimpannya sebagai Saito-san muncul di layar.

Jangan lupa memperhitungkan waktu perjalanan kembali.

Mai menatap pesan itu, lalu menghela napas melalui hidung.

“Ya ampun. Aku belum berubah menjadi buronan, Saito-san,” gumamnya.

Suaranya nyaris tenggelam oleh keramaian jalan.

Namun, setelah memasukkan kembali ponselnya, ia tidak langsung melanjutkan langkah. Ia menatap layar yang telah gelap selama beberapa detik, menyadari betapa cepatnya ia kembali merasa diawasi hanya karena satu pesan pendek.

Dahulu, ponselnya dipenuhi pesan dari rekan kerja tentang pergantian jadwal, permintaan bertukar giliran, atau foto makanan yang gagal dibuat dengan bentuk hati. Sekarang, pesan-pesan yang paling membuatnya waspada adalah pengingat tentang batasan dan kewajiban.

Mai mengencangkan tali tas di bahunya.

Ia tidak datang ke Akihabara untuk menghabiskan waktunya dengan takut.

Ia datang karena ingin mengingat bahwa dirinya pernah memiliki kehidupan sendiri.

Maid café itu terletak di jalan yang sedikit lebih sempit daripada jalan utama, di antara toko aksesori dan kedai makanan yang pintunya terbuka lebar. Papan namanya masih terpasang di atas pintu, dengan ilustrasi kelinci bercelemek dan tulisan bergaya manis yang dahulu sangat dikenalnya.

Mai berhenti di seberang jalan.

Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri di sana, memandang jendela lantai dasar yang dihiasi tirai pastel. Dari dalam terdengar suara lonceng pintu, lalu seruan para pelayan yang menyambut pelanggan dengan nada ceria.

Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tidak sepenuhnya berupa kesedihan.

Ia teringat hari pertamanya bekerja. Saat itu, ia mengenakan kostum yang terasa terlalu mengembang di bagian rok, sementara pita di kepalanya miring ke kiri. Manajernya harus membetulkan pita tersebut dua kali sebelum mengizinkannya keluar ke ruang pelanggan. Mai begitu gugup hingga hampir menumpahkan segelas air ke sepatu seorang pelanggan.

Ia juga teringat hari-hari ketika ia datang bekerja dengan mata sembap karena kurang tidur, tetapi tetap berusaha menghibur pelanggan. Malam-malam ketika ia menghitung uang tip di ruang belakang, membagi penghasilannya untuk kebutuhan harian, tabungan, dan tagihan yang tidak pernah benar-benar habis.

Kehidupan itu tidak sempurna.

Namun, di sana ia pernah gagal tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain.

Ia pernah tertawa karena lelucon bodoh. Pernah marah karena jadwal yang berubah mendadak. Pernah merasa bangga ketika seorang pelanggan kembali dan mengatakan bahwa ia telah menantikan giliran Mai bertugas.

Ia pernah menjadi Mai.

Sebelum ia menyadarinya, tangannya sudah bergerak menuju gagang pintu samping yang mengarah ke area belakang kafe. Ia berhenti tepat sebelum menyentuhnya.

Bagaimana kalau manajernya tidak ingin bertemu?

Bagaimana kalau ia menganggap Mai sudah meninggalkan semuanya tanpa penjelasan?

Bagaimana kalau ia bertanya mengapa Mai menghilang begitu saja, dan Mai tidak mampu memberikan jawaban yang masuk akal?

Jemarinya menggantung di udara.

Di kepalanya, suara Saito muncul seperti rekaman yang diputar berulang-ulang: jangan mengubah tujuan, jangan melanggar ketentuan, jangan membuat keputusan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.

Mai memejamkan mata sebentar.

Ia tidak akan menceritakan semuanya. Ia bahkan tidak bisa menceritakan sebagian besar hal yang paling penting. Namun, ia masih berhak menemui seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, bukan?

Dengan tarikan napas yang pelan, ia mengetuk pintu.

Dua kali.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras.

Dari balik pintu terdengar suara benda diletakkan di atas meja, disusul langkah kaki yang mendekat. Gagang pintu bergerak. Sesaat kemudian, pintu terbuka, memperlihatkan seorang pria berusia tiga puluh lima tahun dengan kemeja kerja berwarna gelap dan celemek yang diikat di pinggang.

Pria itu mengerutkan kening, masih memegang lap di tangan kanannya.

“Ya? Kalau ada pengiriman, taruh saja di—”

Kalimatnya terputus.

Matanya membesar.

Lap di tangannya terjatuh ke lantai.

“Mai?”

Mai berdiri kaku di ambang pintu. Ia telah menyiapkan beberapa kalimat sebelum datang, tetapi semuanya mendadak lenyap ketika mendengar namanya sendiri diucapkan dengan begitu alami.

Bukan Kanade.

Bukan Mei-chan.

Mai.

“Halo, Manajer,” katanya akhirnya.

Senyumnya muncul terlambat, tipis dan sedikit canggung. “Sudah lama, ya?”

Pria itu menatapnya dari kepala hingga kaki, seolah sedang memastikan bahwa orang di hadapannya bukan sekadar seseorang yang memiliki wajah serupa. Lalu ia melangkah maju dan menepuk bahu Mai dengan telapak tangan yang hangat.

“Sudah lama?” ulangnya. “Kau menghilang begitu saja, tidak menghubungi siapa pun, dan sekarang muncul di pintu belakang seperti pelanggan yang hendak menyelundupkan makanan dari luar. Kau menyebut itu sudah lama?”

Nada suaranya terdengar seperti teguran, tetapi alisnya telah terangkat dengan ekspresi lega.

Mai terkekeh kecil.

“Maaf.”

“Hanya itu?”

“Maaf sekali?”

“Lebih baik.” Manajer menghela napas, kemudian menyingkir dari pintu. “Masuklah sebelum seseorang melihatmu berdiri di sini. Kau membuatku terlihat seperti sedang menagih utang.”

Mai melangkah ke dalam.

Area belakang kafe itu jauh lebih sempit daripada yang ia ingat. Di satu sisi terdapat rak berisi kotak-kotak bahan makanan, kardus minuman, dan perlengkapan kebersihan. Sebuah kipas kecil berputar di dekat jendela, menggerakkan udara yang membawa aroma kopi, deterjen, dan makanan yang sedang dipersiapkan di dapur.

Di dinding, jadwal kerja para pelayan masih ditempel dengan selotip. Ada beberapa nama baru, sementara sebagian nama lama telah menghilang. Di atas meja kecil, sebuah kalender memuat catatan pesanan dan jadwal pengiriman.

Segala sesuatu terasa lebih kecil daripada ingatan Mai.

Atau mungkin dirinya yang telah terlalu lama tinggal di tempat-tempat yang membuatnya merasa kecil.

“Duduklah,” kata manajer sambil menarik sebuah kursi lipat. “Kau sudah makan?”

Mai mengangguk, lalu segera menggeleng ketika menyadari ia belum makan siang.

Manajer menatapnya datar.

“Jawaban macam apa itu?”

“Aku belum sempat makan.”

“Sudah kuduga.” Ia berbalik menuju rak kecil di dekat dapur. “Tunggu di sini.”

“Tidak perlu repot-repot, Manajer. Aku hanya ingin mengobrol sebentar.”

“Kalau begitu, kau bisa mengobrol sambil makan.”

Ia menghilang di balik pintu dapur sebelum Mai sempat membantah.

Mai duduk di kursi lipat. Ia meletakkan tas di pangkuan, kemudian menatap tangannya sendiri. Jemarinya bergerak-gerak kecil di atas kain rok, seolah masih mencari sesuatu untuk dikerjakan.

Tidak ada instruksi yang harus dihafalkan. Tidak ada senyum yang harus dipertahankan. Tidak ada seseorang yang berdiri di balik kaca untuk mencatat berapa lama ia berbicara dengan orang lain.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, Mai tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan dengan kedua tangannya.

Ia akhirnya menyatukan jemarinya dan menaruhnya di atas tas.

Beberapa menit kemudian, manajer kembali membawa sepiring nasi dengan lauk sederhana dan segelas teh dingin. Ia meletakkannya di hadapan Mai, lalu duduk di kursi seberang sambil menyandarkan punggung.

“Makanlah. Kau terlihat seperti belum tidur cukup selama seminggu.”

Mai menatap piring itu, kemudian tertawa kecil.

“Separah itu?”

“Lebih parah daripada saat kau mencoba menyembunyikan bahwa kau sakit perut supaya tidak perlu mencari pengganti untuk giliran malam.”

“Itu bukan contoh yang bagus.”

“Itu contoh yang sangat bagus. Kau bahkan masih tersenyum sambil memegangi perutmu.”

Mai tertawa lagi. Kali ini lebih lepas.

Manajer memperhatikannya dengan senyum samar, tetapi ketika tawa itu mereda, tatapannya berubah. Ia mengamati lingkaran samar di bawah mata Mai, bahunya yang tampak kaku, serta cara gadis itu terus melirik jam dinding meskipun belum ada alasan untuk melakukannya.

“Mai,” panggilnya pelan.

Mai mengangkat wajah.

“Kau baik-baik saja?”

Pertanyaan itu begitu sederhana hingga Mai tidak segera menemukan jawaban.

Di Kediaman Kisaragi, pertanyaan tentang keadaannya sering kali memiliki tujuan lain. Apakah ia menjalankan tugasnya? Apakah ia menjaga perilaku Kanade? Apakah ia membuat Ren tenang? Apakah ia menimbulkan masalah yang bisa merusak reputasi keluarga?

Bahkan ketika seseorang bertanya apakah ia lelah, jawaban yang diharapkan terkadang sudah tersedia sebelum ia membuka mulut.

Di sini, manajer hanya menunggunya.

Tidak ada map hitam di atas meja. Tidak ada kamera yang jelas-jelas diarahkan ke wajahnya. Tidak ada ancaman tentang denda jika ia mengatakan sesuatu yang salah.

Hanya seorang pria yang pernah memberinya jadwal kerja dan sesekali membelikan makanan karena ia terlalu keras kepala untuk mengakui bahwa dirinya lapar.

Mai menunduk, mengambil sumpit, lalu mengaduk nasi di piring.

“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur.

Manajer tidak langsung menanggapi. Ia meraih gelasnya sendiri dan menyesap teh, memberi Mai waktu untuk melanjutkan jika ia menginginkannya.

“Ada banyak hal yang terjadi,” kata Mai akhirnya. “Aku pindah ke lingkungan yang berbeda. Sekarang aku harus melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan. Aku juga bertemu seseorang yang sangat penting bagiku.”

Lihat selengkapnya