Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #67

Surat dari Teman

Angin di atap Akademi Seiwa bertiup lebih kencang daripada biasanya.

Awan putih bergerak lambat di atas gedung-gedung sekolah, sementara cahaya matahari siang jatuh menyilaukan pada pagar pembatas yang mengelilingi atap. Di kejauhan, deretan bangunan Tokyo tampak berlapis-lapis di balik udara yang sedikit berkabut. Sesekali, suara kendaraan dari jalan raya di bawah terdengar samar, segera ditelan embusan angin yang menyapu permukaan beton.

Ren berdiri di dekat pagar, satu tangan dimasukkan ke saku celana, sementara tangan lainnya memegang sebotol air mineral yang belum dibuka.

Ia sengaja memilih tempat itu karena atap sekolah biasanya sepi pada jam istirahat kedua. Sebagian besar siswa lebih suka menghabiskan waktu di kantin atau ruang klub, dan hanya beberapa orang yang sesekali naik ke atas untuk mencari udara segar. Bagi Ren, tempat ini memberikan sesuatu yang semakin sulit ia temukan belakangan ini: beberapa menit ketika tidak ada orang yang meminta sesuatu darinya.

Tidak ada tutor yang meletakkan lembar soal di hadapannya.

Tidak ada ayah yang menanyakan hasil ujian simulasi.

Tidak ada pengacara yang datang membawa jadwal, evaluasi, dan peringatan tentang kewajiban kontraktual orang-orang di sekelilingnya.

Hanya angin, langit, dan suara sekolah yang terdengar dari kejauhan.

Ren memutar tutup botol di tangannya, tetapi tidak membukanya. Pikirannya masih tertinggal di perpustakaan kediaman beberapa hari lalu, pada wajah pucat Mai yang berdiri di hadapan tutor mereka dengan kotak pertolongan pertama di tangan. Gadis itu telah mempertaruhkan kelonggaran geraknya sendiri demi memastikan bahwa ia berhenti belajar sebelum tubuhnya benar-benar menyerah.

Ia masih mengingat nada suaranya ketika mengatakan bahwa ia tidak bisa berpura-pura tidak peduli.

Kalimat itu sederhana. Tidak terdengar seperti pidato heroik, tidak pula disampaikan dengan keyakinan seseorang yang merasa dirinya sanggup menyelesaikan semua masalah. Justru karena itulah Ren mengingatnya.

Mai tidak sedang berusaha menjadi penyelamatnya.

Ia hanya menolak membiarkannya menghancurkan diri sendiri tanpa perlawanan.

Ren menunduk, memandang botol di tangannya.

Selama ini, ia terbiasa menilai dirinya berdasarkan seberapa baik ia memenuhi tuntutan. Jika ia belajar lebih keras, mungkin ayahnya tidak akan marah. Jika ia mencapai nilai sempurna, mungkin tidak akan ada lagi evaluasi tambahan. Jika ia bersikap patuh, mungkin keluarganya akan berhenti memperlakukannya sebagai seseorang yang harus terus diawasi setelah bangun dari koma.

Namun, ia sudah mulai memahami bahwa tuntutan itu tidak memiliki garis akhir yang jelas.

Satu ujian akan disusul ujian berikutnya. Satu target akan digantikan target lain. Dan setiap kali ia mencoba memenuhi semuanya, keluarganya akan menemukan alasan baru untuk memastikan bahwa ia tetap berada di bawah kendali mereka.

Dahulu, ia mengira kepatuhan adalah cara untuk menjaga keadaan tetap tenang.

Sekarang, ia mulai menyadari bahwa ketenangan yang dibangun di atas pengorbanan dirinya sendiri bukanlah ketenangan yang layak dipertahankan.

Ren akhirnya membuka botol air dan meneguknya. Air yang dingin membasahi tenggorokannya, tetapi tidak cukup untuk mengusir rasa kering yang tersisa setelah beberapa malam dengan tidur yang terputus-putus.

Ia baru saja menutup botol itu ketika pintu menuju atap terbuka dengan bunyi keras.

Brak!

Ren menoleh.

“Ketemu juga kau!”

Tanaka Kenji muncul dari balik pintu dengan napas sedikit terengah. Rambutnya berantakan diterpa angin, dasinya sudah dilonggarkan, dan satu tangan memegangi pintu agar tidak kembali membanting dirinya sendiri. Di tangan lainnya terdapat selembar amplop putih yang ujungnya sedikit tertekuk.

Ren mengangkat alis.

“Kenji? Kau mencariku?”

“Tidak. Aku naik ke atap untuk berduel dengan angin, lalu kebetulan menemukan pewaris konglomerat yang sedang melamun di sudut.”

“Kalau begitu, duelmu mengganggu.”

“Kurang ajar sekali. Aku sudah mempertaruhkan nyawaku melawan pintu yang hampir menampar wajahku, dan itu sambutan yang kudapat?”

Kenji menutup pintu dengan lebih hati-hati kali ini. Ia berjalan mendekat, tetapi tidak langsung duduk atau mengeluarkan lelucon lain. Matanya justru tertuju pada Ren dengan perhatian yang membuat senyum di wajahnya perlahan memudar.

Ren menyadarinya.

“Ada apa?”

Kenji berhenti beberapa langkah di hadapannya. Ia memasukkan satu tangan ke saku, mengeluarkannya kembali, lalu meremas amplop putih yang dibawanya sebelum buru-buru meluruskan bagian yang kusut.

“Aku mau memberikan sesuatu.”

Ren memandang amplop itu.

“Surat?”

“Ya, surat.” Kenji mengangkat dagu, seolah sedang membela keputusan yang sudah dipikirkannya selama berhari-hari. “Aku tahu ini terdengar kuno. Aku juga tahu kita hidup di zaman ketika orang bisa mengirim pesan sepanjang dua halaman lewat ponsel sambil mengirim stiker kucing menangis. Tapi kalau aku menyampaikan ini secara langsung, kemungkinan besar aku akan mengoceh selama dua puluh menit, mengubah topik pembicaraan tiga kali, lalu berakhir dengan mengatakan sesuatu yang bodoh.”

“Seperti biasanya.”

“Bisakah kau tidak menghancurkan momen emosional yang bahkan belum dimulai?”

Ren mengangkat kedua tangan sedikit sebagai tanda menyerah.

“Silakan lanjutkan.”

Kenji mengembuskan napas panjang. Ia mengulurkan amplop itu, tetapi ketika Ren hendak mengambilnya, tangannya sempat tertahan.

“Baca sampai selesai, ya.”

Ren menatap wajah sahabatnya. Di balik sikapnya yang biasa berisik, Kenji tampak benar-benar gugup. Ada kerutan kecil di antara alisnya, sementara jari-jari yang memegang amplop itu bergerak tanpa sadar di sepanjang tepinya.

Ren akhirnya menerima surat tersebut.

“Baik.”

“Dan jangan langsung bilang semuanya baik-baik saja setelah membacanya.”

Ren mengangkat pandangan.

Kenji menatapnya lurus-lurus. Kali ini, tidak ada senyum yang berusaha menyamarkan keseriusannya.

“Aku serius, Ren.”

Angin bertiup di antara mereka. Ujung amplop bergetar kecil di tangan Ren.

Kenji menelan ludah sebelum melanjutkan.

“Aku tahu kau sedang menghadapi sesuatu. Aku tidak tahu semuanya, dan aku tidak akan berpura-pura tahu. Tapi aku bisa melihat kondisimu belakangan ini. Kau makin pucat, sering melamun, dan kadang-kadang bahkan tidak mendengar ketika orang memanggilmu. Kemarin, waktu kita berjalan dari kelas, kau hampir menabrak tiang karena membaca sesuatu di ponsel.”

“Itu hanya sekali.”

“Sekali sudah cukup untuk membuatku khawatir! Tiang itu tidak bersalah!”

Ren hampir tersenyum. Hampir.

Kenji mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu menjatuhkan tangannya ke sisi tubuh.

“Lihat? Bahkan sekarang kau masih berusaha mengecilkan semuanya. Aku bilang kau hampir menabrak tiang, dan kau langsung mencari cara untuk membuatnya terdengar sepele.”

Ren tidak menjawab.

Kenji menatapnya beberapa saat sebelum mengalihkan pandangan ke pagar pembatas. Ia berjalan ke sana, berdiri di samping Ren, tetapi menyisakan jarak yang cukup agar sahabatnya tidak merasa sedang dipojokkan.

“Aku tidak tahu apa yang dilakukan keluargamu sekarang,” katanya. “Aku juga tidak tahu apa yang kau pikirkan setiap kali pulang ke rumah. Tapi aku tahu wajah seseorang yang sedang memaksakan diri untuk tetap berdiri, padahal sebenarnya dia sudah kehabisan tenaga.”

Ren merendahkan botol airnya.

“Kenji—”

“Dengarkan dulu.”

Nada suara Kenji tidak keras. Justru karena itulah Ren menghentikan kalimatnya.

Kenji menarik napas melalui hidung, lalu mengembuskannya perlahan.

“Aku pernah melihatmu seperti itu sebelumnya.”

Kalimat tersebut membuat udara di antara mereka terasa berubah.

Ren tidak perlu bertanya kapan.

Kenji masih mengingat masa ketika Ren belum menjadi pemuda yang sekarang berdiri di hadapannya.

Ia mengingat Ren yang selalu memperoleh nilai tertinggi, yang mampu menjawab pertanyaan guru sebelum siswa lain selesai membaca soal, dan yang menganggap tidur empat jam sebagai sesuatu yang masih bisa ditoleransi jika ada pekerjaan yang belum selesai. Ia juga mengingat bagaimana Ren perlahan berubah setelah kematian Kanade.

Awalnya, perubahan itu tidak terlalu terlihat oleh orang-orang di luar keluarga Kisaragi. Ren masih datang ke sekolah, masih menyerahkan tugas, dan masih berbicara dengan nada datar yang sama. Jika seseorang bertanya, ia akan menjawab bahwa dirinya baik-baik saja.

Namun, Kenji adalah temannya.

Ia pernah melihat Ren tertidur di kelas dengan buku terbuka di atas meja, sesuatu yang hampir tidak pernah terjadi sebelumnya. Ia pernah melihat sahabatnya berdiri lama di depan mesin penjual minuman tanpa memilih apa pun, seolah lupa mengapa ia berada di sana. Ia juga pernah mendapati Ren menatap layar ponsel yang gelap dengan ekspresi kosong, sebelum memasukkannya kembali ke saku dan melanjutkan aktivitas seolah tidak terjadi apa-apa.

Ren tidak banyak mengeluh. Ia bahkan jarang mengakui bahwa dirinya sedang kesulitan.

Itulah yang membuat Kenji terlambat memahami seberapa parah keadaan sahabatnya.

Kemudian datanglah hari ketika Ren tidak masuk sekolah.

Awalnya, Kenji mengira Ren hanya sakit. Ia mengirim beberapa pesan, menanyakan tugas, lalu mengeluh karena tidak ada yang menjawab. Pada sore hari, ia mendapat kabar bahwa Ren mengalami kecelakaan dan berada dalam kondisi kritis.

Kenji masih mengingat betapa dinginnya tangannya ketika berdiri di koridor rumah sakit. Ia masih mengingat bau antiseptik, suara roda ranjang yang melintas, dan lampu putih yang membuat semua wajah tampak lebih pucat daripada seharusnya.

Ia juga mengingat dirinya sendiri yang terus bertanya kepada orang-orang dewasa di sekelilingnya tentang apa yang sebenarnya terjadi, hanya untuk menerima jawaban yang tidak pernah benar-benar menjelaskan apa pun.

Ren kemudian koma.

Waktu setelah itu berjalan dengan cara yang aneh. Hari-hari berlalu, tetapi bagi Kenji, semuanya terasa tertahan di depan pintu ruang perawatan. Ia tetap pergi ke sekolah, tetap mengerjakan tugas, tetap tertawa ketika teman-temannya membuat lelucon. Namun, setiap kali ponselnya bergetar, ia akan segera memeriksa layar, berharap ada kabar bahwa Ren telah sadar.

Ketika kabar itu akhirnya datang, Kenji merasa seolah seseorang baru saja mengizinkannya bernapas kembali.

Namun, Ren yang terbangun bukanlah Ren yang sepenuhnya ia kenal.

Ingatan sahabatnya berlubang. Ada bagian-bagian masa lalu yang tidak bisa dijangkaunya, termasuk kenangan yang selama ini menjadi bagian penting dari hidup mereka. Ren tampak lebih lembut, lebih mudah terkejut, dan lebih sering diam. Keluarganya mengatakan bahwa ia membutuhkan ketenangan. Mereka membatasi kunjungan, mengatur jadwal, dan berulang kali meminta orang-orang di sekitarnya agar tidak membicarakan hal-hal yang bisa memicu tekanan emosional.

Kenji berusaha mematuhinya.

Ia tidak ingin menjadi penyebab Ren kembali sakit.

Namun, seiring waktu, ia mulai menyadari bahwa ketenangan yang diberikan kepada Ren sering kali menyerupai kurungan yang dibuat dari aturan-aturan tak terlihat. Sahabatnya dijauhkan dari hal-hal yang dianggap berisiko, tetapi kemudian kembali diarahkan untuk memenuhi tuntutan yang sama beratnya dengan sebelum ia jatuh.

Dan kini, ketika melihat Ren berdiri dengan wajah pucat di atap sekolah, Kenji merasa seolah sedang menyaksikan bagian dari masa lalu yang berusaha kembali mengulang dirinya sendiri.

Ia tidak tahu apakah Ren menyadari kemiripan itu.

Ia hanya tahu bahwa ia tidak sanggup berdiri di koridor rumah sakit untuk kedua kalinya sambil bertanya-tanya apakah seharusnya ia menyadari sesuatu lebih cepat.

“Aku masih ingat waktu kau koma,” kata Kenji akhirnya.

Ren menunduk.

Angin meniup rambutnya ke dahi, tetapi ia tidak mengangkat tangan untuk merapikannya.

“Aku tahu,” jawabnya.

“Tidak. Aku rasa kau tidak tahu seberapa takutnya aku waktu itu.”

Kenji tertawa pendek, tetapi suara itu tidak mengandung kegembiraan. Ia mengusap tengkuknya, berusaha mencari posisi yang nyaman untuk menyampaikan sesuatu yang telah lama mengganjal di dadanya.

“Aku terus berpikir bahwa mungkin aku seharusnya melakukan sesuatu. Meneleponmu lebih sering. Memaksamu keluar dari rumah. Memarahimu ketika kau mulai bekerja terlalu keras. Apa saja.” Ia berhenti, mengatupkan rahang sebentar. “Aku tahu itu tidak sepenuhnya masuk akal. Aku bukan orang yang bisa mengendalikan semua keputusanmu. Tapi ketika seseorang yang kau anggap sahabat tiba-tiba terbaring di rumah sakit, sulit untuk tidak memikirkan apa yang seharusnya kau lakukan.”

Ren memandangnya.

Selama ini, ia mengira Kenji hanya mengingat masa koma sebagai peristiwa yang telah berlalu. Sesuatu yang menakutkan, tetapi pada akhirnya selesai setelah Ren membuka mata. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan bahwa orang-orang di sekitarnya juga membawa bekas dari kejadian itu.

Kenji menarik napas dalam-dalam.

“Ketika kau sadar, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan lebih memperhatikanmu. Aku tidak akan terus menganggap semua masalahmu sebagai sesuatu yang bisa kau selesaikan sendiri hanya karena kau pintar.”

Ia menoleh, menatap Ren dengan mata yang kini tidak lagi berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.

“Tapi aku takut aku kembali melakukan kesalahan yang sama.”

Ren mengerutkan kening.

“Kesalahan apa?”

“Membiarkanmu menyembunyikan semuanya sampai terlambat.”

Keheningan turun di antara mereka.

Dari lapangan olahraga di bawah, terdengar peluit guru yang memimpin latihan. Beberapa siswa berseru ketika bola melesat melewati garis lapangan. Suara-suara itu terasa begitu jauh, seperti berasal dari kehidupan yang berbeda dari percakapan mereka.

Ren akhirnya membuka mulut.

“Situasinya sekarang berbeda, Kenji.”

Ia mengucapkannya dengan tenang. Tidak ada nada kesal, tidak ada usaha untuk mengakhiri pembicaraan secepat mungkin. Namun, Kenji tetap mengamati wajahnya, memperhatikan cara Ren menahan bahunya agar tidak tampak terlalu tegang.

“Dulu, aku tidak memahami apa yang terjadi padaku,” lanjut Ren. “Aku juga tidak bisa menjelaskan apa yang kurasakan. Sekarang aku lebih mengerti situasinya.”

“Benarkah?”

Ren mengangguk.

“Ya.”

Kenji memandangnya lama, lalu menghela napas.

“Baik. Aku senang mendengarnya.”

Ren baru saja hendak melanjutkan ketika Kenji mengangkat tangan.

“Tapi aku tidak membutuhkan jawaban yang terdengar meyakinkan kalau setelah ini kau kembali memaksakan diri sampai kesehatanmu terancam.”

Ren terdiam.

“Aku tidak sedang meminta kau menceritakan semua masalahmu kepadaku. Aku tahu ada hal-hal yang tidak bisa kau bicarakan, dan aku tidak akan memaksamu.” Kenji menurunkan tangannya, mengepalkan jemari di sisi tubuh. “Tapi jangan meminta aku percaya bahwa semuanya berbeda hanya karena kau bilang begitu. Tunjukkan juga lewat caramu memperlakukan dirimu sendiri.”

Untuk beberapa saat, Ren tidak menjawab.

Ia menatap garis pagar yang memisahkan atap dari langit, kemudian melihat botol air di tangannya. Ia baru saja meneguk beberapa kali, tetapi tubuhnya masih terasa letih. Beberapa hari terakhir, ia memang berusaha menyesuaikan diri dengan jadwal yang ditetapkan ayahnya sambil diam-diam mencari celah untuk menyusun langkah berikutnya.

Ia telah belajar untuk tidak memperlihatkan terlalu banyak perlawanan sebelum memiliki rencana yang cukup matang. Ia mengamati, menghitung, dan menyimpan setiap informasi yang mungkin berguna. Ia ingin memastikan bahwa ketika akhirnya mengambil keputusan besar, ia tidak akan kembali terjebak dalam keadaan yang sama.

Namun, ada bahaya yang tidak ia perhitungkan dengan baik.

Ia bisa begitu sibuk mempersiapkan kebebasan hingga mengabaikan tubuhnya sendiri.

Ia bisa begitu bertekad untuk tidak lagi dikendalikan oleh orang lain hingga menganggap rasa sakit sebagai sesuatu yang harus ia tanggung sendirian.

Lihat selengkapnya