Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #68

Keretakan di Meja Makan

Malam turun di Kediaman Kisaragi dengan ketenangan yang nyaris sempurna.

Cahaya lampu gantung kristal membanjiri ruang makan utama, memantul pada permukaan meja panjang dari kayu mahoni yang telah dipoles hingga mengilap. Di atasnya, perangkat makan perak tersusun sejajar dengan ketepatan yang mengingatkan pada barisan prajurit. Gelas-gelas kristal berisi air dingin ditempatkan pada jarak yang sama dari setiap piring, sementara rangkaian bunga putih di tengah meja menyebarkan aroma lembut yang hampir tenggelam di antara wangi sup hangat, daging panggang, dan mentega.

Dua orang pelayan berdiri di dekat pintu. Seorang lainnya menunggu di sisi bufet, siap mengganti piring atau menuangkan minuman kapan pun diperlukan. Tak seorang pun berbicara kecuali ketika diminta. Bahkan langkah kaki mereka terdengar seolah telah dilatih untuk tidak mengusik percakapan keluarga.

Di rumah sebesar ini, makan malam bukan sekadar kegiatan untuk mengisi perut.

Ada tata cara yang harus dipatuhi, urutan yang tidak boleh dilanggar, serta batas-batas tak kasatmata yang menentukan siapa yang berhak berbicara dan kapan seseorang harus menutup mulutnya. Selama semua orang memainkan peran masing-masing, ruang makan itu dapat tampak seperti gambaran keluarga konglomerat yang harmonis.

Namun, ketenangan tersebut tidak pernah benar-benar berarti kedamaian.

Ren duduk di sisi kanan Souichiro, mengenakan kemeja putih dan celana panjang berwarna gelap. Punggungnya tegak, bahunya rileks, dan gerakan tangannya ketika memotong daging panggang terlihat terukur. Dari luar, ia tidak berbeda dari Ren yang selama ini dikenal keluarga: seorang putra yang santun, berprestasi, dan perlahan dianggap telah pulih cukup jauh untuk kembali menjalankan kewajibannya.

Hanya saja, malam ini, ia tidak lagi memandang meja makan itu sebagai tempat yang harus ia pertahankan.

Ia mengamati pantulan cahaya pada sendok di tangannya selama sesaat. Kilau perak itu mengingatkannya pada sesuatu yang sederhana: benda tersebut tidak pernah memilih siapa yang boleh menggunakannya, sebagaimana dirinya tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih kehidupan yang harus dijalaninya.

Di seberangnya, Mai duduk dengan kedua tangan terletak rapi di pangkuan setiap kali tidak sedang menggunakan alat makan. Rambutnya ditata sebagaimana kebiasaan Kanade, dengan aksesori sederhana yang sesuai dengan citra gadis mendiang tersebut. Seragam sekolahnya telah berganti menjadi gaun makan berwarna pucat yang dipilih oleh staf rumah.

Kalung berinisial M tersembunyi di balik kain gaunnya.

Benda kecil itu menyentuh kulit di dekat tulang selangkanya setiap kali ia bergerak. Kehadirannya terasa begitu nyata, bertolak belakang dengan identitas yang harus ia kenakan di hadapan orang-orang yang duduk di meja ini.

Di sisi lain, Reiko menikmati makan malamnya dengan ekspresi tenang. Ia mengenakan gaun rumah berwarna gelap, dengan rambut yang disanggul rapi dan sepasang anting berlian kecil yang berkilau setiap kali ia memiringkan kepala.

Tak ada yang istimewa pada percakapan mereka sejauh ini. Reiko sempat menanyakan perkembangan ujian Ren, Souichiro menyinggung laporan dari kantor pusat, dan Mai memberikan beberapa jawaban pendek ketika ditanya mengenai kegiatan sekolahnya.

Ren menjawab pertanyaan tentang ujian dengan sopan.

Mai tersenyum pada saat yang tepat.

Reiko mengangguk.

Souichiro mengunyah makanannya tanpa terburu-buru.

Semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Sampai Souichiro meletakkan pisau dan garpunya.

Bunyi logam yang menyentuh piring terdengar kecil, tetapi cukup untuk membuat seorang pelayan yang berdiri di dekat pintu segera mengangkat kepala.

"Ada satu hal yang perlu kita selesaikan malam ini."

Souichiro menyeka sudut bibirnya menggunakan serbet kain, kemudian melipatnya dengan rapi di samping piring. Tatapannya beralih kepada Ren.

"Pertunanganmu dengan Saionji Clara."

Jari Mai yang sedang memegang gelas berhenti bergerak.

Hanya sekejap. Setelah itu, ia kembali mengangkat gelasnya seolah tidak ada yang berubah.

Ren tidak langsung menjawab. Ia memotong sepotong kecil daging, memasukkannya ke mulut, lalu mengunyah dengan tenang. Gerakannya tidak memperlihatkan keterkejutan, seakan ia telah memperkirakan bahwa pembicaraan semacam ini pada akhirnya akan tiba.

Souichiro melanjutkan sebelum putranya sempat menyampaikan tanggapan.

"Keluarga Saionji telah menyatakan kesediaannya untuk melanjutkan proses ke tahap berikutnya. Kita sudah membicarakan masalah ini sebelumnya. Sekarang, setelah kondisi kesehatanmu membaik dan persiapan akademismu berjalan, tidak ada alasan untuk menundanya lagi."

Ia meraih gelas air, meneguk sedikit, lalu meletakkannya kembali tepat di tengah tatakan.

"Pertunangan resmi akan menjadi langkah yang wajar. Kau adalah calon penerus perusahaan Kisaragi. Hubungan dengan keluarga Saionji akan memperkuat stabilitas kedua pihak dan memberikan kepastian bagi rencana suksesi."

Kata kepastian diucapkannya tanpa tekanan berlebihan. Souichiro tidak perlu meninggikan suara untuk membuat kalimatnya terdengar seperti keputusan yang tidak dapat diganggu gugat.

"Jadwal pertemuan keluarga akan ditentukan dalam waktu dekat," tambahnya. "Setelah itu, pengumuman resmi bisa disusun bersama tim komunikasi perusahaan. Kita akan menghindari pemberitaan yang tidak perlu."

Ia berbicara tentang pertunangan putranya dengan nada yang sama seperti ketika membicarakan akuisisi perusahaan atau penunjukan anggota dewan direksi.

Tidak ada pertanyaan tentang perasaan Ren. Tidak ada keingintahuan mengenai pendapat Clara sendiri. Bagi Souichiro, dua keluarga telah mencapai kesepahaman, dan karena itu dua anak mereka tinggal menjalankan bagian yang sudah ditentukan.

"Ren."

Kali ini, Souichiro memanggilnya secara langsung.

"Aku mengharapkan persetujuanmu malam ini."

Ren meletakkan garpunya.

Bukan dengan kasar. Ia menurunkannya perlahan ke sisi piring, memastikan tidak ada bunyi yang berlebihan. Kemudian ia mengangkat wajah dan menatap ayahnya.

"Saya tidak akan menyetujuinya."

Gerakan tangan Reiko terhenti di atas piring.

Di dekat pintu, salah seorang pelayan menundukkan kepala sedikit lebih dalam, seolah dengan begitu ia dapat berpura-pura tidak mendengar apa yang baru saja diucapkan.

Souichiro tidak segera bereaksi. Ia memandang Ren selama beberapa detik, mungkin menunggu putranya melanjutkan kalimat itu dengan alasan yang lebih lunak, atau setidaknya menarik kembali penolakannya setelah menyadari siapa yang sedang diajak bicara.

Namun, Ren hanya duduk diam.

"Apa katamu?"

"Saya tidak akan menyetujui pertunangan dengan Clara."

Ren berbicara dengan nada datar. Tidak ada ejekan, tidak ada luapan kemarahan, bahkan tidak ada usaha untuk membuat penolakannya terdengar lebih menyakitkan daripada yang diperlukan.

Justru ketenangan itulah yang membuat kalimat tersebut sulit diabaikan.

Souichiro meletakkan kedua tangannya di atas meja.

"Kau tampaknya belum memahami situasinya. Ini bukan persoalan apakah kau menyukai seseorang atau tidak. Pertunangan itu berkaitan dengan masa depan keluarga dan perusahaan."

"Saya memahami apa yang Ayah maksud."

"Kalau begitu, jelaskan mengapa kau menolaknya."

Ren mengalihkan pandangan sebentar ke piringnya. Di permukaan saus yang mulai mendingin, pantulan lampu gantung tampak terpecah menjadi beberapa titik kecil.

Ia bisa memberikan banyak alasan. Ia dapat mengatakan bahwa ia belum siap, bahwa ia ingin menyelesaikan ujian masuk universitas terlebih dahulu, atau bahwa pertunangan pada usia delapan belas tahun bukan sesuatu yang perlu dipaksakan.

Alasan-alasan itu mungkin cukup untuk menunda pembicaraan.

Namun, ia sudah terlalu lama hidup dengan kalimat-kalimat yang dipilih semata-mata agar orang lain tidak marah.

"Saya tidak ingin menikah karena kepentingan perusahaan," katanya. "Dan saya tidak ingin Clara ditempatkan dalam hubungan yang sejak awal hanya diperlakukan sebagai kesepakatan bisnis."

Reiko menatapnya lebih saksama.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak segera kembali memandang piringnya.

"Jadi, sekarang kau juga berbicara atas nama Clara?" tanya Souichiro.

"Saya tidak berbicara atas namanya. Saya hanya tidak akan berpura-pura memiliki keinginan yang tidak saya miliki."

"Keinginan."

Souichiro mengulang kata itu dengan senyum tipis yang tidak mengandung kehangatan.

"Sejak kapan kau menganggap keinginan pribadimu lebih penting daripada tanggung jawabmu?"

Ren tidak menjawab.

Di bawah meja, Mai merapatkan kedua tangannya. Kukunya menekan kulit telapak tangan, meninggalkan bekas setengah lingkaran yang memudar hampir seketika. Ia tahu nada suara Souichiro yang seperti itu. Belum ada bentakan, belum ada pukulan ke meja, tetapi setiap kata telah mulai kehilangan sifatnya sebagai percakapan.

Souichiro sedang menunggu Ren tunduk.

Biasanya, pada titik ini, seseorang akan memberikan penjelasan tambahan, menyampaikan permintaan maaf, atau berusaha meredakan suasana dengan mengatakan bahwa ia hanya membutuhkan waktu.

Ren justru mengangkat kepalanya sedikit lebih tinggi.

"Ada satu hal lagi yang perlu saya sampaikan."

Mai merasakan jantungnya berdenyut keras sekali.

Jangan sekarang, pikirnya. Bukan karena ia tidak ingin Ren mengatakan kebenaran, melainkan karena ia tahu betapa besar harga yang mungkin harus dibayar Ren untuk setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Ren melanjutkan.

"Saya juga tidak berminat menjadi penerus perusahaan Kisaragi."

Untuk sesaat, suara pendingin ruangan menjadi satu-satunya bunyi yang dapat dikenali.

Bahkan Souichiro tampak tidak bergerak. Matanya terpaku pada wajah putranya, sementara tangan kanannya masih berada di dekat gelas air. Reiko menurunkan garpunya dengan sangat perlahan. Ujung logamnya menyentuh porselen, menghasilkan bunyi kecil yang terasa terlalu nyaring di tengah keheningan.

Mai menahan napas.

Ia pernah membayangkan Ren menentang ayahnya. Ia pernah mendengar sendiri bagaimana suara Ren berubah ketika berbicara tentang tekanan yang dialaminya, tentang tuntutan untuk menjadi sempurna, dan tentang keinginannya untuk menentukan masa depannya sendiri.

Namun, ada perbedaan besar antara membicarakan kebebasan di ruangan tertutup dan menyatakannya di hadapan Souichiro, di meja makan tempat seluruh keluarga selama ini menjaga kepatuhan mereka.

Ren baru saja melakukan yang kedua.

"Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?" tanya Souichiro.

Suaranya rendah.

Ren menatapnya tanpa mengalihkan pandangan.

"Saya menjawab keputusan yang Ayah sampaikan."

"Itu bukan jawaban. Itu penghinaan."

Souichiro mendorong kursinya sedikit ke belakang. Kaki kursi bergesekan dengan lantai, menimbulkan suara serak yang membuat Mai tersentak nyaris tak terlihat.

"Kau duduk di sini karena kau seorang Kisaragi. Kau belajar di sekolah terbaik, mendapatkan guru terbaik, menikmati fasilitas yang tidak akan pernah bisa dibayangkan orang biasa, dan dipersiapkan untuk mengambil alih perusahaan yang dibangun keluarga ini selama beberapa generasi."

Ia menunjuk Ren dengan telunjuk yang kaku.

"Semua itu diberikan kepadamu agar kau menjadi penerus. Bukan agar kau duduk di meja ini dan mengumumkan bahwa kau tidak berminat."

Ren membiarkan ayahnya menyelesaikan kalimat tersebut.

"Aku tidak membesarkanmu untuk menjadi seseorang yang membuang tanggung jawab begitu saja."

"Saya tidak pernah meminta semua itu."

Jawaban Ren terdengar pelan.

Namun, kali ini, Souichiro tidak bisa berpura-pura tidak mendengarnya.

Wajahnya mengeras.

"Apa?"

"Saya tidak pernah meminta untuk dijadikan penerus. Saya juga tidak pernah diberi kesempatan untuk menentukan apakah saya menginginkannya."

Ren menurunkan pandangan sebentar, bukan karena takut, melainkan untuk menjaga suaranya tetap terkendali. Ketika ia kembali berbicara, setiap kata keluar dengan jelas.

"Selama ini, keputusan tentang sekolah saya, jadwal belajar saya, dan apa yang harus saya lakukan setelah lulus selalu dibuatkan untuk saya. Bahkan ketika saya baru pulih dari koma, yang pertama kali dibicarakan bukan apa yang saya rasakan atau apa yang saya butuhkan, melainkan kapan saya bisa kembali belajar dan memenuhi kewajiban saya."

Rahangnya menegang.

"Saya sudah mencoba mengikuti semuanya. Saya belajar sampai tubuh saya tidak sanggup lagi, karena saya pikir mungkin itu yang harus saya lakukan agar keadaan kembali normal."

Ia berhenti sebentar.

"Tetapi saya tidak ingin menjalani seluruh hidup saya seperti itu."

Mai menunduk lebih dalam. Ia tidak berani menatap Ren terlalu lama, sebab ia takut kecemasan yang tertulis jelas di wajahnya akan terbaca sebagai sesuatu yang lebih daripada kekhawatiran seorang adik terhadap kakaknya.

Di bawah meja, ibu jarinya mengusap ujung telunjuknya berulang kali.

Ia tahu sebagian dari kata-kata Ren. Ia tahu jadwal belajarnya yang tidak masuk akal, hidungnya yang berdarah, serta wajah pucat yang berusaha ia sembunyikan di balik sikap tenang. Ia juga tahu Ren tidak mengatakan semuanya.

Tidak ada satu pun kalimat tentang dirinya.

Tidak ada pengakuan bahwa ia telah menemukan kontrak rahasia. Tidak ada penyebutan tentang identitas Mai, tentang kalung berinisial M, atau tentang malam ketika mereka akhirnya berhenti berbohong satu sama lain.

Ren sedang menantang Souichiro, tetapi ia tetap menyimpan bagian paling rapuh dari hidupnya di tempat yang tidak dapat dijangkau ayahnya.

Dan Mai menyadari bahwa itulah salah satu bentuk perlindungan yang paling sulit ia terima: Ren bersedia menanggung kemarahan ayahnya sendirian agar dirinya tidak ikut terseret.

"Jadi, sekarang kau menyalahkan keluarga ini atas segala sesuatu yang terjadi padamu?"

Souichiro akhirnya berdiri.

Kaki kursinya berderit ketika terdorong ke belakang. Seorang pelayan yang berada paling dekat dengan bufet refleks menegakkan punggung, tetapi tidak berani bergerak mendekat.

"Saya tidak sedang menyalahkan siapa pun," jawab Ren. "Saya sedang mengatakan bahwa saya tidak ingin meneruskan cara hidup ini."

"Dan menurutmu, setelah semua yang terjadi, kau berhak membuang nama Kisaragi sesukamu?"

"Saya tidak mengatakan bahwa saya ingin membuang nama keluarga."

"Kalau begitu, apa maksudmu?"

Ren mengembuskan napas pelan.

"Saya hanya tidak ingin menjadikan nama itu alasan untuk mengendalikan seluruh hidup saya."

Kalimat itu jatuh di antara mereka tanpa hiasan.

Tidak ada yang mencoba mengisinya.

Souichiro memandang putranya seolah baru saja melihat sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik wajah tenang dan sikap penurutnya. Ia telah melihat Ren menangis dalam masa pemulihan, terbangun dengan ingatan yang terputus-putus, dan berusaha memahami dunia yang terasa asing setelah koma.

Ia mengira kelemahan itu akan membuat putranya lebih mudah diarahkan.

Ia tidak memperhitungkan kemungkinan bahwa seseorang yang telah kehilangan begitu banyak justru akan berhenti takut kehilangan apa yang tersisa.

"Dasar anak tidak tahu diri!"

Telapak tangan Souichiro menghantam permukaan meja.

Lihat selengkapnya