Bunyi kunci elektronik yang diaktifkan terdengar pendek, nyaris sopan, tetapi di lorong Sayap Timur Kediaman Kisaragi, suara itu terasa seperti palu yang mengetuk peti mati.
Ren berdiri beberapa langkah dari pintu kamar studinya. Di hadapannya, dua orang pengawal berseragam hitam telah mengambil posisi di kedua sisi pintu, sementara seorang staf keamanan memegang tablet untuk memastikan bahwa pembatasan akses telah diterapkan sesuai instruksi. Cahaya putih dari panel elektronik memantul di permukaan kayu gelap. Di atas kusen, kamera pengawas berputar perlahan, lalu berhenti dengan lensanya mengarah tepat ke wajah Ren.
Tidak ada yang berani menatapnya terlalu lama.
“Mulai malam ini, Tuan Muda Ren tidak diperkenankan meninggalkan kamar studi tanpa persetujuan langsung dari Tuan Souichiro,” kata kepala pengawal. Suaranya datar, seolah ia sedang membacakan prosedur pemeliharaan gedung. “Seluruh kebutuhan makan, dokumen akademik, dan keperluan pribadi akan diantarkan ke dalam ruangan. Jika Tuan Muda memerlukan sesuatu, silakan menggunakan interkom.”
Ren menurunkan pandangan ke tablet yang dipegang staf keamanan. Ada daftar panjang pembatasan yang tertera di sana: akses ke ruang keluarga dinonaktifkan, penggunaan kendaraan ditangguhkan, jadwal keluar kediaman dibatalkan, dan komunikasi tertentu harus melalui pemeriksaan staf.
Bahkan untuk berjalan ke taman belakang rumahnya sendiri, ia kini membutuhkan izin.
“Apakah ini juga berlaku untuk akses ke perpustakaan utama?” tanyanya.
Kepala pengawal terdiam sesaat sebelum menjawab.
“Untuk sementara, seluruh kegiatan belajar akan dipusatkan di kamar studi Tuan Muda.”
“Bagaimana dengan ruang makan?”
“Makanan akan diantarkan.”
“Dan jika saya ingin menemui anggota keluarga?”
“Mohon mengajukan permohonan melalui interkom.”
Ren mengangguk pelan.
“Begitu rupanya.”
Tidak ada nada protes. Tidak ada kepalan tangan yang menghantam dinding, tidak ada upaya merebut tablet, bahkan tidak ada perubahan berarti pada ekspresi wajahnya. Ia hanya mengamati setiap orang di hadapannya dengan ketenangan yang hampir membuat mereka lebih gelisah daripada jika ia berteriak.
Kepala pengawal melirik ke arah kamera di atas pintu.
“Apakah Tuan Muda memahami ketentuan ini?”
“Saya memahami apa yang kalian sampaikan.”
Jawaban itu cukup tepat untuk tidak dianggap sebagai penolakan, tetapi juga tidak cukup untuk disebut sebagai persetujuan.
Kepala pengawal mengembuskan napas pendek. Ia memberi isyarat kepada salah seorang bawahannya, yang kemudian melangkah ke depan dan menyerahkan sebuah kartu akses berwarna abu-abu kepada Ren.
“Kartu ini hanya berlaku untuk pintu kamar studi dan kamar mandi di dalamnya. Akses lainnya telah dinonaktifkan.”
Ren menerima kartu itu dengan dua jari.
“Terima kasih.”
Kesopanan tersebut membuat salah seorang pengawal sedikit menundukkan kepala. Tidak ada seorang pun yang tampak nyaman dengan tugas mereka malam itu. Mereka mengenal Ren sebagai putra keluarga yang biasanya tidak pernah menimbulkan masalah secara terbuka. Bahkan setelah bangun dari koma dan menjalani pemulihan panjang, ia lebih sering menuruti arahan daripada melawannya.
Namun, perintah malam ini datang setelah Ren secara terang-terangan menolak pertunangan yang telah disiapkan untuknya dan menyatakan bahwa ia tidak menginginkan posisi penerus perusahaan.
Mereka tahu ada sesuatu yang berubah.
Mereka hanya tidak tahu seberapa jauh perubahan itu telah berlangsung.
“Apakah ada lagi yang perlu saya ketahui?” tanya Ren.
“Tidak, Tuan Muda.”
“Kalau begitu, saya akan masuk.”
Ren berbalik dan membuka pintu dengan kartu aksesnya. Ia melangkah masuk tanpa tergesa-gesa, lalu menoleh sekali lagi sebelum pintu ditutup.
“Jangan lupa menyampaikan kepada Ayah bahwa saya akan melanjutkan persiapan ujian besok pagi.”
Kepala pengawal mengangguk.
“Baik, Tuan Muda.”
Pintu tertutup.
Bunyi penguncian elektronik terdengar untuk kedua kalinya.
Ren berdiri diam di tengah kamar studinya, mendengarkan langkah para pengawal yang menjauh. Baru setelah suara sepatu mereka menghilang di ujung lorong, ia mengangkat kepala dan memandangi kamera kecil di sudut langit-langit.
Ruangan itu tidak berubah sejak sore. Rak buku memenuhi satu dinding, meja kerja besar berdiri menghadap jendela, dan lampu baca berwarna kuning menerangi tumpukan soal ujian masuk Universitas Tokyo yang belum selesai dikerjakan. Sebuah sofa panjang berada di dekat rak ensiklopedia, sementara di atas meja samping masih ada gelas yang digunakan Ren ketika tutor pribadinya mengawasi sesi belajar terakhir.
Segala sesuatu tertata rapi.
Terlalu rapi untuk sebuah ruangan yang kini menjadi tempat hukuman.
Ren meletakkan kartu akses di atas meja. Kemudian ia berjalan ke jendela dan mencoba membuka penguncinya.
Jendela itu hanya dapat digeser beberapa sentimeter sebelum mekanisme pembatas menahannya. Dari celah sempit tersebut, udara malam menyusup masuk, membawa aroma tanah lembap dan dedaunan yang bergerak ditiup angin. Di bawah sana, taman Sayap Timur tampak gelap, hanya diterangi lampu-lampu taman yang berjajar di sepanjang jalan setapak.
Dua pengawal berdiri di dekat persimpangan menuju taman.
Satu orang lagi berjalan melewati pagar tanaman.
Ren memperhatikan mereka tanpa mengubah ekspresi.
Jadi, pembatasan ini bukan hanya mengenai pintu.
Ia menutup jendela kembali, lalu duduk di kursi kerjanya. Ujung jarinya mengetuk meja satu kali sebelum berhenti.
Ayahnya tidak sekadar ingin membuatnya patuh. Souichiro ingin memastikan bahwa Ren tidak lagi memiliki kesempatan untuk membuat keputusan sendiri.
Dan jika penyebab pembangkangan itu dianggap berasal dari Kanade, maka langkah berikutnya sudah dapat diperkirakan.
Mai akan dipisahkan darinya.
Ren memejamkan mata sesaat. Bayangan wajah gadis itu muncul begitu jelas sehingga ia harus menarik napas perlahan untuk mengembalikan perhatiannya pada ruangan.
Ia tidak boleh membiarkan kekhawatiran mengacaukan pikirannya.
Bukan karena ia tidak khawatir.
Justru karena ia terlalu khawatir.
Jika ia membuat kesalahan malam ini, Souichiro tidak akan menghukumnya seorang diri. Ayahnya akan menemukan cara untuk menjadikan Mai sebagai alat penekan, entah melalui kontraknya, ancaman denda, atau pemindahan yang membuat mereka sama sekali kehilangan kesempatan untuk saling membantu.
Ren membuka laci meja paling bawah, mengeluarkan sebuah buku catatan berkulit gelap, lalu meletakkannya di samping tumpukan soal ujian.
Di halaman terakhir, terdapat satu kalimat yang ditulisnya beberapa malam sebelumnya.
Aku tidak akan kembali menjadi orang yang hidup semata-mata untuk memenuhi keputusan orang lain.
Ren membaca kalimat itu sekali lagi.
Kemudian ia membuka halaman kosong.
Jika Souichiro mengira bahwa pintu terkunci akan mengakhiri perlawanan, berarti ayahnya masih melakukan kesalahan yang sama seperti dahulu: menganggap bahwa kendali atas tubuh seseorang berarti kendali atas pikirannya.
Ren mengambil pena.
Malam itu, ia tidak akan berusaha membuka pintu.
Ia akan mencari tahu bagaimana caranya agar suatu hari nanti ia tidak perlu meminta siapa pun untuk membukakannya.
Di ujung lorong yang berbeda, Mai berdiri di hadapan Saito Kazuma dengan kedua tangan terlipat rapi di depan rok seragam rumahnya.
Pria berusia empat puluh dua tahun itu duduk di ruang administrasi kecil yang menghubungkan Sayap Timur dengan koridor utama. Sebuah lampu meja menerangi dokumen-dokumen yang tersusun berdasarkan tanggal, sementara layar komputer di belakangnya menampilkan denah kediaman dengan beberapa titik berwarna merah.
Di luar pintu, seorang staf keamanan sesekali melintas. Dari kejauhan terdengar suara roda troli yang membawa perlengkapan makan malam, kemudian bunyi pintu yang tertutup kembali.
Saito tidak langsung berbicara.
Ia membiarkan Mai berdiri selama beberapa detik, cukup lama untuk membuat gadis itu menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar pemberitahuan rutin.
“Apakah Anda memahami keputusan Tuan Souichiro mengenai Tuan Muda Ren?” tanyanya akhirnya.
Mai mengangguk.
“Ya, Saito-san.”
“Kalau begitu, saya akan langsung menjelaskan batasannya.” Saito menyatukan kedua tangannya di atas meja. “Mulai malam ini, Anda dilarang mendekati kamar studi Tuan Muda Ren. Anda juga tidak diperkenankan mengirimkan pesan, menitipkan barang, atau meminta staf menyampaikan informasi kepadanya tanpa persetujuan.”
Jari-jari Mai yang saling bertaut menegang sedikit.
“Bahkan jika Onii-sama membutuhkan sesuatu?”
Saito mengangkat pandangan.
“Terutama jika Anda menggunakan alasan tersebut untuk menghindari instruksi.”
Mai menundukkan kepala, membiarkan poni rambutnya menyembunyikan sebagian ekspresi wajahnya.
“Namun, kalau Onii-sama sedang sakit atau—”
“Jika Tuan Muda Ren membutuhkan bantuan medis, staf yang bertugas akan menanganinya. Anda tidak memiliki kewenangan untuk mengambil alih tugas tersebut.”
Nada Saito tidak meninggi. Ia tidak perlu melakukannya. Setiap kata keluar dengan ketepatan seorang pengacara yang terbiasa menyusun kalimat agar tidak menyisakan celah untuk diperdebatkan.
“Perlu saya ingatkan bahwa kontrak Anda masih berlaku,” lanjutnya. “Anda menerima tugas untuk menjalankan peran Kisaragi Kanade sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. Kontrak tersebut tidak memberikan Anda hak untuk mengintervensi keputusan internal keluarga Kisaragi.”
Mai mengangkat wajahnya perlahan.
Di dalam dadanya, sesuatu bergerak seperti benda tajam yang berusaha mencari jalan keluar. Ia ingin bertanya apakah semua keputusan keluarga harus selalu dianggap benar hanya karena dicantumkan dalam dokumen. Ia ingin mengatakan bahwa mengunci Ren di dalam kamar tidak akan menghapus penyebab pembangkangannya.
Namun, ia tahu siapa yang sedang duduk di hadapannya.
Saito tidak akan tersentuh oleh keberatan emosional. Ia akan mencatatnya, menafsirkan setiap kata sebagai penyimpangan, lalu mengubah catatan itu menjadi alasan untuk memperketat pengawasan.
Karena itu, Mai menelan kalimat yang sudah sampai di ujung lidahnya.
“Saya mengerti, Saito-san.”
Saito mengamati wajahnya sejenak.
“Apakah Anda benar-benar mengerti?”
Mai membiarkan bahunya turun sedikit. Ia tidak ingin terlihat terlalu tenang, sebab ketenangan yang tidak sesuai dengan karakter Kanade justru dapat menimbulkan kecurigaan.
“Saya hanya khawatir kepada Onii-sama,” katanya pelan. “Beliau baru saja melalui banyak hal. Saya tidak ingin keadaan ini membuatnya semakin tertekan.”
Ia sengaja menggunakan nada lembut yang selama berbulan-bulan menjadi bagian dari perannya. Tidak terlalu manja, tidak terlalu emosional. Cukup untuk memperlihatkan seorang adik yang mengkhawatirkan kakaknya tanpa menentang keputusan orang tua.
Saito tidak segera menjawab.
Matanya bergerak dari wajah Mai ke kedua tangannya, lalu kembali ke wajahnya.
“Kekhawatiran Anda tidak mengubah kewajiban Anda.”
“Saya tahu.”
“Dan saya tidak ingin mendengar laporan bahwa Anda mencoba menghubunginya melalui jalur lain.”
Mai mengangguk sekali lagi.
“Saya tidak akan melakukan sesuatu yang membuat keluarga semakin khawatir kepada Onii-sama.”
Jawaban itu terdengar patuh. Bahkan, jika didengar sepintas, tidak ada yang salah dengannya.
Namun, Saito cukup berpengalaman untuk mengetahui bahwa kepatuhan yang diucapkan dengan cepat tidak selalu berarti kepatuhan yang sesungguhnya.
Ia membuka salah satu map di hadapannya.