Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #70

Menyusup di Tengah Malam

Jarum jam di atas meja rias menunjukkan pukul dua belas lewat tujuh menit ketika Mai akhirnya mematikan lampu kamarnya.

Ia tidak langsung beranjak dari tempat tidur. Selama hampir satu jam, ia duduk dengan punggung bersandar pada kepala ranjang, mendengarkan bunyi-bunyi kecil yang datang dari luar pintu. Sesekali terdengar langkah sepatu melewati lorong, disusul suara komunikasi radio yang begitu pelan hingga kata-katanya tidak dapat dibedakan. Di kejauhan, sebuah pintu tertutup, lalu kediaman kembali tenggelam dalam keheningan.

Mai menghitung jeda di antara suara-suara itu.

Bukan dengan ketepatan seorang petugas keamanan, melainkan dengan kesabaran seseorang yang sudah terlalu lama hidup di rumah yang setiap sudutnya diawasi. Ia mengenali bunyi langkah para pelayan, suara troli yang berderit ketika melewati sambungan lantai marmer, bahkan perbedaan antara langkah pengawal yang berjalan santai dan langkah mereka ketika sedang memeriksa sesuatu.

Malam ini, ia tidak sedang mencari cara untuk melarikan diri dari kediaman Kisaragi.

Ia hanya ingin memastikan bahwa Ren masih baik-baik saja.

Keinginan itu terdengar sederhana. Namun, setelah perintah isolasi dikeluarkan, bahkan untuk menanyakan keadaan seseorang pun dapat dianggap sebagai pelanggaran.

Mai melirik pintu kamarnya.

Di bawah celahnya, cahaya lorong membentuk garis tipis berwarna kekuningan. Ia menunggu sampai garis itu berubah gelap sesaat ketika seseorang melintas, kemudian kembali terang. Beberapa menit kemudian, suara langkah terdengar lagi, kali ini menjauh menuju tangga.

Mai mengangkat selimut dan turun dari tempat tidur.

Lantai terasa dingin di telapak kakinya. Ia segera mengenakan sepasang kaus kaki tebal, lalu mengambil celana panjang gelap dan sweater rajut yang biasa dipakainya ketika belajar pada malam hari. Ia tidak mengenakan pakaian yang terlalu tebal karena gerakannya akan menjadi kaku, tetapi juga tidak ingin tubuhnya menggigil begitu keras hingga sulit menjaga keseimbangan.

Di atas meja kecil, ia telah menyiapkan sebuah tas kain.

Isinya sederhana: dua botol minuman, beberapa roti kecil yang dibungkus plastik, sepotong kain bersih, dan sepasang sarung tangan. Makanan itu bukan hidangan istimewa yang biasa disajikan di ruang makan keluarga Kisaragi. Roti tawar isi telur dan sebotol teh hangat yang ia simpan dalam termos kecil justru terasa lebih masuk akal untuk seseorang yang mungkin belum makan dengan tenang sejak sore.

Mai memasukkan semuanya ke dalam tas, lalu mengencangkan talinya.

Ia berhenti ketika tangannya menyentuh benda kecil di meja rias.

Kalung berinisial M.

Untuk sesaat, ia mempertimbangkan apakah harus mengenakannya. Namun, benda itu terlalu berharga untuk dibawa dalam tindakan yang berisiko membuatnya jatuh atau hilang. Ia mengangkat kalung tersebut, menggenggamnya di telapak tangan, lalu menyimpannya kembali ke dalam kotak kecil.

“Aku akan kembali,” bisiknya, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Ia mengenakan kardigan gelap di atas sweater, kemudian berdiri di depan cermin.

Wajah yang memandang balik kepadanya masih merupakan wajah Kanade bagi siapa pun yang mengenalnya di rumah ini. Rambut yang ditata sesuai kebiasaan mendiang gadis itu, ekspresi lembut yang telah dilatih berulang kali, dan cara menundukkan kepala yang begitu mudah keluar secara otomatis.

Mai menatap bayangan itu beberapa detik lebih lama.

Malam ini, ia tidak ingin menemui Ren sebagai Kanade.

Ia ingin menemui Ren sebagai dirinya sendiri.

Namun, di kediaman ini, keinginan semacam itu harus dilakukan dengan hati-hati.

Mai mengambil tas kain, mematikan layar ponselnya, lalu berjalan menuju pintu. Ia menempelkan telinga pada permukaan kayu dan mendengarkan.

Tidak ada suara.

Tangannya menyentuh gagang pintu. Ia menurunkannya perlahan, membuka pintu hanya selebar beberapa sentimeter, lalu mengintip ke luar.

Lorong kosong.

Lampu dinding masih menyala, memantulkan cahaya ke permukaan marmer yang mengilap. Di ujung koridor, sebuah kamera pengawas terpasang tepat di atas lemari pajangan. Mai tidak menatap lensanya terlalu lama. Ia hanya keluar, menutup pintu dengan hati-hati, kemudian berjalan menuju kamar mandi kecil di sisi lorong.

Ia tidak berniat menggunakan pintu utama menuju koridor Sayap Timur.

Setelah peringatan Saito, ia yakin setiap pergerakan yang tidak biasa akan segera menarik perhatian. Jika ia berjalan melewati penjagaan di dekat tangga, membawa tas pada tengah malam, tidak akan sulit bagi siapa pun untuk menebak bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan.

Karena itu, ia memilih jalur yang telah diamatinya sejak beberapa malam sebelumnya.

Jalur servis luar.

Ia pertama kali menyadarinya ketika melihat seorang petugas pemeliharaan memeriksa bagian luar jendela Sayap Timur. Jalur sempit itu menghubungkan beberapa balkon kecil yang digunakan untuk keperluan perawatan bangunan. Tidak dirancang sebagai jalan bagi penghuni rumah, jalur tersebut hanya cukup untuk dilewati satu orang dengan ruang gerak terbatas.

Sebagian permukaannya terbuat dari logam, sebagian lain berupa pijakan beton sempit di dekat dinding. Di beberapa titik terdapat pipa dan rangka penyangga yang menonjol, membuat orang yang melewatinya harus menunduk atau memiringkan tubuh.

Mai sudah mengamati jalur itu dari dalam rumah.

Ia tahu jalur tersebut bukan jalan pintas yang aman. Ia juga tahu bahwa menggunakannya pada malam hari, ketika udara dingin membuat permukaan logam lebih licin, merupakan keputusan yang jauh dari bijaksana.

Namun, ia tidak datang tanpa pertimbangan.

Ia telah mengamati posisi kamera yang dapat dilihat dari jendela lorong, memperhatikan waktu ketika para pelayan menyelesaikan tugas malam, dan mengingat bagian balkon yang terhalang oleh tonjolan bangunan dari pandangan koridor utama.

Pengetahuannya masih terbatas.

Risikonya tetap besar.

Tetapi ia tidak ingin sekadar berbaring di tempat tidur, membayangkan Ren duduk sendirian di balik pintu yang terkunci.

Mai menghela napas pelan.

“Baiklah,” gumamnya. “Kita lakukan dengan hati-hati.”

Pintu menuju area servis berada di dekat ruang penyimpanan perlengkapan kebersihan.

Mai pernah melewati pintu itu beberapa kali ketika membantu pelayan mengembalikan barang-barang setelah kegiatan keluarga. Pintu tersebut tidak berada di jalur yang biasa digunakan penghuni kediaman, tetapi juga bukan bagian bangunan yang benar-benar tersembunyi. Jika seseorang kebetulan datang untuk mengambil perlengkapan, ia dapat melihat siapa pun yang berada di sana.

Itulah sebabnya Mai tidak langsung membukanya.

Ia berdiri di samping rak linen dan menunggu.

Dari arah tangga, terdengar suara seorang pengawal berbicara melalui radio. Jawabannya datang beberapa detik kemudian dari tempat yang lebih jauh. Setelah itu, bunyi langkah kaki bergerak menuju ujung lorong, lalu menghilang.

Mai menghitung sampai tiga puluh sebelum mendekati pintu.

Ia menekan gagang dengan perlahan.

Engselnya mengeluarkan bunyi berdecit yang sangat kecil.

Mai langsung berhenti.

Jantungnya berdegup keras, dan tangannya membeku di gagang pintu. Ia menahan napas, menunggu apakah akan ada suara langkah yang berbalik ke arahnya.

Tidak ada.

Ia membuka pintu sedikit lebih lebar dan menyelinap keluar.

Udara malam segera menyentuh wajahnya.

Dingin.

Jauh lebih dingin daripada yang ia bayangkan ketika masih berada di dalam kamar.

Mai menutup pintu di belakangnya tanpa membiarkan kaitnya berbunyi, lalu menoleh ke kanan dan kiri. Balkon servis membentang di sepanjang dinding luar, diterangi cahaya lampu yang berasal dari beberapa jendela. Di bawah sana, taman tampak seperti hamparan hitam dengan titik-titik cahaya kecil yang tersebar di antara pepohonan.

Angin berembus dari arah halaman, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.

Mai merapatkan kardigan ke tubuhnya.

Ia tidak boleh terlalu lama berada di luar.

Bukan hanya karena suhu udara, melainkan karena setiap menit yang dihabiskannya di jalur itu meningkatkan kemungkinan seseorang melihatnya.

Ia mulai bergerak.

Langkah pertama terasa mudah. Ia menempatkan telapak kaki di bagian pijakan yang paling lebar, lalu berpegangan pada rangka logam yang terpasang di sisi dinding. Tas kain yang dibawanya menepuk pinggul setiap kali ia melangkah. Ia memindahkannya ke depan tubuh agar tidak tersangkut pada pipa yang menonjol.

Jalur itu menyempit setelah beberapa meter.

Mai berhenti di hadapan sebuah tonjolan bangunan yang menghalangi jalan. Di sisi lain, pijakan logam berlanjut dengan lebar yang lebih kecil, sementara sebuah pipa melintang setinggi pinggang.

Ia menunduk dan memeriksa pijakan di depannya.

Permukaan logam memantulkan cahaya bulan yang tertutup awan. Ada embun tipis di atasnya, cukup untuk membuat telapak sepatu kehilangan cengkeraman jika ia bergerak terlalu cepat.

Mai menelan ludah.

Ia bisa kembali sekarang.

Pikiran itu muncul dengan sangat jelas. Ia dapat mundur, kembali ke kamarnya, tidur sampai pagi, lalu berpura-pura bahwa malam ini tidak pernah terjadi. Tidak ada yang akan mengetahui rencananya. Tidak ada risiko jatuh, tidak ada kemungkinan tertangkap, dan tidak ada alasan bagi Saito untuk memperketat pengawasan.

Namun, begitu ia membayangkan kembali ke kamar, wajah Ren muncul di benaknya.

Ren yang menahan sakit kepala di meja belajar.

Ren yang tetap berusaha menyelesaikan tugas meskipun tubuhnya sudah kelelahan.

Ren yang menatapnya dengan kesungguhan ketika berkata bahwa ia ingin mengenal Mai sebagai dirinya sendiri.

Mai memejamkan mata sejenak.

“Aku bukan sedang membayar utang kepada siapa pun,” bisiknya. “Aku datang karena aku memilih untuk datang.”

Ia membuka mata kembali.

Dengan satu tangan berpegangan pada rangka, ia memiringkan tubuh melewati pipa. Tangan lainnya menjaga tas agar tidak bergeser. Gerakannya lambat, setiap perpindahan berat badan diperhitungkan sebelum ia mengangkat kaki berikutnya.

Sepatunya sempat tergelincir beberapa sentimeter.

Mai tersentak.

Tangannya mencengkeram rangka logam begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tas kainnya terayun ke samping, dan salah satu botol di dalamnya beradu dengan botol lain, menghasilkan bunyi kecil.

Ia langsung berhenti bergerak.

Di balik dinding, terdengar suara pintu terbuka.

Mai menunduk serendah mungkin, menempelkan tubuh ke sisi bangunan. Ia tidak dapat melihat bagian dalam rumah dari posisinya, tetapi cahaya dari jendela di dekatnya berubah ketika seseorang melintas.

Kemudian terdengar langkah kaki.

Satu pasang.

Lalu sepasang lagi.

Suara mereka mendekat, berhenti sesaat, kemudian bergerak menjauh.

Mai tidak bergerak sampai ia yakin lorong di dalam telah kembali tenang. Dingin mulai menembus lengan bajunya, sementara ujung jarinya terasa kaku karena terlalu lama mencengkeram logam.

Ia mengembuskan napas perlahan.

“Sedikit lagi,” katanya kepada diri sendiri.

Ia melanjutkan perjalanan.

Setelah melewati tonjolan bangunan, jalur itu sedikit melebar. Di ujungnya terdapat balkon kecil yang terhubung dengan kamar studi Ren melalui sebuah pintu kaca. Tirai di dalam ruangan tertutup sebagian, tetapi cahaya lampu meja masih tampak menyelinap dari celahnya.

Mai berhenti.

Untuk pertama kalinya sejak keluar dari kamarnya, ia dapat melihat dengan jelas tujuan yang dicarinya.

Balkon itu tidak memiliki pagar setinggi balkon utama. Pembatas logamnya hanya setinggi pinggang, dengan ruang sempit di antara rangka dan dinding. Mai tidak berani menganggap tempat tersebut aman, tetapi setidaknya ia tidak perlu lagi melewati jalur servis yang paling berbahaya.

Ia melangkah ke bagian tengah balkon, lalu segera berjongkok di balik pembatas ketika mendengar suara langkah dari dalam rumah.

Sebuah bayangan bergerak di balik tirai.

Mai menahan napas.

Bayangan itu berhenti, kemudian bergerak menjauh dari jendela.

Ia menunggu beberapa saat lagi sebelum berdiri. Kedua lututnya terasa lemah, bukan hanya karena ketegangan, tetapi juga karena ia telah menahan posisi jongkok di atas permukaan dingin.

Ia meraih gagang pintu kaca.

Terkunci.

Tentu saja.

Mai menahan keinginan untuk menghela napas keras-keras. Ia tidak mungkin mencoba membuka pintu secara paksa. Suara sekecil apa pun dapat terdengar oleh pengawal yang berjaga di lorong.

Karena itu, ia mengangkat tangan dan mengetuk kaca dengan ujung jari.

Tok.

Ia berhenti.

Tok. Tok.

Ketukannya sangat pelan, hampir tertelan oleh suara angin.

Di dalam ruangan, tidak ada reaksi.

Mai mencoba sekali lagi.

Kali ini, ia mengetuk dengan pola yang sedikit lebih jelas, lalu mundur setengah langkah agar tidak langsung terlihat ketika tirai dibuka.

Beberapa detik kemudian, bayangan bergerak mendekat.

Tirai tersibak.

Dan Ren muncul di balik kaca.

Ren sedang memeriksa catatan akademiknya ketika mendengar suara yang tidak sesuai dengan ritme malam.

Awalnya, ia mengira bunyi itu berasal dari cabang pohon yang menyentuh kaca. Angin telah bertiup cukup kencang sejak beberapa menit sebelumnya, dan suara dedaunan sesekali terdengar sampai ke kamar studi.

Namun, bunyi berikutnya datang dengan jeda yang terlalu teratur.

Tok.

Ren mengangkat kepala.

Ia meletakkan pena, lalu memandang ke arah jendela. Tirai yang tertutup sebagian hanya memperlihatkan pantulan lampu meja dan bayangan rak buku. Ia menunggu beberapa detik, mencoba memastikan apakah ia benar-benar mendengar sesuatu.

Ketukan ketiga terdengar.

Ren langsung berdiri.

Ia berjalan menuju jendela dengan langkah hati-hati. Sebelum mendekat, ia melirik kamera di sudut ruangan, lalu memeriksa pintu kamar studi. Tidak ada suara dari lorong.

Ia menarik tirai sedikit.

Dan hampir tidak percaya pada apa yang dilihatnya.

Mai berdiri di balkon luar dengan kedua tangan memeluk tubuh, rambutnya berantakan diterpa angin. Wajahnya pucat, ujung hidungnya memerah, dan bahunya bergetar halus. Sebuah tas kain tergantung di lengannya.

Untuk sesaat, Ren tidak bergerak.

Keterkejutan membuat pikirannya kosong, seolah semua kemungkinan yang telah ia susun malam itu mendadak kehilangan tempat.

Kemudian ia melihat posisi kaki Mai di dekat pembatas balkon.

“Mai?”

Nama itu keluar nyaris tanpa suara.

Mai mengangkat kepala. Begitu mata mereka bertemu, ia mencoba tersenyum.

Senyum itu begitu kecil dan begitu tidak meyakinkan sehingga Ren justru merasa darahnya berdesir lebih cepat.

Ia segera membuka kunci pintu kaca.

“Jangan bergerak!”

Mai tersentak, dan Ren langsung menyesali nada suaranya yang terlalu keras. Namun, ia tidak punya waktu untuk menjelaskan. Ia membuka pintu cukup lebar, lalu mengulurkan kedua tangan.

“Pegang tanganku. Pelan-pelan.”

Mai menyerahkan tas kainnya terlebih dahulu.

Ren meletakkannya di lantai, lalu menggenggam kedua tangan Mai. Jari-jari gadis itu dingin sekali. Ketika ia menariknya ke dalam, Mai harus memindahkan satu kaki dengan hati-hati melewati ambang pintu.

Salah satu sepatunya tergelincir sedikit.

Ren langsung menahan lengannya.

“Pegang aku!”

Mai mencengkeram lengan bajunya, lalu akhirnya berhasil melangkah masuk. Ren segera menutup pintu kaca dan menguncinya kembali.

Begitu kaki Mai menapak di lantai kamar, ia bersandar pada dinding di dekat jendela, mengembuskan napas panjang.

Ren tidak ikut mengembuskan napas lega.

Ia justru berjongkok di hadapan Mai dan memeriksa kedua tangannya, kemudian lengan dan lututnya, mencari tanda-tanda cedera.

“Kamu terluka?”

Mai menggeleng.

“Tidak.”

“Yakin?”

“Iya. Aku tidak apa-apa.”

Ren mengangkat wajahnya. Alisnya bertaut begitu erat hingga membentuk garis dalam di antara kedua matanya.

“Mai, kamu datang melalui mana?”

Mai membuka mulut, tetapi Ren sudah melanjutkan.

“Jalur servis luar? Kamu melewati balkon itu dalam keadaan seperti ini?”

Ia melirik ke arah jendela. Dari dalam ruangan, jalur yang baru saja dilalui Mai hampir tidak terlihat. Namun, ia mengetahui kondisi balkon tersebut. Ia pernah melihat petugas pemeliharaan menggunakannya dan bahkan pernah diperingatkan agar tidak mendekati bagian luar tanpa pengawasan.

“Ya,” jawab Mai pelan.

Ren berdiri terlalu cepat hingga kursinya bergeser ketika lututnya menyenggol meja.

“Kamu bisa jatuh!”

“Aku tahu.”

“Tidak, kamu sepertinya tidak benar-benar memahami apa yang baru saja kamu lakukan.” Ren mengusap rambutnya ke belakang, lalu menekan pangkal hidung dengan dua jari. “Kalau kakimu tergelincir di bagian sempit itu, kalau kamu kehilangan pegangan, kalau salah satu pengawal melihatmu dan kamu panik—”

“Aku tahu, Ren.”

“Kalau kamu tahu, kenapa kamu tetap melakukannya?”

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.

Lihat selengkapnya