Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #71

Hujan Salju Pertama dan Janji Pelarian

Butir putih pertama menyentuh kaca jendela kamar studi Ren sesaat sebelum tengah malam.

Mula-mula, benda itu tampak seperti serpihan debu yang tersesat di antara pantulan lampu taman. Ia melekat selama beberapa detik, nyaris tak terlihat di permukaan kaca yang dingin, sebelum mencair dan meninggalkan jejak air setipis rambut. Butir berikutnya datang menyusul. Lalu satu lagi. Dalam waktu singkat, serpihan-serpihan kecil mulai berputar di bawah sorot lampu halaman, terbawa angin yang menyusup di antara pepohonan.

Salju pertama musim dingin.

Ren menghentikan gerakan tangannya di atas buku catatan.

Dari balik jendela besar, halaman kediaman Kisaragi terbentang dalam susunan yang nyaris sempurna. Jalan setapak dari batu, pagar tanaman yang dipangkas seragam, air mancur di tengah taman, dan deretan lampu dengan jarak terukur—semuanya tetap terlihat anggun di bawah cahaya malam. Bahkan pepohonan yang mulai kehilangan daun tampak seolah-olah telah ditempatkan berdasarkan rancangan seorang arsitek yang tidak pernah mengizinkan sesuatu tumbuh di luar garis.

Salju perlahan menutupi permukaan batu, mengaburkan batas-batas yang selama ini dipertahankan dengan begitu teliti.

Ren memandangnya tanpa berkedip.

Di belakangnya, jam dinding berdetak pelan. Suara itu terdengar lebih jelas daripada biasanya karena seluruh sayap timur telah memasuki jam istirahat. Penjaga masih berpatroli di lorong. Kamera pengawas tetap bekerja. Pintu kamar studinya pun masih berada di bawah kendali sistem keamanan yang diaktifkan atas perintah Souichiro.

Namun, malam itu setidaknya tidak ada seorang tutor yang berdiri di samping meja, tidak ada suara ayahnya yang menuntut laporan kemajuan, dan tidak ada dokumen perusahaan yang menunggu tanda tangannya.

Hanya ada salju di luar jendela.

Dan Mai, yang duduk di sisi lain meja, masih mengenakan kardigan tipis di atas pakaian tidurnya. Ia sudah beberapa kali menggosok kedua telapak tangan, tetapi udara dingin yang merembes dari kaca tetap membuat ujung jarinya pucat.

"Kau sedang melihat apa?" tanyanya pelan.

Ren menoleh. "Salju."

Mai mengikuti arah pandangnya. Matanya langsung membesar ketika melihat serpihan-serpihan putih yang mulai bertambah banyak.

"Ah!"

Seruan itu lolos sebelum sempat ia tahan. Ia buru-buru menutup mulut dengan satu tangan, lalu melirik pintu kamar seakan-akan suara kecil tadi cukup untuk memanggil seluruh penjaga di kediaman.

Ren mengangkat alis.

"Kalau kau terus bereaksi seperti itu, aku akan mulai curiga bahwa kau belum pernah melihat salju."

"Aku pernah melihat salju!" bisik Mai, sedikit tersinggung. "Aku hanya tidak menyangka salju pertama akan turun malam ini."

"Perbedaannya?"

"Perbedaannya adalah aku sedang berada di sini ketika itu terjadi."

Mai kembali menghadap jendela. Senyum kecil terbit di wajahnya, tetapi tidak bertahan lama. Di luar sana, salju terus turun dengan tenang, sementara dirinya masih terkurung dalam sebuah identitas yang bahkan tidak pernah menjadi miliknya.

Seandainya ia berada di tempat lain, mungkin ia akan membuka jendela, mengulurkan tangan, lalu tertawa ketika butiran salju mendarat di telapak tangannya. Mungkin ia akan mengambil foto dan mengirimkannya kepada seseorang. Mungkin ia akan menghabiskan malam dengan memikirkan apa yang akan dikenakannya besok, atau apakah jalan menuju sekolah akan licin.

Namun, bahkan untuk membayangkan hal-hal sesederhana itu, ia harus terlebih dahulu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah Mai Miyauchi diizinkan menginginkannya?

Ia menurunkan pandangan ke kalung berinisial M yang terletak di balik kerah bajunya. Liontin perak itu menyentuh kulitnya ketika ia menarik napas.

"Ren," panggilnya.

"Hm?"

"Kalau kita benar-benar bisa keluar dari sini nanti..." Ia berhenti, seolah-olah kalimat itu terlalu berbahaya untuk diselesaikan. "Apa yang pertama kali ingin kau lakukan?"

Ren tidak langsung menjawab.

Ia memandang Mai selama beberapa detik. Kemudian, tanpa berkata apa-apa, ia menutup buku catatan di hadapannya dan menggeser kursinya ke samping.

"Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan kepadamu."

Mai mengerjap. "Apa?"

Ren membungkuk, membuka laci paling bawah di sisi meja, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal. Ia meletakkannya di atas meja dengan hati-hati, tidak seperti seseorang yang baru saja mengambil dokumen biasa, melainkan seperti orang yang membawa sesuatu yang telah lama ia sembunyikan.

Mai menatap amplop itu.

"Jangan bilang kau menemukan surat wasiat rahasia."

"Kalau aku punya surat wasiat rahasia, menurutmu apakah aku akan menyimpannya di laci meja yang sama dengan buku latihan matematika?"

"Kalau kau memang ingin menyembunyikannya dari keluargamu, justru itu tempat yang bagus. Tidak ada orang waras yang mau memeriksa tumpukan soal matematika secara sukarela."

Ren terdiam sejenak.

Kemudian sudut bibirnya bergerak tipis.

"Argumen yang cukup masuk akal."

Mai tersenyum, merasa sedikit lega karena untuk sesaat mereka dapat berbicara seperti dua orang biasa. Akan tetapi, senyumnya memudar ketika Ren membuka amplop tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen, sebuah buku tabungan, serta sebuah kunci logam dengan gantungan plastik sederhana.

Tidak ada lambang keluarga Kisaragi pada benda-benda itu.

Tidak ada segel perusahaan, tidak ada kop surat berhuruf emas, dan tidak ada nama pejabat yang biasa memenuhi dokumen-dokumen di kediaman ini.

Ren mendorong buku tabungan ke arahnya.

"Ini tabunganku."

Mai memandangi sampulnya, lalu membuka halaman identitas pemilik rekening. Nama Kisaragi Ren tercetak di sana, diikuti nomor rekening dan informasi bank.

Ia membalik halaman berikutnya.

Angka-angka yang tercatat di sana tidak membuatnya ternganga seperti seseorang yang baru saja melihat kekayaan seorang pewaris konglomerat. Justru sebaliknya. Jumlah itu jauh lebih kecil daripada yang mungkin ia bayangkan akan dimiliki seorang anak keluarga Kisaragi.

Tetapi transaksi yang tercatat menunjukkan bahwa uang tersebut dikumpulkan sedikit demi sedikit. Ada setoran berkala, beberapa penarikan, lalu setoran lagi. Sebagian besar saldo itu tampaknya berasal dari uang pribadi yang disisihkan Ren selama bertahun-tahun, bukan dari rekening perusahaan atau dana yang dikelola keluarganya.

"Ini... semuanya uangmu sendiri?" tanya Mai.

"Ya."

"Tidak termasuk uang yang diberikan keluargamu untuk keperluan sekolah?"

"Sebagian berasal dari uang saku yang tidak kugunakan. Ada juga beberapa honorarium lama dari kegiatan akademik dan hadiah kompetisi yang masih menjadi hakku." Ren menyandarkan punggung ke kursi. "Aku tidak punya kendali atas seluruh kekayaan keluarga. Aku juga tidak bisa begitu saja mengambil uang perusahaan untuk membiayai hidupku sendiri. Jadi, aku mulai dari sesuatu yang benar-benar bisa kupertanggungjawabkan."

Mai mengangkat wajah.

Ia sudah tahu Ren memiliki sisi yang jauh lebih tajam daripada yang biasa diperlihatkannya di hadapan keluarga. Namun, melihat bukti nyata dari persiapan itu membuatnya menyadari sesuatu yang berbeda.

Ren tidak hanya sedang membayangkan kebebasan.

Ia sedang membangun jalan menuju kebebasan itu, satu keputusan kecil pada satu waktu.

"Sejak kapan kau menyiapkan ini?"

"Sudah cukup lama aku memikirkan kemungkinan meninggalkan kediaman ini." Ia melirik buku tabungan di tangan Mai. "Awalnya hanya pikiran yang tidak memiliki bentuk. Aku bahkan belum yakin apakah aku benar-benar akan melakukannya."

"Dan sekarang?"

"Setelah makan malam itu, setelah Ayah mulai membatasi gerakanku, aku tidak lagi bisa menganggapnya sebagai kemungkinan yang jauh."

Jari Ren mengetuk permukaan meja sekali.

"Kalau aku tetap tinggal dan menunggu sampai mereka memutuskan hidupku berikutnya, aku mungkin tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk pergi. Ayah akan terus mengatur sekolahku, pekerjaanku, pernikahanku, bahkan siapa yang boleh berada di dekatku. Selama aku masih dianggap sebagai penerus keluarga, setiap keputusan pribadiku akan selalu menjadi bahan pertimbangan bisnis."

Mai menutup buku tabungan dengan perlahan.

Ia mengenal bentuk penjara yang dibangun dari kemiskinan. Penjara itu tidak memiliki pagar tinggi atau kamera pengawas, tetapi setiap tagihan yang menumpuk dapat menahan seseorang di tempatnya. Setiap kebutuhan yang tidak terpenuhi dapat memaksa seseorang menerima pekerjaan yang tidak diinginkannya.

Ren hidup di sisi yang berlawanan. Ia memiliki rumah besar, pakaian mahal, pendidikan terbaik, dan masa depan yang telah disiapkan dengan begitu rinci.

Namun, dari tempat duduknya, Mai dapat melihat bahwa pintu penjara Ren dibuat dari bahan yang berbeda, bukan berarti pintu itu lebih mudah dibuka.

"Jadi, kau benar-benar akan pergi," katanya.

"Aku sedang menyiapkan diri untuk itu."

"Walaupun kau harus kehilangan semuanya?"

Ren mengalihkan pandangan ke jendela.

"Belum tentu semuanya."

Jawaban itu membuat Mai mengerutkan kening.

Ren kemudian mengangkat kunci yang tergeletak di samping amplop dan meletakkannya di telapak tangannya sendiri.

"Karena aku sudah memiliki tempat untuk memulai."

Mai menatap kunci itu.

Bentuknya biasa saja. Sebuah kunci logam kecil dengan gantungan plastik hitam yang sedikit tergores. Tidak ada ukiran nama, tidak ada hiasan mahal, bahkan tidak ada tanda yang menunjukkan bahwa benda tersebut berhubungan dengan seseorang dari keluarga Kisaragi.

Anehnya, justru karena itulah Mai merasa dadanya menegang.

Kunci itu tampak terlalu sederhana untuk menjadi sesuatu yang begitu berarti.

"Tempat apa?"

"Apartemen kecil."

Ren membuka salah satu lembar dokumen dari amplop. Di sana terdapat salinan perjanjian sewa, informasi pembayaran, dan beberapa catatan yang ditulis dengan tulisan tangannya sendiri. Ia membaliknya agar Mai dapat melihat.

"Tempatnya tidak jauh dari jalur kereta, tetapi cukup jauh dari lingkungan yang biasa didatangi keluarga Kisaragi. Bangunannya sudah tua. Hanya ada satu kamar tidur, ruang utama yang juga bisa digunakan untuk makan, dapur kecil, dan kamar mandi yang ukurannya mungkin akan membuatmu mengeluh."

"Aku belum melihatnya, bagaimana kau tahu aku akan mengeluh?"

"Karena kau pernah mengeluh selama lima menit penuh ketika kamar mandi di penginapan sekolah tidak memiliki rak untuk menaruh perlengkapan mandi."

"Itu karena botol sampoku hampir jatuh ke toilet!"

"Dan kau menganggap kejadian itu sebagai bencana nasional."

"Ren!"

Ia menutup mulutnya sendiri setelah menyadari suaranya meninggi. Keduanya spontan menoleh ke pintu.

Hening.

Tidak ada langkah kaki yang mendekat. Tidak ada suara gagang pintu bergerak. Hanya bunyi jam dinding dan desir angin yang terdengar dari balik kaca.

Mai mengembuskan napas perlahan.

Ren menatapnya, lalu menggeser kunci tersebut ke tengah meja.

"Aku sudah membayar uang muka dan mengatur sewa awal menggunakan uang tabunganku. Dokumennya tidak terhubung dengan perusahaan keluarga. Pemiliknya juga tidak memiliki alasan untuk menghubungi kediaman Kisaragi."

"Apakah dia tahu siapa dirimu?"

"Dia tahu nama yang tercantum dalam perjanjian sewa. Tidak lebih dari itu."

Mai kembali melihat dokumen. Ia membaca beberapa baris, berhenti pada alamat, lalu mengamati tanda tangan Ren di bagian bawah halaman.

Apartemen itu bukan rumah yang akan muncul dalam majalah arsitektur. Bukan vila di kawasan pegunungan, bukan pula tempat tinggal mewah yang dirancang untuk menampilkan kekayaan penghuninya. Dari keterangan yang ditulis Ren, Mai bisa membayangkan sebuah bangunan sederhana dengan dinding yang mungkin sudah beberapa kali dicat ulang dan lorong yang tidak selalu berbau harum.

Namun, ada sesuatu yang membuat tempat itu terasa jauh lebih nyata daripada seluruh kamar di kediaman Kisaragi.

Di sana, mereka tidak perlu menunggu izin untuk membuka jendela.

Tidak perlu meminta persetujuan untuk pergi ke minimarket.

Tidak perlu memeriksa apakah kamera sedang mengarah ke lorong sebelum memutuskan ingin berjalan bersama.

Mai mengusap tepi kertas dengan ujung jarinya.

"Kau sudah memikirkan semuanya sejauh ini?"

"Belum semuanya."

Ren mengatakannya tanpa berusaha menyembunyikan kekurangan rencananya.

"Aku sudah menghitung biaya sewa, makanan, listrik, air, transportasi, dan kebutuhan dasar lain. Aku juga memperkirakan berapa lama tabunganku bisa bertahan jika aku tidak langsung mendapat pekerjaan. Tetapi aku belum menyelesaikan persoalan sekolah, dokumen administrasi, dan sumber pendapatan jangka panjang. Aku masih perlu mencari cara agar kita tidak bergantung pada uang yang jumlahnya terus berkurang."

"Kita?"

Ren terdiam sejenak, menyadari kata yang baru saja digunakannya.

Kemudian ia mengangguk.

"Kalau kau memilih ikut denganku."

Mai menatapnya, tetapi Ren tidak mengalihkan pembicaraan. Ia membiarkan kalimat itu berada di antara mereka, tanpa berusaha mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih mudah didengar.

"Aku tidak akan berpura-pura bahwa semuanya sudah aman," lanjutnya. "Tempat itu hanya titik awal. Kita mungkin akan menghadapi kesulitan yang tidak pernah kita alami sebelumnya. Kita harus mengurus kebutuhan sendiri, mencari penghasilan, dan memastikan bahwa kita bisa terus hidup tanpa bantuan keluarga."

Ia menunduk untuk merapikan dokumen yang sedikit bergeser.

"Aku tidak ingin menjanjikan kehidupan yang sempurna hanya karena aku ingin membawamu pergi dari sini."

Mai memandangi sisi wajahnya.

Di kediaman Kisaragi, Ren terbiasa dikelilingi orang-orang yang menyampaikan keputusan seolah-olah tidak ada kemungkinan untuk gagal. Ayahnya menyebut tekanan sebagai disiplin. Ibunya menyebut kepatuhan sebagai tanggung jawab. Saito menyusun perintah dalam kalimat-kalimat hukum yang membuat setiap pilihan selain ketaatan terdengar seperti pelanggaran.

Ren berbeda.

Untuk pertama kalinya, ia sedang berbicara tentang masa depan tanpa berpura-pura mengetahui seluruh jawabannya.

Dan bagi Mai, pengakuan itu jauh lebih meyakinkan daripada janji bahwa ia akan selalu mampu melindunginya.

"Kalau begitu," katanya pelan, "kenapa tidak pergi sekarang?"

Ren mengangkat wajah.

Mai menunjuk buku tabungan dan dokumen di atas meja.

"Kau sudah punya uang. Kau sudah punya tempat tinggal. Kalau kita memang ingin pergi, bukankah lebih baik melakukannya secepat mungkin? Semakin lama kita di sini, semakin banyak kesempatan bagi Souichiro-sama untuk menemukan cara lain mengendalikanmu."

Ia berhenti, kemudian menambahkan dengan suara yang lebih kecil.

"Dan semakin lama aku di sini, semakin besar kemungkinan Saito-san menemukan alasan untuk menghukumku."

Nama itu membuat suasana kamar terasa lebih dingin daripada sebelumnya.

Ren menyilangkan kedua tangan di atas meja. Ia tidak segera membantah. Sebaliknya, ia mengambil selembar kertas dari bawah dokumen sewa, lalu memperlihatkan beberapa catatan yang telah dibuatnya.

"Aku juga memikirkan kemungkinan itu. Tetapi pergi sekarang justru dapat memberi mereka alasan untuk mempercepat semuanya."

"Mempercepat apa?"

"Mengakhiri kontrakmu sebelum waktunya, menyatakan bahwa kau melanggar perjanjian, lalu menggunakan seluruh ketentuan di dalamnya untuk menekanmu."

Mai merasakan jemarinya menegang di atas lutut.

Kontrak 365 hari itu kembali hadir dalam pikirannya, bukan sebagai lembaran kertas yang dapat disimpan dalam laci, melainkan sebagai jerat yang masih melingkari hidupnya. Saito tidak perlu mengetahui seluruh isi hatinya. Ia hanya perlu menemukan satu penyimpangan, satu pertemuan yang tidak diizinkan, atau satu tindakan yang dapat ditafsirkan sebagai pelanggaran.

"Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Saito jika kita pergi sekarang," kata Ren. "Tetapi dia memiliki akses ke sumber daya keluarga, tim hukum, dan orang-orang yang bisa mencarimu. Selama kontrakmu masih berjalan, dia akan menganggapmu sebagai seseorang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Dia bisa menggunakan itu sebagai alasan untuk mengendalikan pergerakanmu."

"Jadi, kita harus menunggu?"

"Sampai masa kontrak mendekati akhir. Kita perlu membuat mereka percaya bahwa tidak ada perubahan yang cukup besar untuk menimbulkan kecurigaan. Setelah itu, kita pergi sebelum mereka memiliki kesempatan untuk menyiapkan langkah berikutnya."

Mai menunduk.

Ada bagian dari dirinya yang ingin menolak gagasan itu. Menunggu berarti terus mengenakan seragam yang bukan miliknya, terus menggunakan nama orang yang telah meninggal, terus tersenyum ketika orang-orang memanggilnya Kanade, dan terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Ia sudah lelah.

Terkadang, bahkan saat berdiri sendirian di depan cermin, ia merasa tidak tahu siapa yang sedang menatap balik kepadanya. Gadis berambut rapi dengan pakaian mahal itu memiliki wajah Mai, tetapi ekspresi yang dituntut darinya bukanlah ekspresi yang tumbuh secara alami.

Namun, ia tahu Ren benar mengenai satu hal.

Keberanian yang tidak disertai persiapan dapat berubah menjadi tindakan yang membahayakan orang yang ingin diselamatkan.

"Aku tidak suka harus terus berpura-pura," bisiknya.

"Aku juga tidak."

"Kadang-kadang aku merasa kalau aku terus melakukan ini, aku akan semakin sulit kembali menjadi diriku sendiri."

Ren memandangnya dengan tenang.

"Kalau begitu, kita harus memastikan bahwa waktu yang tersisa tidak membuatmu kehilangan dirimu."

Lihat selengkapnya