Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #72

Ambang Batas 30 Hari Terakhir

Pagi itu, jam dinding di ruang kerja Saito Kazuma menunjukkan pukul delapan lewat tujuh menit ketika Miyauchi Mai mengetuk pintu untuk kedua kalinya.

"Masuk."

Suara dari dalam terdengar datar, tanpa sedikit pun kehangatan yang biasanya digunakan orang untuk menyambut seseorang. Mai memutar gagang pintu, lalu melangkah masuk dengan punggung tegak dan kedua tangan terlipat rapi di depan tubuhnya. Ia mengenakan pakaian yang telah ditentukan untuk kegiatan pagi itu, rambutnya tertata sebagaimana penampilan Kisaragi Kanade yang selama berbulan-bulan ia pertahankan. Setiap detail telah diperiksa sebelum ia meninggalkan kamar: kerah, pita, ujung lengan, bahkan helaian rambut yang mungkin terlepas dari tempatnya.

Ruangan itu berbau kertas, tinta, dan kopi hitam yang sudah kehilangan sebagian aromanya. Tirai berwarna kelabu menahan cahaya matahari musim dingin agar tidak masuk terlalu banyak. Di atas meja besar, beberapa map tersusun berdasarkan ukuran, sementara kalender kerja di sisi kanan monitor dipenuhi catatan kecil dengan tinta merah dan biru.

Saito duduk di belakang meja, mengenakan setelan gelap yang tampak tidak pernah kusut. Kacamata tipis bertengger di pangkal hidungnya. Ia sedang membaca sebuah dokumen ketika Mai masuk, tetapi baru mengangkat wajah setelah menyelesaikan baris terakhir.

"Duduklah, Kanade-san."

Mai menarik kursi di hadapan meja dan duduk tanpa suara.

"Apakah ada sesuatu yang perlu saya lakukan, Saito-san?"

Saito menutup dokumennya, kemudian membuka map lain yang telah disiapkan khusus di sebelah kanan tangannya.

"Ada beberapa hal yang perlu kita selesaikan pagi ini. Masa penugasanmu sudah memasuki tahap akhir."

Mai menjaga wajahnya tetap tenang.

Tahap akhir.

Ungkapan itu terdengar begitu wajar ketika keluar dari mulut Saito, seolah-olah tiga ratus tiga puluh lima hari terakhir hanyalah sebuah proyek administratif yang mendekati tanggal penyelesaian. Tidak ada jejak keraguan, tidak ada pengakuan bahwa identitas seorang gadis telah dipakai untuk menutup lubang dalam kehidupan keluarga lain, dan tidak ada tanda bahwa orang yang duduk di hadapannya pernah dipaksa membangun hubungan emosional di atas kebohongan.

Saito menarik sebuah lembar dari map tersebut dan meletakkannya di atas meja.

"Perhatikan tanggal yang tercantum di sini."

Mai menunduk.

Di bagian atas halaman terdapat judul formal mengenai penyelesaian penugasan dan pemulihan kondisi setelah berakhirnya kontrak. Di bawahnya, beberapa baris memuat jadwal evaluasi akhir, pengembalian barang milik keluarga Kisaragi, serta ketentuan mengenai penghentian akses terhadap fasilitas kediaman.

Pada bagian bawah halaman, sebuah tanggal telah diberi garis merah.

Hari ke-365.

Tiga puluh hari dari sekarang.

Mai merasakan ujung jari telunjuknya menekan permukaan rok. Ia tidak mengubah posisi duduknya, tetapi otot di sekitar rahangnya menegang sesaat sebelum kembali mengendur.

"Penugasan saya akan berakhir dalam tiga puluh hari," katanya.

"Tepat."

Saito mengamati wajahnya, seakan-akan sedang mencari perubahan ekspresi sekecil apa pun.

"Selama periode tersebut, tidak ada alasan bagimu untuk mengubah pola perilaku. Kegiatan sekolah tetap berjalan sesuai jadwal. Interaksi dengan Tuan Ren harus dipertahankan dalam batas yang telah ditentukan. Kau juga tetap harus mengikuti evaluasi rutin sampai hari terakhir."

"Baik, Saito-san."

Jawaban itu keluar tanpa jeda.

Saito menyandarkan punggung ke kursinya. Ia tampak puas dengan respons yang diterimanya, tetapi belum berniat mengakhiri pembicaraan.

"Setelah masa kontrak berakhir, kau tidak lagi memiliki alasan untuk tinggal di kediaman ini. Oleh karena itu, kami telah menyiapkan pengaturan pemindahanmu."

Mai mengangkat pandangan.

"Pemindahan?"

"Pada pagi hari ke-365, sebuah kendaraan akan menjemputmu dari kediaman Kisaragi. Kau akan dibawa ke tempat tinggal sementara yang telah ditentukan, kemudian diproses untuk menyelesaikan urusan administratif yang masih tersisa."

Saito menyampaikan setiap bagian kalimat itu dengan ketepatan yang hampir menyerupai pembacaan jadwal rapat.

"Pengaturan tersebut tidak memerlukan keterlibatanmu dalam proses pengambilan keputusan. Kau cukup memastikan bahwa barang-barang pribadimu telah dikemas sesuai instruksi dan siap dibawa pada waktu yang ditentukan."

Mai menahan napasnya agar tetap teratur.

Jadi, mereka benar-benar sudah merencanakan pemindahannya.

Ia telah memperkirakan bahwa keluarga Kisaragi tidak akan membiarkannya begitu saja setelah kontrak berakhir. Namun, mendengar rencana itu secara langsung membuat ancaman tersebut terasa jauh lebih nyata. Selama ini, ia masih dapat membayangkan bahwa setelah hari ke-365, dirinya akan diberi kesempatan untuk pergi dengan tenang. Sekarang, jelas bahwa bahkan cara ia meninggalkan kediaman pun sudah ditentukan oleh orang lain.

"Apakah saya perlu mempersiapkan dokumen tertentu?" tanyanya.

Saito menyatukan kedua tangannya di atas meja.

"Semua dokumen yang diperlukan akan diberikan pada waktunya. Kau tidak perlu menghubungi pihak luar atau melakukan pengaturan sendiri."

"Baik."

"Keluarga Kisaragi juga telah mempertimbangkan bagaimana perubahan ini akan dijelaskan."

Mai menunggu.

"Di hadapan lingkungan sosial, Kanade-sama akan disebut melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Penjelasan tersebut cukup sederhana dan tidak akan menimbulkan pertanyaan yang tidak perlu. Dengan demikian, kau tidak lagi akan tinggal bersama Tuan Ren, dan keluarga dapat melanjutkan kehidupan mereka tanpa gangguan terhadap citra publik."

Kata-kata itu membuat tenggorokan Mai terasa kering.

Kanade akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Sebuah kalimat pendek, rapi, dan mudah diterima oleh siapa pun yang tidak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Orang-orang akan membicarakannya mungkin selama beberapa hari. Teman-teman sekolah akan mengajukan pertanyaan. Para pelayan akan menyampaikan kabar itu satu sama lain. Setelah beberapa waktu, nama Kanade perlahan akan menghilang dari percakapan sehari-hari.

Dan Mai Miyauchi?

Ia akan dipindahkan dari kediaman itu seperti seseorang yang telah menyelesaikan tugas sementara. Tidak ada yang perlu mengetahui ke mana ia pergi, apa yang akan dilakukannya, atau apakah kehidupan yang menunggunya setelah itu masih memiliki ruang untuk menentukan pilihan sendiri.

Saito mengambil selembar dokumen lain.

"Penjelasan ini harus dipertahankan secara konsisten. Jangan memberikan keterangan tambahan kepada teman sekolah, guru, atau siapa pun yang bertanya mengenai keberangkatanmu. Jika ada pertanyaan, cukup katakan bahwa rencana pendidikan Kanade-sama telah disiapkan oleh keluarga."

"Baik, Saito-san."

"Kau juga tidak diperkenankan mengubah kebiasaanmu secara mendadak. Perubahan perilaku yang tidak sesuai dengan profil Kanade-sama dapat menimbulkan pertanyaan, terutama menjelang akhir masa penugasan."

Mai menundukkan kepala sedikit.

"Saya memahami instruksinya."

Saito terdiam.

Ia mengambil cangkir kopi, menyesap sedikit isinya, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi porselen yang nyaris tidak terdengar.

"Bagus. Saya berharap tiga puluh hari terakhir ini dapat berjalan tanpa insiden."

Tatapan di balik kacamatanya mengeras.

"Akan sangat disayangkan apabila setelah menjalankan tugas selama hampir satu tahun, kau justru melakukan sesuatu yang merugikan dirimu sendiri pada tahap akhir."

Kalimat itu disampaikan dengan nada yang tidak jauh berbeda dari nasihat seorang atasan kepada pegawai yang hampir menyelesaikan pekerjaan. Namun, Mai mengetahui apa yang tersembunyi di baliknya.

Ancaman itu tidak perlu diucapkan secara terang-terangan.

Kontrak masih berlaku. Saito masih memegang dokumen yang dapat digunakan untuk menekan dirinya. Dan selama tiga puluh hari ke depan, satu kesalahan dapat dijadikan alasan untuk mengubah jadwal, memperketat pengawasan, atau memaksanya meninggalkan kediaman sebelum ia siap.

Mai mengangkat wajah dan memberikan senyum tipis yang telah dilatihnya selama berbulan-bulan.

"Saya tidak berniat membuat masalah, Saito-san. Saya akan menyelesaikan penugasan sesuai instruksi."

Saito memperhatikannya selama beberapa detik.

Kemudian ia mengangguk.

"Kalau begitu, kau boleh kembali ke kamarmu. Jadwal sekolahmu tetap seperti biasa. Saya akan menghubungimu jika ada instruksi tambahan."

Mai berdiri, merapikan lipatan pakaiannya, lalu membungkuk secukupnya.

"Permisi."

Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang terukur. Tangannya baru menyentuh gagang ketika suara Saito kembali terdengar.

"Kanade-san."

Mai berhenti.

"Ya, Saito-san?"

"Jangan sampai kau lupa bahwa peranmu belum berakhir."

Ia menatap Mai dengan ekspresi dingin yang nyaris tidak berubah.

"Tiga puluh hari masih cukup panjang untuk menimbulkan persoalan jika kau lengah."

Mai membalas tatapan itu tanpa mengubah senyumnya.

"Saya mengerti."

Ia membuka pintu dan meninggalkan ruangan.

Lorong di luar terasa lebih terang daripada ruang kerja Saito, tetapi cahaya yang masuk melalui jendela tinggi tidak membuat napasnya terasa lebih lega. Mai berjalan melewati dua orang staf yang sedang membicarakan jadwal pengiriman barang, menyapa mereka dengan sopan, lalu berbelok menuju tangga.

Tidak ada yang memperhatikan tangannya.

Tidak ada yang melihat bagaimana jemarinya menggenggam ujung lengan pakaian, atau bagaimana ia baru mengembuskan napas setelah mencapai sudut lorong yang tidak langsung terlihat dari ruang kerja Saito.

Tiga puluh hari.

Ia pernah menghitung waktu dengan cara yang berbeda. Dahulu, ia menghitung berapa lama harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, berapa banyak uang yang dapat disisihkan, dan berapa hari yang tersisa sebelum tagihan berikutnya jatuh tempo. Setelah menerima kontrak, angka-angka itu berubah menjadi ukuran seberapa lama ia harus bertahan sebagai orang lain.

Kini, angka itu kembali memiliki arti baru.

Tiga puluh hari bukan sekadar sisa waktu sebelum penugasan berakhir. Itu adalah jarak antara kehidupan yang telah ditentukan untuknya dan kehidupan yang sedang berusaha ia pilih sendiri.

Setelah kembali ke kamarnya, Mai menutup pintu dan memutar kunci.

Ia tidak langsung bergerak.

Selama beberapa detik, ia berdiri membelakangi pintu, mendengarkan suara-suara dari lorong. Langkah kaki seseorang melewati kamarnya, berhenti di kejauhan, lalu berlanjut lagi. Tidak ada ketukan. Tidak ada panggilan dari staf. Ketika suasana kembali tenang, barulah Mai berjalan menuju meja kecil di dekat jendela.

Ia mengeluarkan dokumen yang diberikan Saito dari map tipis yang dibawanya, lalu meletakkannya di atas meja.

Kertas itu tampak biasa saja di bawah cahaya pagi. Garis merah pada tanggal akhir kontrak bahkan terlihat seperti penanda administratif yang tidak memiliki makna khusus.

Mai duduk dan membacanya sekali lagi.

Jadwal penyelesaian kontrak. Pemindahan pada pagi hari ke-365. Penjelasan pendidikan ke luar negeri. Pengembalian fasilitas. Pembatasan komunikasi setelah penugasan berakhir.

Ia membaca setiap baris dengan teliti, berusaha membedakan informasi yang telah pasti dari bagian yang masih belum dijelaskan.

Saito belum memberikan alamat tempat tinggal sementara. Ia juga belum menyebutkan siapa yang akan menjemputnya, selain bahwa kendaraan akan disediakan oleh pihak keluarga. Tidak ada keterangan mengenai apakah ia akan diberi kesempatan menghubungi orang lain sebelum dipindahkan, atau apakah seluruh barang pribadinya akan diperiksa terlebih dahulu.

Mai mengambil pensil dari laci.

Di selembar kertas kosong, ia menulis:

Hari ke-335 — pemberitahuan resmi.

Di bawahnya, ia menambahkan beberapa catatan singkat.

Penjemputan pagi hari.

Lihat selengkapnya