Angin siang berembus melintasi atap Akademi Seiwa, membawa bau samar aspal yang mulai menghangat dan aroma daun-daun kering dari pepohonan di halaman belakang. Dari kejauhan, suara kendaraan di jalan raya terdengar seperti dengung yang tak pernah benar-benar berhenti. Di bawah langit musim dingin yang pucat, bayangan pagar pembatas atap membentang miring di atas lantai beton, terpotong-potong oleh cahaya matahari.
Ren berdiri di dekat pintu akses tangga, sebelah tangan masuk ke saku blazer seragamnya. Sejak bel istirahat berbunyi, ia sudah dua kali memeriksa pantulan kaca pada pintu besi di belakangnya dan sekali menoleh ke arah tangga yang mengarah ke lantai tiga. Bukan karena ia takut ada guru yang memergokinya berada di atap, melainkan karena ia perlu memastikan bahwa orang yang akan diajaknya berbicara tidak membawa ekor yang tak diundang.
Dua puluh lima hari.
Angka itu terus berputar di kepalanya seperti jarum jam yang tak bersuara. Dua puluh lima hari sebelum kontrak Mai berakhir. Dua puluh lima hari sebelum Saito bisa memisahkan mereka dengan dalih administratif, mengemas gadis itu ke dalam mobil, lalu menghilangkannya dari kehidupan Ren seolah-olah setahun terakhir hanyalah sebuah kesalahan kecil yang perlu dibereskan.
Ren merogoh saku dan memeriksa ponselnya sekali lagi.
Pesan yang ia kirim kepada Kenji hanya terdiri atas satu kalimat pendek.
Temui aku di atap saat istirahat makan siang. Datang sendiri. Jangan beri tahu siapa pun.
Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Bukan karena ia masih meragukan Kenji, tetapi karena semakin sedikit informasi yang tersebar, semakin kecil kemungkinan sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Langkah kaki terdengar dari balik pintu besi.
Ren mengangkat kepala.
Pintu itu terbuka dengan bunyi berderit pendek, disusul kemunculan seorang pemuda berambut agak berantakan yang membawa dua kotak makan siang dan sebotol teh di tangannya. Kenji mendorong pintu menggunakan bahu, lalu berhenti begitu melihat Ren berdiri sendirian.
“Wah.” Ia mengembuskan napas panjang, kemudian menutup pintu di belakangnya. “Kalau ini ternyata ajakan bunuh diri bersama, setidaknya aku mau diberi tahu dulu supaya bisa memilih menu makan siang terakhir.”
Ren memandangnya tanpa ekspresi.
Kenji mengangkat kedua kotak makan siangnya. “Aku bahkan sudah membeli karaage tambahan. Akan sangat menyedihkan kalau harus meninggalkannya tanpa ahli waris.”
“Aku tidak mengajakmu untuk bunuh diri.”
“Bagus. Berarti karaage-ku masih punya masa depan.”
Kenji tersenyum, tetapi senyum itu perlahan memudar ketika menyadari Ren sama sekali tidak membalas candanya. Biasanya, sahabatnya itu setidaknya akan menghela napas kecil atau melontarkan satu kalimat datar yang cukup tajam untuk membuatnya kesal. Kali ini, Ren hanya menatap pintu tangga beberapa detik sebelum mengalihkan pandangan ke pagar pembatas.
Kenji menurunkan kotak makan siangnya.
“Ren?”
“Pintu tadi tertutup rapat?”
“Ya. Aku juga tidak melihat siapa pun di tangga.” Kenji memiringkan kepala. “Memangnya ada yang mengejar kita?”
“Belum tentu.” Ren berhenti sejenak. “Aku hanya ingin memastikan tidak ada orang yang mengikuti kita ke sini.”
Kata-kata itu membuat Kenji mengernyit. Ia melirik pintu, kemudian kembali memandang sahabatnya.
“Baiklah. Sekarang aku mulai merasa ini bukan tentang tugas matematika yang ingin kau salin.”
“Aku tidak pernah menyalin tugasmu.”
“Benar. Kau hanya menjelaskan jawabannya sampai aku merasa terlalu bodoh untuk mengakuinya.” Kenji mendecakkan lidah, lalu meletakkan kotak makan siangnya di atas bangku beton. “Jadi, apa yang terjadi?”
Ren tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke sisi atap yang agak terlindung dari pandangan gedung-gedung di seberang, lalu berhenti beberapa langkah dari pagar. Kenji mengikutinya. Untuk beberapa saat, keduanya berdiri berdampingan, memandang lapangan sekolah yang tampak kecil dari ketinggian itu.
Di bawah sana, beberapa siswa berjalan melintasi koridor terbuka. Sekelompok siswi tertawa sambil membawa minuman dari kantin. Kehidupan sekolah bergerak seperti biasa, tanpa mengetahui bahwa dua puluh lima hari dari sekarang, salah satu rahasia terbesar keluarga Kisaragi mungkin akan pecah dengan cara yang tidak dapat mereka kendalikan.
“Aku perlu memberitahumu sesuatu,” kata Ren akhirnya. “Tentang gadis yang selama ini kau kenal sebagai Kanade.”
Kenji menoleh.
“Adikmu?”
“Bukan.”
Satu kata itu jatuh begitu saja di antara mereka.
Kenji berkedip. Ia menunggu Ren melanjutkan, tetapi sahabatnya itu justru menatap lurus ke depan. Angin mengangkat sedikit ujung rambut Ren, memperlihatkan wajahnya yang terlihat lebih pucat daripada biasanya.
“Bukan adikmu?” ulang Kenji. “Maksudmu, ada masalah dengan identitasnya? Aku tahu keluarga kalian sangat tertutup, tetapi kalau ini semacam persoalan dokumen—”
“Namanya Miyauchi Mai.”
Kenji terdiam.
Sebuah helikopter kecil yang entah dari mana melintas jauh di atas gedung-gedung kota. Suaranya samar, hampir tertelan angin. Kenji memandang Ren, lalu memandang pintu tangga, seolah-olah seseorang mungkin muncul dari sana untuk menjelaskan bahwa ia baru saja salah mendengar.
“Miyauchi… Mai?”
“Ya.”
“Bukan Kisaragi Kanade?”
“Kanade adalah nama adik kandungku yang meninggal.”
Kali ini, Ren tidak menambahkan penjelasan lain. Ia membiarkan kalimat itu berdiri sendiri, tanpa lapisan penghalus atau alasan yang bisa membuatnya lebih mudah diterima.
Kenji perlahan meletakkan botol teh yang masih dipegangnya di atas bangku. Bunyi plastik menyentuh beton terdengar terlalu nyaring di antara keheningan mereka.
“Tunggu.” Ia mengangkat satu tangan, mengusap wajahnya dari dahi hingga dagu. “Tunggu sebentar. Otakku sedang mencoba memahami kalimatmu, dan sejujurnya aku merasa otakku ingin mengundurkan diri.”
“Aku tahu ini sulit dipercaya.”
“Sulit dipercaya?” Kenji menoleh cepat. “Ren, aku sudah melihat banyak hal aneh di sekolah ini. Aku pernah melihat ketua klub sejarah berdebat selama empat puluh menit tentang apakah seekor naga secara teknis bisa dikenai pajak properti. Aku juga pernah melihat klub otaku membuat diagram konspirasi tentang hubunganmu dengan adikmu.”
Ia berhenti, lalu menatap Ren dengan sorot mata yang kehilangan seluruh kelucuannya.
“Tapi ini berbeda. Kau bilang gadis yang tinggal bersamamu, yang datang ke sekolah, yang selama ini kita panggil Kanade… sebenarnya orang lain?”
Ren mengangguk sekali.
Kenji menarik napas, tetapi napas itu tersangkut di tengah jalan. Ia menekan kedua telapak tangannya ke pinggang, lalu berjalan beberapa langkah ke kiri dan kembali lagi, seolah-olah tubuhnya membutuhkan gerakan untuk mengimbangi apa yang baru saja didengarnya.
“Bagaimana?” tanyanya. “Siapa yang melakukan ini? Kenapa?”
“Saito Kazuma.”
Nama itu membuat Kenji berhenti.
Ia mengenal nama Saito bukan karena pernah berbicara langsung dengannya, melainkan karena beberapa kali melihat pria berjas kaku itu menjemput atau mengawasi Ren di sekolah. Saito selalu tampak seperti seseorang yang tidak pernah meninggalkan rumah tanpa membawa setidaknya tiga dokumen hukum, dua agenda rapat, dan satu alasan untuk menolak permintaan orang lain.
“Pengacara keluarga kalian?”
“Kepala tim hukum. Dia yang mengatur kontrak itu.”
“Kontrak apa?”
Ren mengalihkan pandangan ke tangannya sendiri. Jari-jarinya bergerak pelan, merapikan lipatan manset seragam yang sebenarnya sudah lurus.
“Setelah Kanade meninggal, aku mengalami krisis psikologis yang berat. Aku berhenti berfungsi seperti sebelumnya. Pada akhirnya, aku koma.”
Kenji tidak menyela.
“Ketika aku bangun, aku kehilangan banyak ingatan. Keluargaku khawatir kondisiku tidak akan pulih, atau lebih tepatnya, mereka khawatir aku tidak akan kembali menjadi orang yang mereka inginkan.” Rahang Ren mengeras sedikit. “Mereka membutuhkan seseorang yang bisa membuatku merasa aman. Seseorang yang bisa menempati posisi Kanade tanpa mengubah citra keluarga di mata orang lain.”
Kenji menatapnya seakan-akan Ren baru saja berbicara dalam bahasa asing.
“Jadi mereka mencari seseorang yang mirip dengan adikmu?”
“Bukan sekadar mirip.” Ren menghela napas pendek. “Mereka mencari seseorang yang bisa memainkan peran itu. Seseorang yang bersedia belajar cara bicara Kanade, kebiasaannya, riwayat hidupnya, bahkan bagaimana dia seharusnya memperlakukanku.”
“Dan mereka menemukan Mai.”
“Ya.”
Kenji menunduk. Kedua alisnya tertarik rapat, sementara ibu jarinya menggosok-gosok sisi telunjuk tanpa sadar. Ada sesuatu yang sangat mengganggu dalam cara Ren menyampaikan semua itu. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, tidak ada penjelasan panjang tentang betapa buruknya keluarganya. Justru ketenangan itulah yang membuat Kenji merasa seperti sedang mendengar laporan tentang sebuah kejahatan yang telah berlangsung terlalu lama.
“Dia setuju karena apa?” tanya Kenji pelan.
Ren tidak segera menjawab.
Pertanyaan itu membawa pikirannya pada Mai sebelum ia mengenal nama aslinya; pada gadis yang selalu tersenyum ketika menyajikan teh, yang menunduk sopan di depan Saito, dan yang pernah berdiri sendirian di lorong dengan kedua tangan mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia teringat bahwa di balik semua kelembutan yang diperlihatkan Mai, ada kehidupan yang tidak pernah ia ketahui sebelum terlambat.
“Karena dia membutuhkan uang,” jawabnya. “Dia berasal dari keluarga biasa. Dia pernah bekerja di maid café di Akihabara dengan nama panggung Mei-chan. Saito menawarkan pekerjaan itu kepadanya, lengkap dengan bayaran dan syarat-syarat yang tidak mungkin ia pahami sepenuhnya sebelum masuk ke dalamnya.”
“Mei-chan?”
Ren mengangguk.
Kenji membuka mulut, kemudian menutupnya kembali. Ia memandang sahabatnya dengan tatapan kosong selama beberapa detik.
“Sebentar. Mei-chan yang itu?”
“Kalau yang kau maksud adalah mantan maid café yang wajahnya pernah kau lihat di internet dan yang fotonya disimpan oleh beberapa anggota klub otaku dengan alasan yang mereka sebut penelitian budaya, kemungkinan besar iya.”
Kenji menutup mata.
“Ya Tuhan.”
“Apa?”
“Tidak ada.” Ia mengangkat telapak tangannya. “Aku sedang berusaha menerima kenyataan bahwa selama ini aku hidup berdampingan dengan sebuah konspirasi, dan bagian paling tidak masuk akalnya adalah aku pernah ikut menyebarkan teori bahwa kau menculik maid favorit orang-orang.”
Ren memandangnya datar. “Aku ingat.”
“Aku menarik kembali semua komentar yang pernah kubuat tentang itu.”
“Kau tidak bisa menarik kembali komentar yang sudah dibaca orang.”
“Kalau begitu, aku akan mengirimkan permintaan maaf resmi dengan tanda tangan notaris.”
Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, sudut mulut Ren bergerak sedikit. Bukan senyum penuh, hanya perubahan kecil yang cepat menghilang. Kenji melihatnya, tetapi tidak mencoba mengubah suasana menjadi lelucon lagi. Ia tahu sahabatnya tidak mengundangnya ke atap hanya untuk membongkar identitas seorang gadis.
“Berapa lama?” tanyanya.
“Satu tahun.”
Kenji mengerutkan dahi. “Satu tahun apa?”
“Kontraknya berlangsung selama tiga ratus enam puluh lima hari. Selama itu, Mai harus hidup sebagai Kanade. Dia harus menjaga cerita yang sudah ditentukan keluarga Kisaragi, termasuk di sekolah. Dia juga berada di bawah pengawasan Saito.”
“Pengawasan seperti apa?”
“Evaluasi berkala. Aturan perilaku. Pembatasan interaksi. Ancaman denda kalau dia melanggar ketentuan tertentu.” Ren berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah. “Saito bisa membuatnya merasa bahwa satu kesalahan saja akan menghancurkan seluruh hidupnya.”
Kenji menatapnya dengan rahang mengencang.
“Denda? Mereka mengancam seorang gadis enam belas tahun dengan denda?”
“Nilainya sangat besar. Cukup besar untuk membuatnya takut bahkan mempertimbangkan kemungkinan melawan.”
“Dan dia tidak bisa pergi begitu saja?”
“Tidak tanpa konsekuensi yang sengaja dibuat menakutkan.” Ren mengembuskan napas melalui hidung. “Di atas kertas, dia menandatangani kontrak. Dalam kenyataannya, mereka memastikan bahwa dia tidak memiliki cukup ruang untuk memilih.”
Kenji mengalihkan pandangan ke halaman sekolah. Di sana, seorang siswa berlari mengejar temannya yang membawa roti, sementara dua orang guru berdiri di dekat pintu masuk gedung sambil berbincang. Semuanya tampak begitu biasa sehingga terasa hampir menyinggung.
Ia teringat Kanade—atau gadis yang selama ini ia yakini sebagai Kanade—yang beberapa kali terlihat menunggu Ren di depan ruang kelas, yang membungkuk sopan ketika bertemu dengannya, yang selalu tersenyum manis ketika ia menggoda Ren tentang memiliki adik yang terlalu perhatian.
Kenji pernah menganggap hubungan mereka lucu. Berlebihan, mungkin, tetapi tidak lebih dari itu.
Sekarang, semua kenangan tersebut berubah bentuk.
Ia mengingat bagaimana gadis itu sesekali terdiam ketika mendengar namanya disebut terlalu keras. Bagaimana ia tampak berhati-hati saat berbicara tentang masa kecilnya. Bagaimana senyum yang selalu terlihat sempurna itu kadang datang sepersekian detik terlambat, seolah-olah ia harus memastikan terlebih dahulu senyum seperti apa yang diharapkan darinya.
Dulu, Kenji tidak pernah mempertanyakan hal-hal kecil itu.
Sekarang, ia bertanya-tanya berapa banyak dari semuanya yang merupakan bagian dari peran yang dipaksakan kepadanya.
“Apakah dia tahu?” tanya Kenji akhirnya.
Ren menoleh. “Tentang apa?”
“Bahwa kau sudah tahu siapa dirinya.”
“Ya. Aku sudah mengetahui identitasnya yang sebenarnya.”
“Dan kau masih membiarkannya tinggal di rumah itu?”
Pertanyaan tersebut keluar lebih tajam daripada yang Kenji maksudkan. Begitu menyadarinya, ia merapatkan bibir, tetapi tidak menarik kembali kata-katanya.
Ren tidak menunjukkan kemarahan. Ia justru menunduk sebentar, memperhatikan garis-garis tipis pada lantai beton.
“Aku tidak bisa mengeluarkannya dari sana begitu saja,” katanya. “Kalau aku melakukannya sekarang, Saito akan punya alasan untuk mempercepat penghentian kontrak. Dia bisa memindahkan Mai sebelum kami siap, atau menggunakan ketentuan kontrak untuk menekannya lebih jauh.”
“Jadi kalian harus tetap berpura-pura?”