Sore hari menyelimuti taman bunga Akademi Seiwa dengan cahaya keemasan yang perlahan menipis. Sinar matahari menembus sela-sela pepohonan, jatuh di atas jalan setapak berbatu dan petak-petak bunga yang dirawat dengan ketelitian nyaris berlebihan. Beberapa mawar musim dingin masih bertahan di antara dedaunan hijau tua, sementara bunga pansy berwarna ungu, kuning, dan putih mengangguk pelan setiap kali angin melewati taman.
Di dekat pagar, seorang petugas kebun sedang merapikan selang air. Suara gemericik yang tersisa dari penyiraman bercampur dengan bunyi langkah siswa yang meninggalkan gedung sekolah. Dari arah lapangan terdengar peluit pelatih klub olahraga, disusul sorak-sorai yang semakin menjauh. Seiwa sedang beralih dari kesibukan siang menuju ketenangan menjelang malam.
Mai baru saja keluar dari gedung utama ketika seorang siswi menghampirinya.
“Saionji-san ingin berbicara denganmu.”
Mai menghentikan langkah.
“Saionji-san?”
Siswi itu mengangguk, lalu menunjuk ke arah taman. “Beliau menunggumu di gazebo.”
Mai mengikuti arah telunjuknya. Di antara rumpun semak yang dipangkas rapi, gazebo kayu bercat putih berdiri di atas lantai batu rendah. Bangunan itu tidak terlalu besar, tetapi cukup jauh dari jalur utama sehingga orang yang berada di dalamnya tidak akan mudah terlihat oleh siswa yang sekadar melintas.
Clara duduk di sana, mengenakan seragam sekolahnya dengan sempurna. Tasnya terletak di samping bangku, sementara kedua tangannya bertumpu tenang di atas pangkuan. Rambutnya tertata rapi, tidak ada helaian yang tampak keluar dari tempatnya. Bahkan dari kejauhan, ia terlihat seperti seseorang yang sudah mempersiapkan diri menghadapi percakapan penting dan tidak berniat membiarkan satu pun kata keluar secara ceroboh.
Mai merasakan telapak tangannya mulai lembap.
Ia mengenal Clara sebagai tunangan Ren—atau, lebih tepatnya, perempuan yang dipersiapkan oleh dua keluarga untuk menjadi istri Ren. Clara selalu tampak anggun di hadapan orang lain, dengan senyum sopan yang tidak pernah berlebihan dan tutur kata yang membuat setiap percakapan terasa terukur. Mai tidak pernah benar-benar dekat dengannya. Setiap pertemuan mereka selalu berlangsung dalam suasana formal, di bawah tatapan orang-orang yang menganggap hubungan antara Ren dan Clara sebagai sesuatu yang sudah ditentukan.
Namun, beberapa minggu terakhir telah mengubah terlalu banyak hal.
Ren tidak lagi menyembunyikan penolakannya terhadap masa depan yang dirancang keluarganya. Mai sendiri tidak lagi mampu menganggap perasaannya kepada Ren sebagai sesuatu yang bisa disingkirkan begitu saja setelah kontraknya berakhir. Dan Clara—yang berada tepat di tengah-tengah semua itu—tentu bukan orang yang tidak menyadari perubahan tersebut.
Mai merapatkan tali tasnya di bahu, lalu berjalan menuju gazebo.
Setiap langkah terasa sedikit lebih berat daripada sebelumnya.
Ketika ia sampai, Clara mengangkat wajah dan tersenyum tipis.
“Terima kasih sudah datang, Kisaragi-san.”
Sapaan itu membuat Mai kembali teringat pada nama yang sedang ia kenakan. Ia membalas dengan membungkuk sopan.
“Tidak apa-apa, Saionji-san. Apakah ada sesuatu yang ingin Anda bicarakan dengan saya?”
Clara menggeser tasnya sedikit, memberikan ruang di bangku.
“Silakan duduk. Aku tidak ingin menahanmu terlalu lama.”
Mai duduk dengan jarak yang wajar di antara mereka. Kayu bangku terasa dingin melalui rok seragamnya. Dari tempat itu, ia dapat melihat jalan setapak yang melengkung mengitari petak bunga, tetapi tidak ada seorang pun yang mendekat. Clara tampaknya memang memilih waktu dan tempat dengan cermat.
Siswi itu menunggu sampai Mai meletakkan tasnya di pangkuan sebelum berbicara.
“Aku sengaja memilih tempat ini karena tidak ingin percakapan kita menjadi bahan pembicaraan orang lain.”
Mai mengangguk pelan. “Saya mengerti.”
“Belakangan ini, ada cukup banyak orang yang merasa berhak memberikan pendapat tentang kehidupan pribadi keluarga Kisaragi.” Clara melirik sekilas ke arah gedung utama. “Aku tidak ingin menambah jumlah mereka.”
Mai merasakan ujung jarinya menekan kain tas.
“Apakah ini berkaitan dengan Onii-sama?”
Clara menoleh kepadanya.
Untuk sesaat, Mai khawatir ia telah menggunakan sapaan yang salah. Namun, Clara tidak memperlihatkan keterkejutan. Ia hanya memandang Mai dengan sorot mata yang tenang, seolah-olah jawaban itu sudah cukup untuk mengonfirmasi sesuatu yang telah lama ia pikirkan.
“Ya,” jawabnya. “Ini berkaitan dengan Ren.”
Nama itu terdengar berbeda ketika keluar dari mulut Clara. Tidak ada kemesraan yang dibuat-buat, tetapi juga tidak ada jarak dingin yang biasanya digunakan dalam percakapan formal. Clara menyebutnya seperti seseorang yang telah mengenal Ren cukup lama untuk memahami bahwa nama keluarga dan gelar pewaris tidak pernah cukup untuk menjelaskan siapa dirinya.
Mai menunduk.
“Apakah terjadi sesuatu di antara Anda dan Ren-sama?”
“Tidak ada pertengkaran, jika itu yang kau khawatirkan.”
Clara melipat kedua tangannya di atas pangkuan. Gerakannya halus, tetapi ibu jari kanannya sempat mengusap sisi kuku kiri sebelum berhenti.
“Aku hanya ingin berbicara denganmu sebelum situasinya menjadi lebih rumit.”
Jantung Mai berdetak lebih cepat.
Ia sudah menghadapi banyak percakapan sulit selama menjadi Kanade. Ia pernah berdiri di depan Saito sambil menahan ketakutan, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji konsistensi penyamarannya, dan tersenyum di hadapan orang-orang yang tidak pernah mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Namun, menghadapi Clara terasa berbeda.
Saito ingin memastikan Mai tetap berada di dalam batas-batas kontrak.
Clara, sebaliknya, mungkin sedang membicarakan masa depan yang telah lama dipersiapkan untuk dirinya sendiri.
Mai tidak tahu apakah ia sanggup menatap perempuan itu tanpa merasa bersalah.
“Aku telah memperhatikan perubahan sikap Ren,” Clara melanjutkan.
Angin melewati gazebo, membawa aroma tanah lembap dan bunga yang mulai kehilangan kehangatan matahari. Clara mengangkat pandangan ke arah hamparan pansy di depan mereka.
“Dahulu, dia selalu bersikap seolah-olah segala sesuatu dapat diselesaikan dengan mengikuti aturan yang sudah ditetapkan. Dia jarang menyampaikan keinginannya secara langsung. Bahkan ketika seseorang bertanya tentang masa depannya, dia akan memberikan jawaban yang cukup sopan untuk mengakhiri percakapan tanpa benar-benar mengatakan apa pun.”
Mai teringat Ren yang dulu. Pemuda yang berbicara dengan suara lembut dan memandang dunia dengan kehati-hatian seseorang yang baru saja kembali dari tempat gelap. Pada masa itu, ia sering mengira sikap diam Ren merupakan bagian dari kepribadiannya. Baru kemudian ia menyadari betapa banyak hal yang sengaja disembunyikan pemuda itu, bahkan dari dirinya sendiri.
“Sekarang, dia berbeda,” kata Clara.
Mai mengangkat wajah sedikit.
“Dia mulai menolak hal-hal yang sebelumnya akan diterimanya tanpa protes. Dia juga tidak lagi berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap beberapa keputusan keluarga.” Clara berhenti sejenak. “Dan ketika dia berada di dekatmu, perubahannya terlihat lebih jelas.”
Mai membeku.
Clara tidak mengucapkannya dengan nada menuduh. Tidak ada sindiran, tidak ada tatapan tajam yang menuntut pengakuan. Justru ketenangan itu membuat Mai kesulitan menemukan tempat untuk bersembunyi.
“Ren memperhatikanmu dengan cara yang tidak sama seperti sebelumnya,” lanjut Clara. “Dia selalu memastikan kau baik-baik saja. Dia memperhatikan ketika kau kelelahan, ketika kau terdiam, bahkan ketika kau mencoba menyembunyikan sesuatu di balik senyuman.”
Mai merasakan tenggorokannya mengering.
Ia teringat saat Ren mengulurkan tangan kepadanya di ruang musik, ketika pemuda itu sudah mengetahui nama aslinya. Ia teringat kalung berinisial M yang kini tersimpan dekat kulitnya, tersembunyi di balik seragam. Ia juga teringat janji-janji yang mereka ucapkan dalam bisikan, saat setiap menit bersama terasa seperti sesuatu yang dapat direnggut kapan saja.
Clara menghela napas pelan.
“Aku tidak mengatakan bahwa aku mengetahui seluruh perasaan Ren. Aku tidak ingin berpura-pura memahami sesuatu yang tidak pernah dia jelaskan kepadaku.” Ia menoleh kembali kepada Mai. “Namun, aku cukup mengenalnya untuk mengetahui bahwa perhatian itu bukan lagi sekadar sikap seorang kakak terhadap adiknya.”
Darah seolah-olah meninggalkan wajah Mai.
Ia menunduk begitu cepat hingga beberapa helai rambut jatuh menutupi pipinya. Kedua tangannya saling mencengkeram di atas tas. Kuku-kukunya menekan kain, dan ia baru menyadarinya ketika rasa sakit kecil muncul di ujung jari.
Clara melihat gerakan itu, tetapi tidak mendesaknya.
“Saionji-san, saya—”
“Kau tidak perlu menjawab sekarang.”
Mai terdiam.
Clara mengalihkan pandangan ke taman. Di luar gazebo, dua kuntum bunga pansy bergoyang tertiup angin. Salah satunya memiliki kelopak yang sedikit rusak di bagian tepi, tetapi tetap tumbuh tegak di antara bunga-bunga lain.
“Aku tidak memanggilmu untuk meminta pengakuan,” kata Clara. “Aku juga tidak ingin membuatmu merasa harus menjelaskan sesuatu yang mungkin belum bisa kau ceritakan.”
Mai menggigit bagian dalam bibirnya.
Ada sesuatu yang menyakitkan dalam kebaikan Clara. Seandainya perempuan itu marah, seandainya ia menyebut Mai sebagai pengganggu atau menuduhnya telah merebut sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya, Mai mungkin akan lebih mudah menerima rasa bersalah yang selama ini menumpuk di dalam dirinya. Ia dapat meminta maaf, menunduk, dan menerima hukuman seolah-olah semua itu memang pantas.
Namun, Clara tidak sedang berusaha menjadikannya musuh.
Dan Mai tidak tahu bagaimana menghadapi seseorang yang memberinya ruang ketika ia sendiri merasa tidak pantas mendapatkannya.
Clara kembali menatapnya.
“Aku ingin kau memahami sesuatu. Aku tidak berniat memperebutkan perhatian Ren.”
Mai mengangkat wajah. “Apa?”
“Aku tidak akan memaksanya memilih di antara kami. Aku juga tidak akan berusaha mempertahankan pertunangan hanya karena seseorang menganggap hubungan itu penting bagi keluarga kami.”
Clara menyampaikan kalimat tersebut dengan tenang, tetapi ada ketegasan di balik suaranya. Ia tidak sedang mengucapkan sesuatu untuk menghibur Mai. Ia terdengar seperti seseorang yang telah memikirkan keputusannya berkali-kali dan kini hanya ingin menyampaikannya dengan jelas.
“Pertunangan kami tidak dimulai karena kami saling mencintai,” lanjutnya. “Kedua keluarga menganggapnya sebagai kesepakatan yang menguntungkan. Nama keluarga Saionji dan Kisaragi akan saling mendukung, hubungan bisnis akan menjadi lebih kuat, dan orang-orang akan melihatnya sebagai penyatuan dua keluarga yang memiliki kedudukan setara.”
Ia tersenyum tipis, tanpa kegembiraan.
“Semua orang tampaknya puas dengan penjelasan itu. Tidak seorang pun merasa perlu bertanya apakah kami sendiri menginginkannya.”
Mai menatap wajah Clara. Di balik penampilan yang begitu rapi, ia melihat kelelahan yang tidak pernah diperlihatkan perempuan itu di depan orang lain. Clara tidak meninggikan suara, tidak meremas tangannya, tidak menunjukkan kemarahan yang mencolok. Namun, saat menyebut kata kami sendiri, ia menekan ujung jarinya sedikit lebih kuat ke atas kain roknya.
“Aku sudah lama mengetahui bahwa pertunangan ini tidak sesuai dengan keinginanku,” katanya. “Aku hanya belum memiliki alasan yang cukup kuat untuk menentangnya secara terbuka.”
Mai menelan ludah.
“Jadi… Anda ingin membatalkannya?”
“Aku ingin pernikahan itu tidak pernah terjadi.”
Kalimat itu begitu lugas hingga Mai tidak segera menemukan jawaban.
Clara tidak mengucapkannya seperti seseorang yang baru saja membuat keputusan karena patah hati. Ia berbicara dengan ketenangan seseorang yang akhirnya bersedia mengakui sesuatu yang telah lama diketahui, tetapi terus dihindari demi memenuhi harapan orang lain.
“Aku tidak ingin menikah dengan seseorang hanya karena kedua keluarga kami menganggapnya sebagai pilihan yang efisien,” katanya. “Dan aku tidak ingin Ren menikah denganku karena dia merasa tidak punya hak untuk menolak.”
Clara berhenti, lalu menurunkan pandangan ke tangannya sendiri.
“Jika dia tidak menginginkanku, aku tidak akan memaksanya. Aku juga tidak ingin menghabiskan hidupku dengan seseorang yang hanya melihatku sebagai bagian dari kewajiban keluarga.”
Mai merasakan dadanya mengencang.
Kata-kata Clara mengingatkannya pada kontrak yang mengikatnya dengan keluarga Kisaragi. Selama hampir setahun, hidupnya diatur oleh ketentuan yang dibuat orang lain. Cara ia berbicara, tempat ia pergi, hubungan yang boleh ia jalin, bahkan nama yang harus ia gunakan, semuanya ditentukan oleh kepentingan seseorang yang tidak pernah bertanya apakah ia ingin menjalani kehidupan tersebut.
Ia telah menerima pekerjaan itu karena membutuhkan uang. Namun, semakin lama ia berada di dalamnya, semakin sulit membedakan keputusan yang benar-benar dibuatnya sendiri dari keputusan yang diambilnya karena takut kehilangan sesuatu.