Pagi itu, ruang kerja Saito Kazuma terasa lebih dingin daripada biasanya.
Cahaya matahari menembus celah tirai vertikal di sisi jendela, membentuk garis-garis pucat di atas meja kayu hitam yang nyaris tidak memiliki benda berserakan. Segala sesuatu berada di tempatnya: tempat pena sejajar dengan tepi meja, map-map berlabel tersusun berdasarkan tanggal, dan dua layar komputer menampilkan lembar kerja yang dipenuhi angka-angka kecil. Pendingin ruangan berdengung pelan, sementara aroma kopi hitam yang sudah kehilangan sebagian kehangatannya bercampur dengan bau kertas dan tinta printer.
Saito duduk dengan punggung tegak. Jas arang yang dikenakannya tidak memperlihatkan satu pun lipatan mencolok. Di hadapannya terbuka sebuah laporan transaksi yang baru saja dicetak dari sistem pengelolaan keuangan keluarga Kisaragi.
Ia telah membaca dokumen itu tiga kali.
Bukan karena jumlah angkanya sulit dipahami. Justru sebaliknya. Semuanya terlalu mudah dipahami.
Dalam beberapa pekan terakhir, Kisaragi Ren melakukan penarikan dana tunai dalam jumlah yang tidak lazim untuk seseorang yang selama ini terbiasa membiarkan staf keluarga mengurus sebagian besar kebutuhan praktisnya. Penarikan itu tidak dilakukan sekaligus, melainkan melalui beberapa transaksi yang tersebar dalam rentang waktu tertentu. Masing-masing masih dapat dijelaskan sebagai pengeluaran pribadi. Namun, ketika disusun berdampingan, pola yang terbentuk mulai tampak berbeda.
Saito mengetuk ujung pena pada satu baris transaksi.
Lalu pada baris berikutnya.
Ia membuka lembar kerja di komputer dan memasukkan nominal-nominal tersebut ke dalam tabel perbandingan. Pengeluaran Ren selama tiga bulan sebelumnya menunjukkan pola yang relatif stabil. Ada biaya buku, perlengkapan sekolah, sesekali pembelian barang pribadi, dan beberapa transaksi kecil yang tidak memerlukan persetujuan khusus. Tidak ada yang mengejutkan.
Kemudian muncul rangkaian penarikan yang lebih besar.
Jumlahnya bukan sekadar peningkatan pengeluaran. Ada pengurangan saldo yang disengaja, bertahap, dan cukup konsisten untuk menimbulkan pertanyaan.
Saito menyandarkan tubuhnya beberapa sentimeter ke belakang. Jari telunjuknya berhenti di atas papan ketik.
"Kenapa sekarang?" gumamnya.
Pertanyaan itu tidak ditujukan kepada siapa pun.
Sejak Ren menyatakan penolakannya terhadap posisi pewaris dan pertunangan dengan Saionji Clara, Saito telah memperlakukan perubahan sikap pemuda itu sebagai persoalan yang perlu dikendalikan. Ia sudah membantu menerapkan pembatasan kegiatan, memperketat pengawasan, dan memastikan setiap penyimpangan dari rutinitas Ren dilaporkan kepada Souichiro.
Namun, uang merupakan persoalan yang berbeda.
Seseorang dapat dipaksa membatalkan janji temu. Perjalanan dapat dihentikan. Akses ke kendaraan bisa dibatasi. Bahkan komunikasi pun dapat diawasi sampai batas tertentu.
Akan tetapi, uang tunai yang sudah ditarik dari rekening dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih sulit dilacak jika digunakan dengan benar.
Saito menutup satu lembar laporan, lalu membukanya kembali. Tatapannya beralih ke catatan lain di sampingnya: jadwal belajar Ren, riwayat izin keluar, dan laporan keamanan kediaman.
Penarikan dana itu terjadi sebelum pembatasan pergerakan diberlakukan secara penuh.
Dengan kata lain, jika Ren memang sedang mempersiapkan sesuatu, ia telah mulai melakukannya sebelum keluarga menyadari bahwa pemuda itu tidak lagi berniat mematuhi mereka.
Saito mengambil telepon di atas meja dan menekan nomor internal.
"Hubungi Kisaragi Ren. Minta dia datang ke ruang kerja saya pagi ini."
Ia berhenti sejenak, menatap pantulan dirinya sendiri di layar komputer yang mulai meredup.
"Jangan sampaikan alasan pemanggilannya."
Telepon ditutup.
Saito merapikan kedua lembar laporan di hadapannya. Wajahnya tetap tenang, tetapi gerakan tangannya menjadi sedikit lebih cepat ketika ia menyusun dokumen-dokumen tersebut ke dalam sebuah map baru.
Ia tidak akan menuduh Ren tanpa dasar.
Belum.
Ia hanya perlu membuat pemuda itu berbicara. Kadang-kadang, orang yang berusaha menyembunyikan sesuatu justru menunjukkan lebih banyak melalui cara mereka menjelaskan hal yang seharusnya sederhana.
Dan Saito telah menghabiskan terlalu banyak tahun bekerja untuk keluarga Kisaragi untuk tidak mengenali tanda-tandanya.
Ren menerima panggilan itu ketika sedang membaca catatan latihan soal di ruang belajar pribadinya.
Ketukan di pintu terdengar dua kali. Tidak keras, tetapi cukup tegas untuk membuatnya mengangkat kepala.
"Silakan."
Seorang staf rumah tangga membuka pintu dan membungkuk singkat.
"Tuan Ren, Pak Saito meminta Anda datang ke ruang kerjanya."
Ren menutup buku di hadapannya. Ujung pensil yang sejak tadi berada di antara jari-jarinya berhenti bergerak.
"Apakah beliau menyampaikan alasannya?"
"Tidak, Tuan. Saya hanya diminta menyampaikan bahwa beliau ingin bertemu pagi ini."
Ren mengangguk seolah permintaan itu tidak lebih dari perubahan kecil dalam jadwalnya.
"Baik. Saya akan datang sebentar lagi."
Staf tersebut menutup pintu dengan hati-hati.
Untuk beberapa detik, Ren tidak bergerak.
Kemudian ia menunduk, merapikan pensil yang sebenarnya sudah sejajar dengan buku, dan memasukkannya ke dalam tempat pensil. Gerakan sederhana itu memberinya waktu untuk menata pikirannya sebelum menghadapi kemungkinan yang belum diketahui.
Saito tidak memanggilnya tanpa alasan.
Sejak isolasi diberlakukan, setiap pertemuan dengan orang-orang yang bekerja untuk ayahnya memiliki tujuan tertentu. Kadang-kadang mereka ingin memastikan bahwa Ren tetap mengikuti jadwal belajar. Kadang-kadang mereka ingin mengukur apakah penolakannya terhadap posisi pewaris hanyalah ledakan emosi sesaat. Dan terkadang, seperti yang telah ia pelajari, pertanyaan sederhana merupakan pembuka bagi pemeriksaan yang jauh lebih luas.
Ren bangkit dari kursi.
Di atas meja, sebuah kalender kecil menandai hitungan mundur yang hanya ia pahami sepenuhnya. Dua puluh hari lagi sebelum kontrak Mai berakhir.
Dua puluh hari.
Ia menarik napas melalui hidung, lalu mengembuskannya perlahan.
Apartemen itu masih menjadi pilihan utama mereka. Tempat tersebut tidak mewah, tetapi cukup untuk memulai kehidupan yang tidak bergantung pada nama Kisaragi. Ia telah memperhitungkan biaya tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, transportasi, dan uang yang harus disimpan untuk keadaan darurat.
Namun, semua perhitungan itu memiliki satu kelemahan mendasar.
Rencana tersebut bergantung pada asumsi bahwa tidak seorang pun akan menemukan jejaknya sebelum mereka siap pergi.
Ren mengambil jaket sekolah yang tersampir di sandaran kursi, lalu keluar dari ruang belajar.
Lorong menuju ruang kerja Saito terasa lebih panjang daripada biasanya. Di beberapa titik, kamera keamanan terpasang pada sudut langit-langit. Ren tidak mendongak secara terang-terangan, tetapi ia menyadari keberadaan setiap perangkat yang dilewatinya.
Ia tidak tahu apakah panggilan ini berkaitan dengan apartemen, uang, atau penolakan terhadap pertunangan.
Apa pun alasannya, ia tidak boleh membiarkan Saito melihat bahwa ketiganya saling terhubung.
Ketika tiba di depan pintu ruang kerja, Ren berhenti sebentar untuk merapikan manset kemejanya. Ia mengetuk dua kali.
"Masuk," terdengar suara dari dalam.
Ren membuka pintu.
Saito sudah menunggunya.
"Selamat pagi, Pak Saito."
"Selamat pagi, Tuan Ren. Silakan duduk."
Saito menunjuk kursi di seberang meja. Di antara mereka terdapat sebuah map tipis yang diletakkan tepat di tengah permukaan kayu hitam.
Ren duduk tanpa tergesa-gesa.
Tatapannya sempat menyentuh map tersebut, tetapi ia segera mengalihkan pandangan kepada Saito. Ia tidak bertanya apa isinya. Tidak pula menunjukkan ketertarikan berlebihan.
Saito memperhatikan semua itu.
"Tuan Ren, saya ingin membicarakan beberapa transaksi keuangan Anda."
Jari Ren yang bertumpu pada sandaran kursi mengencang sedikit.
Hanya sesaat.
"Transaksi keuangan saya?"
"Benar."
Saito membuka map itu dan mengeluarkan dua lembar laporan. Ia memutarnya agar dapat dibaca Ren, kemudian menempatkan ujung pena di samping sejumlah nominal yang telah diberi tanda.
"Dalam beberapa pekan terakhir, terdapat penarikan dana tunai yang nilainya cukup besar dibandingkan pola pengeluaran Anda sebelumnya."
Ren menunduk untuk membaca laporan itu.
Ia mengenali transaksi-transaksi tersebut.
Tidak semuanya, tetapi cukup banyak untuk memahami arah pembicaraan ini.
Di bawah cahaya lampu meja, angka-angka itu tampak lebih jelas daripada yang ia inginkan. Setiap penarikan yang dahulu terasa kecil dan tidak berbahaya kini membentuk jejak yang mengarah ke satu kesimpulan: ia sedang mengumpulkan sumber daya di luar pola pengeluaran yang biasa digunakan keluarga untuk mengawasinya.
Ren mengangkat pandangan.
"Apakah ada masalah dengan rekening saya?"
"Belum tentu ada masalah," jawab Saito. "Itulah sebabnya saya meminta penjelasan terlebih dahulu."
Nada suaranya tetap sopan. Ia bahkan menyisihkan laporan kedua agar Ren memiliki ruang untuk membaca dokumen pertama.
Namun, kesopanan itu tidak membuat pertanyaannya terasa lebih ringan.
"Penarikan ini dilakukan beberapa kali, dengan nominal yang tidak kecil. Saya ingin mengetahui tujuan penggunaannya."
Ren mengalihkan pandangan ke dokumen sekali lagi. Ia membutuhkan waktu beberapa detik sebelum menjawab, seolah sedang menelusuri ingatannya.
"Saya menggunakan sebagian dana untuk kebutuhan investasi pribadi."
Alis Saito bergerak tipis.
"Investasi pribadi?"
"Ya. Saya sedang mempertimbangkan beberapa instrumen yang pernah saya pelajari. Sebagian dana saya tarik untuk kebutuhan yang tidak dapat langsung diselesaikan melalui transaksi biasa."
"Instrumen apa?"
Pertanyaan itu datang lebih cepat daripada yang Ren perkirakan.
Ia tidak membiarkan jeda terlalu panjang.
"Beberapa pilihan yang berkaitan dengan pasar modal. Saya belum memutuskan seluruh alokasinya."
"Apakah Anda sudah berkonsultasi dengan penasihat keuangan keluarga?"
"Belum."
"Kenapa?"
Ren mengangkat bahu sedikit, sebuah gerakan yang masih cukup sopan untuk tidak dianggap sebagai sikap menantang.
"Saya ingin mempelajarinya sendiri terlebih dahulu. Saya tidak menganggap jumlah yang saya gunakan cukup besar untuk memerlukan pembahasan khusus dengan Ayah."
Saito menautkan kedua tangannya di atas meja.
"Namun, jumlah tersebut cukup besar untuk menarik perhatian bagian administrasi keuangan."
"Kalau begitu, saya memahami mengapa Anda menanyakannya."
Jawaban Ren terdengar tenang, bahkan nyaris tanpa emosi.
Ia tidak menyangkal transaksi tersebut. Tidak pula berusaha menuduh staf keuangan melakukan kesalahan. Ia hanya memberikan penjelasan yang masuk akal, kemudian membiarkan Saito menentukan apakah penjelasan itu layak diterima.
Saito tidak langsung menjawab.
Ia mengamati wajah pemuda di hadapannya, mencari tanda-tanda ketidaksabaran atau kecemasan yang biasanya muncul ketika seseorang mulai kehilangan kendali atas percakapan. Ren memang tampak lebih kurus daripada beberapa bulan lalu. Wajahnya masih menyimpan pucat yang belum sepenuhnya hilang, dan lingkaran samar di bawah matanya menunjukkan bahwa jadwal belajar yang diberlakukan Souichiro belum memberinya cukup waktu untuk beristirahat.
Akan tetapi, tidak ada perubahan mencolok pada sikapnya.
Ren bahkan tidak terlihat berusaha menghindari tatapan.