Malam telah turun sepenuhnya ketika sebuah sedan hitam berhenti di sisi jalan berbatu di luar sayap timur Kediaman Kisaragi.
Lampu-lampu taman masih menyala, menerangi semak-semak yang dipangkas seragam dan jalur setapak menuju bangunan utama. Dari kejauhan, kediaman itu tampak tenang, nyaris seperti gambar dalam majalah properti mewah. Namun, di balik jendela-jendelanya yang tinggi, staf masih bergerak menyelesaikan pekerjaan malam, sementara petugas keamanan berpatroli mengikuti rute yang telah ditentukan.
Mai berdiri di bawah kanopi kecil dekat pintu samping, mengenakan mantel tipis di atas pakaian rumahnya. Udara malam menggigit ujung hidung. Ia menyelipkan kedua tangan ke dalam saku mantel, berusaha mempertahankan kehangatan sambil memandangi sedan yang menunggunya.
Saito Kazuma duduk di kursi belakang.
Ia tidak turun untuk menjemput Mai. Sebaliknya, pintu di sisi penumpang belakang telah dibuka dari dalam, menyisakan celah yang cukup lebar untuk menunjukkan bahwa kedatangannya memang sudah diperhitungkan.
Seorang staf rumah tangga yang berdiri beberapa langkah di belakang Mai menundukkan kepala.
"Pak Saito meminta Nona Kanade menemuinya sebentar. Beliau mengatakan ingin membicarakan tahap akhir penugasan."
Mai menoleh kepadanya.
"Malam ini?"
"Ya, Nona. Katanya tidak akan lama."
Senyum kecil muncul di wajah Mai, senyum yang telah ia latih sedemikian rupa sehingga dapat bertahan bahkan ketika perutnya terasa mengencang.
"Baik. Terima kasih sudah menyampaikan."
Ia melangkah menuruni kanopi dan mendekati mobil. Sepatu rumahnya berganti dengan sepatu yang lebih sesuai untuk keluar, tetapi ia tidak sempat mengenakan sarung tangan. Ketika tangannya menyentuh pegangan pintu, permukaan logam itu terasa sedingin es.
Mai masuk.
Aroma kulit sintetis, parfum maskulin, dan sisa kopi memenuhi kabin. Cahaya lampu interior menyala selama beberapa detik sebelum meredup kembali. Saito duduk di sisi berlawanan, mengenakan jas gelap dengan kerah kemeja yang rapi. Sebuah tas kerja terletak di pangkuannya, sementara sopir di depan tetap diam di balik sekat pemisah.
"Selamat malam, Pak Saito," sapa Mai.
"Selamat malam, Kanade."
Saito menatapnya sebentar, kemudian memberi isyarat kecil agar ia duduk dengan nyaman.
"Maaf meminta waktumu pada malam hari. Ada beberapa hal yang perlu kita selesaikan sebelum penugasan ini berakhir."
Mai merapatkan mantel di tubuhnya.
"Tidak apa-apa. Kalau memang berkaitan dengan penugasan, saya siap mendengarkan."
"Bagus."
Saito membuka tas kerjanya.
Mai memperhatikan gerakan tangannya. Ia mengeluarkan sebuah map tipis, meletakkannya di antara mereka, lalu membuka pengaitnya dengan hati-hati. Tidak ada suara keras, hanya bunyi kecil dari logam yang terlepas.
Di dalam map itu terdapat beberapa lembar dokumen yang dijepit menjadi satu.
Saito mengeluarkannya dan menyodorkannya kepada Mai.
"Saya ingin kamu membaca ini terlebih dahulu."
Mai menerima dokumen tersebut dengan kedua tangan.
Pada halaman pertama, tepat di bawah lambang perusahaan hukum yang menangani urusan keluarga Kisaragi, tercetak judul dengan huruf tebal.
PERJANJIAN TAMBAHAN PENUGASAN DAN KERAHASIAAN
Ia membaca judul itu sekali.
Kemudian sekali lagi.
Jari telunjuknya bergeser ke tepi kertas, menahan lembaran agar tidak bergerak ketika mobil bergoyang pelan akibat angin malam.
"Perjanjian tambahan?" tanyanya.
"Benar."
Saito melipat kedua tangan di atas tas kerjanya.
"Situasi keluarga mengalami beberapa perubahan sejak perjanjian awal dibuat. Saya perlu memastikan bahwa penutupan penugasan nanti berlangsung tertib dan tidak menimbulkan persoalan yang dapat merugikan pihak Kisaragi."
Mai menurunkan pandangan ke halaman berikutnya.
Kalimat-kalimat di dalamnya disusun dengan bahasa formal yang panjang. Istilah hukum, definisi, dan rujukan terhadap perjanjian sebelumnya memenuhi sebagian besar halaman. Ada bagian yang menyatakan bahwa pihak pengelola penugasan dapat melakukan evaluasi ulang terhadap kelanjutan tugas berdasarkan perubahan situasi. Bagian lain memberi kewenangan kepada Saito untuk merekomendasikan atau memerintahkan penghentian penugasan sebelum tanggal berakhirnya kontrak awal, disertai pemindahan Mai dari lingkungan keluarga Kisaragi.
Mai membaca paragraf tersebut dengan perlahan.
Matanya berhenti pada satu frasa.
Atas pertimbangan kepentingan keluarga dan pencegahan risiko terhadap stabilitas hubungan internal.
Ia menggeser ibu jari ke bawah kertas, lalu melanjutkan membaca.
Ada ketentuan yang melarang Mai menyebarkan informasi tentang keluarga Kisaragi, identitas asli Kanade, kondisi Ren, serta detail pelaksanaan penugasan. Larangan itu tetap berlaku setelah kontrak awal berakhir. Di halaman berikutnya, terdapat klausul mengenai tuntutan ganti rugi apabila tindakan Mai dinilai menyebabkan kerugian material, reputasi, atau kepentingan lain yang berkaitan dengan keluarga.
Jumlah yang disebutkan dalam dokumen itu membuat tenggorokannya terasa kering.
Bukan karena ia tidak pernah mendengar ancaman semacam itu sebelumnya. Saito telah berkali-kali mengingatkannya tentang konsekuensi kontrak, termasuk nominal denda yang mustahil ia tanggung dengan penghasilannya sendiri.
Yang berbeda kali ini adalah cara ancaman itu disusun.
Kontrak awal memiliki batas waktu yang jelas. Tiga ratus enam puluh lima hari. Mai tahu kapan tugasnya berakhir, kapan ia akan dipindahkan, dan kapan ia seharusnya memperoleh kembali hak untuk menentukan kehidupannya sendiri.
Dokumen ini membuat batas tersebut terasa kabur.
Saito tidak hanya ingin memastikan bahwa Mai menyelesaikan penugasannya. Ia sedang menyiapkan jalan untuk mengakhirinya kapan saja, jika keadaan mengharuskan.
Mai membalik halaman terakhir.
Di bawah bagian penutup, terdapat dua kolom tanda tangan. Satu untuk perwakilan pihak pengelola penugasan. Satu lagi untuk dirinya.
Kolom tanda tangannya masih kosong.
"Apakah saya harus menandatangani ini malam ini?" tanyanya.
"Ya."
Jawaban Saito datang tanpa jeda.
Mai mengangkat wajah.
"Tetapi kontrak awal sudah mengatur tanggal berakhirnya penugasan. Masih ada delapan belas hari sebelum hari terakhir. Mengapa perlu ada perjanjian tambahan sekarang?"
Saito tidak langsung menjawab.
Ia justru meraih botol air mineral kecil dari tempat penyimpanan di samping kursinya, membuka tutupnya, lalu meneguk sedikit air. Gerakannya santai, seolah pertanyaan Mai hanyalah persoalan administratif yang dapat diselesaikan dengan penjelasan sederhana.
"Karena keadaan tidak selalu mengikuti jadwal yang sudah ditentukan."
Ia meletakkan botol kembali.
"Ketika kontrak awal disusun, situasi keluarga relatif stabil. Sekarang, ada perubahan dalam sikap Tuan Ren, persoalan mengenai posisi pewaris, dan beberapa perkembangan lain yang tidak dapat diprediksi sebelumnya. Saya tidak bisa membiarkan ketentuan penugasan menghalangi keluarga mengambil tindakan jika muncul risiko baru."
Mai menunduk lagi.
Perubahan sikap Ren.
Saito tidak menyebut penolakan pertunangan secara langsung, tetapi Mai dapat mendengar bayangannya di balik kalimat tersebut. Ia juga teringat pesan Ren pagi tadi, tentang tidak menganggap tempat yang biasa sebagai tempat yang aman.
Apakah pemeriksaan keuangan itu telah menghasilkan sesuatu?
Apakah Saito sedang menghubungkan perubahan perilaku Ren dengan dirinya?
Mai menahan keinginan untuk bertanya. Ia tidak boleh memberikan kesan bahwa penjelasan Saito menyentuh sesuatu yang telah ia ketahui.
"Saya mengerti bahwa keluarga mungkin membutuhkan langkah antisipasi," katanya hati-hati. "Tetapi jika penugasan dapat diakhiri kapan saja, apa yang terjadi pada saya setelahnya?"
Saito menatapnya.
"Kamu akan dipindahkan dari lingkungan keluarga Kisaragi sesuai prosedur. Pengaturan tempat tinggal dan komunikasi selanjutnya akan ditentukan oleh pihak pengelola penugasan."
"Apakah saya bisa menentukan sendiri ke mana saya akan pergi?"
"Setelah proses penutupan selesai, kamu dapat mengajukan permohonan sesuai ketentuan yang berlaku."
"Permohonan?"
Kata itu keluar lebih pelan daripada yang ia maksudkan.
Saito menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Kanade, kamu sebaiknya memahami posisi kita masing-masing. Kamu menerima penugasan dengan persyaratan tertentu, dan keluarga Kisaragi telah mengeluarkan sumber daya untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Jika terjadi perubahan situasi, tentu ada konsekuensi administratif yang harus diselesaikan."
Mai menggenggam sisi dokumen.
"Jadi, saya tidak bisa langsung pergi setelah penugasan berakhir?"
"Saya tidak mengatakan demikian."
"Tetapi saya harus mengajukan permohonan."
"Jika diperlukan."
Saito mengucapkan dua kata terakhir dengan nada yang begitu ringan sehingga terdengar seperti penjelasan biasa. Namun, ia tidak memberi batas waktu yang jelas, tidak menjelaskan kriteria yang akan digunakan untuk menyetujui permohonan itu, dan tidak menyebut siapa yang akan menentukan apakah Mai telah memenuhi persyaratan.
Ketidakjelasan tersebut terasa disengaja.
Mai kembali membaca halaman kedua. Kali ini, ia tidak lagi berusaha memahami seluruh susunan kalimatnya. Ia mencari bagian yang paling penting: siapa yang memegang kendali, kapan kewenangan itu dapat digunakan, dan apa yang akan terjadi jika ia menolak.
Jawabannya muncul sedikit demi sedikit.
Saito dapat memajukan penghentian penugasan.
Mai dapat dipindahkan sebelum hari terakhir kontrak.
Larangan kerahasiaan tetap berlaku setelah tugas berakhir.
Dan jika tindakannya dianggap melanggar ketentuan, pihak pengelola dapat menuntut ganti rugi berdasarkan klausul yang ditulis dengan cakupan luas.
Tidak ada jaminan bahwa semua klausul itu otomatis sah atau dapat diberlakukan di hadapan hukum. Mai tidak memiliki kemampuan untuk menilai hal tersebut dari beberapa menit membaca dokumen di dalam mobil. Ia bahkan tidak tahu apakah ia akan memperoleh kesempatan untuk meminta nasihat hukum independen sebelum menandatanganinya.
Namun, ia memahami sesuatu yang jauh lebih mendesak daripada persoalan legalitas.
Saito sedang berusaha mengambil kendali atas waktu yang tersisa.
Jika ia bisa mengakhiri penugasan lebih awal, ia tidak perlu menunggu hari ke-365 untuk memisahkan Mai dari Ren. Ia dapat memindahkan gadis itu ke tempat lain, membatasi komunikasinya, lalu menyelesaikan persoalan identitas palsu tanpa memberinya kesempatan menentukan langkah sendiri.
Dan jika Ren berusaha mencarinya, keluarga Kisaragi dapat menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap pengaturan penugasan.
Sebuah jalan keluar yang dibangun Ren dengan susah payah bisa runtuh sebelum mereka sempat menggunakannya.
Mai menahan napas.