Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #77

Bantuan Tak Terduga Clara

Suara pembawa berita terdengar dari televisi yang terpasang di sudut ruang makan Kediaman Kisaragi, menyela bunyi pelan peralatan makan yang beradu dengan porselen.

Pagi itu, meja panjang dari kayu mahoni telah ditata seperti biasa. Piring-piring putih berpinggiran emas tersusun di depan setiap kursi, teko teh mengepulkan uap tipis, dan aroma roti panggang bercampur dengan wangi mentega hangat yang baru dioleskan. Cahaya matahari menyelinap melalui jendela-jendela tinggi, jatuh di atas taplak meja berwarna gading tanpa mampu menghangatkan suasana yang terasa kaku.

Souichiro duduk di ujung meja dengan koran bisnis terbuka di samping piringnya. Reiko berada di sebelahnya, sesekali menyentuh cangkir teh dengan gerakan anggun yang nyaris tanpa suara. Ren duduk di sisi kanan meja, sementara Mai menempati kursi yang selama beberapa bulan terakhir menjadi bagian dari sandiwara keluarganya.

Pagi itu, Mai mengenakan seragam sekolah dengan pita yang terpasang rapi. Rambutnya disisir sesuai penampilan Kanade yang telah menjadi kebiasaan. Di balik kerah seragamnya, kalung kecil berinisial M tersembunyi dari pandangan orang lain.

Ia baru saja mengangkat cangkir teh ketika nada pembuka sebuah berita khusus terdengar dari televisi.

"Pemirsa, keluarga Saionji pagi ini mengeluarkan pernyataan resmi mengenai rencana pertunangan antara Saionji Clara dan Kisaragi Ren."

Gerakan tangan Souichiro terhenti.

Cangkir Reiko berhenti beberapa sentimeter dari bibirnya.

Di layar, muncul gambar gerbang kediaman keluarga Saionji, diikuti rekaman konferensi pers yang diselenggarakan di sebuah ruangan dengan latar belakang lambang keluarga mereka. Beberapa wartawan berdiri di depan podium. Kilatan kamera menyala bergantian, memantulkan cahaya putih pada dinding yang dihiasi rangkaian bunga.

Kemudian suara juru bicara keluarga Saionji terdengar jelas.

"Berdasarkan pertimbangan bersama dan setelah melalui pembicaraan antara pihak-pihak terkait, keluarga Saionji menyampaikan bahwa rencana pertunangan antara Nona Saionji Clara dan Tuan Kisaragi Ren tidak akan dilanjutkan."

Mai menurunkan cangkirnya perlahan.

Bibir porselen menyentuh tatakannya dengan bunyi kecil.

Ia tidak menoleh kepada Ren. Tidak berani, setidaknya bukan sekarang. Namun, dari sudut pandangannya, ia dapat melihat bahwa tangan Ren yang memegang sumpit berhenti bergerak di atas mangkuk nasi.

Pembawa berita melanjutkan.

"Dalam pernyataan tertulis yang diterima pagi ini, keluarga Saionji menyebutkan bahwa keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kepentingan dan masa depan kedua pihak. Nona Clara tidak memberikan rincian pribadi mengenai alasan pembatalan, dan pihak keluarga menegaskan bahwa keputusan ini tidak dimaksudkan untuk mempermalukan keluarga Kisaragi."

Layar berganti menampilkan potongan pernyataan resmi yang dicetak di atas kertas berkop keluarga Saionji.

Kalimat-kalimatnya singkat, terukur, dan sengaja tidak menyebutkan siapa yang pertama kali mengajukan pembatalan. Tidak ada tuduhan. Tidak ada penjelasan tentang ketidaksetujuan Clara terhadap pernikahan yang direncanakan untuk kepentingan bisnis. Tidak ada petunjuk mengenai percakapan pribadi yang pernah ia lakukan dengan Mai di taman Akademi Seiwa.

Clara telah menepati janjinya.

Ia menggunakan kedudukan keluarganya untuk menghentikan perjodohan tersebut, tetapi tidak menjadikan Ren sebagai pihak yang harus menanggung rasa malu di hadapan publik.

Souichiro melipat koran di samping piringnya.

Gerakannya begitu rapi sehingga justru tampak tidak wajar.

"Matikan televisi itu."

Seorang staf yang berdiri di dekat pintu segera melangkah maju dan mengambil kendali jarak jauh dari meja samping.

Namun, sebelum layar benar-benar gelap, pembawa berita sempat menyelesaikan kalimat terakhirnya.

"Belum ada tanggapan resmi dari keluarga Kisaragi. Pengamat bisnis menilai pembatalan ini dapat memengaruhi rencana kerja sama yang selama ini dikaitkan dengan kedua keluarga, meskipun dampak konkretnya masih belum dapat dipastikan."

Layar menghitam.

Kesunyian yang tersisa terasa lebih berat daripada suara berita tadi.

Souichiro meletakkan sumpitnya sejajar dengan tepi piring. Ia tidak membantingnya, tidak pula mengangkat suara. Hanya otot di sekitar rahangnya yang mengeras, sementara jemarinya menekan permukaan meja selama beberapa detik sebelum kembali mengendur.

"Jadi, keluarga Saionji memutuskan untuk mengumumkannya pagi ini."

Tidak ada yang menjawab.

Reiko meletakkan cangkir tehnya. "Mereka pasti telah mempertimbangkan dampaknya."

"Kalau mereka benar-benar mempertimbangkan dampaknya, mereka akan berbicara kepada kita sebelum membuat pernyataan publik."

Nada suara Souichiro tetap rendah. Namun, di ujung kalimatnya, terdapat tekanan yang membuat staf di dekat pintu segera menundukkan pandangan.

Ren kembali mengangkat sumpitnya. Ia mengambil sedikit lauk dari piring, lalu meletakkannya di atas nasi dengan gerakan biasa. Tidak ada senyum yang muncul di wajahnya. Tidak ada perubahan sikap yang dapat dengan mudah ditafsirkan sebagai kegembiraan.

Di bawah meja, jari-jarinya perlahan mengendur.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, satu beban yang selama ini menggantung di atas kepalanya benar-benar telah diangkat. Tidak ada lagi pertunangan yang harus disetujui demi menjaga hubungan bisnis keluarga. Tidak ada lagi tanggal pernikahan yang dapat digunakan Souichiro untuk mengikatnya lebih erat pada peran sebagai pewaris.

Namun, Ren tahu bahwa kelegaan yang ditunjukkannya secara berlebihan akan menjadi kesalahan.

Ayahnya tidak boleh mengetahui bahwa pengumuman tersebut memberinya ruang untuk melanjutkan rencana yang jauh lebih besar daripada menolak perjodohan.

Ren menelan makanannya, lalu menatap Souichiro dengan ekspresi tenang.

"Kalau begitu, kita tidak perlu melanjutkan pembicaraan mengenai pertunangan."

Souichiro mengalihkan pandangan kepadanya.

"Kamu menganggap ini selesai begitu saja?"

"Saya hanya mengatakan bahwa keluarga Saionji telah mengumumkan keputusan mereka."

"Dan menurutmu keputusan itu tidak memiliki konsekuensi?"

Ren meletakkan sumpitnya.

"Tentu ada konsekuensinya. Saya tidak bermaksud mengabaikannya."

"Namun, kamu tampak tidak terkejut."

Ren mengangkat wajah. Ia tidak langsung menjawab, memberi ruang bagi pertanyaan itu untuk kehilangan sebagian tekanannya sebelum berbicara.

"Saya sudah menyampaikan bahwa saya tidak ingin menikah hanya untuk memenuhi kepentingan bisnis. Saya tidak bisa mengendalikan keputusan keluarga Saionji, tetapi saya memahami bahwa mereka berhak menentukan masa depan Clara."

Nama Clara keluar dari mulutnya dengan tenang.

Tidak ada kemarahan. Tidak ada ejekan. Ia tidak mencoba menyalahkan gadis itu karena mengakhiri perjodohan, juga tidak memperlihatkan bahwa dirinya telah mengetahui keputusan tersebut sebelumnya.

Souichiro mengamati wajah putranya seolah berusaha menemukan sesuatu di balik kalimat yang terdengar masuk akal itu.

"Berhak menentukan masa depan," ulangnya. "Kamu mulai berbicara seolah-olah keluarga ini tidak memiliki tanggung jawab terhadap hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun."

Ren menundukkan pandangan sejenak.

"Saya tidak mengatakan bahwa keluarga tidak memiliki tanggung jawab. Tetapi pernikahan tetap menyangkut dua orang yang akan menjalaninya."

Reiko menggeser cangkirnya beberapa sentimeter.

"Ren," katanya dengan suara lembut yang tidak membawa kehangatan, "kamu seharusnya memahami bahwa pertunangan semacam ini bukan hanya mengenai dua orang. Ada kepercayaan, reputasi, dan komitmen antara keluarga."

"Saya memahami itu, Ibu."

"Kalau begitu, seharusnya kamu juga memahami mengapa keputusan seperti ini tidak dapat dianggap sepele."

Ren mengangguk kecil.

Ia tidak berniat memenangkan perdebatan di meja makan. Tidak pagi ini. Tidak ketika Souichiro masih memiliki kendali atas rumah, jadwal, dan sebagian besar akses yang dibutuhkan Ren untuk mempersiapkan keberangkatan mereka.

"Saya mengerti," jawabnya. "Saya tidak akan membuat pernyataan yang dapat memperburuk situasi."

Jawaban itu cukup sopan untuk menghentikan pembicaraan, tetapi tidak cukup untuk menenangkan Souichiro.

Pria itu menatap putranya selama beberapa detik sebelum kembali mengambil korannya. Ia membuka halaman bisnis, tetapi matanya tidak segera mengikuti tulisan yang tertera di sana.

Pikiran Souichiro telah berpindah ke tempat lain.

Pembatalan tersebut bukan hanya menghilangkan rencana pernikahan. Ia juga mengganggu salah satu jalur yang selama ini disiapkannya untuk memperkuat posisi keluarga Kisaragi. Hubungan dengan keluarga Saionji telah dibangun melalui pembicaraan panjang, pertimbangan kepentingan, dan harapan bahwa ikatan personal kedua pewaris akan menjadi fondasi bagi kerja sama yang lebih luas.

Kini, semuanya harus ditinjau ulang.

Dan hal yang paling mengganggunya bukanlah kemungkinan kerugian yang dapat dihitung. Kerugian semacam itu masih bisa diatasi dengan negosiasi, pengaturan ulang kepentingan, atau pencarian mitra lain.

Yang tidak disukainya adalah kemungkinan bahwa keputusan Clara berkaitan langsung dengan perubahan sikap Ren.

Putranya telah menolak pertunangan. Ia menolak posisi pewaris. Ia mulai memperlakukan kekayaan keluarga seolah bukan sesuatu yang perlu dipertahankan.

Kemudian, sebelum Souichiro berhasil memaksanya kembali ke jalur yang ditentukan, keluarga Saionji mengumumkan pembatalan pertunangan.

Terlalu banyak perubahan yang terjadi dalam waktu terlalu singkat.

Souichiro menutup koran dengan satu gerakan tegas.

"Setelah sarapan, Ren, datanglah ke ruang kerja saya."

Ren mengangkat pandangan.

"Baik, Ayah."

"Jangan terlambat."

"Tentu."

Souichiro kembali memusatkan perhatian pada sarapannya, tetapi tidak menyentuh makanan selama beberapa saat. Di sisi lain meja, Ren melanjutkan makan dengan kecepatan yang sama seperti sebelumnya.

Hanya Mai yang menyadari bahwa ketegangan di antara kedua pria itu tidak benar-benar mereda.

Pembatalan pertunangan memang telah diumumkan. Namun, Souichiro tidak tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan sebuah rencana dan bersedia menerima kenyataan. Ia tampak seperti seseorang yang sedang menghitung ulang langkah-langkahnya.

Mai menatap piringnya.

Di balik rasa lega yang perlahan menghangatkan dadanya, ada kekhawatiran yang tidak dapat ia singkirkan. Clara telah membebaskan dirinya dari perjodohan yang tidak dikehendakinya. Ren tidak lagi harus menghadapi ancaman pernikahan sebagai bagian dari kontrak bisnis keluarga.

Tetapi Saito masih memegang dokumen tambahan yang telah ditandatangani Mai dua malam sebelumnya.

Delapan belas hari telah berubah menjadi sepuluh hari.

Dan perjanjian baru itu tidak peduli apakah Clara menikah dengan Ren atau tidak. Saito tetap memiliki alasan untuk mengakhiri penugasan lebih awal jika ia menganggap keadaan keluarga telah berubah.

Mai mengangkat cangkir tehnya lagi.

Kehangatan porselen menyentuh telapak tangannya. Ia meminumnya sedikit demi sedikit, memaksa dirinya untuk tidak tersenyum terlalu lebar.

Di hadapan Souichiro dan Reiko, ia tetaplah Kanade.

Dan sebagai Kanade, ia seharusnya menunjukkan bahwa pembatalan pertunangan kakaknya merupakan sesuatu yang disayangkan.

Setelah sarapan, ruang kerja Souichiro dipenuhi suara telepon yang berdering dan langkah staf yang keluar masuk membawa dokumen.

Ruangan itu terletak di sisi barat kediaman, menghadap taman yang lebih luas daripada halaman di sayap timur. Rak buku memenuhi salah satu dinding, tetapi sebagian besar koleksinya berkaitan dengan bisnis, manajemen, dan sejarah perusahaan. Di atas meja utama terdapat beberapa map berwarna gelap, dua layar komputer, dan sebuah telepon kantor yang sejak pagi tidak berhenti menerima panggilan.

Souichiro berdiri di dekat jendela ketika Ren masuk.

"Silakan duduk."

Ren menutup pintu, membungkuk singkat, lalu duduk di kursi yang ditunjuk. Ia meletakkan kedua tangan di atas lutut, menjaga postur tubuhnya tetap tegak.

Di atas meja, salinan pernyataan resmi keluarga Saionji telah terbuka.

Souichiro berbalik dan kembali ke kursinya.

"Kamu sudah melihat pengumuman pagi ini."

"Ya."

"Apakah Clara pernah membicarakan kemungkinan ini denganmu?"

Pertanyaan tersebut disampaikan tanpa basa-basi.

Ren sudah memperkirakannya sejak meninggalkan ruang makan. Ia juga tahu bahwa jawaban yang terlalu panjang akan membuka peluang bagi Souichiro untuk mengajukan pertanyaan lanjutan.

"Kami pernah membicarakan masa depan secara umum," jawabnya. "Namun, saya tidak mengetahui kapan keluarga Saionji akan mengeluarkan pernyataan resmi."

"Secara umum?"

"Clara pernah menyampaikan bahwa ia tidak ingin keputusan penting dalam hidupnya ditentukan sepenuhnya oleh kepentingan keluarga."

Souichiro menyipitkan mata.

"Dan kamu tidak menganggap itu sebagai petunjuk?"

Ren menggeser posisi duduknya sedikit.

"Saya menganggapnya sebagai pendapat pribadi. Saya tidak ingin membuat asumsi mengenai keputusan yang akhirnya diambilnya."

Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong. Clara memang pernah menyampaikan hal tersebut. Namun, Ren sengaja tidak menyebut pertemuannya dengan Clara, apalagi percakapan pribadi antara gadis itu dan Mai yang menjadi bagian dari proses menuju pembatalan pertunangan.

Souichiro mengambil salinan pernyataan resmi, lalu mengetuk bagian bawah halaman dengan jarinya.

"Mereka tidak memberikan alasan yang jelas. Mereka juga tidak menyebutkan apakah keputusan ini berasal dari Clara atau dari kepala keluarga Saionji."

"Mungkin mereka ingin menjaga privasi kedua pihak."

"Atau mungkin mereka sedang berusaha melindungi seseorang."

Ren diam.

Souichiro mengamati putranya.

"Kamu sudah menolak pertunangan ini secara terbuka. Kamu juga menyatakan tidak ingin menjadi pewaris. Sekarang, keluarga Saionji mengakhiri hubungan tersebut dengan alasan yang sengaja dibuat kabur. Menurutmu, apa yang seharusnya saya simpulkan?"

Ren menarik napas perlahan.

"Ayah dapat menanyakan hal itu langsung kepada mereka."

"Jangan mengajar saya cara menangani hubungan bisnis."

"Saya tidak bermaksud demikian."

"Kalau begitu, jawablah pertanyaan saya."

Suasana ruangan menegang.

Ren menyadari bahwa ia tidak dapat terus menghindar tanpa membuat Souichiro semakin curiga. Ia perlu memberikan jawaban yang tidak menimbulkan pertentangan baru, tetapi juga tidak menyerahkan sesuatu yang dapat digunakan untuk menekan Clara.

"Clara adalah orang yang mampu mengambil keputusan sendiri," katanya. "Saya tidak tahu seluruh pertimbangannya. Namun, saya tidak melihat alasan untuk menganggap bahwa ia bertindak dengan tujuan mempermalukan keluarga Kisaragi."

Souichiro menyandarkan punggungnya.

"Kamu selalu menemukan alasan untuk membela orang lain akhir-akhir ini."

Lihat selengkapnya