Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #78

Pesta Perpisahan Kelas 1-A

Sore itu, ruang kelas 1-A Akademi Seiwa berbau kertas, spidol, dan sisa camilan yang sejak tadi berpindah tangan di antara meja-meja. Cahaya matahari yang condong ke barat menyelinap melalui jendela lebar, membentuk bidang-bidang keemasan di atas lantai yang baru dipel. Di luar, suara klub olahraga terdengar samar dari lapangan, sesekali diselingi peluit pelatih dan teriakan siswa yang belum ingin mengakhiri hari mereka.

Namun, di dalam kelas 1-A, suasananya berbeda dari sore-sore biasanya.

Meja-meja telah digeser membentuk setengah lingkaran. Beberapa kursi diletakkan menghadap papan tulis yang dihiasi tulisan besar menggunakan spidol warna-warni.

TERIMA KASIH UNTUK SEMUA KENANGAN, KANADE!

Di bawahnya, seseorang menggambar bunga sakura yang bentuknya sedikit miring. Kelopak-kelopaknya berwarna merah muda, sementara batangnya terlalu tebal karena digores berulang kali. Di sudut papan, ada gambar kecil seekor kucing yang mengenakan pita, lengkap dengan tulisan Jangan lupakan kami!

Mai berdiri di ambang pintu selama beberapa detik.

Tangannya masih memegang tali tas sekolah. Ia telah melihat banyak kejutan sepanjang hidupnya—terutama selama bekerja di kafe maid di Akihabara, tempat senyum manis dan ucapan selamat datang merupakan bagian dari pekerjaan. Ia tahu bagaimana menghadapi orang yang bertepuk tangan, bagaimana menanggapi pujian, bahkan bagaimana membuat seseorang merasa istimewa hanya dengan mencondongkan tubuh sedikit dan tersenyum pada saat yang tepat.

Tetapi pemandangan di hadapannya membuat semua keterampilan itu terasa tidak berguna.

"Eh? Kanade!"

Ketua kelas, seorang gadis berambut sebahu bernama Fujimoto Yui, segera bangkit dari kursinya. Pita rambutnya bergoyang ketika ia melambaikan tangan dengan penuh semangat.

"Kamu datang juga! Cepat masuk!"

"Tu-tunggu, apa ini?"

Mai melangkah masuk dengan hati-hati. Matanya bergerak dari papan tulis ke meja-meja yang dipenuhi makanan ringan, lalu berhenti pada beberapa amplop dan sebuah album berukuran cukup besar yang diletakkan di atas meja guru.

Salah seorang siswa mengangkat sekotak jus jeruk.

"Acara perpisahan!"

"Perpisahan?" Mai mengulanginya.

"Ya, perpisahan!" Yui menghampirinya dan menggenggam kedua tangannya. "Kami dengar kamu mungkin akan pergi ke luar negeri untuk menerima beasiswa khusus. Karena itu, kami pikir kita harus melakukan sesuatu sebelum kamu benar-benar berangkat."

Mai tidak langsung menjawab.

Beasiswa khusus ke luar negeri. Begitulah penjelasan yang diberikan kepadanya oleh pihak sekolah setelah kabar tentang kemungkinan kepergiannya mulai menyebar. Tidak ada yang tahu bahwa di balik alasan yang terdengar membanggakan itu, terdapat kontrak rahasia, ancaman pemindahan paksa, dan hitungan hari menuju berakhirnya sebuah kebohongan yang telah berlangsung selama hampir setahun.

H-7.

Tujuh hari lagi sebelum hari terakhir kontraknya.

Tujuh hari lagi sebelum seseorang datang menjemputnya dari kediaman Kisaragi dan menghapus keberadaannya dari kehidupan yang selama ini ia jalani sebagai Kanade.

Mai menurunkan pandangannya pada tangan Yui yang menggenggam tangannya. Telapak tangan gadis itu hangat, sedikit lembap karena baru saja sibuk menata makanan. Tidak ada sarung tangan putih, tidak ada instruksi dari Saito tentang jarak yang harus dijaga, tidak ada mata pengawas yang secara terang-terangan menilai apakah senyumnya cukup meyakinkan.

Hanya seorang teman sekelas yang benar-benar ingin mengucapkan selamat tinggal.

"Kenapa kalian repot-repot melakukan ini?" tanya Mai pelan.

Yui memiringkan kepala. "Karena kamu teman kami?"

Jawaban itu begitu sederhana sehingga Mai tidak segera menemukan sesuatu untuk dikatakan.

"Dan karena," sambung seorang siswa dari belakang, "kalau kita tidak membuat acara sekarang, nanti kamu sudah jadi orang hebat di luar negeri dan melupakan kami semua!"

"Siapa yang akan melupakan kalian?" Yui mendengus. "Lagipula, kamu sendiri yang paling mungkin lupa mengirim pesan karena terlalu sibuk bermain gim."

"Hei! Aku bisa mengirim pesan sambil bermain gim!"

"Itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan!"

Tawa kecil menyebar di dalam kelas. Seseorang melemparkan sebungkus keripik ke arah siswa tadi, yang dengan susah payah menangkapnya sebelum jatuh ke lantai.

Mai ikut tertawa.

Senyum itu muncul begitu saja, tanpa perlu ia susun terlebih dahulu dalam pikirannya. Namun, ketika tawa teman-temannya mereda dan Yui menarik sebuah kursi untuknya, ada sesuatu yang perlahan menekan bagian dalam dadanya.

Ia pernah menghabiskan hari-hari di sekolah ini dengan terus-menerus mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia bukan Kanade. Setiap kali seseorang memanggil namanya, ia harus merespons. Setiap kali teman sekelas mengajaknya berbicara, ia harus memastikan bahwa jawabannya tidak merusak persona yang telah dibangun oleh keluarga Kisaragi.

Ia pernah takut bahwa suatu hari seseorang akan mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

Akan tetapi, sekarang, ketika kesempatan untuk berhenti berpura-pura semakin dekat, ia justru mendapati dirinya enggan meninggalkan semua ini.

Bukan karena ia ingin terus menjadi Kanade.

Melainkan karena, di antara kebohongan yang mengurungnya, beberapa hal ternyata tumbuh menjadi nyata.

"Kanade, duduk di sini!" Yui menepuk kursi di sebelahnya. "Kami punya banyak hal untuk diberikan kepadamu."

Mai mengangguk, kemudian duduk.

"Baiklah. Aku akan menerima semuanya dengan baik."

"Bagus!" Seorang siswi di seberang meja mengangkat jempol. "Itu jawaban yang kami harapkan dari tokoh utama acara hari ini!"

"Jangan menyebutku tokoh utama!" Mai tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan. "Aku malu!"

"Kalau begitu, jangan terlalu manis. Nanti kami makin sulit melepasmu!"

Candaan itu mengundang tawa lagi. Mai ikut tertawa bersama mereka, tetapi kali ini ia tidak berusaha menghilangkan rasa sesak yang muncul di baliknya.

Ia membiarkan keduanya hadir bersamaan.

Kegembiraan karena dicintai sebagai teman, dan kesedihan karena tidak tahu apakah dirinya akan pernah duduk di kursi itu lagi.

Acara dimulai dengan cara yang jauh lebih kacau daripada yang mungkin direncanakan Yui.

Seseorang menyalakan musik dari ponsel dengan volume terlalu tinggi. Siswa lain sibuk membagikan kue kecil yang dibeli dari toko dekat stasiun. Ada yang mengeluh karena krimnya terlalu manis, ada pula yang diam-diam mengambil potongan kedua setelah berpura-pura hanya ingin mencicipi.

Yui mencoba mengatur jalannya acara dengan selembar kertas di tangan, tetapi setiap kali ia membuka mulut, selalu ada saja yang menyela.

"Baik, semuanya! Sebelum kita makan—"

"Sudah makan!"

"Setidaknya tunggu sampai aku selesai bicara!"

"Kalau pidatonya panjang, kuenya keburu habis!"

"Siapa yang mengizinkanmu menjadi bendahara konsumsi?!"

Tawa kembali memenuhi ruangan.

Mai duduk di antara mereka sambil memegang gelas jus. Ia sesekali membantu membagikan tisu, merapikan piring kertas, atau menahan kotak kue ketika seseorang mencoba mengambilnya dari ujung meja. Gerakan-gerakan kecil itu terasa akrab. Ia tahu siapa yang selalu meminta makanan tambahan, siapa yang suka mengeluh tetapi diam-diam membantu membersihkan, dan siapa yang akan tertidur jika acara berlangsung lebih dari satu jam.

Hal-hal sederhana yang dahulu hanya ia amati dari luar, ketika hidupnya dipenuhi jadwal kerja dan perintah orang dewasa, kini menjadi bagian dari ingatannya sendiri.

"Kanade."

Yui duduk kembali di sebelahnya setelah berhasil merebut spidol dari seorang siswa yang hendak menggambar kumis di wajah bunga sakura.

"Ada satu hal lagi."

Ia mengambil album dari meja guru, lalu meletakkannya di pangkuan Mai.

Sampulnya berwarna biru muda dengan sudut-sudut yang diperkuat pita perekat. Di bagian tengah, tertempel foto kelas yang diambil beberapa bulan sebelumnya. Semua siswa berdiri di halaman Akademi Seiwa, sebagian tersenyum ke arah kamera, sebagian lain sibuk mengganggu teman di sebelahnya. Mai berada di barisan depan, mengenakan seragam yang sama dengan yang ia pakai sekarang.

Di foto itu, ia tersenyum.

Tidak sempurna. Tidak seperti senyum yang biasa ia berikan di kafe maid, dengan sudut bibir terangkat pada posisi yang telah dilatih berkali-kali. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, dan matanya menyipit karena matahari.

Senyum seorang siswi yang sedang menikmati hari sekolahnya.

"Ini dari kami semua," kata Yui. "Awalnya kami mau membuat sesuatu yang lebih bagus, tapi beberapa orang ternyata tidak bisa dipercaya untuk memotong kertas lurus."

"Hei!"

"Dan ada yang menempelkan foto terbalik!"

"Itu seni kontemporer!"

Yui mengabaikan protes itu. "Jadi, album ini mungkin tidak terlalu rapi. Tapi kami menambahkan foto-foto selama kita sekelas. Ada juga surat dari teman-teman."

Mai menyentuh sampul album dengan ujung jarinya.

"Untukku?"

"Tentu saja untukmu." Yui tersenyum, lalu mencondongkan tubuh sedikit. "Kamu boleh membacanya sekarang kalau mau."

Mai membuka album itu perlahan.

Halaman pertama berisi foto kelas yang lebih kecil, diapit potongan kertas berbentuk bunga. Di bawahnya, seseorang menulis: Semoga sukses di tempat baru! Jangan lupa makan yang teratur!

Halaman berikutnya memperlihatkan foto mereka saat kegiatan kebersihan kelas. Ada seorang siswa yang memegang sapu seperti pedang, sementara siswa lain menatap kamera dengan ekspresi pasrah. Di sudut foto, Mai tampak sedang tertawa karena seseorang menumpahkan air dari ember.

Di halaman lain, ada foto kegiatan kelompok, catatan kecil dari ujian tengah semester, dan gambar papan tulis yang penuh coretan sebelum guru datang.

Setiap lembar memuat sesuatu yang sepele.

Tidak ada momen besar yang layak diberitakan. Tidak ada peristiwa yang akan mengubah dunia. Hanya hari-hari biasa yang, tanpa disadarinya, telah menjadi bagian dari hidupnya.

Mai membalik halaman berikutnya.

Di sana terdapat foto dirinya bersama Yui, keduanya mengangkat dua jari di depan wajah. Di bawah foto itu tertulis dengan tulisan tangan yang agak miring:

Terima kasih sudah mau mendengarkan keluh kesahku waktu aku bertengkar dengan ibuku. Semoga kamu selalu menemukan orang-orang yang mendengarkanmu juga.

Jari Mai berhenti di atas tulisan itu.

Ia ingat percakapan tersebut. Yui menangis diam-diam di dekat tangga darurat setelah pertengkaran dengan ibunya. Mai menemukannya secara tidak sengaja ketika hendak mengembalikan buku ke perpustakaan. Mereka duduk bersama selama hampir dua puluh menit, dan Mai mendengarkan tanpa menyela.

Saat itu, ia tidak memikirkan kontrak, peran, atau apa yang seharusnya dilakukan seorang adik dari keluarga Kisaragi.

Ia hanya melihat seorang gadis yang sedang kesulitan.

Dan ia ingin menolongnya.

"Yui..."

"Hm?"

Mai mengangkat wajah. Ia ingin mengatakan bahwa Yui tidak perlu berterima kasih, bahwa siapa pun pasti akan melakukan hal yang sama, bahwa ia tidak melakukan sesuatu yang istimewa.

Namun, kata-kata itu berhenti sebelum mencapai bibirnya.

Jika ia menyangkal setiap kebaikan yang pernah dilakukannya hanya karena nama yang digunakan untuk melakukannya bukan miliknya, bukankah ia sedang menghapus bagian dirinya sendiri?

Mai menelan ludah.

"Terima kasih."

Yui berkedip, lalu tersenyum lebar. "Sama-sama."

Mai kembali melihat album itu. Ia menemukan beberapa amplop kecil yang diselipkan di bagian belakang. Namanya tertulis pada masing-masing amplop, dengan berbagai bentuk tulisan tangan. Ada yang rapi, ada yang besar dan tebal, ada pula yang tampak seperti ditulis sambil berlari.

Ia membuka surat pertama.

Kanade, terima kasih karena sudah meminjamkan catatanmu waktu aku sakit. Aku tahu kamu mungkin tidak akan mengingatnya, tapi aku benar-benar terbantu. Semoga kamu mendapatkan banyak teman di tempat baru.

Surat kedua berbunyi:

Jangan lupa istirahat! Kamu terlalu sering terlihat mengerjakan sesuatu bahkan ketika semua orang sudah pulang. Kalau nanti di luar negeri kamu tetap seperti itu, siapa yang akan menyuruhmu berhenti?

Surat ketiga lebih pendek.

Aku senang kamu ada di kelas ini.

Mai membaca kalimat itu dua kali.

Lalu sekali lagi.

Ia menutup surat tersebut dengan hati-hati dan meletakkannya di pangkuan. Napasnya tertahan sebentar, sementara ibu jarinya mengusap tepi amplop yang sedikit kasar.

Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan kepada mereka.

Bahwa ia tidak benar-benar akan pergi ke luar negeri untuk menerima beasiswa. Bahwa alasan kepergiannya jauh lebih rumit dan menyakitkan daripada yang mereka bayangkan. Bahwa gadis yang mereka kenal sebagai Kisaragi Kanade sebenarnya adalah Miyauchi Mai, seorang mantan pekerja maid café yang dibayar untuk mengisi tempat seorang anak yang telah meninggal.

Bahwa ia mungkin tidak akan pernah bisa kembali ke kelas ini dengan nama yang sama.

Namun, ia tidak bisa mengatakannya.

Belum.

Mungkin, setelah semuanya berakhir, ia akan punya kesempatan untuk menjelaskan. Mungkin juga tidak. Dunia yang akan ia tinggalkan terlalu luas, dan orang-orang yang berusaha mempertahankan kebohongan itu terlalu berkuasa untuk membuatnya yakin bahwa semua rahasia bisa dibuka begitu saja.

Untuk sekarang, yang bisa ia lakukan hanyalah menerima apa yang diberikan kepadanya.

"Hei, Kanade."

Seorang siswa perempuan yang duduk di seberang meja menyandarkan siku pada permukaan meja. Ia memiliki rambut pendek dan kebiasaan menggulung ujung lengan seragam ketika sedang berpikir.

"Kamu benar-benar akan pindah sekolah?"

Pertanyaan itu membuat percakapan di sekitar mereka sedikit mereda.

Yui menoleh cepat. "Aduh, jangan bertanya seperti itu sekarang."

"Kenapa? Aku cuma ingin tahu."

"Aku tahu, tapi—"

"Tidak apa-apa," sela Mai.

Ia meletakkan surat-surat itu kembali ke dalam album, lalu menatap gadis yang bertanya.

"Sejujurnya, aku belum tahu semuanya."

Itu bukan jawaban yang sepenuhnya jujur, tetapi juga bukan kebohongan yang dibuat-buat.

Mai memang tidak mengetahui bagaimana hari-hari terakhirnya akan berlangsung. Ia tahu kontraknya akan segera berakhir, tahu Saito memiliki dokumen tambahan yang dapat digunakan untuk mengancamnya, dan tahu bahwa keluarga Kisaragi tidak akan membiarkannya pergi begitu saja jika mereka mencurigai rencana pelariannya.

Namun, ia tidak tahu apakah ia akan berhasil keluar dari kediaman itu.

Ia tidak tahu apakah hari terakhirnya di Akademi Seiwa benar-benar telah tiba.

"Ada beberapa urusan yang masih harus diselesaikan," lanjutnya. "Jadi, aku belum bisa memberikan jawaban pasti."

Gadis itu mengangguk perlahan. "Oh."

Kemudian ia tersenyum kecil.

"Kalau begitu, setidaknya jangan melupakan kami, ya?"

Mai menatapnya sejenak, lalu mengangguk.

"Aku tidak akan melupakan kalian."

Kali ini, ia mengatakannya tanpa perlu berpura-pura.

Di sisi lain ruangan, seorang siswa laki-laki berdiri agak jauh dari kerumunan.

Ia tidak ikut bercanda, tidak mengambil kue, dan tidak berusaha masuk ke dalam percakapan. Kedua tangannya masuk ke saku celana seragam, sementara pandangannya berkali-kali berpindah dari Mai ke lantai.

Mai mengenalinya.

Siswa Otaku A.

Nama yang lebih tepatnya tidak pernah benar-benar melekat dalam ingatannya, sebab selama ini ia lebih sering mengenalnya sebagai salah satu anggota kelompok siswa yang gemar membuat teori konspirasi tentang identitasnya.

Dahulu, ia pernah memperhatikan Mai terlalu dekat. Ia menyadari kemiripannya dengan Mei-chan, mantan maid yang populer di sebuah kafe Akihabara. Kecurigaan itu tidak berhenti sebagai bahan obrolan. Ia pernah menggunakan informasi tersebut untuk menekan Mai, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya terpojok, seolah-olah mengetahui rahasia seseorang memberinya hak untuk memaksa orang itu menjawab.

Mai masih mengingat perasaan yang menyertainya.

Tenggorokan yang mengering. Telapak tangan yang dingin. Senyum yang harus tetap bertahan meski pikirannya sibuk mencari jalan keluar.

Lihat selengkapnya