Siang hari di Kanagawa terasa lebih dingin daripada yang diperkirakan Ren.
Langit tertutup lapisan awan kelabu yang menggantung rendah di atas deretan bangunan apartemen. Udara membawa bau aspal basah dari hujan semalam, bercampur aroma logam dari pagar-pagar balkon dan asap tipis kendaraan yang melintas di jalan utama. Di antara bangunan tempat tinggal bertingkat yang berdiri rapat, sebuah apartemen sederhana berwarna krem tampak nyaris tidak berbeda dari bangunan lain di sekitarnya.
Tidak ada papan nama perusahaan. Tidak ada penjaga pribadi. Tidak ada kendaraan mewah yang terparkir di halaman.
Bangunan itu memiliki tangga luar berlapis beton, kotak surat berwarna kusam di dekat pintu masuk, dan lampu lorong yang menyala dengan cahaya kekuningan meskipun hari belum gelap. Di lantai dua, sebuah pintu berwarna cokelat tua berdiri dengan nomor kecil yang terpasang di sebelah lubang kuncinya.
Apartemen itu bukan tempat yang akan dipilih seseorang untuk memamerkan kekayaan.
Justru itulah alasan Ren memilihnya.
Dari tabungan pribadinya, ia telah mengurus biaya awal, menyisihkan uang untuk kebutuhan sehari-hari, dan memperhitungkan pengeluaran yang diperlukan untuk bertahan hidup tanpa bergantung pada keluarga Kisaragi. Ia telah memikirkan harga bahan makanan, biaya listrik, transportasi umum, serta kemungkinan mengambil pekerjaan paruh waktu setelah meninggalkan kediaman keluarganya.
Rencananya tidak sempurna. Ia masih memiliki persoalan mengenai kelanjutan sekolah, tempat tinggal jangka panjang, dan bagaimana menghadapi ancaman hukum yang mungkin dilontarkan Saito. Namun, apartemen itu merupakan sesuatu yang nyata—sebuah pintu menuju kehidupan yang tidak ditentukan oleh jadwal Souichiro atau perintah seseorang yang membawa map kontrak.
Setidaknya, sampai pagi itu.
Sebuah mobil berwarna gelap berhenti di seberang jalan.
Pria yang turun dari kursi penumpang tidak segera mendekati bangunan. Ia mengenakan jaket biasa di atas kemeja, celana panjang gelap, dan sepatu yang telah sedikit basah oleh sisa air hujan. Penampilannya sengaja dibuat tidak mencolok. Ia tidak membawa map besar atau mengenakan tanda pengenal yang mudah terlihat.
Ia berdiri di dekat mesin penjual minuman, berpura-pura memeriksa ponsel sambil mengamati pintu masuk apartemen dari sudut matanya.
Beberapa menit kemudian, ia berjalan menyeberang.
Sebelum menaiki tangga, ia memastikan nomor bangunan sesuai dengan informasi yang diterimanya. Ia kemudian mengambil gambar pintu masuk, kotak surat, dan papan kecil yang mencantumkan nomor unit di setiap lantai. Setelah naik ke lantai dua, ia berhenti di depan salah satu pintu.
Nomor unit itu cocok.
Ia mengangkat ponsel.
Klik.
Satu foto memperlihatkan pintu apartemen dari depan. Foto berikutnya memperlihatkan nomor unit dengan lebih jelas. Ia mengambil satu gambar tambahan dari ujung lorong, memastikan posisi pintu dan akses tangga terlihat dalam satu bingkai.
Tidak ada yang menyambutnya. Tidak ada suara dari balik pintu.
Pria itu menyimpan ponselnya, lalu menuruni tangga tanpa mencoba masuk.
Tugasnya bukan membongkar tempat itu.
Ia hanya perlu memastikan bahwa jejak administratif yang ditelusuri timnya benar-benar berujung pada lokasi fisik.
Ketika tiba kembali di mobil, ia duduk di kursi penumpang dan segera mengirimkan foto-foto tersebut kepada Saito Kazuma.
Pesannya singkat.
Lokasi terverifikasi. Unit sesuai dengan jejak transaksi yang diperiksa. Tidak ada aktivitas penghuni yang dapat dipastikan saat pemeriksaan.
Pria itu menambahkan satu kalimat sebelum menekan tombol kirim.
Kemungkinan merupakan tempat tinggal yang disiapkan untuk penggunaan pribadi.
Pesan itu terkirim.
Di tempat lain, sebuah telepon seluler bergetar di atas meja kerja yang dipenuhi dokumen.
Saito sedang membaca laporan pemeriksaan kontrak ketika layar ponselnya menyala.
Ia tidak langsung mengambilnya. Matanya masih bergerak menyusuri baris-baris angka di dalam dokumen, memeriksa tanggal, nominal, dan catatan pengeluaran yang sebelumnya dianggap tidak cukup penting untuk ditindaklanjuti.
Namun, ketika getaran kedua terdengar, ia meletakkan pena.
Ia membuka pesan itu.
Lalu foto pertama.
Gerakan ibu jarinya berhenti.
Saito memperbesar gambar tersebut, memeriksa nomor bangunan, kemudian berpindah ke foto pintu apartemen. Ia mencocokkan detail yang terlihat dengan catatan transaksi yang telah dikumpulkan timnya. Tidak ada keraguan lagi bahwa lokasi itu berhubungan dengan pengeluaran yang selama ini disembunyikan Ren.
Ia menatap foto tersebut lebih lama daripada yang diperlukan.
Kemudian ia meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke atas.
"Jadi, ini yang kau siapkan."
Suaranya rendah, nyaris tenggelam di balik dengung pendingin ruangan.
Di luar jendela ruang kerjanya, kendaraan bergerak perlahan di jalan yang padat. Pantulan gedung-gedung perkantoran berlapis kaca membentang di permukaan jendela, menciptakan pemandangan yang rapi dan teratur. Di dalam ruangan, segala sesuatu juga berada pada tempatnya: dokumen tersusun menurut kategori, kalender kerja diperbarui, dan map kontrak Mai diletakkan terpisah dari berkas-berkas lain.
Saito selalu menyukai keteraturan.
Keteraturan membuat masalah dapat dipetakan, diperkirakan, dan diselesaikan sebelum berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.
Tetapi foto apartemen itu memperlihatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan seluruh laporan yang ia miliki.
Ren bukan sekadar menolak perjodohan. Bukan sekadar melawan jadwal belajar yang ditetapkan Souichiro. Bukan pula seorang pemuda yang sedang mengalami pemberontakan sesaat akibat tekanan keluarga.
Ia sedang mempersiapkan jalan keluar.
Saito membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah map tipis berisi catatan mengenai pergerakan dana Ren. Ia menyandingkannya dengan foto yang baru diterima, kemudian mencatat nomor unit dan alamat bangunan pada lembar pemeriksaan.
Nominal pengeluaran itu tidak cukup besar untuk membuat transaksi terlihat mencurigakan jika diperiksa secara terpisah. Namun, ketika dihubungkan dengan biaya awal tempat tinggal, kebutuhan rutin, dan perubahan pola pengeluaran Ren selama beberapa minggu terakhir, arahnya menjadi jauh lebih jelas.
Seseorang yang sekadar ingin menghabiskan uang tidak perlu menyiapkan tempat tinggal dengan pola seperti itu.
Seseorang yang berencana meninggalkan rumahnya perlu melakukannya.
Dan jika Ren hendak pergi, hanya ada satu orang yang paling mungkin ia ajak.
Mai.
Saito menyandarkan punggung pada kursinya. Ia melepas kacamatanya, membersihkan salah satu lensanya dengan kain kecil, lalu memasangnya kembali.
Ia teringat berbagai perubahan perilaku Ren selama beberapa pekan terakhir. Penolakan terhadap pertunangan dengan Clara. Keberanian menghentikan sesi belajar ketika kesehatannya memburuk. Sikap tenang ketika Souichiro membatasi geraknya. Bahkan kepatuhannya setelah diisolasi di ruang kerja.
Saat itu, Saito menilai Ren sedang mencoba mengulur waktu.
Sekarang, ia menyadari bahwa pemuda itu memang sedang mengulur waktu—tetapi bukan untuk kembali patuh.
Ia sedang menunggu kesempatan yang tepat untuk pergi.
Saito mengambil ponselnya kembali dan membuka kalender.
Lima hari lagi, kontrak Mai mencapai hari terakhirnya.
Menurut jadwal resmi, Mai seharusnya tetap berada di kediaman Kisaragi sampai penjemputan pada pagi hari terakhir. Setelah itu, ia akan dipindahkan, sementara keluarga dapat menyatakan kepada pihak luar bahwa Kanade melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Rencana itu dirancang dengan asumsi bahwa Ren tidak akan mampu melakukan apa pun sebelum waktunya tiba.
Asumsi yang kini mulai terasa berbahaya.
Saito mengetukkan ujung pena ke meja sebanyak dua kali.
"Kalau dia menunggu sampai hari terakhir, kita kehilangan kendali atas situasi."
Ia mengatakannya seperti sedang menyampaikan kesimpulan dalam rapat.
Namun, jemarinya tetap berada di atas ponsel, dan ibu jarinya bergerak beberapa kali tanpa membuka aplikasi lain. Ada ketegangan kecil pada otot rahangnya yang tidak segera menghilang.
Ia bisa melaporkan temuannya kepada Souichiro.
Satu panggilan telepon cukup untuk membuat kepala keamanan meningkatkan pengawasan terhadap Ren. Souichiro mungkin akan mengunci akses keluar, memeriksa setiap barang milik putranya, dan memindahkan Mai ke bagian kediaman yang lebih mudah diawasi.
Tetapi tindakan itu juga berisiko.
Jika Souichiro mengetahui bahwa Ren telah menyiapkan tempat tinggal, ia mungkin akan langsung menghadapi putranya. Konfrontasi terbuka dapat membuat Ren mengubah rencana lebih cepat, bahkan mendorongnya melakukan sesuatu yang tidak bisa lagi diprediksi oleh keluarga.
Lebih buruk lagi, Souichiro bisa memutuskan untuk menyelesaikan persoalan Mai dengan caranya sendiri.
Saito tidak ingin kehilangan kendali atas proses itu.
Ia telah mengelola kontrak selama hampir setahun. Ia tahu bagaimana menjaga Mai tetap menjalankan perannya, bagaimana membatasi informasi yang dapat diaksesnya, dan bagaimana menggunakan ancaman penalti untuk mencegahnya mengambil keputusan sendiri.
Namun, ia juga tahu bahwa semakin dekat kontrak itu berakhir, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk memaksakan kehendaknya.
Ia tidak akan menyerahkan kesempatan terakhir tersebut kepada Souichiro.
Saito menutup map pemeriksaan, memasukkannya ke dalam laci, lalu mengambil dokumen tambahan yang telah ditandatangani Mai beberapa hari sebelumnya. Kertas itu masih tersimpan rapi dalam map terpisah. Ketentuan di dalamnya memberinya dasar yang dapat ia gunakan untuk mengancam penghentian penugasan lebih awal, meskipun ia memahami bahwa ancaman kontraktual tidak otomatis memberinya kewenangan untuk melakukan pemindahan secara paksa tanpa batas.
Namun, dalam situasi seperti ini, ia tidak membutuhkan kepastian bahwa setiap ancaman akan bertahan di pengadilan.
Ia hanya perlu membuat Mai merasa bahwa menolak perintah akan membawa konsekuensi yang tidak sanggup ditanggungnya.
Saito membuka kalender sekali lagi.
Matanya berhenti pada tiga hari sebelum akhir kontrak.
H-3.
Ia mengetuk tanggal itu dengan ujung pena.
"Di sekolah," gumamnya.
Jadwal Mai di Akademi Seiwa relatif mudah diperkirakan. Waktu masuk, waktu istirahat, jam pelajaran, dan jam pulang tercatat dalam jadwal sekolah. Selain itu, Ren tidak selalu berada di dekatnya sepanjang hari. Dengan memanfaatkan jeda di antara kegiatan, Saito dapat mencoba mengambil Mai sebelum pemuda itu menyadari apa yang sedang terjadi.
Ia tidak perlu menunggu hari terakhir.
Ia hanya perlu bergerak lebih dahulu.
Saito mengambil lembar kosong dan mulai menulis beberapa poin singkat. Bukan laporan resmi untuk Souichiro, melainkan rencana kerja yang hanya akan ia bagikan kepada orang-orang yang dianggapnya perlu mengetahui.
Waktu pelaksanaan.
Lokasi penjemputan.
Pihak yang bertanggung jawab.
Dokumen pendukung.
Saluran komunikasi.
Ia berhenti di bagian terakhir, lalu menuliskan satu kalimat dengan tekanan pena yang lebih kuat.
Mai harus dipisahkan dari Ren sebelum kontrak berakhir.
Tinta pada kata dipisahkan tampak lebih gelap daripada tulisan lain di sekitarnya.
Saito menatapnya sejenak, kemudian menutup map itu.
Di dalam kepalanya, ia masih menyebut semua ini sebagai penyelesaian tugas.
Bukan kepanikan.
Bukan upaya menutup jejak.
Penyelesaian tugas.
Namun, ketika ia kembali melihat foto apartemen di layar ponselnya, ia tahu bahwa masalah yang dihadapinya bukan lagi sekadar memastikan seorang gadis menyelesaikan kontrak.
Ia harus menghentikan dua orang yang telah mulai menyusun kehidupan di luar jangkauan keluarga Kisaragi.
Dan waktu yang dimilikinya semakin sedikit.