Sore merayap turun di Akademi Seiwa, meninggalkan cahaya jingga pucat yang menempel pada jendela-jendela panjang di sepanjang koridor. Kegiatan ekstrakurikuler hampir selesai. Dari lapangan olahraga di kejauhan masih terdengar bunyi peluit yang sesekali disusul teriakan para anggota klub, tetapi suara-suara itu semakin jarang, tertelan oleh langkah kaki yang berangsur menjauh dan pintu-pintu kelas yang ditutup satu per satu.
Di ruang kesehatan, Miyauchi Mai duduk di tepi ranjang dengan kedua kaki rapat dan telapak tangan bertumpu di atas rok seragamnya. Ia sebenarnya tidak sedang sakit. Sejak siang, kepalanya terasa sedikit berat akibat kurang tidur, tetapi bukan itu alasan ia meminta izin beristirahat selama beberapa menit sebelum pulang.
Ia hanya ingin berada di tempat yang lebih tenang.
Beberapa hari terakhir, perubahan kecil di sekelilingnya mulai terasa terlalu mencolok untuk diabaikan. Pengawal yang biasanya menjaga jarak kini lebih sering muncul di dekat gerbang. Saito semakin jarang membiarkannya berbicara dengan staf kediaman tanpa pengawasan. Bahkan perjalanan pulang dari sekolah, yang sebelumnya mengikuti jadwal tetap, terkadang berubah pada menit terakhir dengan alasan keamanan keluarga Kisaragi.
Tidak ada satu pun perubahan itu yang cukup besar untuk dijadikan alasan mengajukan protes. Namun, jika disusun satu per satu, semuanya membentuk gambaran yang membuat tengkuk Mai terasa dingin.
Ia melirik kalender kecil yang tergantung di dinding ruang kesehatan.
Tiga hari.
Hanya tiga hari lagi sebelum kontrak 365 hari itu berakhir.
Tiga hari sebelum ia seharusnya tidak perlu lagi mengenakan nama Kisaragi Kanade, tidak perlu lagi mengukur setiap kata berdasarkan kemungkinan Saito mendengarnya, dan tidak perlu lagi berpura-pura bahwa hidupnya telah ditentukan oleh dokumen yang ditandatangani setahun lalu.
Jari-jarinya menyentuh liontin kecil berinisial M yang tersembunyi di balik kerah seragam. Permukaan logam itu terasa hangat karena bersentuhan dengan kulitnya.
Bertahan sedikit lagi.
Ia mengulang kalimat tersebut dalam hati, seperti seseorang yang sedang menghitung anak tangga dalam lorong gelap.
Jangan terburu-buru. Jangan membuat kesalahan sekarang.
Dari koridor terdengar langkah kaki.
Mai tidak segera mengangkat kepala. Seorang guru mungkin sedang memeriksa ruangan sebelum pulang, atau petugas sekolah mungkin hendak mengambil perlengkapan yang dipinjamkan. Ia baru menoleh ketika bayangan seseorang berhenti tepat di balik kaca buram pada pintu.
Tiga ketukan terdengar.
Tok. Tok. Tok.
Sebelum Mai sempat menjawab, gagang pintu bergerak.
Pintu terbuka, dan Saito Kazuma berdiri di ambangnya.
Jas gelapnya masih rapi, dasinya terpasang lurus, dan tas dokumen hitam tergenggam di tangan kiri. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang hampir sama seperti ketika ia memeriksa laporan mingguan: datar, terkendali, dan tidak menyediakan ruang bagi percakapan yang tidak diperlukan.
Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Ia tidak membawa senyum tipis yang biasanya digunakan untuk menutupi ketidakpuasan. Matanya langsung mencari Mai, memeriksa keberadaannya seolah memastikan barang yang hendak diambilnya masih berada di tempat yang telah ditentukan.
Mai menegakkan punggung.
“Saito-san?”
Saito masuk tanpa menjawab sapaan itu. Ia menoleh ke koridor, melihat ke kedua arah, lalu menutup pintu di belakangnya.
Bunyi klik dari mekanisme pintu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuat bahu Mai menegang.
Saito tidak mengunci pintu. Ia hanya memastikan pintu itu tertutup rapat.
Justru karena gerakannya begitu biasa, Mai merasa lebih sulit mengabaikan firasat buruk yang merambat di dalam dadanya.
“Kenapa Anda datang ke sini?” tanyanya.
“Kita akan pergi.”
Mai mengerjapkan mata. “Pergi ke mana?”
“Keluar dari sekolah. Kendaraan sudah menunggu.”
Saito meletakkan tas dokumennya di atas meja kecil dekat pintu. Ia membuka pengaitnya, mengeluarkan map tipis, lalu menaruhnya di atas permukaan meja dengan gerakan terukur.
“Bangun, Miyauchi-san. Bawa barang-barangmu. Kita tidak punya banyak waktu.”
Mai memandang map itu, kemudian kembali menatap wajahnya.
Ada banyak kemungkinan yang sempat melintas di benaknya selama beberapa hari terakhir. Ia membayangkan Saito mungkin akan menambah pengawasan, memanggilnya untuk evaluasi akhir, atau memaksanya menandatangani dokumen baru. Ia bahkan telah mempersiapkan beberapa jawaban apabila ditanyai tentang kedekatannya dengan Ren.
Namun, ia tidak pernah membayangkan Saito akan datang sendiri ke sekolah dan menyuruhnya pergi seolah-olah tiga hari yang tersisa tidak pernah ada.
“Bukankah penugasan saya berakhir tiga hari lagi?” tanya Mai hati-hati.
“Jadwal itu telah berubah.”
“Berubah berdasarkan keputusan siapa?”
Saito mengangkat pandangan dari mapnya.
“Berdasarkan kewenangan yang telah kau setujui dalam perjanjian tambahan.”
Jawaban itu jatuh begitu saja di antara mereka.
Mai merasakan telapak tangannya mulai lembap. Ia teringat malam ketika Saito memintanya masuk ke dalam mobil dinas, lalu menyodorkan dokumen dengan sejumlah klausul yang sengaja dijelaskan menggunakan istilah hukum dan ancaman konsekuensi finansial. Ia masih mengingat halaman yang dibalik Saito, ujung pena yang diarahkan ke tempat tanda tangannya, dan kalimat bahwa keluarga Kisaragi tidak menyukai perubahan keadaan yang merugikan mereka.
Saat itu, ia telah memahami bahwa dokumen tersebut adalah alat untuk menekannya.
Tetapi ia tidak menyangka Saito akan menggunakannya seperti ini.
“Penugasanmu akan diakhiri hari ini,” lanjut Saito. “Kau meninggalkan Akademi Seiwa sekarang. Setelah itu, kau akan dibawa ke bandara untuk melanjutkan proses pemindahan. Tidak perlu kembali ke kediaman Kisaragi, dan tidak ada alasan untuk berpamitan kepada Ren.”
Nama Ren membuat jari-jari Mai mengepal di atas rok.
“Tidak.”
Saito berhenti merapikan dokumen.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan, ia tampak benar-benar memperhatikan jawaban Mai.
“Apa katamu?”
“Saya bilang tidak.”
Suara Mai tidak keras. Pada kata terakhir, napasnya bahkan sedikit bergetar. Ia bisa merasakan detak jantungnya menghantam tulang rusuk, dan sebagian dirinya masih ingin segera berdiri, menundukkan kepala, lalu mengikuti perintah itu seperti yang telah dilakukannya selama berbulan-bulan.
Kebiasaan lama tersebut terasa begitu kuat hingga tubuhnya hampir bergerak sebelum pikirannya sempat menyusul.
Namun, ia tetap duduk.
Di luar sana, Ren sedang menunggu tiga hari terakhir itu. Mereka telah membicarakan risikonya, menyiapkan jalan keluar, dan sepakat bahwa mereka tidak akan membiarkan Saito memisahkan mereka sebelum kesempatan untuk menentukan hidup sendiri benar-benar tiba.
Jika Mai pergi sekarang, ia tidak tahu ke mana dirinya akan dibawa, siapa yang akan mengawasinya, atau apakah ia akan diberi kesempatan untuk menghubungi Ren lagi.
Ia tidak bisa membiarkan ketakutan mengambil keputusan untuknya.
“Saya tidak menyetujui perubahan rencana ini,” katanya, kali ini lebih jelas. “Kontrak awal memiliki tanggal berakhir yang sudah ditentukan. Kalau Anda ingin mengakhirinya lebih awal, jelaskan dasar dan tujuannya kepada saya. Saya juga ingin tahu apa yang akan terjadi pada saya setelah penugasan selesai.”
Saito menutup mapnya.
“Pertanyaan itu tidak relevan untuk saat ini.”
“Bagi saya, itu relevan.”
“Mai.”
Panggilan itu terdengar lebih tajam daripada biasanya.
Mai tersentak kecil. Saito jarang memanggilnya dengan nama aslinya tanpa embel-embel atau penjelasan formal, terutama ketika mereka berada di lingkungan sekolah. Ia selalu memperlakukannya sebagai pelaksana tugas yang harus tunduk pada prosedur. Kali ini, nama itu terdengar seperti peringatan terakhir.
“Jangan memaksaku mengulangi perintah.”
Mai menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.
“Saya bukan barang yang bisa dipindahkan begitu saja.”
Rahang Saito mengeras.
“Kau sedang berada dalam posisi yang sangat keliru untuk mengajukan tuntutan.”
“Saya hanya meminta penjelasan.”
“Kau telah menandatangani perjanjian tambahan. Di sana tercantum kewenangan untuk mengakhiri penugasan sebelum tanggal yang semula ditetapkan apabila keadaan keluarga mengharuskannya.”
“Saya ingat.”
“Bagus. Berarti kau juga ingat klausul kerahasiaan dan tanggung jawab atas pelanggaran kontrak.”
Mai merasakan perutnya mengencang.
Tentu saja ia ingat.
Ia ingat ancaman denda yang jumlahnya mustahil ia tanggung. Ia ingat bahwa Saito memiliki informasi mengenai masa lalunya, pekerjaannya di Akihabara, dan alasan ia menerima tawaran itu. Ia ingat bahwa satu laporan darinya dapat membuat kehidupan yang telah Mai bangun sebelum memasuki kediaman Kisaragi berubah menjadi sasaran pemeriksaan dan tekanan.
Saito tidak perlu mengangkat suara. Selama ini, ia hanya perlu mengingatkan Mai bahwa ia memiliki cukup banyak cara untuk membuat gadis enam belas tahun itu kehilangan pijakan.
Tetapi ancaman yang sama tidak lagi terdengar sekuat dahulu.
Mungkin karena Mai telah terlalu lama hidup di bawahnya.
Mungkin karena tiga hari terakhir ini jauh lebih berarti daripada seluruh ketakutan yang dikumpulkan selama setahun.
“Atas dasar klausul itu, Anda mungkin bisa mengancam saya dengan konsekuensi kontrak,” ujar Mai. “Tetapi saya tetap ingin tahu ke mana Anda akan membawa saya. Saya juga ingin menghubungi pihak yang berwenang di sekolah sebelum meninggalkan tempat ini.”
Saito menatapnya tanpa berkedip.
“Tidak ada pihak sekolah yang perlu dilibatkan.”