Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #81

Kode Darurat Dua Ketukan

Hujan mulai turun ketika Mai keluar dari ruang administrasi Akademi Seiwa.

Mula-mula hanya gerimis tipis yang membentuk titik-titik gelap di permukaan halaman, tetapi awan kelabu yang menggantung di atas gedung sekolah tampak terlalu tebal untuk sekadar menjanjikan hujan sebentar. Angin membawa bau tanah basah melewati koridor terbuka, sementara tetesan air mulai berderet di tepian atap dan jatuh berulang kali ke paving di bawahnya.

Mai berdiri di dekat pintu ruang administrasi, menggenggam tali tas dengan kedua tangan. Petugas sekolah sedang berbicara melalui telepon di dalam ruangan, berusaha menghubungi pihak yang berwenang untuk menangani insiden di ruang kesehatan. Sebelum itu, ia telah meminta Mai tetap berada di sana sampai persoalannya jelas.

Mai memahami maksud baiknya.

Namun, setiap menit yang berlalu justru membuatnya semakin gelisah.

Saito belum meninggalkan sekolah. Ia masih berada di dekat ruang kesehatan ketika Mai terakhir melihatnya. Jika pria itu bersedia menunggu sampai petugas sekolah lengah, ia mungkin akan mencoba lagi. Kali ini, Saito bisa saja membawa seseorang untuk membantunya, atau memindahkan Mai melalui pintu lain sebelum pihak sekolah sempat menyadari apa yang terjadi.

Mai melirik jam dinding di atas lemari arsip.

Jarum panjangnya bergerak melewati angka dua belas.

Ia tidak tahu apakah Ren masih berada di kelas, sedang dalam perjalanan pulang, atau telah kembali ke kediaman Kisaragi. Ia juga tidak bisa meneleponnya begitu saja. Percakapan telepon yang terlalu panjang akan membuka terlalu banyak informasi, sementara pesan tertulis bisa meninggalkan jejak yang tidak seharusnya ditemukan Saito.

Mereka telah membicarakan kemungkinan seperti ini sebelumnya, meskipun Ren berharap tidak perlu menggunakannya.

Sebuah kode darurat sederhana.

Dua ketukan.

Bukan dua ketukan sungguhan pada pintu, melainkan tanda singkat yang telah mereka sepakati untuk menyampaikan satu pesan tanpa perlu menjelaskan apa pun: Aku dalam bahaya. Jangan menunggu. Bertindaklah sekarang.

Mereka juga telah menyepakati cara mengirimkannya apabila Mai tidak bisa menghubungi Ren secara langsung.

Mai memasukkan tangan ke saku seragam dan meraba ponselnya. Layar menyala ketika ia menekan tombol daya. Ada beberapa notifikasi sekolah, pengingat tugas, dan pesan dari grup kelas yang tidak sempat dibacanya. Jari telunjuknya bergerak menuju percakapan yang telah disepakati, lalu berhenti.

Ia teringat pesan Ren beberapa hari lalu: jangan pernah mengirimkan rencana lengkap melalui saluran yang mungkin diawasi. Jika keadaan memburuk, gunakan tanda yang sudah mereka tentukan. Informasi lainnya akan disampaikan setelah mereka berada di tempat yang aman.

Mai membuka fitur komunikasi yang biasa mereka gunakan untuk bertukar pesan singkat, lalu mengirimkan dua ketukan digital—dua tanda pendek yang bagi orang lain tidak berarti apa-apa.

Ia tidak menambahkan penjelasan.

Tidak menulis nama Saito.

Tidak mengetik bahwa lengannya masih terasa sakit.

Tidak pula menuliskan ketakutannya bahwa ia mungkin akan dibawa pergi sebelum sempat bertemu Ren lagi.

Dua tanda itu sudah cukup.

Pesan terkirim.

Mai segera mematikan layar dan menyimpan ponselnya kembali. Jantungnya masih berdebar, tetapi kini ada sesuatu yang bisa ia lakukan selain menunggu.

Ia menoleh ke dalam ruangan.

“Maaf, Bu. Apakah saya boleh menunggu di dekat pintu depan administrasi?”

Petugas sekolah yang sedang memegang gagang telepon menutup mikrofon dengan telapak tangan.

“Lebih baik kamu tetap di sini dulu. Saya sedang mencoba menghubungi wakil kepala sekolah.”

Mai mengangguk.

“Baik.”

Ia tidak membantah. Ia tahu petugas itu sedang berusaha menolongnya, dan ia tidak ingin menimbulkan kesan bahwa dirinya hendak melarikan diri dari proses pemeriksaan. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa Saito mungkin tidak akan memberinya kesempatan kedua.

Beberapa saat kemudian, langkah kaki terdengar dari koridor.

Mai langsung menoleh.

Saito muncul di ujung lorong, membawa tas dokumen hitamnya. Jasnya masih rapi, tetapi wajahnya telah kehilangan ketenangan yang biasa ia gunakan untuk mengendalikan situasi. Tatapannya langsung menemukan Mai, lalu beralih ke pintu ruang administrasi yang terbuka.

Ia berjalan mendekat.

“Mai. Kita pergi.”

Petugas sekolah segera meletakkan telepon.

“Maaf, Pak. Kami sedang menangani kejadian yang baru saja berlangsung.”

“Ini masalah internal keluarga.”

“Namun, tadi ada laporan mengenai tindakan pemaksaan di ruang kesehatan. Kami perlu memastikan—”

“Saya tidak akan membahas urusan keluarga di koridor sekolah.”

Saito tidak meninggikan suaranya, tetapi setiap katanya disampaikan dengan tekanan yang membuat udara di sekitarnya terasa mengeras. Ia menatap Mai lagi, kali ini tanpa berusaha menyembunyikan kejengkelannya.

“Kau sudah cukup membuat masalah. Jangan menambahnya.”

Mai merasakan ujung jarinya dingin.

Ia ingin tetap berada di dekat petugas sekolah. Selama ada orang lain di sekelilingnya, Saito tidak bisa begitu saja menariknya keluar tanpa menghadapi pertanyaan. Namun, ia juga menyadari bahwa petugas itu belum mengetahui seluruh persoalan, dan tidak adil jika ia mengandalkan seseorang yang tidak memiliki alasan untuk memahami besarnya ancaman dari keluarga Kisaragi.

Saito mengangkat tangan, menunjuk ke arah pintu keluar.

“Ayo.”

Mai menggeleng.

“Saya belum selesai berbicara dengan pihak sekolah.”

“Pembicaraan itu selesai.”

“Bukan Anda yang menentukan.”

Untuk sesaat, mata Saito membesar tipis.

Mai sendiri nyaris tidak percaya bahwa kalimat itu keluar dari mulutnya. Ketakutan masih mengikat perutnya, tetapi ia mulai memahami bahwa ketakutan tidak harus selalu diikuti kepatuhan.

Saito mendekat satu langkah.

“Jangan membuatku menggunakan cara yang lebih merepotkan.”

Petugas sekolah segera berdiri.

“Pak, saya minta Anda menunggu sampai pihak administrasi—”

“Saya akan membawanya ke kendaraan. Jika sekolah membutuhkan penjelasan, saya bisa memberikannya melalui saluran resmi.”

“Kalau begitu, silakan menunggu di sini.”

Saito tidak menjawab. Ia meraih lengan Mai, kali ini tidak sekeras sebelumnya, tetapi cukup kuat untuk mengarahkannya menjauh dari pintu administrasi.

Mai menahan langkah.

“Lepaskan saya.”

“Jangan mulai lagi.”

“Saya tidak mau ikut.”

“Kau tidak memiliki pilihan lain.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada tekanan jari di lengannya.

Mai memandang wajah Saito, kemudian menoleh kepada petugas sekolah. Perempuan itu sudah bergerak mengitari meja, tetapi masih terhalang beberapa langkah oleh ruang administrasi yang sempit.

“Bu!” seru Mai. “Tolong panggil seseorang!”

Petugas sekolah segera meraih telepon kembali.

Saito melepaskan lengan Mai, bukan karena ia berubah pikiran, melainkan karena tatapan petugas itu membuatnya sadar bahwa setiap gerakan tambahan hanya akan memperburuk posisinya.

“Baik,” katanya kaku. “Kalau kau ingin membuat ini menjadi urusan resmi, kita bisa menyelesaikannya di luar.”

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

Mai tidak mengikutinya.

Saito berhenti setelah beberapa langkah, lalu menoleh dengan ekspresi yang lebih gelap.

“Lima menit. Aku tunggu di parkiran belakang. Jika kau tidak datang, aku akan menghubungi keluarga Kisaragi dan menjelaskan apa yang telah kau lakukan.”

Ia tidak menunggu jawaban.

Langkahnya menjauh, meninggalkan bunyi sepatu yang beradu dengan lantai koridor. Mai berdiri tanpa bergerak sampai sosok itu menghilang di balik persimpangan.

Petugas sekolah mendekatinya.

“Kamu tidak perlu pergi bersamanya. Saya akan memanggil pihak yang bertanggung jawab.”

Mai mengangguk, tetapi pikirannya sudah berlari ke tempat lain.

Parkiran belakang.

Saito sedang menunggunya di parkiran belakang.

Ia tahu letaknya. Mereka sering melewati area itu ketika kendaraan keluarga Kisaragi menjemputnya dari sekolah. Tempat tersebut lebih sepi daripada gerbang utama, terutama setelah kegiatan ekstrakurikuler berakhir. Hujan juga akan membuat sebagian besar siswa bergegas pulang tanpa memperhatikan apa yang terjadi di antara kendaraan-kendaraan yang terparkir.

Saito memilih tempat itu karena ia ingin menyelesaikan urusannya tanpa banyak saksi.

Mai merasakan tengkuknya dingin.

Namun, ia juga teringat sesuatu yang pernah dikatakan Ren ketika mereka membahas jalan keluar dari kediaman Kisaragi.

Kalau keadaan berubah dan kamu tidak bisa menunggu, jangan mencoba menyelesaikan semuanya sendirian. Beri aku tanda. Aku akan datang.

Ia telah memberikan tanda itu.

Sekarang, ia harus bertahan sampai Ren tiba.

“Bu,” kata Mai, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar terlalu jelas. “Saya perlu pergi ke tempat yang ramai. Saya tidak akan meninggalkan sekolah sendirian. Saya hanya tidak ingin dia membawa saya pergi.”

Petugas sekolah memandangnya beberapa detik, lalu mengangguk.

“Baik. Saya akan ikut sampai kita menemukan petugas lain yang bisa membantu.”

Mai mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan.

Setidaknya, ia tidak perlu berjalan sendirian.

Mereka berangkat menyusuri koridor menuju tangga samping, sementara hujan semakin deras di luar. Air menghantam atap dengan bunyi berulang, menutupi sebagian suara dari lapangan olahraga. Lampu-lampu koridor memantulkan cahaya pucat pada lantai yang mulai lembap di dekat pintu terbuka.

Di tengah perjalanan, ponsel Mai bergetar satu kali di dalam saku.

Ia tidak langsung mengambilnya. Ia menunggu sampai mereka berhenti di dekat persimpangan koridor yang terlindung dari pandangan ruang administrasi, lalu memeriksa layar dengan gerakan sekilas.

Tidak ada pesan panjang.

Hanya sebuah balasan singkat dari Ren.

Kami datang.

Mai menutup mata sesaat.

Ia tidak menyadari betapa kuat ia mencengkeram ponsel sampai sendi jarinya terasa nyeri. Ketika membuka mata kembali, hujan masih turun, lorong masih tampak panjang, dan Saito masih berada di luar sana.

Tetapi kini ia tahu bahwa ia tidak menghadapi situasi ini sendirian.

Di lantai tiga gedung utama Akademi Seiwa, Ren sedang memasukkan buku terakhir ke dalam tas ketika ponselnya bergetar.

Ia hampir mengabaikannya.

Pelajaran telah berakhir, dan sebagian besar teman sekelasnya sudah meninggalkan ruangan. Kenji yang duduk di meja sebelah sedang mengeluh tentang tugas matematika sambil memasukkan lembar latihan ke dalam tas dengan cara yang membuat separuh kertasnya terlipat.

“Serius, siapa yang menciptakan soal sepanjang ini?” gerutu Kenji. “Kalau tujuan pendidikan adalah membuat manusia kehilangan semangat hidup, menurutku mereka sudah berhasil.”

Ren biasanya akan menjawab dengan komentar singkat atau membiarkan sahabatnya mengeluh sampai puas. Namun, ketika melihat tanda yang muncul di layar ponselnya, seluruh gerakannya berhenti.

Dua ketukan.

Tidak ada nama.

Tidak ada penjelasan.

Hanya kode yang mereka sepakati.

Wajah Ren berubah.

Kenji menyadarinya sebelum Ren sempat berdiri. Ia menurunkan lembar latihan yang masih dipegangnya, lalu memperhatikan sahabatnya dengan alis terangkat.

“Ren?”

Ren sudah menyambar tasnya.

“Kita pergi sekarang.”

Kenji berkedip.

“Sekarang? Ke mana?”

“Parkiran belakang.”

Nada suara Ren begitu tegas hingga Kenji tidak melanjutkan keluhannya. Ia langsung memasukkan sisa kertas ke dalam tas, meraih kunci kendaraan dari saku, lalu berdiri.

“Ada apa?”

“Mai mengirimkan kode darurat.”

Wajah Kenji kehilangan ekspresi bercandanya.

Ia tahu arti kode itu. Ren telah menjelaskan kepadanya beberapa waktu lalu bahwa mereka mungkin harus meninggalkan rencana awal jika Saito bergerak lebih cepat daripada yang diperkirakan. Kenji tidak mengetahui setiap detail hubungan Mai dengan keluarga Kisaragi, tetapi ia memahami satu hal: kode itu bukan sesuatu yang akan dikirim Mai hanya karena terjadi masalah kecil.

“Dia di mana?”

“Belum tahu. Aku akan mencarinya.”

“Kalau begitu, kita lewat tangga belakang. Mobilku ada di sisi barat parkiran.”

Ren mengangguk singkat.

Mereka keluar dari kelas dengan langkah cepat. Ren tidak berlari, tetapi gerakannya begitu terarah sehingga Kenji harus mempercepat langkah untuk menyamai kecepatannya. Di koridor, beberapa siswa masih berbincang di dekat jendela. Seorang anggota klub olahraga membawa keranjang bola, sementara dua siswi berdiri di depan papan pengumuman sambil membicarakan jadwal ujian.

Ren melewati mereka tanpa menoleh.

Kenji sempat meliriknya dari samping.

Ada sesuatu yang berbeda pada wajah sahabatnya. Rahang Ren mengeras, dan tatapannya terarah lurus ke depan. Ia tidak tampak seperti seseorang yang sedang panik. Justru ketenangan itu yang membuat Kenji merasa situasinya lebih serius daripada yang ia bayangkan.

“Ren,” panggil Kenji ketika mereka mencapai tangga.

“Apa?”

“Kalau ini soal Saito, kita tidak bisa asal menyerbu. Kita harus memastikan Mai aman dulu.”

“Aku tahu.”

“Dan kalau dia membawa orang lain?”

“Kita tetap tidak akan membiarkan Mai dibawa pergi.”

Kenji mengembuskan napas melalui hidung. Ia tidak membantah. Ia hanya mengangguk, kemudian menuruni tangga dua anak tangga sekaligus.

“Aku akan menempatkan mobil di jalur keluar. Kalau keadaan memburuk, kita pergi. Jangan buang waktu berdebat dengannya.”

Ren meliriknya.

“Kau yakin?”

Kenji menoleh dengan ekspresi tersinggung yang begitu khas hingga, dalam keadaan lain, Ren mungkin akan tertawa kecil.

“Oi, aku mungkin tidak punya nilai ujian sebagus dirimu, tapi aku tidak sebodoh itu sampai mengajakmu berdebat di tengah hujan dengan pengacara keluarga konglomerat.”

“Bagus.”

“Dan jangan salah paham. Aku masih ingin penjelasan lengkap setelah ini. Aku punya hak sebagai sahabat untuk mengeluh kalau kalian membuatku ikut dalam drama keluarga yang bahkan tidak bisa ditulis dengan logika normal.”

“Kau boleh mengeluh setelah Mai aman.”

“Deal.”

Mereka tiba di pintu samping gedung. Angin basah langsung menerpa wajah mereka ketika Ren mendorong pintu keluar. Hujan membentuk tirai tipis di antara gedung dan lapangan, sementara permukaan jalan setapak memantulkan cahaya lampu yang baru dinyalakan.

Kenji membuka payung lipat dari tasnya, tetapi Ren sudah berjalan lebih dulu.

“Ren! Payung!”

“Tidak perlu.”

“Kalau kau sakit, siapa yang akan menyeretku ke masalah berikutnya?”

Ren tidak menjawab.

Kenji menggerutu, lalu berlari menyusul sambil memegang payung di atas kepala mereka berdua. Ukurannya terlalu kecil untuk dua orang yang berjalan cepat, sehingga bahu Kenji sendiri mulai basah ketika mereka melewati jalur menuju parkiran.

Di sepanjang jalan, Ren terus memeriksa ponselnya.

Tidak ada pesan baru.

Ia tidak mengetahui apa yang terjadi di ruang kesehatan, bagaimana Saito berhasil menemukan Mai, atau seberapa jauh pria itu telah bertindak. Ia hanya memiliki dua tanda pendek dan sebuah balasan yang sudah ia kirimkan.

Namun, ia tahu cukup banyak untuk mengambil keputusan.

Saito telah menemukan apartemen yang mereka siapkan. Sekarang Mai mengirimkan kode darurat tiga hari sebelum kontrak berakhir. Kedua kejadian itu terlalu berdekatan untuk dianggap kebetulan.

Tempat tinggal awal mereka tidak lagi aman. Rencana yang semula disusun dengan hati-hati telah kehilangan salah satu pijakannya. Dan jika Saito berani memaksa Mai meninggalkan sekolah, maka menunggu hingga hari ke-365 tanpa perubahan strategi bukanlah kesabaran.

Lihat selengkapnya