Hujan belum benar-benar berhenti ketika mobil Kenji meninggalkan jalan utama dan memasuki sebuah jalur sempit di pinggiran kota. Aspal yang basah memantulkan cahaya lampu jalan dalam garis-garis kekuningan, sementara air dari ban mobil menyembur ke sisi jalan setiap kali mereka melewati genangan. Di luar, malam tampak seperti lembaran hitam yang sesekali disobek oleh kilatan lampu kendaraan dari arah berlawanan.
Di dalam mobil, tidak ada yang berbicara selama beberapa menit.
Kenji memegang kemudi dengan kedua tangan. Sesekali ia melirik kaca spion tengah, lalu kaca spion samping, kemudian kembali menatap jalan. Kebiasaannya mengoceh tanpa henti biasanya membuat perjalanan bersama Ren terasa seperti mendengarkan siaran radio yang tidak pernah menemukan tombol mati. Malam itu, bahkan satu lelucon pun tidak keluar dari mulutnya.
Ren duduk di kursi depan dengan tubuh sedikit condong ke belakang. Lengan kirinya bertumpu pada pintu, sementara tangan kanannya sesekali meremas pergelangan tangan yang memerah. Jas sekolahnya basah di bagian bahu. Ada bekas gesekan pada kulit dekat tulang pergelangan, tanda dari pergulatan singkat ketika ia menghalangi Saito mendekati Mai di area parkir Akademi Seiwa.
Di kursi belakang, Mai memeluk tas sekolahnya erat-erat.
Rambutnya masih lembap oleh hujan. Beberapa helai menempel di pipi, dan ujung roknya meninggalkan bercak gelap pada jok. Ia sudah mencoba mengatur napas sejak mereka meninggalkan sekolah, tetapi setiap kali mobil melambat di persimpangan, jantungnya kembali berdegup terlalu cepat.
Bayangan tangan Saito yang mencengkeram lengannya masih melekat dalam ingatan. Begitu pula suaranya yang datar ketika memerintahkannya meninggalkan sekolah, seolah-olah keputusan tentang ke mana seorang gadis enam belas tahun harus pergi merupakan bagian biasa dari jadwal kerja.
Mai menunduk, memandang pergelangan tangannya sendiri. Bekas kemerahan di sana belum menghilang sepenuhnya.
Dia benar-benar melakukannya.
Selama berbulan-bulan, ancaman Saito selalu datang bersama dokumen, klausul, atau peringatan tentang konsekuensi. Bahkan ketika pria itu mengawasinya, Mai masih bisa berpura-pura bahwa selama ia mengikuti aturan, ia akan diberi kesempatan untuk menyelesaikan kontraknya sampai hari terakhir.
Kini, anggapan itu telah hancur.
Saito tidak lagi menunggu.
Ia bersedia menarik Mai keluar dari sekolah, membawanya pergi tanpa berpamitan kepada Ren, bahkan sebelum hari ke-365 tiba. Dan kalau saja petugas sekolah tidak mendengar keributan dari ruang kesehatan, siapa yang tahu di mana Mai akan berada sekarang?
"Kenji," ujar Ren akhirnya.
"Hm?"
"Belok kiri setelah lampu berikutnya. Jangan langsung masuk ke jalan garasi. Lewati ujung blok dulu."
Kenji mengangguk tanpa bertanya. Ia menyalakan lampu sein, lalu membelok ketika lampu lalu lintas berubah hijau. Setelah melewati persimpangan, ia mengambil jalur yang lebih sempit, memutari satu blok perumahan, kemudian kembali menuju jalan yang sama dari arah berbeda.
Mai mengangkat kepala.
"Kita sedang memastikan tidak ada yang mengikuti?"
"Ya," jawab Ren.
Kenji melirik spion. "Aku sudah melihat dua mobil yang sama sejak keluar dari jalan belakang sekolah. Tapi satu masuk ke arah stasiun, satunya lagi belok ke jalan besar. Belum tentu mereka orang Saito."
"Jangan mengambil kesimpulan sebelum kita yakin."
"Tenang, Profesor Kisaragi." Kenji mengembuskan napas pendek. "Aku tidak akan menuduh setiap mobil hitam sebagai pasukan pemburu. Walaupun, setelah hari ini, aku merasa industri mobil hitam harus meminta maaf secara pribadi kepada kita."
Biasanya, Ren akan membalas dengan tatapan datar. Kali ini, sudut bibirnya hanya bergerak sedikit.
"Fokus menyetir."
"Nah, itu baru Ren yang kukenal."
Candaan kecil itu tidak menghilangkan ketegangan, tetapi setidaknya membuat Mai menyadari bahwa mereka masih bertiga. Ia tidak dibawa sendirian ke suatu tempat asing. Ren ada di depan. Kenji mengemudi. Mereka sedang menuju tempat yang telah disiapkan untuk keadaan darurat, bukan kembali ke bawah kendali Saito.
Mobil akhirnya meninggalkan jalan utama dan memasuki kawasan pergudangan kecil di belakang deretan rumah tua. Bangunan-bangunan di sana berdiri dengan jarak tidak beraturan. Sebagian digunakan sebagai bengkel, sebagian lagi sebagai tempat penyimpanan barang milik keluarga yang sudah lama tidak memiliki cukup ruang di rumah mereka.
Kenji memperlambat kendaraan ketika sebuah bangunan rendah dengan pintu garasi berwarna abu-abu muncul di ujung jalur.
"Selamat datang di istana rahasia keluarga Tanaka," katanya lirih. "Fasilitasnya lengkap. Debu gratis, sarang laba-laba premium, dan kemungkinan besar satu generasi tikus yang menganggap tempat ini sebagai tanah leluhur."
Ia menekan tombol pada pengendali pintu garasi. Mesin tua di atas bangunan menggeram, lalu pintu logam itu terangkat sedikit demi sedikit. Bunyi gesekan besi menggema di antara dinding-dinding sempit.
Kenji segera memasukkan mobil, kemudian menutup pintu kembali setelah memastikan bagian belakang kendaraan telah melewati ambang.
Suara pintu yang merapat terdengar berat.
Di luar, hujan masih turun. Di dalam, mereka akhirnya bisa menarik napas tanpa harus memeriksa setiap lampu kendaraan yang lewat.
Namun, tidak seorang pun langsung merasa aman.
Garasi itu lebih luas daripada yang terlihat dari luar. Sebuah mobil tua milik ayah Kenji terparkir di sudut paling jauh, tertutup kain pelindung yang sudah menguning. Rak besi memenuhi dinding kiri, dipenuhi kotak perkakas, kaleng cat, ban cadangan, dan barang-barang yang sudah terlalu lama disimpan untuk diingat kegunaannya.
Bau oli lama bercampur dengan aroma debu lembap dan kayu lapuk. Sebuah lampu neon menggantung di langit-langit, berkedip dua kali sebelum menyala stabil. Cahaya pucatnya membuat bayangan benda-benda di lantai tampak panjang dan kurus.
Kenji mematikan mesin mobil.
"Baiklah," katanya sambil melepaskan sabuk pengaman. "Kita sudah sampai. Sekarang bagian menyenangkan dimulai."
Mai turun dari kursi belakang dengan hati-hati. "Bagian menyenangkan?"
"Mencari tempat duduk yang tidak membuatmu terkena tetanus."
Ia membuka pintu kecil di sisi garasi menuju ruang penyimpanan. Di dalamnya terdapat bangku kayu, meja lipat, beberapa kursi plastik, dan lemari pendek yang catnya mulai mengelupas. Kenji mengambil dua kursi yang tampak masih layak, lalu mengibaskan debu dari permukaannya menggunakan kain lap.
"Silakan. Hotel bintang nol. Tidak ada layanan kamar, tetapi penghuni sebelumnya mungkin meninggalkan camilan pada tahun yang tidak diketahui."
"Kalau begitu, aku tidak mau tahu siapa penghuni sebelumnya," gumam Mai.
"Pilihan bijak."
Mai sempat tersenyum, tetapi senyum itu lenyap ketika ia mencoba meletakkan tas di meja. Jari-jarinya bergetar cukup hebat hingga gesper tas membentur permukaan kayu dan menghasilkan bunyi kecil.
Ren melihatnya.
"Mai."
Mai mengangkat wajah dengan cepat. "Aku tidak apa-apa."
"Aku belum bertanya apa-apa."
"Oh."
Ren mendekat, tetapi tidak langsung menyentuhnya. Tatapannya turun ke tangan Mai yang menggenggam tali tas terlalu kuat, sampai buku-buku jarinya memucat.
"Letakkan tasnya dulu."
Mai menatap tas itu seolah baru menyadari bahwa ia masih memeluknya. Perlahan, ia melepaskan genggaman dan meletakkannya di atas meja.
"Aku hanya..." Ia berhenti, menelan ludah. "Aku masih merasa seperti dia akan muncul dari balik pintu dan menyuruhku kembali ke mobilnya."
Ren tidak menjawab dengan kalimat penghiburan yang terburu-buru. Ia berdiri di hadapannya, membiarkan beberapa detik berlalu tanpa memaksanya melanjutkan.
Kemudian ia berkata, "Dia tidak ada di sini sekarang."
"Aku tahu."
"Tapi kau belum merasa aman."
Mai menunduk. Ujung rambutnya jatuh menutupi pipi.
"...Ya."
Ren mengulurkan tangan, kali ini dengan gerakan lambat yang memberi Mai cukup waktu untuk menolak. Ketika Mai tidak menjauh, ia menyentuh bahunya sebentar.
"Kita akan memeriksa tempat ini. Setelah itu, kau bisa duduk dan beristirahat."
Mai mengangguk.
Kenji, yang sedang membuka kompartemen belakang mobil, mengangkat satu tangan. "Aku akan melakukan pemeriksaan kendaraan dan barang bawaan. Ren, kau periksa pintu samping. Mai, untuk sementara jangan keluar sendiri. Bukan karena aku meragukan kemampuanmu, tapi karena aku tidak ingin kita harus membuat rencana penyelamatan kedua dalam satu malam."
"Baik," jawab Mai.
"Bagus. Aku sudah cukup tua untuk mengalami satu krisis eksistensial per hari."
"Kau baru delapan belas tahun," kata Ren.
"Justru. Masa muda kita dirampas oleh orang-orang berjas."
Ren mengabaikannya dan berjalan menuju pintu samping.
Kenji mulai bekerja. Ia mengambil tas olahraga dari bagasi, mengeluarkan beberapa barang yang tidak dibutuhkan, lalu memindahkan perlengkapan yang mungkin berguna ke dalam sebuah ransel polos. Ia juga memeriksa bagian bawah kendaraan, sekitar roda, dan sisi belakang pelat nomor, memastikan tidak ada benda mencurigakan yang terlihat terpasang.
Ren memeriksa kunci pintu, jendela kecil di sisi bangunan, serta jalur keluar menuju lorong belakang. Ia tidak menemukan tanda bahwa ada orang yang masuk sebelumnya. Pintu samping memang tua, tetapi engselnya masih berfungsi. Dari luar, garasi itu tampak seperti bangunan penyimpanan biasa yang tidak menarik perhatian siapa pun.
Setelah keduanya selesai, Ren kembali ke ruang penyimpanan.
"Untuk sementara, tempat ini cukup aman," katanya. "Kita tidak bisa menganggapnya aman sepenuhnya. Tapi setidaknya kita tidak terlihat dari jalan."
Kenji mengangkat sebuah perangkat kecil dari dalam tas. "Ponsel cadangan ini masih bisa digunakan. Aku sudah mematikan perangkat yang tidak perlu. Kita juga sebaiknya tidak menyalakan semua ponsel sekaligus."
Ren mengangguk. "Jangan menghubungi siapa pun kecuali yang benar-benar perlu."
"Jelas. Aku tidak akan mengirim pesan ke grup kelas dengan judul Operasi Menyelamatkan Teman dari Pengacara Gila."
"Kenji."
"Apa? Aku bilang tidak akan mengirimnya."
Mai duduk di salah satu kursi plastik. Baru setelah tubuhnya menyentuh sandaran, ia menyadari betapa pegal kedua kakinya. Ketika ia menekuk jari-jari tangan, rasa nyeri di sekitar pergelangan membuatnya meringis kecil.
Ren segera menoleh.
"Tanganmu."
Mai buru-buru menarik lengan seragamnya. "Cuma sedikit sakit."
"Perlihatkan."
Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup tegas untuk menghentikan penolakan yang sudah hampir keluar dari mulut Mai. Ia menarik kursi di hadapannya dan berjongkok agar sejajar dengan gadis itu.
Mai mengulurkan kedua tangan.
Bekas cengkeraman terlihat jelas di pergelangan kirinya. Kulitnya memerah, dengan sedikit pembengkakan di dekat tulang. Tidak ada luka terbuka, tetapi tekanan yang diterimanya cukup kuat untuk meninggalkan jejak.
Rahang Ren mengeras.
"Dia melakukan ini ketika mencoba membawamu pergi?"
Mai mengangguk kecil.
"Aku mencoba menarik tanganku, lalu dia mencengkeram lebih kuat. Katanya aku membuat semuanya lebih sulit." Ia menatap bekas merah itu. "Seolah-olah aku yang melakukan sesuatu yang salah."
Ren menahan napas sejenak. Jemarinya mengepal di atas lutut, lalu perlahan terbuka kembali.
"Dia tidak berhak menyentuhmu seperti itu."
"Aku tahu." Mai mengangkat mata, dan kali ini suaranya terdengar lebih mantap. "Aku baru benar-benar mengerti setelah dia melakukannya."
Kenji yang tadi masih sibuk merapikan ransel berhenti bergerak. Ia menatap mereka dari seberang meja, ekspresinya kehilangan sisa-sisa kelakar.
Ren berdiri dan mengambil kotak pertolongan pertama dari rak. Ia meletakkannya di atas meja, kemudian mengeluarkan kain kasa, antiseptik, dan kompres dingin kecil dari kantong penyimpanan.
"Kalau terasa sakit, katakan."
Mai mengangguk.
Ren membasahi kain bersih dengan sedikit air, lalu membersihkan bagian kulit di sekitar bekas cengkeraman dengan hati-hati. Gerakannya sangat pelan, seakan-akan ia takut tekanan sekecil apa pun akan menambah rasa sakit Mai. Ketika kain menyentuh bagian yang membengkak, Mai menarik napas tajam.
Ren langsung berhenti.
"Sakit?"
"Sedikit."
"Kita tidak perlu memaksakan ini."
"Teruskan saja. Aku bisa menahannya."
Ia mengatakannya dengan suara kecil, tetapi tidak menarik tangannya. Ren melanjutkan dengan lebih hati-hati, kemudian membungkus kompres dingin dengan kain sebelum menempelkannya pada pergelangan Mai.
Untuk beberapa saat, hanya bunyi hujan dan dengung lampu neon yang terdengar.
Mai memandangi wajah Ren. Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak ketika melihat pemuda itu berusaha menahan kemarahan demi tidak membuatnya semakin takut.
"Ren."
"Hm?"
"Pergelangan tanganmu juga."
Ren mengalihkan pandangan. "Ini tidak seberapa."
Mai mengulurkan tangan bebas dan menyentuh ujung lengan bajunya.
"Jangan gunakan kalimat yang sama denganku."
Ren terdiam.
Kenji mengeluarkan suara kecil dari tenggorokannya. "Wah. Kena juga kau, Ren."
"Diam dan ambilkan perban."
"Siap, Dokter Cinta."
"Kenji."
"Baik, baik."
Kenji melemparkan gulungan perban ke arah Ren. Ren menangkapnya tanpa menoleh, lalu duduk di kursi sebelah Mai. Bekas gesekan pada pergelangan tangannya tidak terlalu parah, tetapi ada memar tipis di sisi kulitnya. Mai mengambil alih kain kasa dari tangan Ren dan mulai membersihkan luka itu.
Kali ini, Ren membiarkannya.
"Ketika kau datang ke area parkir," ujar Mai sambil mengoleskan antiseptik, "aku sempat berpikir kau akan terlambat."
"Aku tahu."
"Bagaimana kau tahu?"